Ketika merasa lelah di tengah rutinitas yang padat dan tekanan hidup sehari-hari, banyak anak muda memilih staycation atau liburan singkat untuk mencari healing, banyak anak muda memilih staycation, liburan singkat, atau sekadar pergi ke tempat estetik untuk mencari healing. Namun di tengah tren tersebut, masyarakat Indonesia sebenarnya telah lama mengenal cara sederhana untuk menenangkan diri, yaitu ziarah.
Ziarah merupakan salah satu praktik keagamaan yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tradisi ini umumnya dilakukan dengan mengunjungi makam orang tua, leluhur, atau tokoh agama.
Fenomena ini terlihat pada tradisi ziarah menjelang Idul Fitri, kunjungan ke makam Wali Songo di Pulau Jawa, hingga haul Muhammad Zaini Abdul Ghani di Martapura, Kalimantan Selatan yang setiap tahun dihadiri jutaan jamaah. Aktivitas ini tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas mendoakan seseorang yang telah meninggal tetapi juga sebagai sarana refleksi diri dan pendekatan spiritual kepada Tuhan.
Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, menarik untuk melihat bagaimana praktik religius seperti ziarah berperan dalam kehidupan psikologis individu. Hal ini menjadi semakin relevan mengingat data dari World Health Organization menunjukkan bahwa 1 dari 8 orang di dunia hidup dengan gangguan mental (WHO, 2022) dan angka ini terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sekitar 1 dari 10 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental emosional.
Dalam konteks ini, agama dan spiritualitas sering menjadi salah satu sumber coping atau cara individu menghadapi tekanan hidup. Dalam psikologi, agama sering menjadi cara seseorang bertahan saat menghadapi tekanan hidup melalui pendekatan spiritual.
Penelitian Kim dan Chen (2025) menunjukkan bahwa kegiatan ziarah mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis, termasuk kepuasan hidup dan rasa bermakna dalam kehidupan. Ziarah memberikan ruang bagi individu untuk melakukan refleksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, menenangkan pikiran melalui doa.
Secara psikologis, aktivitas ini membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan. Lingkungan yang cenderung tenang serta aktivitas doa yang repetitif juga berkontribusi pada efek relaksasi, yang berdampak positif terhadap kondisi emosional seseorang. Selain sebagai bentuk coping, ziarah juga memiliki peran penting dalam proses berduka (grief).
Kehilangan orang yang dicintai seringkali menimbulkan tekanan emosional yang mendalam. Dalam kondisi ini, ziarah menjadi media untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan secara verbal. Melalui ziarah, individu dapat mengenang kembali sosok yang telah meninggal, mengekspresikan kesedihan secara sehat, serta membangun hubungan batin yang berkelanjutan.
Penelitian menunjukkan bahwa ritual seperti ziarah dapat membantu individu mencapai tahap penerimaan (acceptance) dalam proses berduka, sehingga mengurangi risiko gangguan emosional berkepanjangan. Ziarah sering dilakukan bersama keluarga atau komunitas. Hal ini memberikan manfaat tambahan berupa dukungan sosial (social support), yang merupakan salah satu faktor protektif utama dalam kesehatan mental.
Kebersamaan dalam ziarah dapat mempererat hubungan keluarga, mengurangi rasa kesepian, meningkatkan perasaan memiliki (sense of belonging). Dalam banyak kasus, dukungan sosial terbukti berperan penting dalam membantu individu menghadapi tekanan hidup dan menjaga stabilitas emosional
Namun, di masyarakat, praktik ziarah terkadang masih disalahartikan. Dalam praktiknya ziarah di masyarakat juga sering disertai berbagai unsur budaya dan simbolik, seperti penggunaan dupa, sesajen, benda pusaka, atau keris di beberapa tempat tertentu, sebagian orang memandang ziarah bukan lagi sebagai sarana mendoakan orang yang telah meninggal, refleksi diri, atau mengingat kematian, tetapi justru menjadikan makam tokoh tertentu sebagai tempat meminta pertolongan secara langsung kepada orang yang telah wafat. Dalam perspektif keagamaan, hal ini sering menjadi perdebatan karena esensi doa dalam ziarah seharusnya tetap ditujukan kepada Tuhan.
Dari sudut pandang psikologi, keyakinan bahwa semua masalah hidup dapat selesai hanya dengan datang ke tempat ziarah tanpa usaha nyata juga dapat memunculkan pola pikir irasional. Individu bisa menjadi terlalu bergantung pada simbol spiritual dan mengabaikan upaya penyelesaian masalah yang lebih realistis, termasuk mencari bantuan profesional ketika mengalami gangguan kesehatan mental yang serius. Meskipun memiliki banyak manfaat, ziarah juga memiliki potensi dampak negatif jika tidak dipahami secara proporsional.
Pertama, ziarah dapat menjadi bentuk pelarian dari masalah (maladaptive coping) jika individu hanya mengandalkan praktik spiritual tanpa mencari bantuan profesional ketika mengalami gangguan mental yang serius. Misalnya, seseorang dengan depresi berat mungkin hanya berfokus pada ritual ziarah tanpa mendapatkan intervensi psikologis yang diperlukan.
Kedua, dalam beberapa kasus, aktivitas ziarah terutama dalam skala besar seperti haji atau umrah dapat menimbulkan stres fisik dan mental, seperti kelelahan, kepadatan, dan tekanan lingkungan. Penelitian terbaru (2026) menunjukkan bahwa faktor-faktor ini dapat memengaruhi kondisi psikologis individu, terutama pada kelompok rentan seperti lansia.
Ketiga, munculnya keyakinan irasional seperti anggapan bahwa ziarah dapat menyelesaikan semua masalah hidup secara instan juga perlu diwaspadai. Pola pikir seperti ini dapat menimbulkan ketergantungan dan berpotensi menimbulkan kekecewaan ketika harapan tidak terpenuhi.
Agar ziarah memberikan manfaat optimal bagi kesehatan mental, diperlukan pemahaman yang seimbang dalam masyarakat. Ziarah sebaiknya dipandang sebagai sarana refleksi dan pendekatan spiritual, pelengkap dalam menjaga kesehatan mental, bukan pengganti bantuan profesional.
Masyarakat juga perlu diedukasi bahwa menjaga kesehatan mental dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti berbagi cerita dengan orang terpercaya, mencari bantuan psikolog atau konselor, menjaga pola hidup sehat. Pendekatan yang integratif antara spiritualitas dan psikologi akan memberikan hasil yang lebih optimal dalam menjaga kesejahteraan mental.
Ziarah merupakan praktik keagamaan yang memiliki nilai spiritual sekaligus manfaat psikologis. Aktivitas ini dapat membantu individu dalam mengelola stres, memproses emosi, serta memperkuat hubungan sosial. Dalam banyak kasus, ziarah berfungsi sebagai mekanisme coping yang efektif dan berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan mental.
Namun demikian, penting untuk memahami bahwa ziarah bukanlah satu-satunya solusi dalam menghadapi masalah psikologis. Pendekatan yang seimbang antara spiritualitas dan intervensi profesional menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan mental secara menyeluruh.
Pada akhirnya, healing tidak selalu harus mahal, jauh, atau estetik untuk diunggah ke media sosial. Terkadang, ketenangan justru hadir dari doa, refleksi, dan perjalanan spiritual yang sederhana seperti ziarah.
Penulis: Ervina Ihsa Kumalasari
Mahasiswa Magister Sains Psikologi, Universitas Katolik Soegijapranata
Dosen Pengampu: Dr. Siswanto, M.Si., Psikolog
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Al-Shreifeen, I. A., & Marlinda. (2025). Psychology and health of Indonesian umrah pilgrims: Exploring mental and physical well-being during the journey. Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan.
Baek, K., Choe, Y., Lee, S., Lee, G., & Pae, T. I. (2022). The effects of pilgrimage on meaning in life and life satisfaction as moderated by tourist faith maturity. Sustainability, 14(5), 2891.
Cetinkaya, M., & Billings, J. (2023). Systematic review of the relationship between Islamic-Sufi spirituality and mental well-being. Mental Health, Religion & Culture.
Fatima, M. (2024). Journey of the soul: Exploring female subjective experiences post-umrah pilgrimage. Asian Journal of Islamic Psychology.
Hilario, R. C., & Sy Su, C. C. (2023). The efficacy and limits of pilgrimage as therapy for depression. Religions, 14(2), 181.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Survei Kesehatan Indonesia.
Kim, J., & Chen, Y. (2025). Can mega pilgrimages increase participants’ well-being? Journal of Travel Research.
Subahri, B., & Airiza, I. (2024). Ziarah kubur sebagai media konseling Islam dalam meningkatkan kesehatan mental masyarakat. Psychospiritual: Journal of Trends in Islamic Psychological Research, 3(1), 9–26.
World Health Organization. (2022). World mental health report: Transforming mental health for all.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












