Pernah gak sih ngerasa uang saku tiba-tiba menguap gitu aja di pertengahan minggu? Baru juga hari Rabu, tapi saldo di dompet udah sisa dua digit. Fenomena ini sering banget dianggap wajar, atas nama “Self-reward kan mumpung masih muda.”
Padahal, kalau ditarik garis lurus, di sinilah titik awal di mana kita perlu mulai menata ulang cara kita berteman dengan uang.
Berangkat dari realitas ini, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Program Studi S1 Akuntansi Universitas Pamulang menggelar sebuah ruang diskusi interaktif bersama teman-teman di SMA Nurul Falaah. Topiknya sengaja dibuat membumi: “Membangun Kesadaran Investasi Sejak Dini Melalui Edukasi Pengelolaan Uang Saku.”
Bukan sesi ceramah yang kaku dan bikin ngantuk, tapi sebuah obrolan esensial tentang bagaimana anak muda bisa mulai punya kuasa penuh atas masa depan finansial mereka.
Mindset Baru: Investasi itu Bukan Menunggu Kaya tapi Justru Cara untuk Kaya
Banyak dari kita yang mikir kalau investasi itu cuma buat orang dewasa yang udah punya gaji tetap. Tapi, mindset itu justru keliru.
Dalam sesi pembuka, Kepala Sekolah SMA Nurul Falaah menyampaikan poin penting bahwa literasi keuangan adalah life skill yang gak tertulis di rapor, tapi efeknya menentukan kualitas hidup setelah lulus nanti. Kolaborasi ini hadir untuk menjembatani teori ekonomi di kelas dengan realitas dompet remaja di dunia nyata.
Rahasia Budgeting: Membedakan antara ‘Butuh’ dan ‘Fomo’
Masuk ke sesi inti, suasana kelas berubah jadi ruang diskusi yang hidup. Tim dari Universitas Pamulang membedah rumus sederhana yang bisa langsung dipraktikkan para siswa: memisahkan uang saku ke dalam beberapa pos sebelum dipakai jajan.
- Prinsip utamanya: Sisihkan, bukan sisakan.
- Begitu dapet uang saku, pos untuk tabungan atau investasi kecil-kecilan harus diamankan di awal. Sisanya? Baru dipakai buat kebutuhan harian dan hiburan.
Teman-teman kelas X SMA Nurul Falaah diajak melihat langsung gimana kebiasaan scrolling di media sosial sering kali menjebak kita dalam lingkaran FOMO (Fear of Missing Out), yang bikin kita beli barang-barang yang sebenarnya gak kita butuhin.
Baca Juga: Apa itu Passive Income? Kunci Mencapai Kebebasan Finansial
Melawan Tren ‘Investasi Bodong’ dengan Logika
Salah satu sesi paling seru adalah saat membahas maraknya investasi bodong di media sosial yang sering kali menggunakan influencer sebagai daya tariknya. Anak muda usia 17–25 tahun adalah target empuk karena biasanya pengen hasil yang instan.
Di sini, logika akuntansi masuk dengan cara yang seru. Siswa diajak berpikir kritis: kalau ada instrumen yang menjanjikan keuntungan gede banget dalam waktu singkat tanpa risiko, itu sudah pasti lampu merah.
Investasi sejak dini bukan tentang seberapa cepat kita melipatgandakan uang, melainkan seberapa konsisten kita membangun aset lewat instrumen yang aman dan legal, seperti reksa dana atau saham blue-chip lewat platform yang resmi terdaftar.
Baca Juga: Apa Manfaat Menabung? Rahasia Kebebasan Finansial dan Masa Depan yang Cerah
Langkah Kecil, Dampak Besar
Acara hari itu ditutup dengan sesi foto bersama yang penuh energi positif di halaman sekolah. Spanduk biru-putih khas Universitas Pamulang membentang di antara senyum teman-teman SMA Nurul Falaah dan tim PkM.
Foto bersama ini bukan cuma sekadar formalitas dokumentasi kegiatan. Lebih dari itu, ini adalah simbol bahwa langkah kecil yang dimulai dari ruang kelas hari ini bisa jadi titik balik bagi generasi muda yang gak cuma melek teknologi, tapi juga cerdas secara finansial.
Masa muda emang waktunya eksplorasi, tapi punya kontrol penuh atas uang saku adalah bentuk tertinggi dari menghargai diri sendiri. So, siap buat ubah sisa uang saku minggu ini jadi investasi pertama kamu?
Penulis: Affinah M.
Mahasiswa Akuntansi Unpam
Dosen Pengampu: Rananda, S.E.I., Mak.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















