Menurut saya, implementasi supervisi akademik berbasis coaching dan kolaboratif di SMP Lab School FIP UMJ merupakan langkah yang sangat relevan dan progresif dalam mendukung pembelajaran berdiferensiasi di era Kurikulum Merdeka.
Saya melihat bahwa sekolah ini tidak memandang supervisi sebagai kegiatan formalitas atau sekadar penilaian administratif, melainkan sebagai proses pendampingan yang benar-benar membantu guru berkembang secara profesional.
Saya secara pribadi menilai bahwa penggunaan model supervisi klinis yang sistematis melalui tahapan praobservasi, observasi, dan pascaobservasi sudah sangat tepat. Proses ini membuat supervisi terasa lebih terarah dan tidak mendadak.
Guru juga memiliki kesempatan untuk melakukan refleksi diri, sehingga perbaikan pembelajaran tidak hanya datang dari supervisor, tetapi juga dari kesadaran profesional guru itu sendiri.
Yang menurut saya paling menarik adalah pendekatan nondirektif berbasis coaching yang diterapkan oleh kepala sekolah.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pimpinan tidak serta-merta memberi instruksi atau kritik secara langsung, tetapi mengajak guru berpikir dan menemukan solusi sendiri.
Hal ini menurut saya sangat efektif dalam membangun rasa percaya diri dan kemandirian guru dalam mengambil keputusan pembelajaran.
Selain itu, budaya “Teacher Sharing” yang dilakukan setiap hari dan secara formal setiap minggu merupakan inovasi yang luar biasa.
Saya melihat budaya ini bukan hanya sekadar forum diskusi, tetapi sudah menjadi wadah belajar bersama yang menciptakan rasa saling mendukung antarguru.
Dalam kondisi guru yang memiliki beban kerja ganda, strategi ini menurut saya sangat membantu karena pengembangan profesional dilakukan secara kolektif, tidak membebani satu pihak saja.
Namun demikian, saya juga menyadari bahwa tantangan seperti keterbatasan waktu dan beban kerja ganda tetap menjadi hambatan nyata.
Menurut saya, ke depan perlu ada penguatan manajemen waktu dan pembagian tugas yang lebih efektif agar guru dapat lebih maksimal dalam merancang pembelajaran berdiferensiasi yang berkualitas.
Secara keseluruhan, saya berpendapat bahwa keberhasilan supervisi akademik di SMP Lab School FIP UMJ tidak hanya terletak pada model dan teknik yang digunakan, tetapi juga pada budaya organisasi yang terbuka dan “legowo” dalam menerima masukan.
Hal ini menjadi kekuatan utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, profesional, dan berorientasi pada kesejahteraan belajar siswa.
Menurut saya, model seperti ini layak menjadi contoh bagi sekolah lain yang sedang berproses dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dan pembelajaran berdiferensiasi secara lebih optimal.
Penulis: Nurul Sarah Khomsinah (NIM 2486208185)
Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Dosen Pengampu: Dr. Sarwenda, S.Si., M.Pd.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












