Dalam industri pekerjaan era modern, sumber daya manusia yang dibutuhkan adalah mereka yang memiliki kemampuan adaptasi karier.
Lulusan baru yang memasuki dunia kerja harus dapat menyesuaikan diri dengan cepat dan efektif untuk meningkatkan kinerja serta memenuhi ekspektasi perusahaan.
Adaptasi karier di lingkungan kerja meliputi kemampuan individu untuk berintegrasi dengan budaya, sistem, rekan kerja, dan atasan di tempat kerja.
Sementara itu, kompetensi kerja mencakup keterampilan dan pemahaman yang diperlukan agar seseorang dapat menjalankan tugasnya secara optimal.
Dalam beberapa kasus, lulusan baru menghadapi tantangan dalam beradaptasi dan mengembangkan kompetensi mereka, yang dapat memengaruhi keberhasilan karir mereka.
Oleh karena itu, memahami pola adaptasi lulusan baru dalam mengoptimalkan kompetensi di dunia kerja menjadi hal yang penting.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa lulusan baru sering mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja, terutama dalam aspek budaya, etika, dan peraturan yang berbeda dari lingkungan pendidikan, khususnya di perguruan tinggi.
Transisi budaya dari masa perkuliahan ke dunia profesional membuat fresh graduate tidak mendapat umpan balik seperti di pendidikan tinggi, karena perguruan tinggi memiliki standarisasi dalam melakukan penilaian dan konsisten, sedangkan di dunia pekerjaan umpan balik jarang dilakukan secara konsisten dan tergantung pada perusahaan atau instansi tersebut.
Selain itu, dimensi hubungan dalam pekerjaan juga penting, karena terjadinya interaksi yang dilakukan individu pada kelompok perlu dibangun dan dipelihara, sehingga terjalin hubungan yang baik agar fresh graduate dapat berkolaborasi dengan tim maupun atasan.
Akuntabilitas, yaitu bertanggung jawab terhadap pekerjaan, menjadi prioritas utama dalam bekerja kepada atasan maupun perusahaan.
Sehingga, tiga dimensi ini perlu diperhatikan oleh fresh graduate dalam memasuki dunia pekerjaan.
Dalam beberapa kasus, fresh graduate memilih untuk resign dari pekerjaan tersebut jika tidak dapat memenuhi harapan atau jika pekerjaan tidak sesuai dengan minat dan kompetensi.
Namun, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa fresh graduate memiliki potensi dan kelebihan yang dibutuhkan bagi perusahaan dalam jangka panjang.
Mereka membawa energi dan ide-ide inovatif yang baru, serta memiliki semangat belajar yang tinggi dan keinginan untuk meraih kesuksesan.
Fresh graduate mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan budaya perusahaan, serta cenderung lebih fleksibel dan mudah beradaptasi dengan perubahan dalam dunia kerja yang cepat berubah.
Mahasiswa merupakan golongan intelektual yang memiliki dua karakteristik yang ditonjolkan, yaitu seorang pemuda dan calon intelektual (Sejati & Prihastuti, 2012).
Setiap mahasiswa memiliki pandangan yang beragam mengenai dunia kerja, termasuk pilihan instansi dan jenis pekerjaan yang diinginkan untuk meraih kesuksesan di masa depan serta menghindari pengangguran.
Sebagai bagian dari generasi di era digital, mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran sekaligus mempersiapkan diri dengan keterampilan yang memadai untuk menghadapi persaingan di dunia kerja.
Kemajuan teknologi seharusnya menjadi alat yang dapat mempermudah mahasiswa dalam merencanakan kariernya, seperti mencari informasi tentang pekerjaan yang diinginkan atau mengikuti pelatihan soft skill untuk meningkatkan kompetensi sebelum memasuki dunia profesional.
Sebagai seorang pemuda, patutnya memiliki peran penting dalam memberikan kontribusi terbaiknya di tempat kerja.
Sebagai agent of change, mahasiswa diharapkan dapat menjalankan perannya sebagai generasi penerus bangsa yang siap menghadapi tantangan dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Tingginya standar dan persyaratan kompetensi serta pengalaman yang tercantum dalam lowongan kerja juga turut menjadi pemicu banyaknya angka pengangguran dan menjadi tantangan besar bagi para fresh graduate.
Sebagai lulusan baru yang umumnya belum memiliki pengalaman kerja yang cukup, para fresh graduate sering kali kesulitan memenuhi kualifikasi yang diharapkan oleh perusahaan.
Hal ini menciptakan kesenjangan antara harapan pasar tenaga kerja dan kesiapan individu yang baru saja menyelesaikan pendidikan.
