Pada saat kita membicarakan sesuatu, misalnya ingin membeli tas, atau ingin pergi ke tempat wisata, atau sedang membahas topik tertentu, lalu tiba-tiba banyak iklan muncul di internet atau di media sosial. Pernah merasakan seperti itu? Kemudian kita bertanya-tanya: Apakah Google sedang menguping atau memata-matai kita?
Fenomena ini terasa sangat menyeramkan, di mana Google seolah-olah mengetahui isi pikiran kita, dan kita sebagai pengguna internet seakan tidak mempunyai privasi lagi. Di grup WhatsApp, di kolom komentar media sosial, bahkan dalam obrolan di kantor, pertanyaan yang sama terus berputar: “Jangan-jangan handphone kita sedang disadap?”. Pertanyaan ini sangat manusiawi, namun secara ilmiah, Google sebenarnya tidak mengetahui atau membaca pikiran manusia, melainkan Google menggunakan kombinasi algoritma canggih, analisis data besar (Big Data), dan perilaku digital pengguna.
Algoritma, Big Data, dan Jejak Digital
Penggunaan algoritma merupakan salah satu faktor utama yang membuat Google terasa mengetahui pikiran pengguna. Yang dimaksud dengan algoritma Google adalah serangkaian aturan kompleks yang dipakai oleh mesin pencari Google di mana dapat menentukan website mana yang ditampilkan terlebih dahulu berdasarkan relevansi dan kualitas. Algoritma Google ini dirancang sedemikian rupa sehingga memberikan hasil yang berkualitas bagi pengguna berdasarkan pencarian paling relevan.
Para spesialis di Google dapat mengoptimalkan konten website agar lebih sesuai dengan kriteria yang dianggap penting oleh Google, seperti kualitas konten, kegunaan bagi pengguna, dan banyak lagi dengan memahami cara kerja algoritma Google, dan hal ini terus dipelajari oleh sistem. Dalam hal ini, algoritma berfungsi sebagai “penjaga gerbang” (gatekeeper) yang menentukan informasi apa yang akan diterima user.
Pada awalnya, Google dibekali dengan teknologi yang disebut PageRank, yaitu search engine yang unik karena teknologi tersebut belum pernah dimiliki oleh search engine yang telah ada sebelumnya. Kemudian Google juga telah mampu mengelola, memanfaatkan, dan memberdayakan limpahan data yang membludak pada saat ini. Google Cloud Platform merupakan Big Data Google yang menyediakan beberapa layanan yang mendukung penyimpanan dan analisis data besar.
Sebagai contoh pengaruh Big Data adalah melacak perilaku konsumen dan kebiasaan belanja untuk memberikan rekomendasi produk retail yang sangat dipersonalisasi yang disesuaikan dengan masing-masing pelanggan. Artinya, Google tidak benar-benar mengetahui isi pikiran manusia, tetapi sistem data yang sangat pintarlah yang mengenali pola perilaku manusia.
Otak manusia tidak terlalu mampu dalam mengevaluasi probabilitas. Peneliti menyebutnya confirmation bias atau bias konfirmasi, yang artinya kita cenderung mengingat kejadian yang membenarkan keyakinan kita, dan melupakan yang tidak. Coba kita hitung: berapa kali kita mencari sesuatu di Google, membuka YouTube, atau scrolling media sosial? Kita selalu meninggalkan jejak digital setiap melakukan aktivitas di internet.
Ketika sebuah iklan muncul sesuai dengan apa yang kita pikirkan, maka kita mengingatnya dengan kuat. Namun puluhan iklan lainnya yang tidak relevan dengan pikiran kita, langsung kita lupakan. Inilah yang disebut ilusi telepati digital. Sehingga dapat dikatakan Google tidak membaca pikiran kita, tetapi membaca jejak digital yang kita tinggalkan.
Bagaimana Google Sebenarnya Mengetahui Apa yang Kita Inginkan?
Coba kita bayangkan Google bukan suatu produk, tetapi sebuah ekosistem jaringan pengamatan yang sangat luas dan telah dibangun lama. Google telah mempunyai ekosistem data yang luar biasa luas, sehingga jawaban bagaimana Google mengetahui apa yang kita inginkan dapat dirangkum sebagai berikut:
-
Riwayat Pencarian dan Aktivitas Web: Setiap kata yang kita ketikkan di Google Search akan tersimpan dan membangun profil minat yang akurat. Fitur “Aktivitas Saya” di akun Google menyimpan semua riwayat ini.
-
Data Lintas Platform (Cross-Platform Tracking): Platform digital seperti YouTube, Gmail, Google Maps, Chrome, Android, dan layanan lainnya dikelola oleh Google. Ketika kita berpindah dari satu platform ke platform lainnya, Google akan menghubungkan titik-titik data tersebut menjadi suatu gambaran yang utuh tentang minat kita.
