Dampak Perkebunan Kelapa Sawit dalam Bidang Ekonomi dan Lingkungan

Perkebunan Kelapa Sawit
Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit (Sumber: Penulis)

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan salah satu negara penghasil sumber daya alam (SDA), salah satunya minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit dihasilkan dan dibudidayakan di berbagai pulau di Indonesia, seperti Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan yang menjadi titik utama, dan beberapa perkebunan kelapa sawit yang tersebar di berbagai pulau lainnya. Kebun kelapa sawit dibudidayakan di berbagai provinsi dengan mempertimbangkan keadaan lingkungan sekitar.

Ekspansi perkebunan kelapa sawit menghasilkan berbagai dampak, salah satunya dampak lingkungan, berupa alih fungsi hutan, degradasi tanah, dan perubahan kondisi sosial-lingkungan masyarakat sekitar. Namun, terdapat kontribusi lain dari sisi ekonomi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Perkebunan kelapa sawit memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, antara lain melalui peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB), devisa negara melalui ekspor, penciptaan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Indonesia tercatat sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Pada tahun 2023 produksi mencapai 47.084.000 ton. Hal ini didukung oleh terus meningkatnya areal perkebunan kelapa sawit, diperkirakan luas lahan sebesar 15,93 juta hektar pada tahun 2023.

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2023 hingga 2024 mengalami kenaikan, dengan kenaikan yang didapatkan dari 2023 yaitu 1,3 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp 21.641.230.000,00. GDP 2024 yang tercatat senilai 1.4 Miliar dolar Amerika serikat atau sebesar Rp23.305.940.000,00.

Sumber: Trading economics.com

Meningkatkan angka GDP bukanlah hal yang mudah, karena banyak aspek yang mempengaruhi GDP yaitu konsumsi yang dilakukan oleh negara, pajak yang dibayarkan oleh masyarakat, investasi oleh negara, berbagai pengeluaran pemerintah untuk operasional negara, berbagai kegiatan ekspor dan impor yang dilakukan.

Kegiatan ekspor dan impor yang melibatkan kerja sama antar negara membuat adanya kegiatan produksi dalam berbagai sektor seperti Pertambangan, Pertanian, Jasa, Manufaktur, dan konstruksi di Indonesia. Setiap sektor pasti memiliki lahan tempat dan lahan pengelolaan yang harus mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar dan akan menjalin hubungan dengan masyarakat agar tidak merasa saling terganggu satu sama lain.

Dalam beberapa sektor juga ada beberapa yang terkena dampak secara langsung seperti membantu pertumbuhan ekonomi sekitar, contohnya di sektor pertanian maka akan menambah lapangan pekerjaan bagi warga sekitar yang bekerja di lahan pertanian.

Industri kelapa sawit menjadi pilar ekonomi Indonesia. Wakil Kepala Perkebunan Kelapa Sawit di Kementerian Perdagangan Indonesia mengatakan bahwa pada 2023, kontribusi sub-sektor perkebunan terhadap PDB pertanian mencapai Rp 735,91 triliun, sehingga mewakili hampir 42 persen dari total angka. Angka kontribusi subsektor perkebunan terhadap pertanian ini cukup besar.

Ekspor komoditas utama, yaitu; minyak kelapa sawit, kakao, kopi, dan karet untuk tahun 2024 diperkirakan hampir mencapai 700 triliun rupiah, di mana minyak kelapa sawit mendominasi. Ini menegaskan bahwa minyak kelapa sawit sangat penting bagi petani dan daerah penghasil minyak kelapa sawit, tetapi juga merupakan komoditas ekspor utama Indonesia.

Berdasarkan catatan badan pengelola dana perkebunan kelapa sawit, industri perkebunan kelapa sawit hadir di 26 provinsi dan menjadi kontributor besar bagi ekonomi provinsi tersebut. Dengan adanya perkebunan kelapa sawit membuka banyak sekali lapangan pekerjaan. Hal ini dapat dirasakan di daerah pedesaan dan membantu mengurangi kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam perdagangan internasional minyak kelapa sawit, ekspor Indonesia pada 2024 diproyeksikan mencapai USD 22,9 miliar mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan bahwa komoditas kelapa sawit menjadi komoditas strategis untuk memperkuat neraca perdagangan dan menambah devisa bagi negara.

Dengan kontribusi itu, kelapa sawit dapat dibandingkan dengan pohon uang bagi Indonesia: menghasilkan pendapatan yang substansial, menciptakan lapangan kerja, dan merangsang pengembangan daerah. Namun, tantangan lingkungan tetap perlu diatasi untuk mempertahankan industri ini.

Ekspansi perkebunan kelapa sawit yang semakin meluas telah menjadi salah satu faktor utama meningkatnya risiko bencana lingkungan seperti banjir dan longsor di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu wilayah yang terdampak adalah provinsi Sumatera Utara.

Baca juga: Upaya Penanganan Isu Perkebunan Kelapa Sawit terhadap Perubahan Iklim di Indonesia

Beberapa minggu terakhir wilayah Sumatera Utara mengalami bencana alam, yaitu banjir bandang dan tanah longsor. Beberapa ahli meyakini bahwa bencana tersebut terjadi karena rusaknya ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS).

Menurut Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU., seorang pakar dari Fakultas Kehutanan UGM,  hutan di wilayah hulu DAS berperan vital sebagai penyangga hidrologis. Vegetasi hutan yang rimbun berperan sebagai penyerap air hujan agar tidak langsung terbuang ke sungai. Hatma turut menyayangkan terjadinya deforestasi masif yang telah berlangsung di banyak kawasan hulu Sumatera.

Sumber: Auriga Nusantara

Deforestasi Pulau Sumatera pada tahun 2024 mencapai 91.248 hektar. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2023 luasnya 33.311 hektar. Semakin hilangnya tutupan hutan karena alih fungsi, akan memicu bahaya bencana alam yang ditimbulkan. Hal ini selaras dengan bencana alam yakni banjir bandang dan tanah longsor yang menimpa Pulau Sumatera pada akhir November 2025.

Bencana tersebut berdampak pada perekonomian, kerusakan infrastruktur menyebabkan gangguan rantai pasok sehingga meningkatkan biaya operasional usaha dan menurunkan pendapatan pelaku ekonomi. Lahan petani juga mengalami kerusakan, hal ini menyebabkan gagal panen sehingga mendorong terjadinya inflasi pangan.

Diharapkan pada setiap pihak yang memiliki kepentingan tetap menjaga kondisi lingkungan sekitar dan pemanfaatan kelapa sawit tidak menimbulkan kerusakan alam.

 

Referensi

Badan Pusat Statistik. (2025). Produksi tanaman perkebunan

https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTMyIzI=/produksi-tanaman-perkebunan.html

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. (2025). Dampak positif kelapa sawit terhadap perekonomian nasional. https://www.bpdp.or.id/dampak-positif-kelapa-sawit-terhadap-perekonomian-nasional

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. (2025). Mencermati perkebunan kelapa sawit Indonesia yang sangat strategis https://www.bpdp.or.id/mencermati-perkebunan-kelapa-sawit-indonesia-yang-sangat-strategis

Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2024). Peran industri minyak kelapa sawit Indonesia di bidang ekonomi. https://brin.go.id/news/120268/peran-industri-minyak-kelapa-sawit-indonesia-di-bidang-ekonomi

Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. (2025). Outlook perkebunan Indonesia 2025.

https://perkebunan.brmp.pertanian.go.id/berita/outlook-perkebunan-indonesia-2025

Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2024). Peran strategis industri kelapa sawit. https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/Peran-Strategis-Industri-Kelapa-Sawit

Bisnis.com.  (2025, 17 Desember). Ironi sawit jadi sandaran ekonomi, isu deforestasi disorot pajak karena underinvoicing. https://ekonomi.bisnis.com/read/20251217/259/1937692/ironi-sawit-jadi-sandaran-ekonomi-isu-deforestasi-disorot-pajak-karena-underinvoicing

Trading Economics. (2025). Indonesia GDP. https://id.tradingeconomics.com/indonesia/gdp#:~:text=pada%20tahun%201967.-,PDB%20di%20Indonesia%20rata%2Drata%20sebesar%20371%2C13%20miliar%20USD,miliar%20USD%20pada%20tahun%201967.

Universitas Gadjah Mada. (2025). Bencana banjir bandang Sumatra, pakar UGM sebut akibat kerusakan ekosistem hutan di hulu DAS.

https://ugm.ac.id/id/berita/bencana-banjir-bandang-sumatra-pakar-ugm-sebut-akibat-kerusakan-ekosistem-hutan-di-hulu-das/

Web BPS Statistik kelapa sawit 2023.

https://web-api.bps.go.id/download.php?f=3+jmh0v3cPo5iEFTWEN1cVdPRVB3WUthTktLMTdhQnlPbEN1bVF0cE5oU2ZmT2svKzkyR2g0RHZZeWZOUDlFbE5iUlkzUDkxZVJ5YnZTdmdhSEdmVFFSZUVzeUc3Vk9ld3BkQVJwVCs2b1hjb1hUVmxLK1I4WXFWcWhyUzY5UWUxeFFONzRnSFg1bisxSUVLSzNQOVRUdFpYbmc4cndMWHNDQ0NmZVVVMWl4Unh3a1dZeFhjd2NFTHU1dUxjOW94T0dFdHJBR3NoYlFYVlIxaGpKY3lVdnpaNzBRL1hQT3hnVy9GVkdGZmdQNFJ0a1Z4ck9jSUJTZC9Rb0x0L3lvUmxsRW9GWVZoTzdrcmRrVVg=&_gl=1*1mj5612*_ga*NTM4MDU2OTA0LjE3NTk0MDkyMjU.*_ga_XXTTVXWHDB*czE3NjU4NjczODYkbzIkZzAkdDE3NjU4NjczODYkajYwJGwwJGgw

 


Penulis: Reni Yuliasari
Mahasiswa Manajemen, Universitas Al Azhar Indonesia


Dosen Pengampu: Dewi Elfidasari


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses