Di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, banyak sekali tuntutan, khususnya di bidang akademik yang justru membuat kenyamanan proses pembelajaran kurang dinikmati oleh peserta didik.
Adanya tuntutan persaingan secara akademik juga dirasakan oleh kalangan anak usia dini.
Ruang kelas bukan lagi menjadi tempat mengeksplorasi diri melainkan sudah menjadi tempat ruangan kaku dengan tuntutan mahir calistung (baca, tulis, dan hitung).
Apakah benar kemahiran calistung dibutuhkan pada masa mendatang untuk usia mereka?
Pernahkah sejenak kita berpikir tentang kebahagian mereka selama berada di ruangan kelas?
Akankah menjadi pintar adalah prioritas untuk anak usia dini?
Akankah terdengar suara canda tawa dalam ruang kelas yang terikat ambisi sebuah persaingan akademik?
Secara neurosains, anak usia dini akan berkembang otaknya paling optimal ketika mereka berada dalam keadaan emosi yang positif.
Oleh karena itu, proses membangun emosi positif menjadi bagian terpenting yang harus kita perhatikan sebagai seorang pendidik.
Logika situasi sederhananya, anak yang memiliki rasa nyaman serta senang ketika berada di sebuah ruang kelas akan menimbulkan rasa ingin tahu yang sangat tinggi.
Tingginya rasa ingin tahu secara alamiah inilah yang dapat kita manfaatkan untuk mengeksplorasi kecerdasan anak secara maksimal.
Sebaliknya, anak yang secara nyata dipaksa untuk menguasai kemampuan akademik justru akan memicu munculnya hormon kortisol sehingga dapat menghambat perkembangan otak anak.
Saat itulah akan muncul masa kecerdasan tanpa kebahagian sehingga melahirkan robot-robot cilik yang cerdas dan patuh, namun kehilangan imajinasi dan empati.
Situasi seperti ini harus segera kita selamatkan dengan cara menghidupkan kembali kurikulum humanistik di dunia anak usia dini.
Kurikulum humanistik adalah salah satu model kurikulum yang mengutamakan proses belajar mengajar dengan mengedepankan sifat humanisme.
Tujuan utama kurikulum ini adalah mengembangkan peserta didik menjadi pribadi yang mandiri.
Kurikulum humanistik dikembangkan berdasarkan kebutuhan dari peserta didik, sehingga pendidik harus memfasilitasi suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.
Menghidupkan kembali kurikulum humanistik pada pembelajaran anak usia dini bukan berarti membiarkan anak secara terus menerus bermain tanpa arah, justru implementasi sebenarnya dari kurikulum ini akan menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran.
Anak akan dibiarkan berkembang sesuai usianya, menghargai keunikan-keunikan yang timbul saat proses pembelajaran, serta memprioritaskan proses kematangan emosional dan sosial mereka.
Langkah nyata yang dapat kita lakukan sebagai upaya menghidupkan kembali kurikulum humanistik dalam dunia anak usia dini yaitu (1) ajak anak bermain sambil belajar sehingga situasi pembelajaran dapat dirasakan dalam bentuk kegembiraan; (2) validasi emosi, bukan sekedar kepatuhan, (3) menghapus adanya standar khusus yang kaku dan mengakui adanya keberagaman serta keunikan setiap anak; dan (4) ciptakan lingkungan belajar yang kaya aktivitas serta minim tekanan sehingga membuat mereka bisa mengeksplorasi diri secara maksimal.
Ketika kita sebagai pendidik lebih memprioritaskan kebahagian anak, sebenarnya secara tidak langsung kita sedang menanam benih pembelajar yang tangguh, kreatif, dan memiliki empati yang tinggi.
Biarkan anak bahagia dan menikmati usia perkembangan mereka, karena sejatinya anak yang bahagia akan lebih mudah untuk menemukan jalannya sendiri menjadi pintar dan sukses.
Penulis: R. A. Rica Wijayanti
Mahasiswa S3 PJJ Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya
Dosen Pengampu:
1. Prof. Dr. Bachtiar Sjaiful Bachri, M.Pd.
2. Dr. Citra Fitri Kholidya, S.Pd., M.Pd.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