-
Cookie dan Pixel Tracking: Cookie merupakan sebuah istilah di mana kumpulan informasi yang berisi rekam jejak dan aktivitas ketika menelusuri sebuah website. Jutaan situs web di seluruh dunia memasang kode Google Analytics, sehingga saat kita mengunjungi situs apa pun maka Google akan tahu, bahkan tanpa kita membuka Google. Rekam jejak aktivitas kita akan dipelajari oleh Google.
-
Data Lokasi: Google Maps mengetahui ke mana kita pergi, seberapa sering, dan berapa lama kita di sana. Maka kita jangan heran tiba-tiba akan banyak iklan restoran, ketika kita baru saja mengunjungi sebuah restoran di wilayah tertentu.
-
Machine Learning dan Prediksi: Semua data yang telah direkam oleh Google akan dipersiapkan oleh model kecerdasan buatan yang mampu memprediksi kebutuhan kita sebelum kita menyadari sendiri berdasarkan pola dari ratusan bahkan jutaan pengguna lainnya yang berperilaku sama.
CNBC Indonesia mengutip penjelasan Danny Sullivan, seorang Google Search Liaison: “Pengiklan memang dapat memahami hal-hal spesifik yang seseorang cari, namun hanya karena pengguna berinteraksi langsung dengan iklan tersebut, bukan karena percakapan direkam diam-diam.” (cnbcindonesia.com)
Apakah Privasi Kita Aman?
Pengguna Google sering memperdebatkan hal ini. Kita merasa tidak nyaman karena data pribadi digunakan untuk personalisasi iklan dan konten. Oleh karena itu, pemerintah telah mengesahkan Undang-Undang No. 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), yaitu sebuah regulasi yang mengatur perlindungan data pribadi di Indonesia. UU PDP ini mewajibkan setiap perusahaan yang mengumpulkan data, termasuk Google, untuk terlebih dahulu meminta persetujuan pengguna, menjelaskan tujuan pengumpulan data, dan memberi hak kepada individu untuk meminta penghapusan datanya.
Baca juga: Peraturan Perlindungan Data Pribadi: Menjaga Privasi di Era Digital
Di sisi Google sendiri, perusahaan menyatakan menerapkan “privasi diferensial”, yaitu teknologi anonimisasi canggih yang menambahkan “derau/noise” pada data sehingga individu tidak dapat diidentifikasi secara pribadi. Histori aktivitas juga secara default dihapus otomatis setelah 18 bulan. Google secara resmi juga menyatakan: “Kami tidak pernah menggunakan konten yang Anda buat dan simpan di aplikasi seperti Drive, Gmail, dan Foto untuk tujuan iklan.” Data lokasi dari Google Maps pun kini disimpan langsung di perangkat pengguna, bukan di server Google. (Kebijakan Privasi Google; ANTARA News, Desember 2023)
Terdapat beberapa langkah untuk melindungi privasi digital:
-
Audit Aktivitas: Kunjungi myaccount.google.com => “Aktivitas Saya” untuk melihat dan menghapus data yang dikumpulkan Google.
-
Kelola Izin Aplikasi: Periksa izin mikrofon dan lokasi di pengaturan ponsel. Cabut izin aplikasi yang tidak diperlukan.
-
Nonaktifkan Personalisasi Iklan: Di setelan iklan Google, kita bisa menonaktifkan iklan berbasis minat. Iklan tetap muncul, tetapi tidak lagi dipersonalisasi.
-
Gunakan Virtual Private Network (VPN) dan Domain Name System (DNS) Aman: VPN menyembunyikan alamat Internet Protocol (IP) dari penyedia layanan internet, menambah lapisan privasi ekstra.
-
Aktifkan Hapus Otomatis: Atur Google untuk menghapus riwayat lokasi dan aktivitas web secara otomatis setiap 3 bulan.
-
Gunakan Browser Alternatif: Firefox dengan ekstensi uBlock Origin, atau Brave Browser dapat memblokir banyak tracker pihak ketiga.
Jadi, Apakah Google Mengintip Pikiran Kita?
Jawabannya: tidak secara harfiah. Google tidak membaca pikiran. Tidak ada perangkat lunak yang menyadap percakapan kita dan dijual kepada pedagang baju. Yang sebenarnya terjadi jauh lebih canggih. Teknologi digital saat ini sangat canggih dalam mengumpulkan data perilaku pengguna. Dari situlah sistem bisa memprediksi apa yang kemungkinan kita inginkan.
Di era ketika 229,4 juta warga Indonesia sudah online, pertanyaan soal privasi digital bukan lagi urusan akademis. Ini adalah urusan yang telah menyentuh kehidupan nyata. Semakin banyak aktivitas digital yang kita lakukan, semakin akurat pula sistem mengenali pola kita. Jadi, bukan Google yang membaca pikiran kita, melainkan kita sendiri yang tanpa sadar memberikan banyak petunjuk setiap hari.
Penulis: Ivander, M.M.
Mahasiswa Program Studi Komunikasi, Pascasarjana Universitas Sahid
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












