Budaya Instan pada Generasi Muda Menghilangkan Esensi Utama

Budaya instan
Foto: Dok. MMI
Di era digital yang serba cepat, generasi muda semakin terbiasa dengan segala sesuatu yang instan. Segala sesuatu yang instan membuat berbagai hal menjadi mudah.
Namun, kemudahan tersebut tidak selalu berdampak baik.
Berbagai dampak ditimbulkan dari hal instan yang kita dapatkan. Fenomena instan ini perlu dipikirkan lebih lanjut agar tidak menghilangkan esensi utama dari suatu hal yang menjadi tujuan.
Fenomena instan menjadikan hasil akhir sebagai tujuan utama tanpa memperhatikan bagaimana proses untuk mendapatkan tujuan tersebut.
Kita seringkali lupa bahwa hal utama dalam mencapai suatu tujuan adalah prosesnya.
Waktu tidak dapat kita jadikan barometer utama dalam target kita mencapai suatu kesuksesan, karena justru melalui proses panjang seseorang dibentuk untuk mendapatkan hasil terbaik.
Sayangnya, saat ini stigma masyarakat terutama pada generasi muda sudah banyak dipengaruhi oleh media sosial.
Media sosial sering kali dijadikan tolak ukur seseorang dalam mencapai suatu kesuksesan.
Padahal, apa yang di tampilkan di dalamnya tidak selalu mencerminkan realitas yang utuh.
Banyak hal yang terlihat sempurna sebenarnya hanyalah representasi yang telah diseleksi dan dikonstruksi sedemikian rupa.
Akibatnya, kesulitan dan tantangan menjadi suatu hal yang dianggap memalukan, hal ini menyebabkan tidak sedikit generasi muda yang menggunakan cara instan untuk mengikuti standar sosial yang bertebaran di kalangan masyarakat media sosial.
Hal ini merupakan masalah serius yang perlu diselesaikan hingga ke akarnya.
Jika hal ini dibiarkan, masalah ini dapat berdampak luas terhadap berbagai hal.
Dampak terbesar adalah terkait masa depan individu tersebut.
Generasi Muda menjadi kurang menghargai proses dan cenderung mudah menyerah ketika menghadapi permasalahan yang akan ditemukan di kemudian hari.
Padahal, proses merupakan suatu hal penting yang dapat membentuk seseorang, ketahanan mental, serta kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah.
Hasil yang diperoleh melalui proses panjang yang terlihat melelahkan tersebut akan berbeda antara mereka yang berusaha keras dengan mereka dengan proses instan.
Selain itu, budaya instan juga berdampak pada cara berpikir generasi muda yang menjadi lebih pragmatis dan kurang reflektif.
Banyak Individu yang lebih fokus pada apa yang cepat berhasil dibandingkan apa yang benar dan bermakna.
Hal ini dapat terlihat dari kecenderungan mencari jalan pintas dalam berbagai aspek kehidupan, baik akademik, karir maupun relasi sosial.
Dalam konteks pendidikan misalnya, tidak sedikit yang lebih memilih metode instans seperti menghafal tanpa memahami atau mengandalkan ringkasan tanpa mengkaji sumber utamanya.
Padahal, proses memahami secara mendalam justru menjadi dasar penting dalam membentuk kemampuan berpikir kritis dan profesionalisme terutama bagi mahasiswa yang nantinya yang akan menghadapi tuntutan kompleks didunia kerja.
Disisi lain, paparan budaya instan yang terus menerus juga berpotensi mempengaruhi ketahanan mental generasi muda.
Ketika terbiasa mendapatkan sesuatu secara cepat, individu cenderung kurang siap menghadapi kegagalan atau proses panjang yang penuh ketidakpastian.
Hal ini dapat menimbulkan rasa frustasi, kecemasan bahkan penurunan kepercayaan diri ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi instan yang selama ini terbentuk.
Dalam jangka panjang kondisi ini bisa menghambat perkembangan pribadi karena individu tidak terbiasa menghadapi tekanan dan tantangan secara adaptif, melainkan cenderung menghindari proses yang dianggap sulit atau memakan waktu.
Oleh karena itu, kita perlu menyadari hal ini sebelum terlambat.
Sebagai seseorang yang memiliki  kendali penuh dalam penggunaan media sosial dan Artificial Intelligence, kita seharusnya mampu bersikap lebih bijak, kritis dan selektif dalam memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut.
Media sosial dan kecerdasan buatan pada dasarnya hanyalah alat, bukan penentu arah hidup sehingga cara kita menggunakannya akan sangat menentukan apakah teknologi tersebut menjadi sarana pengembangan diri atau justru memperkuat pola pikir instan yang perlahan menghilangkan makna dari suatu proses.
Kesadaran ini tidak hanya dipahami secara konseptual tetapi juga harus diwujudkan  dalam tindakan nyata seperti membatasi konsumsi konten yang bersifat semu, tidak mudah terpengaruh oleh standar keberhasilan yang tidak realistis serta tetap menghargai setiap proses yang dijalani, walaupun sekecil apa pun itu.
Selain itu juga, ini sangat penting bagi generasi muda untuk mulai membangun pola pikir yang lebih tahan terhadap tekanan, tidak hanya mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan serta mampu melihat kegagalan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang wajar dan bahkan diperlukan.
Dengan demikian, generasi muda tidak hanya berorientasi pada hasil yang instan dan terlihat di permukaan tetapi juga mampu membangun kualitas diri yang lebih mendalam seperti matang secara mental serta memiliki daya tahan dalam menghadapi dinamika kehidupan sehingga pada akhirnya dapat mencapai keberhasilan yang tidak hanya cepat tetapi juga bermakna dan berkelanjutan pada kehidupan.

Penulis: Nabiilah Saputri Rianti
Mahasiswa Prodi Kedokteran, Universitas YARSI

Dosen Pengampu: Aulia Rahmi, S.Pd., M.Pd.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses