Abstrak
Penelitian ini mengkaji kasus patologi sosial berupa kecanduan alkohol yang dialami oleh mahasiswi sebagai bentuk penyimpangan perilaku dalam kehidupan akademik dan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap faktor-faktor penyebab, pola konsumsi, dampak yang dialami, serta konsekuensi sosial dan akademik dari kecanduan alkohol tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif yang mengkaji data dari wawancara dan juga observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tekanan lingkungan sosial, stres akademik, dan kurangnya dukungan psikososial yang menjadi faktor utama yang menyebabkan mahasiswi terjerat dalam kecanduan alkohol. Dampak yang negatif signifikan terlihat pada kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial, serta prestasi kuliah yang menurun. Dalam penelitian ini menyoroti pentingnya upaya intervensi terpadu dari kelaurga, intitusi pendidikan, dan lembaga kesehatan untuk mengatasi dan mencegah kecanduan alkohol di kalangan mahasiswa. Kesimpulannya, kecanduan alkohol merupakan patologi sosial yang memerlukan perhatian serius sebagai bagian dari upaya menjaga kesejahteraan generasi muda dan kualitas pendidikan.
Kata kunci: patologi sosial, kecanduan alkohol, mahasiswi, dampak sosial
Pendahuluan
Kecanduan alkohol di kalangan pelajar, khususnya mahasiswi merupakan fenomena sosial yang semakin ditolak. Banyak mahasiswi yang terjerat dalam kebiasaan mengonsumsi alkohol secara belebihan sebagai pelarian dari tekanan akademik, masalah pribadi, dan pengaruh lingkungan sosial. Selain itu, kecanduan alkohol merupakan bentuk patologi yang dapat menyebabkan penyimpangan perilaku, moral, dan psikolgis yang serius. Faktor-faktor yang melatarbelakangi kecanduan ini meliputi tekanan sebaya, kurangnya pengawasan keluarga, serta ketersediaan dan budaya yang permisif terhadap alkohol. Oleh karena itu, penting untuk melakukan analisis mendalam terhadap kasus kecanduan alkohol di kalangan mahasiswi guna menemukan solusi efektif utnuk mencegah dan mengatasi masalah sosial ini demi memperbaiki kualitas hidp dan keberhasilan akademik generasi muda.[1]
Terdapat beberapa rumusan masalah yang akan di bahas dalam kepenulisan ini diantaranya: pertama, apa faktor penyebab mahasiswa terjerat kecanduan alkohol?. Kedua, apa dampak alkohol terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial mahasiswa?. Ketiga, apasaja upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi kecanduan alkohol di lingkungan kampus?. Dalam rumusan masalah ini akan mengarahkan penelitian untuk mencari jawaban atas persoalan utama terkait patologi sosial kecanduan alkohol di kalangan mahasiswa secara sistematis dan jelas. Rumusan masalah ini juga membatasi fokus penelitian agar tetap releven dan juga terarah.
Ketertarikan penulis dalam pembahasan kasus patologi sosial mahasiswi yang terperangkap kecanduan alkohol didasari dengan mengiklankan terhadap meningkatnya konsumsi alkohol di kalangan mahasiswi dan danpak buruk yang ditimbulkannya. Penulis ingin memahami faktor-faktor penyebab yang memicu kecanduan alkohol ditengah tekanan akademik dan sosial, serta pola konsumsi yang berkembang di lingkungan kampus. Selain itu, penulis juga tertarik untuk mengkaji dampak negatif kecanduan ini terhadap kesehatan fisik, kondisi psikologis, hubungan sosial, dan pestasi akademik makasiswi. Penelitian ini di harapkan dapat memberikan wawasan komprehensif yang mennjadi dasar bagi upaya pencegahan dan intervensi efektif dari keluarga, institusi pendidikan, dan pihak terkait lainnya demi menciptakan lingkungan yang sehat dan mendukung perkembangan siswa secara optimal.[2]
Menururt teori kognitif perilaku dan belajar sosial, individu mengembangkakn keyakinan dan ekspektasi tentang efek alkohol berdasarkan pengalaman awal dan lingkungan sosialnya. Konsumsi alkohol pada siswa, termasuk mahasiswi sering kali dimulai dari rasa ingin tahu dan mempengaruhi teman sebaya yang memperkuat perilaku tersebut. Mahasiswa memandang alkohol sebagai cara utnuk mengatasi stres dan meningkatkan suasana hati, padahal sebenarnya beresiko menimbulkan ketergantungan (Halgi, 2009). Penelitian menurut faktor internal seperti tekanan akademik, masalah psikologois, keinginan mencoba, serta rasa mudah terpengaruh merupakan pendorong utama konsumsi alkohol. Faktor eksternalnya meliputi pengaruh teman, ketersediaan alkohol, dan iklim sosial atau dukungan budaya yang izin terhadap minuman beralkohol. Film-film dan media juga menjadi sumber yang mempengaruhi persepsi positif terhadap alkohol (Priangguna, 2023).[3]
Mengkonsumsi alkohol secara berlebihan berdampak pada penurunan kondiri fisik sepesrti rasa lemah dan merasa kurang tenang, gangguan berfikir jernih, gangguan emosi, serta buruknya hubungan emosi karena berkurangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Selain itu, prestasi akademik siswa sering terganggu karena berkurangnya konsentrasi dan produktivitas di lingkungan kampus. Lingkungan sosial juga memiliki peran besar dalam mempengaruhi perilaku konsumsi alkohol. Mahasiswa yang memilikki persepsi diri rendah atau mengalami tekanan dan stres lebih renta menggunakan alkohol sebagai mekanisme koping. Motivasi penggunaan alkohol sering berupa upaya menghilangkan rasa cemas, depresi, dan tekanan sosial (Dewi, Hanifah, 2023).
[4] Menururt Sasangka (2003), sebelum seseorang menjadi pecandu alkohol, ada beberapa tahapan perkembangan ketergantungan, mulai dari eksperimen, penggunaan sesekali, penggunaan rutin, hingga kecanduan yang kronis. Pemahaman terhadap ini penting untuk mencegah dan memberikan intervensi tepat waktu.[5] Penelitian terdeoan memberikan upaya multisektoral berupa pendidikan. Konseling psikologis, penguatan nilai-nilai keluarga, dan pengawasa sekolah utnuk mengurangi konsumsi alkohol. Pencegahan dini dapat melalui penignkatan kesadaran risiko juga dapat di usulkan sebagai strategi utama (Priguna, 2023).
Sebagai pengkaji yang serius terhadap fenomena sosial yang muncul di lingkungan akademik, khususnya dalam permasalahan kecanduan alkohol dikalangan mahasiswi. Dengan pendekatan analisis patologi sosial, penulis bermaksud untuk mengungkap realitas tersembunyi yang seringkali tidak terlihat di balik aktivitas perilaku formal. Melalui studi kasus ini, bagaimaan konsumsi perilaku tersebut mempengaruhi berbagai aspek kehidupan mahasiswa baik secara fisik, psikolgi, sosial maupun akademik. Dalam posisi ini dapat di pertegas dengan menggunakan metode kualitatif yang terkenan pengumpulan data melalui wawancaramendalam dan observasi, sehingga memungkinkan utnuk pemahaman mendalam terhadap pengalaman subjektif para mahasiswa.
Penulis berusaha untuk memberikan kontribusi akademis dan praktis dengan memberikan analisis komprehensif sebagai dasar bagi intervensi dan juga kebijakan yang lebih efektifdalam mengatasi masalah kecanduan alkohol di lingkungan kampus. Penulis melihat bagaimana pentingnya peran berbagai pihak mulai dari keluarga, institusi pendidikan, hingga lebaga sosial utnuk saling melengkapi dalam penanganan masalah ini. Dengan demikian penulis memposisikan dirinya tidak hanya sebagai pengamat, tetapi juga sebagai agen perubahan yang ingin memberikan solusi berdasaarkan data dan kajian ilmiah.
Dalam kepenulisan ini tidak hanya mengankat isu yang hanya sebagai kaus individual, melainkan sebagai representasi patologi sosial yang memerlukan perhatian segera dan upaya sistematis untuk menjaga kualitas hidup dan keberhasilan akademik. Melalui pendekatan analisis patologi sosial dan studi kasus dengan metode kualitatif, penulis bertujuan untuk mengugnkap faktor penyebab, dampak, dan pengalaman mendalam dan komprehensif analisis sebagai dasar intervensi dan kebijajkan yang lebih efektif, dengan peran pengamat sekaligus agen perubahan untuk memajukan kualitas hidup dan pesentasi akademik mahasiswa.
Baca Juga: Perubahan Keterampilan Interpersonal Sosial Akibat Kecanduan Alkohol pada Remaja
Tinjauan pustaka
Dalam tinjauan pustaka ini mengulas berbagai penelitian terdahulu yang relevan dengan fenomena kecanduan alkohol di kalangan pelajar, khususnya mahasiswa. Penelitian priguna (2019) mengungkapkan bahwa dari sampel mahasiswa Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Surabaya, sekitar 11% mahasiswa diketahui mengonsumsi minuman beralkohol. Faktor internal terbesar yang mempengaruhi konsumsi adalah kemudahan yang mempengaruhi lingkungan sekitar (77%), sedangkan faktor eksternal utama adalah paparan dari media seperti film (84%). Mahasisawa mengonsumsi alkohol dengan tujuan utama utnuk menghilangkan stres (69%) dan perilaku ini cukup berdampak negatif pada aktivitas harian, kesehatan fisik, kondisi psikologis, serta hubungan sosial mereka. Kebanyakan mahasiswa yang mengkonsumsi berharap mampu mengehentikan kebiasaan ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Irmiyanti (2015) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa alkohol dikalangan pelajar sering kali dimulai sejak remaja dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan sosial, jenis minuman yang dikonsumsi, serta tempat mengkonsumsi. Dampak negatif yang ditemukan meliputi gangguan pada kegiatan perkuliahan dan penurunan kesadaran atas efek buruk alkohol. Penelitian lain oleh Rapel Muhamad Idrus (2020) berfokus pada dampak kecanduan minuman keras tehadap prestasi belajar.
Hasilnya menunjukkan bahwa sebagaian besar siswa menggunakan alkohol untuk menylesaikan masalah pribadi dan merasa konsumsi alkohol dapat mengurangi beban pikiran. Namun, hal tersebut justru berdampak negatif terhadap kualitas belajar dan kesehatan mereka.
Selain itu, hasil skripsi oleh Rama (2019) menunjukkan motif konsumsi alkohol di kalangan remaja perempuan berkaitan dengan tuntutan pekerjaan dan pelampiasan stres, yang berakhir pada ketergantungan apabila tidak segera mendapatkan penanganan. Secara umum, penelitian-penelitian sebelunya menyatakan bahwa kecancuan alkohol pada pelajar adalah masalah serius dengan akar penyebab multifaktorial, yang meliputi faktor psikologis, sosial, dan juga faktor buday.
Dampak yang ditimbulkan tidak hannya pada aspek kesehatan, akan tetapi juga pada prestasi akademik dan interaksi sosial. Oleh karena itu, di perlukan pendekatan multidisipliner dalam penanganan dan pencegahan kecanduan alkohol agar mampu memberikan solusi yang efektif di lungkungan kampus.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasuss. Studi kasus dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam fenomena kecanduan alkohol yang terjadi pada mahasiswi dalam konteks kehidupan akademik dan sosialnya. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk memahami secara holistik pengelaman subjektif mahasiswi, faktor penyebab, pola perilaku, serta dampak kecanduan alkohol dlaam kehidupan mereka melalui data yang kaya dan mendalam.
Desain studi kasus dilihat tepat karena faktor pada suatu kasus spesifik yang menggambarkan fenomena patologi sosial tertentu secara detail, tidak hanya sebagai gambaran umum. Penelitian menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yang saling melengkapi, yaitu wawancara mendalam dengan mahasiswi yang mengalami kecanduan, dan juga observasi parsipatif untuk menangkap perilaku sehari-hari.
Selain itu, peran peneliti sebagai instrumen utama dalam penelitian kualitatif ini sangat penting untuk melakukan observasi, berinteraksi dengan subjek penelitian, serta menyimpulakan makna dari data empiris yang diperoleh. Dengan metode ini, peneliti berusaha menggali makna dan menghasilakn temuan yang mendalam dan kontekstual. Secara keseluruhan, metode penelitian ini memberikan landasan yang kokoh untuk memahami faktor-faktor penyebab, dampak, serta penanganan kecanduan terhadap alkohol di kalangan mahasiswa berdasarkan data lapangan yang autentik dan sistematis.
Baca Juga: Mengeksplor Alkoholisme dalam Cerita Pendek The Black Cat Karya Edgar Allan Poe
Hasil dan Pembahasan
Kecanduan alkohol yang juga dikelanl dengan istilah Alkoholisme, merupakan pola penggunaan alkohol yang bermasalah. Kondisi ini ditandai dengan janji seseorang utnuk mengendalikan konsumsi alkohol meski telah menimbulakn berbagai masalah dalam kehidupan sehari-harinya. Seseorang yang mengalami kecanduan alkohol biasanya memiliki obsesi dan pemahaman yang salah tentang konsumsi alkohol, serta terus menerus mengonsumsinya meskipun menimbullkan dampak negatif. Selain tiu, penderita sering kali memerlukan jumalah alkohol yang lebih besar untuk mendapatkan efek yang sama karena peningkatan toleransi tubuh. Bila dia berhenti mengonsumsi, mereka mungkin akan mengalami gejala putus zat seperti mual, gemetas, dan berkeringat, sehingga merasa harus terus mengonsumsi alkohol untuk menghindari gejala tersebut.
Badan Narkotika Nasional (BNN) indonesia mendefinisikan kecanduan alkohol sebgai kondisi ketika seseorang mengalami ketergantungan terhadap alkohol dan sulit mengendalikan konsumsinya. Mengkonsumsi alkohol yang berlebihan dapat menimbulkan perubahan kimiawi di otak yang meningkatkan sensasi puas saat minum, sehingga mendorong penderita utnuk terus mengkonsumsi alkohol. Maka, lama kelamaan, sensasi puas tersebut menururn dan menyebabkan individu terus minum utnuk menghindari gejala putus zat seperti yang sudah di tulis di atas. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecanduan alkohol meliputi faktor psikologis misalnya stres dan depresi, faktor sosial seperti dorongan dari lingkungan dan ketersediaan alkohol yang mudah untuk dijangkau, serta faktor genetik dan lingkungan sekitar yang diperbolehkan terhadap mengkonsumsi alkohol.
BNN juga mencatat bahwa pendidikan minuman keras (Miras) dan narkoba paling banyak terjadi pada kelompok usia 15-24 tahun, yang merupakan renta usia kritis bagi remaja dan pemuda untu meulai bereksperimen dengan alkohol dan juga narkoba. Data yang menunjukkan bahwa semakin muda usia seseorang mencoba alkohol, maka semakin tinggi risiko menjadi pecandu dan kesulitan untuk berhenti di kemudian hari.
Penelitian WHO dan berbagai lembaga terkait menyatakan bahwa alkohol dapat memicu perilaku destruktif dan gangguan fungsi oragan vital dalam tubuh serta menimbulkan beban sosial yang besar bagi masyarakat.[6] Oleh karena itu BNN melalui prograb pencegahan dan rehabilitasi terus berupaya mengedukasi masyarakat terutama generasi muda agar menghindari konsumsi alkohol tanpa kendali serta memberikan dukungan bagi yang sudah kecanduan melalui layanan rehabilitasi medis dan psikologis unutk memulihkan kesehatan dan kualitah hidup mereka.[7]
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecanduan alkohol pada mahasiswi di pengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang cukup signifikan berupa tekanan akademik, kebutuhan utnuk menghilangkan masalah, dan ketidak mampuan utnuk mengolah stres secara sehat. Sedangkan faktor eksternal yang cukup dominan adlaah pengaruh dari lingkungan sosial, seperti teman sebaya dan aparan media sosial yang menormalisasikan konsumsi alkohol pada kalangan muda. Sebagian besar mahasiswi yang teridentifikasi kecanduan alkohol memperkenalkan diri mereka pada alkohol sejak remaja dan melanjutkan kebiasaan tersebut selama masa kuliah.
Pola konsumsi alkohol cenderung dilakukan dalam situasi sosial, seperti berkumpul dengan teman atau pada acara tertentu. Minuman yang dikonsumsi umumnya bervariasi, mulai dari minuman tradisional hingga minuman keras beralkohol tinggi. Dampak dari kecanduan ini sangatlah signifikan terhadap kondiri fisik, seperti menurunnya tenaga dan berat badan, serta dampak psikologis yang berupa sulitnya untuk berfikir jernih, mudah marah, dan juga depresi.
Selain itu dampak sosial juga dapat terasa, simana beberapa mahasiswi mengalami isolasi sosial akibat perilaku yang tidak disukai oleh lingkungan sekitar. Dalam aspek akademik, kecanduan alkohol menyebabkan penurunan prestasi akibat seringnya bolos, kurang fokus dalam pembelajaran, dan rendahnya motivasi untuk berprestasi. Hal ini menunjukkan bahwa kecanduan alkohol bukan hanya masalah pribadi, tetapi patologi sosial yang membawa dampak luas pada kualitas pendidikan lingkungan kampus.
Pembahasan lebih jauh dari hasil ini dengan menggunakan terooio kognitif perilaku dan faktor sosial budaya yang memperkuat kebiasaan mengkonsumsi alkohol pada siswa. Pengaruh dari teman sebaya dan juga tekanan sosial muncul sebagai faktor risiko utama yang harus menjadi perhatian dalam strategi pencegahan dan intervensi. Hasil penelitian ini juga menggarisbawahi pentingnya peran keluarga, instituasi pendidikan, lembaga kesehtan da;am memberikan dukungan dan edukasi untuk mencegah serta mengatasi kecanduan alkohol. Dalam teori Perilaku Kognitif (Terapi Perilaku Kecanduan CBT), yang fokus pada mengubah pola pikir dan perilaku yang memicu utnuk mengkonsumsi alkohol. Dalam terapi ini, dapat membantu individu mengenali pemicu minuman dan mengembangkan strategi koping alternatif yang sehat (Beck, 2011).[8] CBT juga terbukti efektif untuk menurunkan angka kambuh pada kecanduan alkohol.
Dalam Model Transtheoretical (Model Tahapan Perubahan), yang diasumsikan bahwa perubahan perilaku melalui beberapa tahapan, diantarnaya: pra-pertimbangan, pertimbangan, persiapan, tindakan, dan pemeliharaan. Intervensi ini disesuaikan dengan tahapan kesiapan individu dalam berhenti untuk meminum minuman alkohol (Prochask & DiCelemente, 1983).[9] Teroi dukungan sosial, yang mana dukungan dan sosial dari keluarga dan teman meningkatkan motivasi dan keberhasilan dalam proses pemulihan kecanduan terhadap alkohol (Cohen & Wills, 1985).[10]
Beberapa cara untuk penanggulangan kecanduan alkohol yang dapat dilakukan dengan kombinasi personal, sosial, dan profesional daintaranya:
- Mencari Sistem Pendukung: seperti dukungan dari keluarga, teman, dan kelompok pendukung seperti Alcoholics Anonymous yang sangat penting untuk kesembuahn. Berusaha menarik atau menjauhkan diri dari lingkungan yang memicu konsumsi alkohol yang dapat mengurangi risiko kambuh.[11]
- Memodifikasi Pola Hidup Sehat: mulai mengadopsi gaya hidup sehat, seperti makan makanan bergizi, cukup tidur, olahraga teratur, dan pengelolaan stres yang dapat membantu pemulihan. Serta mengganti alkohol dengan meminum minuman yang sehat dan juga di anjurkan.
- Melakukan Kegiatan Positif: mulai mengisi waktu dengan hobi, olahraga, bersantai, aktivitas kreatif yang dapat menghilangkan keinginan untuk meminum kembali alkohol dan meredakan kecemasan.
- Pendidikan Dan Kesadaran Masyarakat: mulai memebrikan pengenalan terhadap pendidikan dini di keluarga dan sekolah mengenai bahanyanya mengkonsumsi alkohol yang penting sebagai pencegahan dini.
- Penegakan Regulasi Hukum: seperti pemtasan usia untuk membeli minuman beralkohol, pengawasan iklan, dan kenaikan pajak alkohol yang cukup efektif untuk mengurangi akses.[12]
- Prograh rehabilitasi dan dukungan profesional: seperti melakukan terapi psikologis, konseling, dan rehabilitasi medis yang merupakan bagian penting untuk mengatasi kecanduan dan mencegah kambuh.
Baca Juga: Menyibak Realita Kelam: Penyalahgunaan Konsumsi Alkohol di Kalangan Remaja
Kesimpulan
Kecanduan alkohol adlah kondisi ketrgantungan seseorang terhadap minnuman beralkokhol yang membuatnya sulit untuk mengendalikan utnuk mengkonsumsi meskipun sudah menimbulkan masalah serius dalam aspek kesehatan, psikologis, sosial, hinga produktivitas sehari-hari. Dalam kondisi ini ditandai dengan kebutuhan untuk mengkonsumsi alkohol yang semakin meningkat akibat toleransi dari tubuh, serta munculnya gejala putus zat saat tidak mengonsumsi alkohol seperti mual, dan berkeringat dingin. Kecanduan alkohol bukan hanya masalah pribadi, tetapi juga termasuk dalam patologi sosial yang berdampak luas sehingga memerlukan penanganan serius dan upaya pencegahan yang terintegrasi dari berbagai pihak. Kesadaran dini, pendidikan, dan dukungan sistem sosial sangat penting agar individu yang menghadapi kecanduan dapat menjalani pemulihan dan kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif dan sehat.
Penulis: Intan Purnama Sari
Mahasiswa Prodi Tasawuf dan Psikoterapi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Editor: Fifi Elvira
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
…..”Dampak Langsung Dan Tidak Langsung Penyalahgunaan Narkoba”. Humas BNN. (maret 2014). https://bnn.go.id.
Augia Nisya. “Upaya Penyalahgunaan Alkohol di Kalangan Remaja dan Masyarakat”. Redaksi (April 2025). https://www.alodokter.com.
Cohen, S dan Wills, TA. “Stres, dukungan sosial, dan hipotesis penyangga”. Buletin Psikologis. (1985).
Fensynthia Grace. “ 6 Cara Mengatasi Kecanduan Alkohol yang Efektif”. (juni 2025). https://www.alodokter.com.
Hanifah Nafisatul Lutfia. “Kajian Literatur: Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Alkohol dan Dampak Alkohol Terhadap Kesehatan Berdasarkan Teori Perilaku”. Media Gizi Kesma. Vol. 12 No. 01 (Juni 2023).
Irmayanti Anis dan Asyanti Setia. “PENYALAHGUNAAN ALKOHOL DI KALANGAN MAHASISWA”. (Oktober 2015).
JO ,Prochaska dan CC ,DiClemente. “Tahapan dan Proses Perubahan diri akibat merokok: Menuju model perubahan integratif”. Jurnal Konsuktasi dan Psikologi Klinis. (1983).
JS Beck,. “Terappi Perilaku Kognitif: Dasar dan Lebih Lanjut”. Guildford Press. (20011).
Kalangi Leika. “ MIRAS DAN NARKOB”. (Juni 2016). https://www.alodokter.com.
Mayasawi Denita. Kevalandra Zulfa. dan Nurmala Ira.” Niat Mahasiswa Di Surabaya Untuk Berhenti Mengonsumsi Minuman Beralkohol Menggunakan Teori Attitude Toward Behavior”. Media Gizi Kesmas. Vol. 10 No. 02 (Desember 2021).
Priangguna Candra dan Muis Tamsil. “Perilaku Mengkonsumsi Minuman Beralkohol Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabya”. Jurnal BK UNESA. Vol. 05 No. 01 (2015).
Sangun Rawan Azah dan Bimono. “Hubungan Antara Toleransi pada Stress dengan Kecenderungan Mengkonsumsi Minuman Alkohol secara Berlebih-lebihan”. Jurnal Psikologi. Vol. 06 No. 01 (2010).
[1] Anis Irmayanti dan Setia Asyanti, “PENYALAHGUNAAN ALKOHOL DI KALANGAN MAHASISWA”, (Oktober 2015)
[2] Denita Mayasawi, Zulfa Kevalandra, dan Ira Nurmala,” Niat Mahasiswa Di Surabaya Untuk Berhenti Mengonsumsi Minuman Beralkohol Menggunakan Teori Attitude Toward Behavior”, Media Gizi Kesmas, Vol. 10 No. 02 (Desember 2021).
[3] Candra Priangguna dan Tamsil Muis, “Perilaku Mengkonsumsi Minuman Beralkohol Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabya”, Jurnal BK UNESA, Vol. 05 No. 01 (2015).
[4] Lutfia Nafisatul Hanifah, “Kajian Literatur: Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Alkohol dan Dampak Alkohol Terhadap Kesehatan Berdasarkan Teori Perilaku”, Media Gizi Kesma, Vol. 12 No. 01 (Juni 2023).
[5] Azah Rawan Sangun dan Bimono, “Hubungan Antara Toleransi pada Stress dengan Kecenderungan Mengkonsumsi Minuman Alkohol secara Berlebih-lebihan”, Jurnal Psikologi, Vol. 06 No. 01 (2010).
[6] Leika Kalangi, “ MIRAS DAN NARKOB”, (Juni 2016), https://www.alodokter.com.
[7] ….,”Dampak Langsung Dan Tidak Langsung Penyalahgunaan Narkoba”, Humas BNN, (maret 2014), https://bnn.go.id.
[8] Beck, JS, “Terappi Perilaku Kognitif: Dasar dan Lebih Lanjut”, Guildford Press, (20011)
[9] Prochaska, JO dan DiClemente, CC, “Tahapan dan Proses Perubahan diri akibat merokok: Menuju model perubahan integratif”, Jurnal Konsuktasi dan Psikologi Klinis, (1983).
[10] Cohen, S dan Wills, TA, “Stres, dukungan sosial, dan hipotesis penyangga”, Buletin Psikologis, (1985).
[11] Grace Fensynthia, “ 6 Cara Mengatasi Kecanduan Alkohol yang Efektif”, (juni 2025), https://www.alodokter.com.
[12] Nisya Augia, “Upaya Penyalahgunaan Alkohol di Kalangan Remaja dan Masyarakat”, Redaksi (April 2025), https://www.alodokter.com.
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












