Hoaks dan Rendahnya Literasi Digital: Membingkai Solusi dalam Perspektif Kemuhammadiyahan

literasi digital remaja
Dalam perspektif nilai-nilai kemuhammadiyahan, penyebaran hoaks jelas bertentangan dengan semangat keilmuan, akhlak mulia, dan semangat amar ma'ruf nahi munkar. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Pendahuluan

Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, terutama bagi para remaja yang aktif menggunakan media sosial. Arus informasi yang begitu cepat menghadirkan kemudahan dalam mengakses pengetahuan, berita, serta hiburan.

Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, muncul pula tantangan serius berupa penyebaran hoaks atau informasi palsu. Hoaks menjadi ancaman nyata karena dapat membentuk opini yang keliru, memicu konflik, dan melemahkan integritas sosial.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Rendahnya literasi digital di kalangan remaja membuat mereka mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak benar. Hal ini menjadi masalah penting bagi dunia pendidikan, karena sekolah bukan hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter peserta didik agar mampu berpikir kritis.

Jika siswa tidak memiliki kemampuan memilah informasi, maka proses pendidikan akan terganggu. Oleh sebab itu, persoalan hoaks bukan sekadar masalah teknologi, melainkan juga masalah moral, sosial, dan keagamaan yang perlu ditangani dengan pendekatan nilai-nilai kemuhammadiyahan.

Baca juga: Cara Gen-Z Antisipasi Berita Hoaks

Deskripsi Isu Kekinian

Fenomena penyebaran hoaks di kalangan remaja semakin meningkat seiring maraknya penggunaan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp. Banyak remaja membagikan informasi tanpa membaca secara tuntas atau memeriksa sumbernya terlebih dahulu.

Beberapa survei literasi digital nasional menunjukkan bahwa mayoritas pengguna internet usia 13–20 tahun masih kesulitan mengidentifikasi informasi yang kredibel.

Baca juga: Menyaring Informasi di Tengah Banjir Hoaks dan Opini Digital

Penyebab rendahnya literasi digital tersebut antara lain disebabkan oleh beberapa faktor berikut:

1. Kurangnya pendidikan literasi media, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.

2. Budaya membaca yang masih rendah, sehingga remaja lebih tertarik pada informasi singkat namun provokatif.

3. Tekanan sosial pertemanan (peer pressure), di mana remaja cenderung membagikan informasi secara cepat agar terlihat aktif dan tidak ketinggalan zaman (kudet).

4. Algoritma media sosial yang sering menampilkan konten sensasional dan memancing emosi, sehingga mudah dipercaya tanpa verifikasi.

Dampaknya pun sangat luas. Pada level pribadi, hoaks dapat menyesatkan cara berpikir dan membentuk opini yang keliru. Pada level sosial, hoaks berpotensi memicu perpecahan, ujaran kebencian, bahkan sikap intoleransi.

Sementara di lingkungan pendidikan, siswa menjadi rentan terhadap misinformasi sehingga proses pembelajaran ilmiah menjadi terganggu. Akibatnya, guru harus bekerja lebih keras untuk meluruskan persepsi yang salah tersebut.

Analisis Nilai-Nilai Kemuhammadiyahan

Dalam menghadapi masifnya penyebaran hoaks, nilai-nilai kemuhammadiyahan dapat dijadikan sebagai pedoman penting:

Semangat Keilmuan dan Literasi

Muhammadiyah senantiasa menekankan pentingnya mencari ilmu dengan landasan kebenaran. Hoaks sangat bertentangan dengan semangat tabayyun (verifikasi informasi) yang diajarkan dalam Islam. Remaja perlu dibiasakan untuk memeriksa sumber, memahami konteks, dan mengutamakan data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Menyebarkan informasi yang benar merupakan bagian dari amar ma’ruf (mengajak kepada kebaikan), sedangkan menghentikan laju hoaks adalah bentuk nyata dari nahi munkar (mencegah kemungkaran). Remaja harus didorong untuk menjadi agen kebaikan dengan mencegah tersebarnya berita bohong.

Akhlak Karimah

Penyebaran hoaks sering kali memicu fitnah, kebencian, dan kegaduhan. Implementasi akhlak mulia akan mendorong siswa untuk berkata jujur, berhati-hati dalam menyampaikan informasi, serta senantiasa menjaga harmoni sosial.

Ukhuwah dan Toleransi

Hoaks sering kali sengaja diproduksi untuk memecah belah. Nilai ukhuwah mengajarkan remaja untuk menjaga persatuan, mempererat tali persaudaraan, dan menghindari konsumsi informasi yang dapat merusak hubungan sosial.

Tajdid

Nilai tajdid (pembaruan) menekankan pada aspek adaptasi positif terhadap perkembangan zaman modern. Di era digital saat ini, semangat tajdid harus diwujudkan dengan memanfaatkan teknologi secara cerdas, kreatif, dan beretika.

Rekomendasi dan Solusi

Strategi Pendidikan di Sekolah

1. Sekolah perlu mengintegrasikan materi literasi digital ke dalam kurikulum pembelajaran, misalnya teknik memverifikasi informasi, mengenali jebakan judul klik (clickbait), dan memahami dampak jejak digital.

2. Guru dapat memberikan studi kasus nyata yang diikuti dengan metode pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning).

Peran Pendidik

1. Guru harus mampu menjadi teladan (role model) dalam bersikap kritis, bijak, dan santun di media sosial.

2. Guru berperan aktif dalam memandu serta mengarahkan siswa untuk menggunakan sumber-sumber informasi yang valid dan kredibel.

Program Sekolah

1. Membentuk Kelompok Komunitas Literasi Digital atau Jurnalis Pelajar untuk melatih siswa dalam memproduksi berita yang akurat dan objektif.

2. Mengadakan kampanye gerakan “Stop Hoaks” secara berkala di lingkungan sekolah.

Langkah Praktis bagi Siswa

1. Disiplin untuk tidak membagikan informasi apa pun sebelum melakukan proses tabayyun.

2. Membiasakan diri membaca informasi yang diterima secara utuh, lengkap, dan komprehensif.

3. Mengikuti akun-akun edukatif dan kanal informasi yang memiliki kredibilitas tinggi.

4. Segera melapor kepada guru atau pihak sekolah apabila menemukan berita bohong atau hoaks yang beredar di grup kelas atau lingkungan sekolah.

Penutup

Rendahnya literasi digital dan maraknya hoaks merupakan masalah serius yang memengaruhi perilaku serta pola pikir generasi muda. Dalam perspektif nilai-nilai kemuhammadiyahan, penyebaran hoaks jelas bertentangan dengan semangat keilmuan, akhlak mulia, dan semangat amar ma’ruf nahi munkar.

Oleh karena itu, sinergi antara sekolah, pendidik, dan siswa sangat krusial untuk meningkatkan kemampuan literasi digital serta menciptakan ekosistem informasi yang sehat. Melalui pendidikan yang tepat dan berlandaskan nilai-nilai keislaman, remaja dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan beretika dalam menyikapi dinamika informasi digital.


Penulis: Resa Mawardani
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Surakarta


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses