Beberapa tahun terakhir, pemerintah terus menampilkan angka pertumbuhan ekonomi sebagai tanda bahwa kondisi negara sedang bergerak ke arah positif.
Setiap kali data pertumbuhan diumumkan, masyarakat disuguhi optimisme bahwa ekonomi Indonesia tetap kuat ditengah tekanan global.
Namun, dibalik angka-angka tersebut, muncul pertanyaan sederhana yang mulai sering terdengar, mengapa hidup terasa semakin sulit jika ekonomi benar-benar tumbuh?
Banyak masyarakat hari ini merasa bahwa pertumbuhan ekonomi hanya terlihat dalam laporan statistik, tetapi belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Harga kebutuhan pokok naik, biaya pendidikan meningkat, lapangan kerja semakin kompetitif, sementara pendapatan sebagian masyarakat justru stagnan.
Akibatnya, muncul jarak antara data ekonomi dan realitas yang dirasakan rakyat.
Fenomena ini membuat publik mulai mempertanyakan apakah pertumbuhan ekonomi memang benar-benar mencerminkan kesejahteraan masyarakat.
Sebab pada kenyataannya, pertumbuhan tidak selalu berarti pemerataan.
Ada kondisi dimana ekonomi tumbuh tinggi, tetapi manfaatnya hanya dirasakan kelompok tertentu.
Ketimpangan inilah yang kemudian menimbulkan rasa skeptis ditengah masyarakat.
Dikutip dari news.detik.com (Kamis, 14/05/2026) bahwa “kualitas pertumbuhan ekonomi belum merata.”
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya soal pertumbuhan, melainkan bagaimana hasil pertumbuhan itu didistribusikan kepada masyarakat luas.
Menurut saya, pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya dijadikan kebanggaan dalam bentuk angka persentase.
Yang lebih penting adalah dampaknya terhadap kehidupan masyarakat kecil.
Jika pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi pengangguran masih banyak, daya beli melemah, dan masyarakat terus merasa tertekan secara finansial, maka wajar apabila publik mulai mempertanyakan makna pertumbuhan itu sendiri.
Baca Juga: Menyeimbangkan Neraca: Strategi Ekspor-Impor dalam Memacu Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Selain itu, masyarakat saat ini juga semakin kritis terhadap informasi dan data yang disampaikan pemerintah.
Mereka tidak lagi hanya melihat angka, tetapi membandingkannya dengan kondisi nyata yang mereka alami setiap hari.
Ketika realita tidak sejalan dengan narasi pertumbuhan ekonomi, rasa percaya terhadap data perlahan dapat menurun.
Dikutip dari finance.detik.com (Rabu, 06/08/2025) “Saya tidak percaya dengan data yang disampaikan mewakili kondisi ekonomi yang sebenarnya.”
Menurut saya, masyarakat mulai mempertanyakan angka pertumbuhan ekonomi bukan karena tidak percaya sepenuhnya pada data pemerintah, tetapi karena kondisi yang mereka rasakan sehari-hari sering kali berbeda dengan angka yang diumumkan.
Ketika harga kebutuhan hidup meningkat, lapangan kerja sulit, dan daya beli menurun, masyarakat tentu akan membandingkan realita tersebut dengan narasi pertumbuhan ekonomi yang terlihat positif.
Penyebab pertumbuhan ekonomi bisa terasa “tidak merata” seperti pada opini tersebut antara lain:
1. Ketimpangan distribusi hasil pertumbuhan
Pertumbuhan ekonomi sering kali lebih banyak dinikmati oleh kelompok tertentu, seperti perusahaan besar atau masyarakat berpenghasilan tinggi, sementara masyarakat kecil belum merasakan dampaknya secara langsung.
2. Harga kebutuhan pokok terus meningkat
Kenaikan harga pangan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari membuat daya beli masyarakat menurun meskipun angka pertumbuhan ekonomi meningkat.
3. Lapangan kerja belum memadai
Pertumbuhan ekonomi tidak selalu diikuti dengan penciptaan lapangan kerja yang cukup.
Akibatnya, pengangguran dan persaingan kerja tetap tinggi, terutama bagi generasi muda.
4. Pendapatan masyarakat cenderung stagnan
Banyak pekerja merasa gaji atau pendapatan mereka tidak mengalami peningkatan yang sebanding dengan kenaikan biaya hidup.
5. Dukungan terhadap UMKM masih kurang optimal
UMKM sering mengalami kesulitan modal, pemasaran, dan biaya operasional yang tinggi sehingga sulit berkembang dan ikut menikmati pertumbuhan ekonomi.
6. Ketergantungan pada sektor tertentu
Pertumbuhan ekonomi terkadang hanya bertumpu pada investasi besar atau sektor tertentu sehingga manfaatnya belum menyebar ke seluruh daerah dan lapisan masyarakat.
Baca Juga: Dolar AS Menggila! Ini Penyebab dan Dampaknya terhadap Ekonomi Indonesia
Langkah atau sikap yang dapat dilakukan masyarakat untuk membantu memperbaiki kondisi ekonomi tersebut:
1. Meningkatkan keterampilan dan pendidikan
Masyarakat perlu terus belajar dan mengembangkan kemampuan agar mampu bersaing di dunia kerja dan memanfaatkan peluang ekonomi digital.
2. Mendukung produk lokal dan UMKM
Dengan membeli produk lokal, masyarakat ikut membantu usaha kecil berkembang sehingga perputaran ekonomi menjadi lebih merata.
3. Mengelola keuangan dengan bijak
Masyarakat perlu lebih hemat, mengatur pengeluaran, dan mulai menabung atau berinvestasi untuk menghadapi kondisi ekonomi yang tidak stabil.
4. Memanfaatkan teknologi dan peluang usaha
Perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk membuka usaha online, pemasaran digital, atau pekerjaan freelance sehingga sumber pendapatan menjadi lebih luas.
5. Lebih kritis dan aktif terhadap kebijakan ekonomi
Masyarakat dapat ikut mengawasi dan memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah agar pembangunan dan pertumbuhan ekonomi lebih berpihak kepada rakyat.
6. Membangun semangat kerja sama dan gotong royong
Melalui komunitas, koperasi, atau usaha bersama, masyarakat dapat saling membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi di lingkungan sekitar.
Ketika angka pertumbuhan ekonomi menjadi bahan pertanyaan bagi banyak orang, dampaknya tidak hanya dirasakan pemerintah, tetapi juga berbagai kelompok masyarakat.
Salah satu pihak yang paling terdampak adalah masyarakat kelas menengah dan pekerja.
Mereka sering berada di posisi yang sulit karena pendapatan tidak meningkat secara signifikan, sementara harga kebutuhan hidup terus naik.
Akibatnya, daya beli menurun dan banyak orang merasa bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan kondisi hidup yang sama.
Pelaku usaha kecil dan UMKM juga ikut merasakan dampaknya.
Ketika pertumbuhan ekonomi tidak merata, konsumsi masyarakat cenderung melemah sehingga penjualan usaha kecil ikut menurun.
Banyak UMKM akhirnya kesulitan berkembang karena biaya operasional meningkat tetapi pasar tidak bertambah secara signifikan.
Selain itu, generasi muda juga menjadi kelompok yang terdampak.
Persaingan kerja semakin ketat, sementara lapangan pekerjaan yang tersedia belum mampu menampung jumlah pencari kerja yang terus meningkat.
Kondisi ini membuat banyak anak muda merasa pesimis terhadap masa depan ekonomi mereka.
Dalam jangka panjang, ketidakpercayaan masyarakat terhadap angka pertumbuhan ekonomi juga dapat berdampak pada pemerintah dan stabilitas ekonomi negara.
Jika masyarakat merasa pertumbuhan hanya menguntungkan kelompok tertentu, maka kepercayaan publik terhadap kebijakan ekonomi bisa menurun.
Hal tersebut berpotensi memicu ketimpangan sosial dan ketidakstabilan ekonomi di masa depan.
Untuk mengurangi dampak tersebut, pemerintah perlu melakukan beberapa langkah mitigasi.
Pertama, memastikan pertumbuhan ekonomi lebih merata dengan memperkuat sektor yang langsung menyentuh masyarakat, seperti UMKM, pertanian, dan industri padat karya.
Dengan begitu, pertumbuhan tidak hanya terjadi pada sektor besar atau investasi tertentu saja.
Kedua, pemerintah perlu meningkatkan kualitas lapangan kerja melalui pelatihan keterampilan, pendidikan vokasi, dan dukungan terhadap ekonomi digital.
Langkah ini penting agar tenaga kerja mampu bersaing dan memperoleh pekerjaan yang lebih layak.
Ketiga, pengendalian harga kebutuhan pokok juga harus menjadi prioritas.
Pertumbuhan ekonomi akan sulit dirasakan masyarakat apabila inflasi terus menekan daya beli.
Karena itu, stabilitas harga pangan dan kebutuhan dasar harus dijaga.
Menurut saya, mitigasi yang paling penting adalah membangun pertumbuhan ekonomi yang benar-benar berpihak pada masyarakat.
Pemerintah tidak cukup hanya mengejar angka pertumbuhan tinggi, tetapi juga harus memastikan hasil pertumbuhan dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat baik di data, tetapi juga nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Penulis: Muhammad Wildan Pratama
Mahasiswa Prodi Manajemen Ekonomi & Bisnis, Universitas Pamulang
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












