Di era sekarang, hampir semua mahasiswa sudah akrab dengan teknologi. Tapi akrab juga bukan berarti bisa benar-benar memanfaatkan. Dan saya, Putri Angellina, mahasiswa semester 4 jurusan Kimia di Universitas Negeri Semarang, butuh waktu lumayan lama untuk benar-benar merasakan bedanya.
Kalau perjalanan saya diibaratkan film, mungkin bisa seperti film coming-of-age, Google AI tools adalah turning point yang mengubah segalanya. Bukan karena saya tiba-tiba jadi genius seperti Albert Einstein. Tapi karena saya akhirnya berani berkembang, sedikit demi sedikit.
Semester 1, hidup saya sederhana: kuliah, laporan, praktikum, repeat. Sampai seorang dosen mengajak saya ikut PKM skema Riset Eksakta. Dan jujur, saya minder parah.
Sebagai mahasiswa baru, saya merasa belum layak bersaing dengan yang sudah lebih dulu aktif di dunia riset dan lomba. Tapi di situlah Gemini masuk ke dalam perjalanan saya sebagai thinking partner. Saya mulai menggunakannya untuk memahami jurnal yang terasa seperti “bahasa alien“, menyusun kerangka proposal, dan memetakan celah penelitian.
Sometimes, the biggest breakthrough is not finding the perfect answer. It’s finally having the courage to start.
Proposal kami lolos hingga Tahap 3 tingkat universitas. Belum dapat pendanaan, tapi bagi mahasiswa semester 1 yang tadinya cuma mikir “Emangnya bisa ya aku?”, itu sudah cukup untuk satu kesadaran kecil yang mengubah segalanya:
“Oh. Ternyata aku juga bisa berkembang.”
Semester 2, saya bergabung dengan UKM RIPTEK (Rekayasa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Di sini, mindset saya mulai bergeser.
Saya bertemu mahasiswa yang nulis, ikut lomba, bangun inovasi, dan tidak takut gagal. Lingkungan yang diam-diam mengubah definisi “mahasiswa kupu-kupu” di kepala saya.
Dari Koordinator Divisi HUMAS RIPTEK Writing Camp hingga Panitia Divisi Acara TECHNODAY 2025, saya belajar hal-hal yang tidak ada di silabus seperti public speaking, manajemen tekanan, teamwork yang nyata.
Sometimes, growth happens because of the people and environment that quietly push us to become better.
Saya mulai terbiasa mempertanyakan ide saya sendiri. Melihat satu masalah dari berbagai sudut. Saya belajar bahwa inovasi bukan tentang ide yang keren, tapi tentang solusi yang relevan dan bisa dikembangkan.
AI did not replace my creativity. It challenged me to think beyond my own limitations.
Dari kompetisi itu lahirlah SAPA, sebuah gagasan sederhana tentang bagaimana AI bisa membantu masyarakat mengakses layanan kesehatan dengan lebih cepat, mudah, dan efisien. Masih berupa konsep waktu itu. Tapi SAPA berhasil membawa saya meraih Juara 2 tingkat nasional.
Tentu tidak selalu mulus. Banyak lomba yang tidak berhasil. Banyak proposal ditolak. Banyak momen di mana saya membandingkan diri dengan orang lain yang terlihat jauh lebih hebat.
Growth is not measured by how many times we win, but by how many times we keep building despite failure.
Tanpa saya sadari, kompetisi itu ternyata bukan akhir dari perjalanan SAPA. Justru itu adalah awalnya. Karena setelah kompetisi tersebut selesai, saya mulai merasa bahwa SAPA tidak boleh berhenti hanya sebagai ide lomba. Saya ingin mengembangkannya menjadi sesuatu yang nyata.
Saya ingin SAPA bukan hanya bagus di atas kertas.
Saya ingin SAPA benar-benar bisa bekerja.
Awal 2026, seorang rekan saya, Zhahiran Abyan Muhsin, mengenalkan saya pada Google AI Studio. Dan semuanya berubah.
Sebagai anak Kimia yang kesehariannya berbasis di laboratorium, dunia coding adalah sebuah teritori asing. Menghadapi baris-baris kode backend di VS Code rasanya jauh lebih menegangkan daripada melakukan titrasi asam-basa.
It was a brutal learning curve. Saya harus belajar dari nol bagaimana sebuah Large Language Model (LLM) merespons struktur teks, bagaimana memetakan logika Natural Language Processing (NLP) agar sistem bisa membedakan keluhan medis pasien secara akurat, hingga memahami bagaimana System Instruction dan penyesuaian parameter temperatur pada Google AI Studio memengaruhi stabilitas output.
Prosesnya penuh dengan diskusi hingga larut malam, namun kegigihan tim mengalahkan lelahnya itu. SAPA yang dulu hanya ada di kertas mulai bertransformasi menjadi prototype nyata berbasis AI, bersama tim saya Zhahiran Abyan Muhsin, Muhammad Zuhrifar Roihan, dan Muhammad Khayri Faadhil.
Ada banyak trial and error. Model yang gagal. Output yang jauh dari ekspektasi. Revisi berulang. Momen kebingungan total.
Tapi juga ada satu momen yang benar-benar membahagiakan ketika prototype SAPA akhirnya mencapai akurasi di atas 85%.
Bagi sebagian orang itu mungkin angka biasa. Tapi bagi saya? Itu adalah bukti dari perjalanan panjang dari mahasiswa yang menggunakan AI untuk tanya arti istilah, hingga akhirnya menciptakan teknologi sendiri. Bukti bahwa kita tidak perlu mengunci diri dalam satu disiplin ilmu murni, dan kita memiliki kapasitas penuh untuk menciptakan teknologi kita sendiri.
Kami membawa prototype ini ke kompetisi nasional. Hasilnya bronze medal. Bukan emas, tapi salah satu proses belajar paling berharga dalam hidup saya. A real innovator is not someone who always wins. It’s someone who keeps building even after disappointment.
81.000 Pendaftar, dan Saya Salah Satunya
Beberapa bulan kemudian, saya memberanikan diri mendaftar Google Student Ambassador. Program ini diikuti sekitar 81.000 pendaftar dari 1.900 universitas, dan hanya sekitar 2.000 yang terpilih.
Saya menjadi salah satu di antaranya
Tapi yang lebih mengubah saya bukan titlenya, melainkan apa yang terjadi setelahnya.
Saya mulai benar-benar mengeksplorasi Google tools yang selama ini baru saya sentuh permukaannya. Gemini Canvas untuk flashcard, kuis, dan struktur presentasi. NotebookLM untuk membedah jurnal dan artikel ilmiah, sesuatu yang sangat terasa manfaatnya sebagai mahasiswa Kimia yang hidupnya bergulat dengan referensi akademik.
Saya juga mulai aktif membuat konten, mengikuti workshop, dan pelan-pelan keluar dari zona nyaman.
Tapi menurut saya, salah satu hal terbaik dari menjadi Google Student Ambassador adalah lingkungan belajarnya.
Disini saya bertemu banyak mahasiswa hebat dari berbagai universitas dengan ide, pengalaman, dan perspektif yang sangat beragam. Dari sana saya belajar bahwa teknologi bukan soal siapa yang paling jago coding atau paling paham AI sejak awal, tetapi tentang siapa yang mau terus belajar dan berkembang.
Growth begins when curiosity becomes consistency.
Dan di luar dugaan, konsistensi kecil tersebut perlahan mulai membawa hasil. Saya berhasil meraih:
🏆 Weekly Winner (Minggu ke-3) Misi Konten Epik Gemini & Google AI
📢 Penanya Terbaik Workshop Google Workspace
★ Naik ke Tier Rising Star dalam program GSA
Perjalanan ini tidak berhenti di pencapaian pribadi.
Saya mengadakan campus sharing session untuk memperkenalkan Google AI tools ke teman-teman kampus: bagaimana NotebookLM mengubah jurnal tebal menjadi ringkasan yang bisa dipahami, bagaimana Gemini Live bisa jadi teman latihan interview dan public speaking secara real-time.
Dan responsnya? Lewat Google Form yang saya bagikan setelah acara, saya membaca satu per satu jawaban peserta, dan di situ saya benar-benar tersentuh.
Banyak yang bilang ini pertama kalinya mereka benar-benar paham cara pakai NotebookLM untuk riset. Ada yang mulai mencoba Gemini Live karena selama ini kurang percaya diri berbicara di depan orang. Mayoritas menyatakan lebih tertarik memanfaatkan AI untuk belajar dan berkembang, dan berharap ada session serupa lagi.
📊 Lihat data respons peserta →
The most meaningful innovation is not the one that looks the most sophisticated. It is the one that genuinely helps people grow.
Dampak teknologi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang cukup satu session kecil, satu orang yang mau berbagi, lalu perlahan menjadi perubahan cara belajar banyak orang di sekitarnya.
Kalau melihat kembali perjalanan ini, saya sulit membayangkan bahwa semuanya dimulai dari mahasiswa yang pakai AI hanya biar tugas cepat selesai.
Saya pernah minder. Pernah gagal berkali-kali. Pernah merasa ide saya tidak cukup baik. Pernah banding-bandingkan diri sama orang lain yang terlihat jauh lebih hebat.
Tapi saya juga belajar bahwa teknologi tidak menunggu kita untuk sempurna dulu. Ia hanya menunggu kita untuk mulai.
You don’t need to be extraordinary to start. But you need to start if you want to become extraordinary.
Dan mungkin, itulah pelajaran terbesar yang Google AI berikan kepada saya, bukan hanya tentang teknologi, tapi tentang keberanian untuk terus tumbuh, dan membantu orang lain tumbuh bersama.
Penulis: Putri Angellina
– Google (Google Student Ambassador)
– Popsurvey by Populix (Campus Ambassador)
– UKM RIPTEK (Staff Pengabdian Masyarakat
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI






























