Dunia perkuliahan bagi mahasiswa bukan hanya tentang menghadiri kelas dan menyelesaikan tugas dengan baik. Masa perkuliahan adalah waktu yang penuh dengan kesempatan untuk berkembang dan meningkatkan kemampuan diri, baik dalam aspek akademik maupun nonakademik.
Pada tahap ini, mahasiswa didorong untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan, salah satunya dengan cara membangun relasi sosial seperti bergabung ke dalam organisasi.
Namun, di balik jadwal kegiatan yang sangat padat, mahasiswa juga menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka.
Tantangan tersebut bersumber dari aspek kehidupan personal, baik dalam hubungan keluarga, pertemanan, maupun percintaan yang dapat menjadi sumber tekanan emosional. Situasi ini kemudian menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cara mahasiswa menghadapi berbagai tantangan dalam proses belajar.
Apabila situasi tersebut tidak dikelola dengan baik, tingkat stres yang sudah ada akibat tuntutan akademik dapat memburuk. Tugas penelitian serta target pencapaian akademik sering kali menjadi sumber stres tersendiri.
Kondisi ini diperberat oleh relasi keluarga yang penuh ekspektasi, pertemanan yang rentan kesalahpahaman, serta hubungan percintaan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Beban Diam di Tengah Keramaian
Ketika tekanan akademik dan ketidakpastian masa depan menyatu menjadi beban yang berat, banyak mahasiswa akhirnya berjalan sendirian di tengah kesibukan sehari-hari.
Baca juga: Ketika Menulis Menjauhkan: Dampak Emotional Journaling terhadap Kecenderungan Menyendiri
Walaupun dikelilingi oleh ratusan atau ribuan orang setiap harinya, kehadiran orang-orang di sekitar belum tentu membuat seseorang merasa memiliki tempat aman untuk menceritakan keluh kesah maupun perasaan yang sedang dialami.
Hal yang sering luput dari perhatian atau dianggap sepele adalah bagaimana mahasiswa memproses semua beban emosional tersebut. Di sinilah kehadiran someone to talk—seseorang yang dapat menjadi tempat berbagi cerita, keluh kesah, dan emosi—memiliki peran yang cukup penting.
Kehadiran sosok tersebut dapat memberikan rasa nyaman yang membantu mahasiswa merasa didengar dan dipahami, serta menjadi sumber dukungan emosional ketika menghadapi berbagai kesulitan. Keberadaan someone to talk mampu membantu mahasiswa mengurangi beban pikiran dan menghadapi berbagai tantangan dengan lebih tenang.
Ketika Tempat Bersandar Itu Hilang
Akan tetapi, tidak semua mahasiswa dapat terus mempertahankan kehadiran sosok tersebut dalam hidupnya. Ada kalanya seseorang yang selama ini menjadi tempat berbagi cerita tidak lagi hadir karena berbagai alasan.
Kehilangan figur sandaran—entah itu sahabat dekat yang kini sibuk dengan kehidupannya sendiri, pasangan yang hubungannya berakhir, atau orang tua yang sulit diajak bicara soal perasaan—membuat beban emosional tidak lagi memiliki saluran keluar.
Beban itu pun menumpuk dalam diam. Dalam diam itulah, stres akademik menemukan lahan yang subur untuk tumbuh dan akhirnya memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa.
Ketika mahasiswa kehilangan tempat bercerita, hal yang dirasakan bukan sekadar kesepian emosional saja. Ada proses psikologis yang lebih dalam yang dikenal sebagai ruminasi, yaitu ketika pikiran terus berputar tanpa jalan keluar, sehingga masalah terasa jauh lebih besar dari ukuran sebenarnya.
Baca juga: Overthinking Mahasiswa dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental: Bagaimana Mengelolanya?
Hal ini berdampak langsung pada motivasi belajar mahasiswa. Kondisi tersebut membuat mahasiswa cenderung memikul beban emosionalnya seorang diri, mengurangi interaksi dengan teman-teman, dan tidak lagi seaktif biasanya.
Dampak terhadap Proses Belajar dan Akademik
Kehilangan someone to talk tidak selalu terjadi karena putus hubungan semata. Kondisi ini juga dapat muncul jika harapan terhadap seseorang tidak sesuai dengan kenyataan.
Misalnya, saat seorang mahasiswa menyadari bahwa orang yang selama ini menjadi tempat berbagi cerita tidak lagi hadir dengan cara yang sama seperti sebelumnya, ia mulai merasakan kehilangan dukungan emosional.
Akibatnya, tugas akademik yang sebenarnya masih dalam batas wajar dapat terasa jauh lebih berat dari biasanya. Mahasiswa harus berusaha mengatasi permasalahan emosional yang sedang dialaminya dalam waktu yang bersamaan. Hal ini membuat mahasiswa mengalami kesulitan berkonsentrasi saat mengikuti perkuliahan dan memahami materi pembelajaran.
Pikiran yang terus dipenuhi oleh perasaan sedih, kecewa, maupun kesepian membuat perhatian mahasiswa mudah teralihkan, sehingga proses belajar menjadi kurang optimal. Mahasiswa menjadi kurang bersemangat mengikuti perkuliahan, menunda-nunda penyelesaian tugas yang menumpuk, atau kehilangan minat untuk mencapai prestasi akademik yang baik.
Dalam jangka waktu tertentu, tekanan emosional yang tidak tersalurkan dengan baik juga dapat menyebabkan kelelahan psikologis (burnout), sehingga mahasiswa merasa tidak memiliki energi yang cukup untuk menjalani aktivitas perkuliahan seperti biasanya.
Baca juga: 9 Tips Menghindari Burnout bagi Mahasiswa Aktif agar Tetap Seimbang, Sehat, dan Produktif
Pentingnya Ruang Aman untuk Didengar
Secara signifikan, kehilangan someone to talk sangat berkaitan dengan meningkatnya stres akademik pada mahasiswa dalam proses belajar. Dampak ini tidak hanya terjadi pada dimensi emosional semata, melainkan juga memengaruhi fungsi kognitif, motivasi akademik, hingga pola interaksi sosial.
Tanpa lingkungan yang mendukung, sebaik apa pun kemampuan individual seorang mahasiswa, ia akan rentan untuk jatuh ketika tidak ada tempat yang aman untuk berbagi keluh kesahnya.
Stres akademik yang tidak memiliki saluran keluar yang sehat akan terus-menerus menumpuk. Kondisi ini dapat mengikis semangat, menguras energi, dan secara perlahan meruntuhkan fondasi psikologis yang dibutuhkan mahasiswa untuk dapat belajar dan berkembang secara optimal.
Baca juga: Hubungan Antara Praktik Inabah Dan Mekanisme Coping pada Mahasiswa Mengalami Stres Akademik
Oleh karena itu, kebutuhan untuk didengarkan tidak boleh lagi dianggap sebagai sesuatu yang remeh atau tanda kelemahan.
Mahasiswa yang didengar dan dipahami bukan hanya akan menjadi individu yang lebih bahagia, tetapi mereka juga akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan fokus dalam menghadapi setiap tantangan di sepanjang perjalanan dunia perkuliahan.

Penulis: Yulia Anggun Safitri
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
Dosen Pengampu:
Iklima Ritmiani, S.Psi., M.A.
Siti Hajar Sri Hidayati, M.A.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














