Di era modern saat ini, penggunaan botol minum isi ulang telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari, terutama seiring meningkatnya kesadaran terhadap sustainable lifestyle dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Selain dinilai lebih hemat dan ramah lingkungan, kebiasaan membawa air minum dari rumah juga dianggap lebih sehat dibandingkan membeli minuman di luar. Air yang disiapkan sendiri sering kali dipercaya lebih aman karena sumber dan proses penyimpanannya diketahui secara langsung oleh konsumen.
Namun, di balik anggapan tersebut, terdapat ancaman yang kerap luput dari perhatian, yaitu kontaminasi mikroplastik dalam air minum yang dikonsumsi sehari-hari. Permasalahan mikroplastik bukan lagi isu baru di tengah masyarakat. Meningkatnya penggunaan plastik yang tidak diimbangi dengan pengelolaan limbah yang baik menyebabkan partikel plastik berukuran sangat kecil menyebar semakin luas, bahkan hingga mencemari air minum yang merupakan kebutuhan utama manusia.
Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada Maret 2024 sebanyak 34,49% rumah tangga di Indonesia menggunakan air isi ulang sebagai sumber air minum utama. Angka tersebut menunjukkan bahwa air isi ulang semakin menjadi pilihan masyarakat karena dianggap lebih praktis, ekonomis, dan sejalan dengan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Sayangnya, kesadaran masyarakat terhadap kualitas air minum masih cenderung rendah. Banyak konsumen masih lebih mempertimbangkan harga yang murah dan kemudahan akses dibandingkan memahami bagaimana proses pengolahan dan penyaringan air tersebut dilakukan. Air yang tampak jernih sering kali langsung dianggap aman untuk dikonsumsi, padahal kontaminan berukuran sangat kecil seperti mikroplastik tidak dapat dikenali hanya melalui pengamatan visual.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan keamanan air minum tidak hanya bergantung pada ketersediaan air, tetapi juga pada kualitas proses filtrasi yang digunakan. Ancaman ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena kontaminasi mikroplastik dapat hadir dalam air minum tanpa disadari oleh masyarakat.
Mikroplastik yang Tak Terlihat dalam Air Minum
Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil, umumnya kurang dari 5 mm, yang berasal dari pecahan sampah plastik, kemasan sekali pakai, serat sintetis, hingga proses degradasi limbah di lingkungan. Ukurannya yang sangat kecil membuat mikroplastik sulit dikenali secara kasat mata, sehingga banyak masyarakat tidak menyadari bahwa partikel tersebut dapat masuk ke tubuh melalui air minum sehari-hari.
Menurut penelitian dari Universitas Sumatera Utara pada tahun 2023, keberadaan mikroplastik ditemukan pada beberapa sampel air minum isi ulang di Kecamatan Medan Selayang. Studi tersebut juga mengutip penelitian Mason dkk. tahun 2018 yang menunjukkan bahwa sekitar 93 persen sampel air minum kemasan yang diuji mengandung mikroplastik berukuran sangat kecil.
Temuan serupa juga muncul dalam penelitian yang dilakukan di Makassar. Penelitian dari Window of Public Health Journal menemukan bahwa seluruh sampel depot air minum isi ulang yang diteliti di Kelurahan Pampang positif mengandung mikroplastik dengan bentuk dan ukuran yang beragam. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa lemahnya pengawasan kualitas produksi air minum isi ulang dapat menjadi salah satu penyebab munculnya cemaran mikroplastik pada air minum masyarakat.
Sayangnya, kesadaran masyarakat mengenai hal ini masih tergolong rendah. Banyak orang masih memilih air isi ulang hanya berdasarkan harga murah dan lokasi yang dekat tanpa benar-benar mengetahui bagaimana kualitas pengolahan airnya. Selama air terlihat bersih dan tidak berbau, banyak konsumen langsung menganggapnya aman untuk diminum.
Filtrasi Bukan Sekadar Formalitas
Sebagian masyarakat mungkin mengira proses pengolahan air minum isi ulang hanyalah sekadar “disaring lalu siap diminum”. Padahal, di balik air yang terlihat jernih, terdapat proses separasi yang sangat penting dalam menentukan kualitas dan keamanan air tersebut. Dalam konsep teknik konversi dan separasi pangan, proses seperti filtrasi dan sedimentasi berperan besar dalam membantu memisahkan partikel-partikel pengotor dari air sebelum akhirnya dikonsumsi masyarakat.
Filtrasi bekerja dengan prinsip pemisahan partikel berdasarkan ukuran tertentu (particle size). Artinya, partikel yang ukurannya lebih besar dari pori media penyaring akan tertahan, sementara air tetap dapat mengalir melewati filter. Semakin kecil ukuran pori penyaring yang digunakan, semakin banyak pula partikel halus yang dapat dikurangi dari air. Oleh karena itu, teknologi filtrasi menjadi salah satu tahap penting dalam pengolahan air minum isi ulang.
Saat ini, banyak depot air minum menggunakan beberapa tahapan penyaringan sekaligus. Ada yang memanfaatkan karbon aktif untuk membantu mengurangi bau dan warna, ada pula yang menggunakan membran filter hingga teknologi reverse osmosis untuk menyaring partikel berukuran sangat kecil. Tidak sedikit pula depot yang menerapkan proses sedimentasi terlebih dahulu, yaitu proses pengendapan partikel tertentu sebelum air masuk ke tahap filtrasi lanjutan. Tahapan tersebut dilakukan agar proses penyaringan air menjadi lebih optimal.
Masalahnya, proses separasi seperti ini sering kali tidak benar-benar dipahami oleh masyarakat. Banyak konsumen hanya melihat hasil akhirnya: air tampak jernih, rasanya normal, lalu dianggap aman untuk diminum. Padahal, kontaminan berukuran sangat kecil seperti mikroplastik tidak dapat dikenali hanya dari tampilan fisik air. Di sinilah pentingnya proses filtrasi yang baik dan dilakukan secara rutin, bukan sekadar formalitas agar depot terlihat meyakinkan.
Sayangnya, masih ada depot air minum yang kurang memperhatikan perawatan alat penyaring. Filter yang jarang diganti atau sistem pengolahan yang kurang higienis justru dapat menurunkan kualitas air yang dihasilkan. Teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan hasil optimal apabila proses pengolahan dan perawatan sistem filtrasi tidak dilakukan dengan baik. Pada akhirnya, keamanan air minum tidak hanya ditentukan oleh harga yang murah dan tampilan air yang jernih, tetapi juga oleh seberapa baik proses separasi dilakukan untuk meminimalkan kontaminan yang tidak terlihat oleh mata.
Oleh karena itu, masyarakat perlu mulai memandang kualitas air minum sebagai kebutuhan penting, bukan sekadar mempertimbangkan aspek praktis dan ekonomis semata. Keamanan air minum tidak dapat dinilai hanya dari tampilannya yang jernih, melainkan juga dari bagaimana proses pengolahan dan penyaringannya dilakukan. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat serta penerapan teknologi filtrasi yang tepat, risiko kontaminasi mikroplastik dalam air minum diharapkan dapat diminimalkan, sehingga masyarakat tidak hanya memperoleh air minum yang praktis dan terjangkau, tetapi juga aman bagi kesehatan dalam jangka panjang.
Penulis:
1. Jovina Felicia Sarra
2. Caroline Angelica Tobing
Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Padjadjaran (UNPAD)
Dosen Pengampu: Dr. rer. nat. Fetriyuna, S.TP., M.Si.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












