Pendauluhan
Di saat ruang konferensi internasional sibuk memperdebatkan kuota emisi karbon dan target transisi energi, masyarakat adat di pedalaman Papua mengkhawatirkan masalah yang jauh lebih mendesak: apa yang ada di piring mereka hari ini.
Sebagai salah satu benteng hijau terakhir di bumi, Papua berada dalam posisi yang genting.
Lingkungan alamnya diharapkan dapat menopang paru-paru dunia, namun di sisi lain, lanskap tersebut terus terkikis oleh industri skala besar.
Bagi masyarakat setempat, perubahan iklim global bukan lagi sekadar teori yang jauh, tetapi kenyataan pahit yang perlahan-lahan mengikis kedaulatan pangan lokal hak mendasar untuk menentukan sendiri apa yang mereka tanam, buru, dan konsumsi sesuai dengan warisan leluhur mereka.
Ketidakpastian Musim dan Dampak Gagal Tanam
Selama beberapa generasi, masyarakat adat di Papua telah menggunakan tanda-tanda alam sebagai kompas utama untuk bercocok tanam, berburu, dan mengumpulkan hasil bumi.
Namun, gangguan keseimbangan ekologis global telah mengganggu tatanan ini.
Pola cuaca kini semakin sulit diprediksi.
Musim kemarau sering kali berlangsung terlalu lama, sementara curah hujan ekstrem memicu banjir mendadak di daerah dataran rendah dan pesisir seperti Merauke.
Ketidakpastian ini menyebabkan kalender tradisional kehilangan keakuratannya.
Petani lokal sering kali bingung saat menanam talas, ubi jalar (petata), atau singkong.
Akibatnya, kegagalan panen terus meningkat karena kekurangan air atau pembusukan akibat banjir.
Karena sumber air bersih semakin sulit diakses, peluang untuk pertanian subsisten, yang merupakan tulang punggung kehidupan keluarga di desa-desa, semakin tertekan.
Hutan Sagu yang Menyusut dan Hilangnya Ruang Berburu
Bagi masyarakat Papua, pohon sagu (Metroxylon sago) bukan hanya sumber karbohidrat alternatif, tetapi juga pilar budaya mereka.
Sayangnya, ekosistem gambut tempat sagu tumbuh semakin terancam oleh kombinasi mematikan antara pemanasan global dan pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit.
Ketika kekeringan ekstrem melanda, lahan gambut yang kering menjadi sangat rapuh dan mudah terbakar, menghancurkan hutan sagu alami yang telah ada selama ratusan tahun.
Dampak terbesar dari kerusakan ini dirasakan langsung oleh perempuan adat.
Sebagai pihak yang secara tradisional bertanggung jawab atas pengolahan makanan, mereka sekarang harus menempuh jarak beberapa kilometer lebih jauh ke dalam hutan yang tersisa hanya untuk mencari makanan.
Bersamaan dengan itu, lahan perburuan juga telah bergeser.
Hewan hutan seperti rusa, kijang, dan burung buruan semakin sulit ditemukan karena kerusakan habitat atau suhu yang tidak menguntungkan.
Akibatnya, pasokan protein untuk masyarakat adat telah anjlok.
Ancaman Ketergantungan Pangan Luar Daerah
Runtuhnya sistem pangan tradisional ini telah menimbulkan dampak sosial yang mengkhawatirkan seperti pergeseran konsumsi ke arah makanan instan.
Karena lingkungan alam tidak lagi ramah dan mampu menyediakan makanan, penduduk desa mulai bergantung pada beras bersubsidi pemerintah atau mi instan yang dikirim dari luar pulau.
Tren ini sangat berisiko secara ekonomi dan kesehatan dalam jangka panjang.
Ketika pasokan makanan lokal digantikan oleh komoditas impor, masyarakat adat kehilangan kendali penuh atas pasokan makanan mereka sendiri.
Mereka menjadi sangat rentan terhadap lonjakan harga dan kendala distribusi yang sering kali tidak stabil melalui transportasi laut atau udara.
Kesimpulan
Upaya menyelamatkan hutan Papua tidak dapat dipandang secara sempit seolah-olah wilayah tersebut hanyalah “paru-paru dunia” yang statis.
Kebijakan perlindungan lingkungan global harus berjalan seiring dengan perlindungan hak atas tanah adat dan pemulihan ketahanan pangan lokal.
Tanpa jaminan hukum yang kuat untuk ruang hidup masyarakat setempat, agenda mitigasi iklim global apa pun hanya akan tetap menjadi formalitas di atas kertas, sementara rakyatnya secara bertahap kehilangan kedaulatan atas tanah mereka sendiri.
Penulis: Maria Jeshica Gobay
Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Universitas Cenderawasih
Dosen Pengampu: Melpayanty Sinaga, S.IP., M.A.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
- Gafur, M. A. A., Maipauw, N. J., & Amir, A. (2024). Kecerdasan Ekologis dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Berkelanjutan: Kasus Petani Sagu di Distrik Makbon Kabupaten Sorong. Jurnal Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Papua, 12(2), 115-128 https://ejournal.aptklhi.org/index.php/JPPDAS/article/view/299/313
- Ice, L. (2022). Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan: Telaah Inisiatif dan Kebijakan. Jurnal Hukum Lingkungan Indonesia, 8(1), 45-68. https://jhli.icel.or.id/index.php/jhli/article/view/75
- Komalasari, R., dkk. (2025). Signifikansi Peran Perempuan Adat Papua Dalam Upaya Iklim Berkelanjutan. Journal of Social Humanities, 6(1), 89-104. https://ejournal.unsuda.ac.id/index.php/josh/article/view/1894
- Pakidi, S., et al. (2024). Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim dan Dinamika Kebijakan: Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air di Kabupaten Merauke. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 15(3), 210-225. https://indojurnal.com/index.php/jisoh/article/view/202
- Thomas, V. F. (2020). Terlanjur Dijajah Sawit dan Tambang, Sagu Jadi Obat Krisis Pangan. Jakarta: Laporan Khusus Aliansi Petani Indonesia (API https://api.or.id/terlanjur-dijajah-sawit-dan-tambang-sagu-jadi-obat-krisis-pangan/
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