Persyaratan yang semakin ketat ini memaksa fresh graduate untuk beradaptasi dan mengembangkan berbagai keterampilan tambahan, baik melalui pelatihan, magang, maupun pengalaman lainnya, agar dapat bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif.
Di Indonesia umumnya sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan terutama untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan keahlian, sehingga tidak jarang para pelamar kerja mencoba semua lowongan pekerjaan meskipun tidak sesuai dengan ranah pekerjaan yang diinginkan.
Selain itu tantangan yang akan dihadapi oleh fresh graduates ketika masuk dunia kerja ialah dihadapkan sebuah fakta bahwa mahasiswa masih akan bersaing dengan para pelamar kerja lain yang sudah memiliki pengalaman, sehingga menyebabkan fresh graduates mengalami kepercayaan diri yang rendah pada kemampuan dan kesiapan untuk memasuki dunia kerja.
Mereka harus bersaing lebih ketat dan berusaha lebih keras agar bisa mendapatkan sebuah pekerjaan ditambah lagi dengan lapangan pekerjaan yang tiap hari kian menyusut selama pandemi ini, yang seharusnya bisa menampung para fresh graduates meraih pekerjaan.
Menurut Rottinghaus (dalam Kusumawati et al., 2022) kemampuan adaptabilitas karier sebagai kemampuan untuk mengatasi dan memanfaatkan perubahan dalam dunia kerja.
Kemampuan adaptabilitas karier merupakan hal yang penting untuk fresh graduates, karena adaptabilitas karir sangat dibutuhkan untuk menunjang kesuksesan karir seseorang di dunia kerja.
Terkait pola adaptabilitas karir untuk fresh graduate di lingkungan kerja terdapat empat tahapan yaitu:
- Career Corner kesadaran karır terhadap masa depan karır dan kesiapan menghadapi tantangan di dunia kerja, yang mencakup Mind tentang Refleksi dan Perencanaan karier sebagai proses membantu fresh graduate memahami ekspektası pekerjaan dan menentukan langkah strategis dalam karier.
- Career Control kemampuan mengendalikan dırı dengan menyesuaikan perilaku fresh graduate dengan nilai dan standar organisası, yang mencakup self yang menekankan bahwa betapa pentingnya memilikı tanggung jawab atas pengambilan keputusan karır.
- Career Curiosity keinginan untuk belajar tentang lingkungan kerja menjadi dorongan utama bagi fresh graduate yang mencakup society sebagai bentuk pemahaman terhadap norma dan nilai sosial karyawan baru belajar melalui interaksi dengan rekan kerja untuk memahami budaya perusahaan
- Career Confidence keyakinan diri penting untuk fresh graduate dalam adaptabilitas karier di tempat kerja dengan memiliki rasa optimis dan ketahanan diri yang baik.
Adaptabilitas karier di tempat kerja memerlukan profesionalisme dan komunikasi yang efektif alumni menyadari bahwa komunikasi dı lingkungan kerja lebih formal daripada di lingkungan akademik.
Informan Fiona menekankan pentingnya profesionalitas tinggi saat berkomunikası dengan rekan kerja dan atasan untuk menyoroti perbedaan inti.
Selain itu, juga menekankan bahwa komunikasi yang terbuka sangat penting untuk menyelesaikan tugas dan membangun koordinası tım.
Hal ini menunjukkan bahwa fresh graduate dapat menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dengan menyeimbangkan komunikasi profesional dengan hubungan interpersonal yang santai.
Kendala yang dihadapi fresh graduate mencakup tantangan sosial, psikologis, dan kultural yang menjadi permasalahan adaptabilitas karier yang dihadapi dengan menjalin komunikasi dan menjalin hubungan dengan rekan organisasi dari generasi yang berbeda adalah salah satu contoh tantangan sosial para fresh graduate sering mengalami stres karena tekanan kerja dan ekspektasi tinggi dalam posisi yang tersedia, terutama dengan tanggung jawab akademik yang berbeda dari perspektif kultural, sehingga mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan hierarki organisasi karena budaya kerjanya berbeda dari standar akademik.
Penulis:
1. Muhammad Jafar Shidiq
2. Nur Intani Putri
3. Muhammad Rizky Al Farel
4. Dita Septi Anggraeni
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Sejati, N. W., & Prihastuti, R. (2012). Tingkat Kecemasan Sarjana Fresh Graduate Menghadapi Persaingan Kerja Dan Meningkatnya Pengangguran Intelektual. Intuisi: Jurnal Psikologi Ilmiah, 4(3), 2–5.
Rottinghaus, P. J., Day, S. X., & Borgen, F. H. (2005). The Career Futures Inventory: A measure of career-related adaptability and optimism. Journal of Career Assessment, 13(1), 3–24. https://doi.org/10.1177/1069072704270271
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












