“Bila Esok Ibu Tiada” Membawa Saya Kembali ke Kenangan Bersama Ibu

Film Bila Esok Ibu Tiada
Film Bila Esok Ibu Tiada (Sumber: Penulis)

Pernahkah kamu membayangkan hari di mana suara ibu tak lagi terdengar?

Bagi saya, hari itu bukan lagi bayangan, tetapi kenyataan yang masih terasa perih hingga kini. Maka ketika saya menonton “Bila Esok Ibu Tiada”, film arahan Rudi Soedjarwo dan produksi Leo Pictures yang dirilis 14 November 2024, rasanya seperti membuka kembali halaman lama yang penuh emosi.

Film ini bukan sekedar drama keluarga, melainkan cermin dari luka yang pernah dan masih saya rasakan. Sejak menit pertama, saya langsung terhanyut oleh sosok ibu yang diperankan Christine Hakim. Tatapan hangat dan bahasa tubuhnya yang penuh kasih begitu nyata, mengingatkan saya pada sosok ibu saya sendiri.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sepanjang film, saya tidak bisa memalingkan pandangan. Bukan hanya karena alur ceritanya mengalir, tapi karena setiap adegannya seolah mengingatkan saya pada masa-masa ketika saya terlalu sibuk mengejar waktu, hingga lupa bahwa ibu juga sedang menua dan menyimpan rasa sakitnya sendiri.

Kisah keluarga dalam film ini terasa sangat relevan tentang bagaimana kehilangan menjadi pemicu untuk menata kembali hubungan yang sampai retak. Saya tersentuh ketika konsep Kintsugi diperkenalkan, yaitu filosofi Jepang tentang memperbaiki keramik pecah dengan emas. Bagi saya, itu seperti ajakan untuk menerima luka dalam keluarga, bukan untuk disembunyikan, tapi dirangkul sebagai bagian dari perjalanan yang membuat kita utuh.

Pengalaman pribadi saya saat meononton film ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Sejak awal film diputar, saya merasa seperti melihat kembali potongan hidup saya sendiri. Sosok ibu di layar terasa begitu nyata, seolah ia kembali dalam kehidupan saya.

Baca juga: Review Film Munkar (2024): Film Horor yang Menceritakan Urban Legend Pesantren (Herlina) di Jawa Timur

Tatapan lembut, perhatian, dan cinta darinya membawa saya kembali ke masa-masa bersama ibu, yang kini hanya bisa saya kenang. Ketika rahasia penyakit sang ibu di film terungkap, air mata saya mengalir tanpa bisa dihentikan. Dan saat adegan kepergian itu muncul, tangisan saya pecah. Rasanya seperti membuka kembali luka yang belum benar-benar sembuh.

Saya menangis, bukan hanya karena sedih, tapi karena rasa bersalah, rindu, dan semua hal yang belum sempat saya sampaikan. Seusai film, saya pulang dengan mata sembab dan hati yang campur aduk, penuh rindu haru, dan rasa syukur karena seolah diingatkan kembali betapa besar cinta yang pernah saya terima.

Film ini bukan hanya mengajak saya bernostalgia, tapi juga mengajarkan kembali makna menghargai waktu dan kehadiran orang yang kita cintai. “Bila esok Ibu Tiada” menjadi ruang refleksi yang menyadarkan saya untuk lebih terbuka, lebih mendengarkan, dan lebih hadir bagi keluarga.

Meski ibu saya sudah tiada, film ini membawa saya sejenak kembali ke dalam pelukannya, melalui kenangan yang selama ini saya simpan. Bagi saya, ini bukan hanya film, tapi pengalaman emosional yang akan terus tinggal dihati.

 

Penulis: Marshella Aliya Hufni

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses