Persepsi Mahasiswi terhadap Produk Skincare Lokal dan Produk Skincare Luar Negeri

produk skincare indonesia
Persepsi Mahasiswi terhadap Produk Skincare Lokal dan Produk Skincare Luar Negeri. Sumber: MMI.

Abstrak

Perkembangan industri skincare yang semakin pesat menyebabkan meningkatnya penggunaan produk skincare lokal maupun luar negeri di kalangan mahasiswi. Meskipun produk lokal terus mengalami perkembangan kualitas, sebagian konsumen masih menganggap produk luar negeri lebih unggul dari segi kualitas dan prestise. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswi terhadap produk skincare lokal dan luar negeri serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi preferensi mereka dalam memilih produk skincare. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan tiga mahasiswi berusia 20–22 tahun yang memiliki pengalaman menggunakan produk skincare lokal dan luar negeri. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan pendekatan tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswi dipengaruhi oleh negara asal produk, harga yang dipersepsikan, media sosial, dan rekomendasi dari orang terdekat. Skincare luar negeri cenderung dipersepsikan memiliki kualitas dan efektivitas yang lebih baik, sedangkan skincare lokal dinilai semakin kompetitif karena kualitasnya yang meningkat, lebih sesuai dengan karakteristik kulit masyarakat Indonesia, dan memiliki harga yang lebih terjangkau. Penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan mahasiswi dalam memilih produk skincare tidak hanya dipengaruhi oleh negara asal produk, tetapi juga oleh pertimbangan kualitas, harga, pengalaman penggunaan, serta informasi yang diperoleh dari lingkungan sosial dan media digital.

Kata Kunci: Persepsi Konsumen, Skincare Lokal, Skincare Luar Negeri, Mahasiswi, Perilaku Konsumen.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pendahuluan

Perkembangan industri kecantikan, khususnya produk skincare mengalami perkembangan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir, ditandai dengan banyaknya produk skincare lokal maupun luar negeri yang beresar di pasaran. Saat ini penggunaan skincare sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan remaja dan mahasiswa. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan kulit membuat kebutuhan terhadap produk skincare semakin tinggi. Selain untuk merawat kulit, penggunaan skincare juga sering dikaitkan dengan upaya meningkatkan rasa percaya diri dan menunjang penampilan. Dalam beberapa tahun terakhir, produk skincare lokal mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Berbagai merek lokal mulai menghadirkan produk dengan kualitas yang mampu bersaing dengan produk luar negeri. Selain menawarkan harga yang relatif lebih terjangkau, banyak produk lokal juga dirancang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik kulit masyarakat indonesiakan. Meskipun demikian, sebagai konsumen masih memiliki anggapan bahwa produk luar negeri memiliki kualitas yang lebih baik dan lebih terpercaya dibandingkan produk lokal. Adanya perbedaan-perbedaannya pandangan tersebut menunjukkan bahwa persepsi konsumen memiliki peran penting dalam menentukan pilihan produk yang digunakan.

Persepsi merupakan cara seseorang memahami dan menilai suatu objek berdasarkan informasi serta pengalaman yang dimilikinya. Menurut Kotler dan Keller (2022), persepsi terbentuk melalui proses individu dalam memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasikan informasi sehingga menghasilkan suatu pemahaman tertentu. Dalam konteks penggunaan skincare, persepsi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengalaman pribadi, rekomendasi teman, ulasan pengguna, media sosial, hingga promosi yang dilakukan oleh influencer. Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang menarik untuk diteliti karena merupakan pengguna aktif produk skincare sekaligus kelompok yang mudah terpapar informasi melalui media digital. Berbagai tren kecantikan yang berkembang di media sosial dapat memengaruhi cara mahasiswa memandang suatu produk dan menentukan pilihan mereka dalam membeli skincare. Tidak sedikit mahasiswa yang membandingkan produk lokal dan luar negeri sebelum memutuskan produk yang akan digunakan.

Baca Juga: Kemasan Skincare Bukan Lagi Bungkus, Ia adalah Bahasa Pertama Sebuah Brand

Penelitian yang dilakukan oleh Rahmi, Kamase, dan Mahmud (2024) menunjukkan bahwa media sosial memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian produk skincare pada mahasiswa. Selain itu, Susanti et al. (2025) menjelaskan bahwa konsumen memiliki persepsi yang berbeda terhadap skincare lokal dan non-lokal, di mana produk lokal dinilai semakin kompetitif dari segi kualitas dan kesesuaian dengan karakteristik kulit masyarakat Indonesia, sedangkan produk non-lokal masih dipandang unggul dari segi reputasi dan prestise. Oleh karena itu, persepsi terhadap produk lokal dan luar negeri menjadi hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi mahasiswa terhadap produk skincare lokal dibandingkan produk luar negeri serta faktor-faktor yang memengaruhi preferensi mereka dalam memilih produk skincare.

Penelitian Atmadji (2004) menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung lebih menyukai dan mengonsumsi produk impor dibandingkan produk dalam negeri. Kecenderungan tersebut dipengaruhi oleh keinginan konsumen untuk membangun identitas diri dan mengikuti tren yang berkembang di masyarakat, di mana produk impor dianggap mampu meningkatkan status sosial dan citra diri konsumen (Gay et al., 1997). Temuan tersebut sejalan dengan anggapan bahwa produk luar negeri sering kali dipersepsikan memiliki kualitas yang lebih baik dan lebih bergengsi dibandingkan produk lokal.

Namun, hasil penelitian Setiawan (2014) menunjukkan temuan yang berbeda. Mahasiswa memiliki persepsi yang positif terhadap produk fashion lokal, merasa bangga dan nyaman menggunakannya, serta mengakui bahwa kualitas dan model produk lokal terus mengalami perkembangan. Meskipun demikian, mahasiswa tetap cenderung memilih membeli produk fashion impor karena dianggap memiliki kualitas yang lebih tinggi dan mampu memberikan prestise yang lebih besar.

Meskipun demikian, penelitian-penelitian tersebut masih berfokus pada produk secara umum maupun produk fashion sehingga belum memberikan gambaran yang spesifik mengenai persepsi mahasiswa terhadap produk skincare lokal dan skincare luar negeri, dengan munculnya berbagai merek lokal yang semakin mampu bersaing dengan merek luar negeri baik dari segi kualitas, inovasi, maupun pemasaran digital. Selain itu, mahasiswa sebagai bagian dari Generasi Z merupakan kelompok konsumen yang aktif menggunakan produk skincare dan mudah terpapar informasi serta tren kecantikan melalui media sosial. Oleh karena itu, masih diperlukan penelitian untuk mengkaji bagaimana persepsi mahasiswa terhadap produk skincare lokal dibandingkan produk skincare luar negeri, serta faktor-faktor yang memengaruhi persepsi tersebut di tengah perkembangan industri skincare saat ini.

H₀: Tidak terdapat perbedaan persepsi mahasiswa terhadap produk skincare lokal dan produk skincare luar negeri.

H₁: Terdapat perbedaan persepsi mahasiswa terhadap produk skincare lokal dan produk skincare luar negeri.

Manfaat penelitian ini adalah menambah kajian mengenai persepsi konsumen dan pengaruh country of origin terhadap preferensi mahasiswa dalam memilih produk skincare lokal dan luar negeri. Implikasi praktisnya, hasil penelitian dapat menjadi masukan bagi pelaku usaha skincare lokal untuk meningkatkan kualitas produk, strategi pemasaran, dan citra merek agar lebih kompetitif, serta menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam mendorong penggunaan produk lokal di kalangan generasi muda.

Metodologi Penelitian

Metodologi Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif agar dapat memahami secara mendalam  bagaimana  mahasiswi  memandang  produk  perawatan  kulit  lokal  dibandingkan  dengan  produk perawatan  kulit  dari  luar  negeri.  Pendekatan  kualitatif  dipilih  karena  penelitian  ini  tidak  bertujuan  untuk mengetahui hubungan antar variabel secara statistik, tetapi lebih fokus pada memahami makna, pengalaman, dan pandangan peserta mengenai penggunaan produk perawatan kulit. Dengan cara ini, para peneliti bisa memahami lebih  dalam  mengapa  orang  memilih  produk  tertentu,  apa  saja  hal-hal  yang  memengaruhi  cara  mereka memandang produk, serta pengalaman yang membentuk selera mereka terhadap produk dalam negeri atau produk impor.

Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam serta pengamatan terhadap produk yang dipilih dan digunakan oleh peserta. Wawancara mendalam digunakan untuk mengetahui pendapat orang tentang kualitas produk, harga, keamanan, efektivitas, citra merek, serta berbagai hal lain yang berpengaruh terhadap keputusan mereka  dalam  memilih  produk  perawatan  kulit.  Selama  itu,  observasi  dilakukan  untuk  mendapatkan  data pendukung mengenai jenis produk yang digunakan oleh peserta serta kecenderungan preferensi mereka antara produk lokal dan produk impor. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan pendekatan tematik, yaitu dengan menemukan dan mengelompokkan tema-tema utama yang muncul dari hasil wawancara.

Baca Juga: Skincare Natural dan Multifungsi? Kamu Wajib Cobain!

Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan secara jelas bagaimana mahasiswi mempersepsikan produk perawatan kulit lokal maupun asing. Desain ini dipilih karena cocok untuk menggali fenomena sosial yang terkait dengan pengalaman pribadi seseorang. Peneliti menggunakan  desain  deskriptif  untuk  memahami  bagaimana  para  peserta  menilai  kualitas,  keefektifan, keamanan,  harga, dan  citra  produk  perawatan  kulit  yang  mereka  gunakan.  Selain  itu,  peneliti  juga  ingin mengetahui bagaimana berbagai sumber informasi memengaruhi cara mereka membentuk pendapat tentang produk tersebut.

Dalam penelitian ini, persepsi diartikan sebagai cara seseorang menerima, memahami, dan memberi arti terhadap informasi tentang suatu produk. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya melihat produk yang digunakan oleh peserta, tetapi juga menggali pengalaman mereka dalam menggunakan produk tersebut, alasan mengapa mereka memilih produk tertentu, serta dampak dari lingkungan sosial dan media digital terhadap pilihan mereka. Dengan desain ini, diharapkan bisa diperoleh pemahaman yang lengkap mengenai pandangan para mahasiswi  terhadap  produk  perawatan  kulit  lokal  maupun  asing  di  tengah  industri  kecantikan  yang  terus berkembang

Karakteristik Partisipan

Peserta dalam penelitian ini adalah tiga orang mahasiswi yang sedang mengikuti semester keenam. Pemilihan mahasiswi dilakukan karena kelompok ini merupakan salah satu segmen konsumen yang sering menggunakan produk perawatan kulit dan terpapar banyak informasi tentang produk kecantikan melalui media sosial serta platform digital lainnya. Semua peserta berusia antara 20 hingga 22 tahun dan sudah terbiasa menggunakan produk perawatan kulit secara rutin dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, para peserta sudah memakai produk perawatan kulit dari dalam negeri maupun impor selama minimal enam bulan, sehingga mereka punya pengalaman cukup untuk membandingkan kedua jenis produk itu. Para peserta juga aktif mencari informasi tentang produk perawatan kulit dari berbagai sumber, seperti media sosial, ulasan pengguna, influencer kecantikan, serta rekomendasi dari teman dan keluarga. Karakteristik ini dipilih  karena  dianggap  mampu  memberikan  data  yang  relevan  dan  mendalam  mengenai  cara  konsumen memandang produk perawatan kulit. Dengan menggunakan pengalaman mereka, peserta diharapkan mampu menyebutkan alasan mengapa mereka  lebih  memilih produk tertentu dan faktor-faktor yang memengaruhi penilaian mereka terhadap produk dalam negeri dan produk asing.

Rekrutmen Partisipan

Peserta  diambil  dengan  cara  sampling  purposif,  yaitu  metode  memilih  peserta  berdasarkan  kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Teknik ini dipilih karena penelitian ini membutuhkan orang yang memiliki pengalaman serta sifat tertentu yang berkaitan dengan penggunaan produk perawatan kulit dari dalam negeri dan luar negeri. Dengan demikian, para peserta yang terpilih diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup dan relevan mengenai fenomena yang diteliti.

Baca Juga: Branding Ilmiah sebagai Tanggung Jawab Komunikasi Kepercayaan Publik di Industri Skincare

Kriteria peserta dalam penelitian ini adalah:

  • mahasiswi yang sedang duduk di semester keenam,
  • berusia antara 20 hingga 22 tahun,
  • secara rutin menggunakan produk perawatan kulit dalam aktivitas sehari-hari,
  • memiliki pengalaman menggunakan produk perawatan kulit yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri, serta
  • bersedia ikut serta dalam penelitian ini secara sukarela.

Rekrutmen  dilakukan  dengan  cara  langsung  menghubungi  calon  peserta  yang  ada  di  lingkungan akademik dan memenuhi syarat yang diperlukan untuk penelitian. Peneliti terlebih dahulu menjelaskan tujuan dari penelitian, manfaat yang akan diperoleh, serta bentuk partisipasi yang harus dilakukan sebelum meminta izin mereka untuk mengikuti wawancara. Sebelum proses pengumpulan data dimulai, setiap peserta diberi informasi mengenai hak-hak mereka sebagai responden, termasuk hak untuk menolak menjawab pertanyaan tertentu atau menghentikan partisipasi dalam penelitian kapan saja tanpa ada konsekuensi yang harus ditanggung.

Para peneliti juga memastikan bahwa identitas peserta tetap terjaga dengan menggunakan inisial atau kode tertentu saat proses pelaporan dilakukan. hasil penelitian. Setelah mendapatkan persetujuan dari semua peserta, wawancara dijadwalkan pada waktu yang disepakati bersama dan dilakukan di lokasi yang nyaman agar para peserta bisa berbagi pengalaman dan pendapat mereka dengan terbuka dan jujur.

Hasil dan Diskusi

Pengaruh Negara Asal Produk terhadap Persepsi Konsumen

Hasil yang kami temukan menunjukkan bahwa negara asal produk (country of origin) menjadi salah satu faktor yang memengaruhi persepsi konsumen terhadap skincare. Beberapa responden menilai skincare luar negeri memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan skincare lokal karena dianggap menggunakan bahan yang lebih berkualitas dan memberikan hasil yang lebih efektif. Hal ini tercermin dari pernyataan responden Z yang menyatakan, “Kalau yang luar ini bahannya enggak main-main.” Selain itu, responden J juga mengungkapkan bahwa, “Kalau produk luar itu emang aku ngerasanya hasilnya itu kayak lebih cepat.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa konsumen mengaitkan negara asal produk dengan kualitas bahan dan efektivitas skincare yang digunakan.

Temuan ini sejalan dengan teori Country of Origin Effect menurut Robert D. Schooler (1965), yang menjelaskan bahwa penilaian konsumen terhadap suatu produk tidak hanya didasarkan pada karakteristik produk itu sendiri, tetapi juga dipengaruhi oleh citra dan reputasi negara asal produk. Dalam penelitian ini, skincare luar negeri dipersepsikan lebih unggul karena dianggap memiliki bahan yang lebih berkualitas dan mampu memberikan hasil yang lebih cepat, sehingga membentuk persepsi positif konsumen terhadap produk tersebut. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan pendapat Philip Kotler et al. (1993) dan Erna Listiana (2013) yang menyatakan bahwa citra negara asal dapat memengaruhi persepsi konsumen mengenai kualitas, efektivitas, dan kepercayaan terhadap suatu produk. Dengan demikian, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa country of origin berperan dalam membentuk persepsi konsumen terhadap produk skincare, khususnya dalam penilaian terhadap kualitas dan efektivitas produk (Schooler, 1965; Kotler et al., 1993; Listiana, 2013).

Meskipun beberapa responden menilai skincare luar negeri memiliki kualitas yang lebih baik, terdapat responden yang tetap memilih produk lokal karena menilai kualitasnya semakin berkembang. Hal ini terlihat dari pernyataan responden R yang menyatakan, “Aku tetap memilih produk lokal karena sekarang kualitas semakin baik dan cocok untuk kulit orang Indonesia.” Temuan ini menunjukkan bahwa perkembangan kualitas dan inovasi produk skincare lokal telah membentuk persepsi positif konsumen serta meningkatkan kepercayaan terhadap produk lokal. Hasil penelitian ini sejalan dengan (Nawiyah et al., 2023) yang menyatakan bahwa peningkatan kualitas skincare lokal mampu meningkatkan daya saing dan kepercayaan konsumen terhadap produk dalam negeri.

Baca Juga: Kiblat Skincare Perempuan Indonesia: Dominasi Whitening Culture yang Menggeser Standarisasi Kecantikan Perempuan Indonesia melalui K-Beauty

Harga yang Dipersepsikan

Hasil Analisis menunjukan bahwa konsumen mempertimbangkan harga produk, karena hal tersebut menunjukkan bahwa keterjangkauan harga serta manfaat yang mampu diperoleh dari suatu produk menjadi aspek yang penting dalam terbentuknya keputusan pembelian. Temuan ini terlihat dari pernyataan responden mengenai keputusan pembelian skincare yang mereka lakukan, yaitu “Aku lebih memilih skincare lokal karena kualitasnya bagus dan harganya terjangkau” (A), serta “Aku lihat harga yang paling murah yang mana” (K).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga yang harus dikeluarkan, namun juga menilai manfaat dan kualitas yang mampu diberikan oleh produk skincare tersebut. Temuan tersebut sejalan dengan pendapat Kotler dan Keller (2022).  yang menyatakan bahwa persepsi harga merupakan cara konsumen menilai suatu produk bukan hanya dari biaya yang dikeluarkan, namun juga dari manfaat, kualitas, dan nilai yang dirasakan.

Dengan demikian, dalam proses pengambilan keputusan, konsumen akan membandingkan harga dengan manfaat yang ditawarkan untuk melihat apakah suatu produk memiliki nilai yang sesuai dengan harga yang ditawarkan. Oleh karena itu, keterjangkauan harga yang disertai dengan manfaat yang dianggap sebanding dan menjadi faktor yang penting serta mampu memengaruhi keputusan konsumen dalam memilih produk.

Media Sosial dan Pembentukan Persepsi Sosial

Media sosial memiliki peran yang penting dalam membentuk perilaku dan persepsi konsumen. Melalui platform digital seperti Facebook, TikTok, dan Instagram, konsumen dapat memperoleh berbagai informasi mengenai produk melalui iklan, rekomendasi, maupun pengalaman yang dibagikan oleh pengguna lain. Kehadiran media sosial tersebut menciptakan pengaruh yang besar terhadap keputusan pembelian konsumen, khususnya pada generasi muda saat ini yang cenderung lebih aktif dalam menggunakan media sosial. Selain sebagai sarana memperoleh informasi, media sosial dan ulasan online juga mampu memberikan pengaruh yang besar terhadap perilaku konsumen (Yusriman et al., 2025). Sejalan dengan hal tersebut, pemasaran dari mulut ke mulut di lingkungan digital (electronic word-of-mouth) menjadi faktor yang penting dalam membentuk persepsi konsumen serta memengaruhi proses pengambilan keputusan pembelian (Goh, 2013).

Sejalan dengan pembahasan sebelumnya, Asri et al. (2024) menyatakan bahwa proses persepsi konsumen memiliki peran yang sangat penting dalam kegiatan pemasaran. Pemahaman terhadap proses persepsi konsumen memungkinkan perusahaan untuk berkomunikasi secara lebih efektif dengan konsumen serta menciptakan pengalaman yang positif. Persepsi konsumen merupakan proses yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk informasi yang diterima konsumen melalui berbagai media. Oleh karena itu, perusahaan perlu menerapkan strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Salah satu bentuk penerapan tersebut adalah penggunaan iklan dan pesan pemasaran yang relevan sehingga dapat membentuk persepsi serta memengaruhi keputusan pembelian konsumen.

Baca Juga: Korean Wave: Pengaruh Persebaran Budaya Korea Selatan di Indonesia terhadap Preferensi Masyarakat

Pengaruh Rekomendasi Orang Terdekat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekomendasi dari orang terdekat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi persepsi dan keputusan konsumen dalam memilih produk skincare. Informan mengungkapkan bahwa pengalaman keluarga dan teman lebih dipercaya dibandingkan informasi yang diperoleh dari media sosial maupun influencer. Kepercayaan tersebut muncul karena informan dapat melihat secara langsung hasil penggunaan produk pada orang-orang terdekat serta merasa bahwa pengalaman mereka lebih relevan dengan kondisi kulit yang dimiliki. Hal ini tercermin dalam pernyataan informan, “Aku lebih ini sih, yang lebih mempengaruhi orang-orang terdekat kayak misalnya kakak aku, atau sepupuku kayak gitu-gitu.” (J).

Temuan ini menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya mempertimbangkan informasi mengenai produk, tetapi juga memperhatikan pengalaman nyata dari orang-orang yang berada di lingkungan sosial terdekatnya. Informan merasa lebih yakin terhadap rekomendasi yang diberikan oleh keluarga atau teman karena dapat mengamati secara langsung efektivitas produk yang digunakan. Pernyataan ini diperkuat oleh kutipan informan, “Kalau sama relasi yang dekat kan kita jadi tahu nih, karena kita bisa lihat langsung hasilnya di muka dia itu kayak gimana.” (J). Dengan demikian, pengalaman orang terdekat menjadi sumber informasi yang dianggap lebih kredibel dibandingkan informasi yang bersifat promosi.

Temuan penelitian ini sejalan dengan teori perilaku konsumen yang dikemukakan oleh Schiffman dan Kanuk (2008), yang menyatakan bahwa kelompok referensi seperti keluarga dan teman dapat memengaruhi sikap, penilaian, dan keputusan pembelian seseorang. Kelompok referensi berfungsi sebagai sumber informasi yang membantu individu mengevaluasi suatu produk sebelum melakukan pembelian. Dalam konteks penelitian ini, keluarga dan teman menjadi kelompok referensi yang memberikan pengalaman langsung mengenai penggunaan skincare, sehingga rekomendasi yang diberikan lebih mudah dipercaya oleh konsumen.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa rekomendasi orang terdekat memiliki peran penting dalam membentuk persepsi konsumen terhadap produk skincare. Kepercayaan yang muncul dari hubungan personal serta pengalaman nyata yang dapat diamati secara langsung membuat keluarga dan teman menjadi sumber pertimbangan utama dalam menentukan pilihan produk skincare (Schiffman & Kanuk, 2008).

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa mahasiswi memiliki persepsi yang beragam terhadap produk skincare lokal dan luar negeri. Beberapa mahasiswi menilai skincare luar negeri memiliki kualitas yang lebih baik karena dianggap menggunakan bahan yang lebih unggul dan memberikan hasil yang lebih cepat. Namun, skincare lokal juga memperoleh penilaian positif karena kualitasnya yang semakin berkembang, lebih sesuai dengan karakteristik kulit masyarakat Indonesia, serta memiliki harga yang lebih terjangkau.

Negara asal produk mampu memengaruhi penilaian terhadap kualitas dan efektivitas skincare, sementara harga menjadi pertimbangan penting dalam menilai kesesuaian antara biaya dan manfaat yang diperoleh. Selain itu, media sosial berperan sebagai wadah yang memberikan informasi dan membentuk kesadaran terhadap produk skincare, sedangkan rekomendasi dari keluarga dan teman menjadi sumber informasi yang lebih dipercaya karena didasarkan pada pengalaman nyata konsumen.

Secara keseluruhan, meskipun skincare luar negeri masih dianggap memiliki citra kualitas dan prestise yang lebih tinggi, skincare lokal juga nilai semakin mampu bersaing karena kualitas mereka yang terus meningkat, harga yang lebih ekonomis, serta kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan kulit konsumen Indonesia. Oleh karena itu, keputusan mahasiswi dalam memilih produk skincare tidak hanya didasarkan pada negara asal produk, tetapi juga mempertimbangkan kualitas, harga, pengalaman penggunaan, serta informasi yang diperoleh dari lingkungan sosial dan media digital.


Penulis:
1. Amelia Cinta                           
2. Nisrina Kamila Fatin                
3. Ainun Jahrona Dalimunthe
4. Ratu Zakia Mustika Julia
Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)    


Dosen Pengampu: Desi Ariyani, S.Psi., M.Si.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

Asir, M., Ganika, G., Nasril, Mokodongan, E. N., Adriana, N. P., Zuliansyah, M. A., Widiastuti, B. R., Nurliah, Zenmira, K. N., Grashinta, A., Astuti, E. R. W., Nuryani, H. S., & Sudirman, A. (2024). Psikologi konsumen: Teori dan aplikasi. Widina Media Utama.

Atmadji, E. (2004). Analisis Impor Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 9(1), 33–46.

Gay, P. d., Hall, S., Janes, L., Mackay, H., & Negus, K. (1997). Doing Cultural Studies: The Story of the Sony Walkman (Culture, Media and Identities Series). London: Sage Publications.

Goh, K. Y., Heng, C. S., & Lin, Z. (2013). Social Media Brand Community and Consumer Behavior: Quantifying the Relative Impact of User and Marketer Generated Content. Journal of Marketing, 77(2), 1–19.

Kotler, P., Haider, D. H., & Rein, I. (1993). Marketing Places: Attracting Investment.

Kotler, P., Keller, K. L., & Chernev, A. (2022). Marketing Management, Global Edition (Vol. 832). Pearson.

Listiana, E. (2013). Pengaruh country of origin terhadap perceived quality dengan moderasi etnosentris konsumen. Jurnal Administrasi Bisnis, 8(1), 21–47.

Nawiyah, Kaemong, R. C., Ilham, M. A., & Muhammad, F. (2023). Penyebab pengaruhnya pertumbuhan pasar Indonesia terhadap produk skin care lokal pada tahun 2022. ARMADA: Jurnal Penelitian Multidisiplin, 1(12), 1390–1396.

Rahmi, R., Kamase, J., & Mahmud, A. (2024). Pengaruh merek dan media sosial terhadap keputusan pembelian produk skincare “Skintific”: Studi pada mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muslim Indonesia. Center of Economic Students Journal.

Schooler, R. D. (1965). Product Bias in the Central American Common Market. Journal of Marketing Research, 2(4), 394–397.

Schiffman, L. G., & Kanuk, L. L. (2008). Perilaku konsumen (7th ed.). PT Indeks.

Setiawan, E. (2014). Analisis sikap konsumen terhadap produk fashion lokal dan impor. Jurnal Economia, 10(1), 38–47.

Susanti, R. N., Kayyisa, D., Syifa, H. L., & Putri, N. A. (2025). Brand image dan keputusan pembelian: Studi perbandingan skincare lokal vs non-lokal. Jurnal Adijaya Multidisiplin, 3(06), 874–878.

Yusriman, & Fadlillah, S. (2025). Analisis pengaruh digitalisasi terhadap perilaku konsumen di era modern. Jurnal Dinamika Sosial dan Sains, 471–475.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses