Mengapa rekomendasi influencer sering terasa lebih meyakinkan daripada hasil uji laboratorium? Di mana posisi ilmu pengetahuan ketika bahasa sains dipakai sebagai alat pemasaran?
Badan Pengawas Obat dan Makanan mengumumkan temuan 26 produk kosmetik berbahaya pada akhir tahun 2025. Temuan tersebut tidak hanya membuka persoalan regulasi, tetapi juga mengajak kita meninjau ulang satu masalah mendasar dalam filsafat ilmu yaitu bagaimana kebenaran ilmiah ditemukan, diklaim, dan dipercaya di ruang publik.
Dalam filsafat ilmu, pengetahuan ilmiah lahir melalui proses penemuan yang ketat melalui observasi, pengujian, verifikasi, dan keterbukaan terhadap koreksi. Kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang paling meyakinkan, melainkan oleh metodologi pengujian ilmiah penelitian.
Temuan BPOM merepresentasikan klaim tentang bahaya kosmetik tidak dibangun dari opini, tetapi dari uji laboratorium dan standar ilmiah yang dapat diuji ulang. Masalah muncul ketika kebenaran ilmiah tersebut memasuki ruang komunikasi publik.
Dalam industri skincare, bahasa sains telah menjadi instrumen komunikasi yang lazim. Istilah seperti uji klinis, berbasis riset, atau direkomendasikan ahli digunakan untuk membangun legitimasi. Dalam kajian semiotika, istilah-istilah ini berfungsi sebagai tanda yang merujuk pada makna objektivitas dan keamanan. Namun, ketika tanda-tanda ilmiah dilepaskan dari proses penemuan ilmu berubah menjadi simbol.
Bahasa ilmiah terkadang tidak lagi menjelaskan keterbatasan dan risiko, melainkan menghadirkan kepastian semu sehingga komunikasi kehilangan fungsi epistimologi, dan bergeser menjadi persuasi. Dalam filsafat ilmu epistimologi mempelajari bagaimana pengetahuan diperoleh, bagaimana kebenaran diuji, dan bagaimana klaim dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam komunikasi skincare epistimologi berperan menyampaikan pengetahuan secara benar (hasil uji laboratorium), menjelaskan bagaimana sesuatu diketahui, apa batasnya, risikonya, dan tingkat kepastiannya dengan menyebutkan syarat penggunaan, efek samping, dan keterbatasan.
Sedangkan, persuasi adalah menonjolkan sisi positif, menyederhanakan pesan, menghilangkan keraguan dan ada kalanya menyembunyikan risiko. Dengan kata lain komunikasi tidak lagi menjelaskan kebenaran ilmiah, tetapi hanya menggunakan simbol-simbol ilmu untuk meyakinkan publik.
Peran influencer memperkuat pergeseran tersebut. Dalam teori komunikasi, influencer berfungsi sebagai opinion leader, perantara pesan antara brand dan publik. Namun, ketika influencer yang tidak memiliki kompetensi ilmiah ikut mengkomunikasikan klaim sains, terjadi pergeseran otoritas pengetahuan.
Kepercayaan tidak lagi bertumpu pada metode ilmiah, melainkan pada popularitas dan kedekatan emosional, ini mencerminkan krisis otoritas pengetahuan yang dipercaya bukan lagi kebenaran yang dapat diuji, melainkan figur yang dianggap meyakinkan. Rekomendasi personal terasa lebih nyata daripada data hasil uji laboratorium, meskipun yang terakhir memiliki dasar epistemik yang lebih kuat.
Dalam perspektif Ilmu Komunikasi, branding ilmiah adalah komitmen untuk menjaga integritas ilmu di ruang publik. Ia menuntut pemilihan komunikator yang kredibel, transparansi klaim, dan keberanian mengkomunikasikan risiko. Di tengah dominasi influencer, tanggung jawab ini menjadi semakin penting agar kepercayaan publik tidak dibangun di atas popularitas semata, melainkan di atas pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kepercayaan konsumen dalam Ilmu Komunikasi, dibangun melalui kredibilitas sumber, konsistensi pesan, dan transparansi informasi. Influencer yang tidak kompeten secara ilmiah sering kali hanya menyampaikan hasil instan tanpa menjelaskan risiko atau batasan. Ketika klaim tersebut kemudian dibantah oleh temuan ilmiah, yang rugi bukan hanya citra produk, tetapi juga kepercayaan terhadap komunikasi sains itu sendiri.
Kasus kosmetik berbahaya sebagai krisis epistemik sekaligus krisis komunikasi. Publik merasa telah diyakinkan, tetapi tidak benar-benar diberi pengetahuan.
Konsep branding ilmiah bukan sekadar strategi diferensiasi, melainkan tanggung jawab komunikatif dan epistemik. Artinya, penggunaan bahasa sains menuntut pertanggungjawaban, komunikator harus kredibel, dan risiko tidak disembunyikan.
Pada industri skincare model maklon yang semakin marak belakangan ini, kerap dikaitkan dengan produk bermasalah, persoalannya bukan pada sistem maklonnya, melainkan pada relasi antara pengetahuan dan komunikasi, banyak pabrik maklon bekerja sesuai standar ilmiah.
Namun ketika brand tidak memahami proses ilmiah produknya dan menyerahkan komunikasi pada influencer yang tidak kompeten, dan mengklaim dengan bahasa komunikasi sains yang tidak sesuai dengam komposisi atau melebih-lebihkan (overclaim) maka jarak antara ilmu dan pesan semakin jauh.
Temuan BPOM sendiri merupakan bentuk komunikasi risiko berbasis sains di negara kita, BPOM telah mengatur tentang penandaan, promosi dan pengawasan iklan kosmetik Namun pesan ini sering kalah kuat dibandingkan promosi influencer yang masif. Ini menunjukkan ketimpangan proses komunikasi pesan ilmiah yang berhati-hati, harus bersaing dengan pesan populer yang menjanjikan kepastian.
Kembali ke pertanyaan awal, mengapa klaim ilmiah dan rekomendasi influencer tidak selalu menjamin keamanan? Jawabannya terletak pada siapa yang berbicara dan atas dasar pengetahuan apa. Bahasa sains yang disampaikan oleh komunikator yang tidak kompeten berpotensi menyesatkan, meski terdengar meyakinkan. Karena ilmu bukan sekadar bahasa, melainkan proses.
Dalam perspektif filsafat ilmu dan Ilmu Komunikasi, branding ilmiah akan bermakna jika dikomunikasikan dengan tanggungjawab, dalam konteks skincare tidak menyalahi regulasi BPOM, sudah teruji secara ilmiah. Tanpa itu, kepercayaan publik dibangun bukan di atas kebenaran, melainkan di atas keyakinan yang rapuh dan semu.
Tingkat kepercayaan konsumen juga dipengaruhi oleh tingkat ekonomi dan pendidikan, karena kalangan ter- edukasi atau pendidikan tinggi memiliki literasi lebih baik, akan lebih berhati- hati dalam memilih skincare dengan membaca label, memahami kandungan, cek izin edar BPOM serta mempertimbangkan risiko dan efek jangka panjang, bukan semata hasil instan.
Sebaliknya, pada kelompok dengan keterbatasan akses pendidikan dan ekonomi, keputusan konsumsi sering kali lebih dipengaruhi oleh harga, popularitas, dan rekomendasi figur publik. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kemampuan menilai kebenaran ilmiah dipengaruhi oleh kapasitas epistemik sosial, bukan hanya oleh ketersediaan informasi.
Penulis: Nelly Nuroniah
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Jakarta
Dosen Pengampu: DR. Usni, M.Si.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












