Ada kalimat yang akhir-akhir ini mungkin kerap kali kita dengar pada percakapan sehari-hari maupun di media sosial. “Ih kok kayak boti gitu.” “Aku suka dia, dia beda dari cewek-cewek lain.”
Barangkali kalimat itu sudah menjadi keseharian kita. Kalimat-kalimat itu menyatu begitu saja dalam percakapan sehari-hari, lelucon di antara teman-teman, atau komentar-komentar dengan dalih mengingatkan sesama manusia.
Namun, pernahkah kalian berpikir bahwa untaian kalimat-kalimat itu termasuk ke dalam isu devaluasi femininitas? Atau mungkin kita lebih mengenalnya sebagai isu misogini. Misogini itu bukannya bentuk ketidaksukaan terhadap perempuan, ya?
Memahami Misogini Menurut Para Tokoh
Menurut sosiolog Allan G. Johnson, misogini adalah sikap kultural berupa kebencian terhadap perempuan karena mereka perempuan. Johnson berargumen bahwa misogini merupakan bagian inti dari prasangka dan ideologi seksis, dan karenanya menjadi landasan utama penindasan terhadap perempuan dalam masyarakat yang didominasi laki-laki. Misogini termanifestasi dalam berbagai cara, mulai dari lelucon, pornografi, kekerasan, hingga rasa benci terhadap tubuh mereka sendiri yang diajarkan kepada perempuan.
Kate Manne membuang pandangan umum bahwa misogini berarti membenci semua perempuan. Sebagai gantinya, ia mengatakan bahwa misogini adalah cara untuk menempatkan perempuan kembali pada tempatnya, dan juga sistem yang beroperasi di dalam tatanan sosial patriarkal untuk memolisi dan menegakkan subordinasi perempuan serta mempertahankan dominasi laki-laki.
Manne juga berargumen bahwa seksisme adalah ideologi yang merasionalisasi patriarki dengan menaturalisasi perbedaan jenis kelamin, sementara misogini adalah cabang penegak hukum dari tatanan patriarkal yang bekerja untuk mempertahankannya.
Maka kesimpulan yang dapat ditarik dari kedua tokoh di atas adalah bagaimana misogini memanglah sikap yang menunjukkan kebencian terhadap perempuan. Namun, Manne juga menambahkan bahwa misogini tidak harus berupa kebencian. Ia dapat bekerja lewat sistem penghargaan dan hukuman. Perempuan atau siapapun yang mematuhi norma feminin yang diinginkan akan diberi reward, sedangkan yang melanggar akan dihukum, termasuk laki-laki yang dianggap terlalu feminin.
Julia Serano dalam bukunya yang berjudul Whipping Girl (2007) mendefinisikan misogini bukan hanya sebagai kebencian terhadap perempuan, tapi sebagai kecenderungan untuk menunjukkan rasa tak suka dan mengolok-olok keperempuanan dan femininitas.
Hoskin juga memperkenalkan konsep femmephobia, yaitu cara masyarakat mendevaluasi dan meregulasi femininitas, atau apa pun yang dianggap feminin, baik yang diekspresikan oleh perempuan, non-binary, maupun laki-laki. Bentuk prasangka ini berdampak pada semua orang, tanpa memandang gender atau orientasi seksual.
Hubungan Antara Devaluasi Femininitas dan Misogini
Lalu apa hubungannya devaluasi femininitas dengan misogini?
Femininitas adalah kumpulan ekspresi, sifat, kelembutan, kepekaan emosi, perhatian pada hubungan antarmanusia, serta ekspresi perasaan yang selama ini diasosiasikan dengan perempuan. Femininitas tak ditentukan secara biologis, namun sisi tersebut didapatkan karena adanya penegakan peran, bahwa secara tidak langsung perempuan lahir dengan sisi feminin yang sudah dibentuk sejak awal.
Baca juga: Mengaku Feminist, Tapi Diam-Diam Misandrist: Feminisme yang Menyimpang di Era Media Sosial
Tapi justru karena diasosiasikan dengan perempuan, ia ikut memikul beban yang sama. Bila perempuan dianggap lebih rendah dari laki-laki dalam hierarki sosial, maka segala sesuatu yang dianggap melekat padanya ikut terseret ke dalam posisi yang sama. Femininitas bukan rendah karena ia memang rendah. Ia rendah karena dilekatkan pada kelompok yang sering kali direndahkan.
Tanpa sadar, femininitas sudah ditentukan perannya dalam masyarakat. Kita terkadang tak menyadari femininitas sudah dibentuk oleh stigma dari masyarakat sedari dulu melalui media, film, bahkan karya sastra. Semua yang kita konsumsi juga ikut andil menanamkannya.
Konstruksi Femininitas dalam Budaya Populer dan Literatur
Ingat Mean Girls? Ada tokoh Janice Ian, perempuan yang cukup nyentrik yang dikontraskan dengan teman-temannya yang feminin dan dianggap dangkal bahkan kosong. Janice terasa lebih autentik, cerdas, layak dihormati, sementara perempuan yang peduli terhadap penampilannya dan ekspresif secara emosi dijadikan bahan lelucon. Tidak ada satu dialog pun yang secara eksplisit mengatakan bahwa “feminin itu buruk,” tapi pesannya sampai tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut.
Lihat bagaimana Hollywood selama puluhan tahun menulis peran perempuan yang kuat. Katniss di The Hunger Games, bagaimana tokohnya diceritakan sebagai pemburu, tetap tenang di bawah tekanan, dan tidak sentimental. Sarah Connor di Terminator serta Ellen Ripley di Alien, keduanya kuat karena mereka bertarung, bertahan, dan tidak menunjukkan emosinya dengan gamblang.
Kekuatan perempuan dalam tokoh yang dibentuk ini hampir selalu diterjemahkan sebagai kekuatan yang maskulin. Seolah feminin dan kuat adalah dua hal yang tidak bisa berdiri berdampingan dalam satu raga.
Gone Girl mengangkat ini dengan lebih eksplisit. Terdapat monolog Amy Dunne tentang “Cool Girl”, yaitu perempuan yang pura-pura menikmati bir murahan serta burger namun tetap langsing, tidak pernah menuntut dan cemburu, tidak pernah marah bila diperlakukan tidak adil, selalu menyesuaikan dirinya dengan apa yang diinginkan laki-laki di sekitarnya.
Amy mengucapkannya dengan pengakuan yang menyakitkan, bagaimana dirinya sendiri pernah memainkan peran itu di dunia nyata. Sejak kecil, ia sudah tahu perempuan yang akan diterima adalah perempuan yang berhasil menyembunyikan sisi feminin dalam dirinya.
Dalam novel Kim Ji-yeong, Lahir 1982 karya Cho Nam-joo, terdapat adegan yang sederhana namun menghantam cukup keras. Pada satu adegan kecil, digambarkan bagaimana tokoh Ji-yeong membeli kopi untuk dirinya sendiri menggunakan uang tabungannya, dan seorang laki-laki asing langsung berkomentar meremehkan.
Hal itu barangkali terdengar sangat sepele, tetapi Ji-yeong diam saja tak memberi respons apa-apa sebab sepanjang hidupnya, ia sudah belajar bahwa keinginannya sekecil apa pun tak selalu butuh pembenaran di hadapan orang lain. Novel itu pada dasarnya adalah dokumentasi tentang bagaimana seorang perempuan kehilangan dirinya sendiri, bukan lewat satu kejadian besar, tapi lewat ribuan momen kecil yang terkesan biasa saja.
Barbie (2023) juga menyinggung isu ini dengan halus. Bagaimana ketika Barbie masuk ke dunia nyata, ia menemukan bahwa femininitas dalam dirinya menjadi bahan lelucon. Sementara Ken, yang datang membawa gagasan-gagasan tentang patriarki, justru disambut dengan keseriusan yang tidak pernah diberikan kepada Barbie.
Mengapa Isu Ini Harus Dibicarakan?
Isu-isu ini barangkali dianggap hal kecil bagi beberapa orang, namun tak sedikit yang merasa bahwa isu ini menimbulkan masalah yang cukup besar pada dirinya. Banyak orang yang kehilangan jati dirinya bahkan tak diberi kesempatan untuk mengenalnya lebih dalam sebab peran yang sudah terlanjur terbentuk.
Femininitas dan bahkan maskulinitas mungkin sudah diberi perannya dalam masyarakat. Semuanya sudah ditanam dan dibentuk sedemikian rupa, namun tak ada salahnya kita berhenti mengkotak-kotakkan suatu hal.
Jangan jadikan jari kita untuk membuat orang lain merasa bahwa dirinya buruk. Jangan jadikan lisan kita sebagai alasan orang untuk tak lagi memiliki gairah hidup. Tak ada salahnya untuk saling mengerti dan menghargai orang dengan jati atau ekspresi yang ia pilih dalam hidupnya.
Femininitas dan maskulinitas sama-sama baik, sama-sama berdiri di posisi yang sama tanpa ada rendah dan tinggi. Kedua sisi tersebut juga bebas dimiliki semua gender tanpa terkecuali. Barangkali kita bisa menjadi manusia yang lebih bijak dalam memperlakukan manusia lain dan lebih memperhatikan isu ini lebih mendalam lagi.
Penulis: Salsabila Syawaina (240901187)
Mahasiswa Psikologi, UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Dosen Pengampu: Iklima Ritmiani, S.Psi., M.A.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












