Redelong, MMI – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Kabupaten Bener Meriah pada bulan Desember 2025 telah menyebabkan kerusakan yang sangat parah, terutama pada akses jalan dan sarana prasarana lainya secara fisik, tetapi juga memicu krisis ekonomi bagi warga Kabupaten Bener Meriah.
Lumpuhnya akses transportasi utama yaitu jalur darat menyebabkan harga kebutuhan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM) melonjak drastis akibat terhentinya suplai dari luar daerah baik melalui jalur dari kabupaten Bireuen maupu jalur memalui Kabupaten Aceh Utara via jalur exs KKA.
Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Memecahkan Rekor Tertinggi
Harga paling ekstrem terlihat pada harga BBM ditingkat pengecer. Hal ini diakibatkan putusnya jalan nasional yang menghubungkan Bener Meriah, baik yang melalui jakur Kabupaten Bireuen maupun jalur Kabupaten Aceh Utara via exs jalan KKA, di mana stok BBM menjadi sangat langka.
Untuk memperoleh BBM warga harus menempuh jalur darat dengan berjalan kaki dengan medan yang berat di beberapa titik, warga melaporkan harga Pertalite dan Pertamax mencapai Rp40.000 hingga Rp60.000 per liter. Bahkan, pada puncak isolasi wilayah, harga BBM di tingkat pengecer sempat menyentuh angka Rp100.000 per liter. Di daerah terdalam seperti di Desa Wih Resap dan Samar Kilang kecamatan Syiah Utama.
Paradoks Harga Pangan: Beras Mahal, Sayur Anjlok
Di sisi lain terjadi ketidakstabilan harga juga merambah ke sektor pangan. Kebutuhan pokok seperti beras dan telur mengalami kenaikan signifikan karena stok di pasar-pasar lokal menipis. Harga Beras mencapai Rp 400.000/15 kilogram dan telur mencapai Rp 150.000/papan (30 Butir), hal ini merupakan tantangan yang berat untuk mencukupi kebutuhan masyarakat di tengah krisis ini.
Sebaliknya, petani lokal justru mengalami kerugian besar. Komoditas unggulan seperti cabai merah dan tomat dilaporkan anjlok menyentuh level terendah dengan perkiraan cabai Rp. 10.000/kg , tomat Rp. 2.000/kg. Hal ini terjadi karena hasil panen tidak dapat dijual keluar daerah akibat terputusnya jalur logistik akibat tertimbunnya jalan oleh material longsor, sehingga terjadi penumpukan stok di tingkat petani yang hanya bisa dipasarkan di dalam daerah sendiri.
Langkah Darurat Masyarakat
Keadaan darurat memaksa masyarakat Kabupaten Bener Meriah saling bahu membahu memulihkan keadaan mereka tidak terpaku menunggu relawan dan pemerintah untuk datang membantu. Mereka bergotong royong bahu membahu memperbaiki rumah dengan bahan seadanya, membersihkan tanah longsoran secara manual dengan cangkul, memperbaiki jembatan yang putus dengan bahan kayu.
Masyarakat bergotong royong membersihkan sarana ibadah dan fasilitas umum lainnya agar dapat difungsikan seperti sebelum datangnya bencana banjir dan tanah longsor.
Pemenuhan Kebutuhan pada Masa Darurat Bencana
Pada masa keadaan tanggap darurat bencana masyarakat terisolir untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat hanya mengandalkan bahan pangan seadanya. Bantuan belum dapat didistribusikan, ditambah akses jalur logistik terputus, listrik padam, jaringan internet tidak terkoneksi, gas tidak tersedia, serta BBM langka.
Baca juga: Air Hujan sebagai Alternatif Kebutuhan Konsumsi Manusia
Dalam keadaan ini masyarakat berusaha mandiri mereka mencari sembako ke daerah lain dengan berjalan kaki menempuh bahaya dan ancaman tanah longsor dengan harga yang melambung tinggi sedangkan hasil bumi yang dihasilkan oleh petani harganya anjlok bahkan tidak laku terjual di pasaran akibat tidak adanya akses jalan yang masih terputus akibat banjit bandang dan tanah longsor.
Langkah Darurat Pemerintah
Dalam hal ini, pemerintah merespons situasi yang terjadi. Pemerintah Kabupaten Bener Meriah telah memperpanjang masa tanggap darurat hingga 23 Desember 2025. Hingga pertengahan Desember, pemerintah melalui posko bantuan telah menyalurkan sebanyak 339,6 ton beras kepada masyarakat yang terdampak diberbagai lokasi baik melalui dapur umum maupun posko pengungsian diberbagai titik.
Pemerintah Provensi Aceh malalui Gubernur Aceh juga telah menginstruksikan pengawasan ketat terhadap distribusi logistik untuk mencegah praktik penimbunan yang memperparah kenaikan harga. Saat ini, pengerahan alat berat terus difokuskan untuk membuka akses jalan yang tertutup longsor agar distribusi pangan dan BBM dapat kembali normal.
Warga berharap pemulihan infrastruktur dapat dipercepat agar roda ekonomi di Tanah Gayo segera pulih dan harga-harga kebutuhan kembali stabil sebelum pergantian. Hingga saat ini, jalur logistik masih dalam pembenahan dan perbaikan tetapi belum bisa dilalui oleh kenderaan roda 4 dan 6 sehingga jalur logistik hanya dapat menggunakan kendaraan roda 2 dan berjalan kaki.
Masyarakat berharap kepada pemerintah agar dapat mempercepat perbaikan akses jalur logistik sehingga pemulihan keadaan ekonomi di Kabupaten Bener Meriah secara bertahap akan pulih dan roda perekonomian dapat berjalan seperti sedia kala.
Penulis 1: Nanang
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Pembangunan Panca Budi Medan
Penulis 2: Dr. Kholilul Kholik, S.E., S.H., M.H.
Dosen Universitas pembangunan Panca Budi Medan
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














