Binjai — Tim pengabdian masyarakat dari Institut Kesehatan Helvetia meluncurkan program inovatif bertajuk “GLOW UP PROJECT” untuk mengatasi masalah gizi ganda yang dihadapi remaja di Kota Binjai, khususnya di SMKS Galang Insan Mandiri.
Program ini berfokus pada pelatihan Konselor Sebaya (Peer Counselor) menggunakan pendekatan Health Belief Model (HBM) untuk menciptakan perubahan perilaku makan yang berkelanjutan dan efektif.
Ketua Tim Pengabdian, Muhammad Crystandy, SKM, MKM, bersama anggota tim Yulita, SKM., MPH, Safrina Ramadhani, SKM., MKM, dan dua mahasiswa, menjelaskan bahwa remaja merupakan kelompok usia yang sangat rentan mengalami masalah gizi akibat pola makan yang tidak seimbang.
Fenomena perilaku makan tidak sehat pada remaja di wilayah ini telah mencapai titik yang memerlukan intervensi tepat, sebagaimana ditunjukkan oleh tingginya ketergantungan pada makanan cepat saji dan rendahnya kepatuhan terhadap kebiasaan sarapan yang sehat.
Akar masalahnya terletak pada minimnya edukasi gizi yang efektif di sekolah, serta kurangnya kesadaran diri remaja terhadap ancaman kesehatan akibat pola makan yang tidak teratur, yang dapat memicu masalah citra tubuh dan diet keliru
Masalahnya bukan hanya obesitas atau kekurangan gizi, tapi juga persepsi mereka. Banyak remaja menganggap penyakit akibat gizi buruk adalah masalah orang tua, bukan masalah mereka saat ini. ‘GLOW UP PROJECT’ hadir untuk mengubah persepsi kerentanan dan keparahan tersebut melalui bahasa teman sebaya,” ujar Muhammad Crystandy.
Baca Juga: Diet Sehat Remaja Putri: Diet Bukan Berarti Tidak Makan!
Solusi Inovatif: Peer Counseling Berbasis HBM
Program ini menawarkan solusi yang berpusat pada pemberdayaan remaja itu sendiri, mengingat pendekatan edukasi konvensional (ceramah) sering dianggap membosankan.
Inti dari proyek pengabdian ini adalah:
- Pembentukan Duta Gizi: Tim akan merekrut dan melatih siswa terpilih menjadi Konselor Sebaya yang berfungsi sebagai “Duta Gizi”. Mereka dilatih untuk menjadi pendengar aktif dan penyebar informasi gizi yang valid;
- Modul Berbasis HBM: Materi pelatihan disusun untuk menyasar komponen utama perilaku;
- Menyadarkan Risiko (Perceived Susceptibility): Membantu remaja memahami bahwa mereka berisiko terkena anemia atau obesitas;
- Menonjolkan Manfaat (Perceived Benefits): Menekankan keuntungan makan sehat, seperti kulit lebih cerah (glowing), tubuh bugar, dan konsentrasi meningkat;
- Mengatasi Hambatan (Barriers): Konselor dilatih untuk berbagi tips praktis tentang bekal sehat yang murah, mematahkan anggapan “makan sehat itu mahal dan tidak enak”;
- Efikasi Diri dan Digital Cues: Program ini juga membangun keyakinan diri remaja untuk mandiri mengatur pola makan (Self-Efficacy) dan memanfaatkan media sosial (Instagram/TikTok) sebagai “Isyarat Bertindak” (Cues to Action) untuk kampanye gizi yang menarik.
Baca Juga: Pentingnya Sarapan untuk Remaja
Dampak dan Target Luaran
Kegiatan pengabdian ini ditargetkan berlangsung pada 16 Desember 2025. Luaran yang diharapkan sangat signifikan, meliputi: Modul Edukasi Peer Counseling berbasis HBM. Peningkatan pengetahuan, sikap, dan perubahan perilaku makan remaja secara terukur.
Program ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung dan menjadikan remaja sebagai agen perubahan (agent of change) dalam upaya promotif-preventif peningkatan gizi.
Penulis:
1. Muhammad Crystandy, SKM., MKM.
2. Yulita, SKM., MPH.
3. Safrina Ramadhani, SKM., MKM.
Dosen Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Helvetia
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












