Bontang, Kota Kaya yang Menghadapi Krisis Kesehatan Gigi

Krisis Kesehatan Gigi
Ilustrasi Krisis Kesehatan Gigi (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Botang – Kota Bontang yang biasa dikenal dengan sebutan kota industri merupakan kota kedua terkaya menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020. Sama dengan Kopenhagen yang merupakan kota terkaya di Denmark, mereka memiliki kesehatan gigi yang baik.

Apakah hal yang sama terjadi pada kota kedua terkaya di Indonesia? Sayangnya tidak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Denti Diastuti dkk. (2023) membuktikan bahwa kesehatan gigi masyarakat Kota Bontang tergolong buruk dengan angka kerusakan gigi mencapai 41,75%.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Masalah ini kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya kualitas pelayanan kesehatan gigi serta minimnya pemahaman masyarakat mengenai cara menjaga kebersihan gigi yang benar. Oleh karena itu, saya sebagai calon tenaga medis berkomitmen untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dan mengabdikan diri saya pada kota saya tercinta, Kota Bontang.

Seperti yang telah saya sebutkan bahwa salah satu penyebab buruknya kesehatan gigi di Kota Bontang adalah kualitas pelayanan kesehatan gigi. Saya sudah mengobservasi dan membandingkan tingkat pelayanan dokter gigi yang ada di Bontang dan juga Surabaya.

Pelayanan dokter gigi di Surabaya cenderung lebih baik jika dibandingkan dengan pelayanan dokter gigi yang ada di Bontang, baik dalam aspek komunikasi maupun pengerjaan.

Kedua dokter gigi yang saya temui memiliki keramahan yang sama yaitu menyambut dengan hangat ketika saya masuk ke ruangan praktik, namun dokter gigi yang saya datangi di Surabaya lebih komunikatif karena beliau menjawab segala pertanyaan saya dengan ramah dan sabar, beliau juga menyarankan hal yang harus saya lakukan untuk menjaga kesehatan gigi saya dan juga menjelaskan segala permasalahan yang ada di gigi saya.

Sedangkan dokter gigi yang saya temui di Bontang tidak sekomunikatif seperti dokter gigi yang saya temui di Surabaya. Jika dilihat dari segi pengerjaan, di Surabaya hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk scalling, sedangkan di Bontang memerlukan waktu yang lebih lama.

Tapi perbedaan lama pengerjaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan alat yang dipakai. Bisa jadi alat yang dipakai di klinik Surabaya lebih canggih dibanding dengan klinik di Bontang, mengingat Kota Bontang merupakan kota kecil di timur Kalimantan.

Dari sini saya menyimpulkan bahwa memang benar tingkat pelayanan dokter gigi yang ada di Bontang tidak sebaik dokter gigi yang berada di Surabaya. Saya yakin bahwa klinik-klinik gigi yang berada di Bontang dapat berubah menjadi lebih baik jika alat-alat yang digunakan diubah agar sebanding dengan alat-alat kedokteran gigi yang digunakan di kota-kota besar lainnya.

Perubahan Standard Operating Procedure (SOP) juga tak kalah penting agar pelayanan yang diberikan akan sama baiknya dengan klinik-klinik di luar kota Bontang.

Buruknya kesehatan gigi di Kota Bontang juga dipengaruhi oleh cara masyarakat menjaga kebersihan gigi yang kurang tepat. Untuk perihal ini saya rasa tak hanya di kota Bontang, tapi banyak kota di Indonesia juga mengalami hal yang sama.

Seperti contoh beberapa bulan yang lalu lebih tepatnya pada tanggal 12 Oktober 2024, saya terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di beberapa Sekolah Dasar (SD) dalam rangkaian acara Elementary Education Fakultas Kedokteran Gigi Peduli (EDE FKG-P) yang diselenggarai oleh BEM FKG Divisi Pengabdian Masyarakat.

Kami, mahasiswa baru FKG dilatih untuk bisa dan terbiasa untuk mengabdikan diri kami kepada masyarakat mengetahui bahwa kami di masa depan akan menjadi dokter gigi yang mengabdikan diri pada masyarakat dan bangsa. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan mendatangi sekolah yang berbeda-beda.

Kelompok saya mendapatkan SDN Dupak 1 sebagai sekolah yang akan kami datangi. Sesampainya kami di sana, rangkaian acara pun dimulai, dan sebagai pembawa acara, saya sempat bertanya kepada adik-adik mengenai kebiasaan mereka dalam menjaga kesehatan gigi. Ternyata jawaban mereka cukup mengejutkan kami.

Baca juga: Resah dengan Masalah Kesehatan Gigi di Masyarakat, Mahasiswa Tim PKM Kewirausahaan UPN “Veteran” Jawa Timur Sulap Kangkung Jadi Pasta Gigi Tanpa Detergen

Banyak di antara mereka yang menyikat gigi tanpa teknik yang benar, hanya sekadar menyikat gigi asal gigi mereka tersikat dengan pasta gigi. Mereka juga hanya sikat gigi ketika mandi dan tidak kembali menyikat gigi ketika malam sebelum tidur, karena hal tersebut bukanlah kebiasaan yang diajarkan oleh keluarga mereka.

Ketika saya bertanya tentang seberapa sering mereka ke dokter gigi, mereka menjawab bahwa mereka akan baru ke dokter gigi jika gigi mereka sudah terasa sakit, karena menurut mereka untuk ke dokter gigi selama 6 bulan sekali untuk pemeriksaan gigi rutin merupakan suatu pemborosan uang.

Oleh karena itu, kami sebagai mahasiswa kedokteran gigi merasa penting untuk terjun langsung ke masyarakat dan memberikan edukasi-edukasi berdasarkan ilmu yang telah kami dapatkan di perkuliahan.

Setelah mendengar jawaban dari adik-adik SDN Dupak 1, kami memberikan materi mengenai cara menyikat gigi dan mencuci tangan yang benar, penerapan pola hidup yang bersih dan sehat, dan mereka juga langsung mempraktikkannya.

Ketika sesi praktik sikat gigi, banyak dari adik-adik yang langsung terburu-buru memuntahkan pasta giginya karena mereka belum terbiasa menyikat gigi dengan teknik yang benar. Beberapa dari mereka mengeluh karena cara menyikat gigi yang kami ajarkan terlalu panjang, dan mereka lebih suka dengan cara sikat gigi yang biasa mereka lakukan walau tekniknya kurang tepat.

Kami berusaha mengedukasi mereka bahwa inilah cara yang benar agar gigi mereka tetap sehat dan kuat. Setelah memberikan materi dan praktik secara langsung, kami juga memberikan bingkisan berupa kudapan sehat, stiker, sikat gigi, dan pasta gigi, sehingga mereka dapat terus mempraktikkan apa yang telah kami ajarkan ada hari itu.

Saya yakin bahwa hal yang kami temui pada SDN Dupak 1 juga terjadi di Kota Bontang. Saya pun jadi termotivasi untuk menjadi dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak agar bisa terus berkontribusi untuk masyarakat khususnya anak-anak.

Saya ingin menjadi dokter gigi yang membuat anak-anak datang dan pulang dari perawatan giginya dengan senyuman lebar bukan dengan sebuah ketakutan. Saya akan hadir sebagai teman dengan alat-alat ajaib yang akan membuat gigi mereka menjadi sehat dan indah.

Saya ingin mengubah stigma bahwa ke dokter gigi merupakan hal yang menyenangkan bukan hal yang menyeramkan. Semoga kelak saya bisa sungguh ada di momen tersebut. Tunggu Nadien untuk menjadi dokter gigi anak di masa depan ya!

 

Penulis: Nadien Azzahra Budiarto
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses