Senin, (16/09/2024) hari yang paling takjub bagi saya. Hari itu, saya melakukan walking di daerah pegunungan dengan jalur cukup curam, melewati pedesaan, sawah, hingga jalan bebatuan. Kegiatan ini saya lakukan saat waktu senggang selama mengikuti program MBKM di Dinas Arpus Kabupaten Magetan, sehingga saya melakukan walking dari pasar Tawangmangu menuju Grojogan Sewu.
Hobi saya walking, saya memutuskan untuk berolahraga sambil menikmati keindahan alam Grojogan Sewu dengan berjalan Santai. Sambil menikmati perjalanan, dengan menyapa banyak warga sekitar yang hendak pergi ke sawah maupun masyarakat lainnya, membuat hati saya riang dan tersenyum untuk bisa menyapa dan lebih dekat dengan warga sekitar.
Langkah demi langkah menapaki jalur seperti perjalanan menuju dunia lain. Udara sejuk mulai menyapa sejak kaki kali pertama memasuki kawasan Grojogan Sewu, salah satu air terjun paling ikonik di lereng Gunung Lawu.
Suara gemericik air terdengar samar dari kejauhan, cukup untuk menimbulkan rasa takjub, disitulah rasa takjub mulai berdebar, karena ini merupakan sebuah pengalaman bagi saya untuk bisa melewati sebuah perjalanan walking pertama saya sampai di sebuah wisata alam dengan menempuh waktu kurang lebih 3 jam, dari pasar Tawangmangu pukul 06.15 WIB tiba di Grojogan Sewu pukul 10.00 WIB.
Kegiatan ini merupakan pengalaman bagi saya menyaksikan langsung megahnya Grojogan Sewu, air terjun yang selama ini hanya kulihat melalui foto dan cerita orang-orang, yang biasanya orang bisa berkunjung ke wisata tersebut dengan membawa kendaraannya, tetapi saya mencoba sekaligus menambah pengalaman dan berolahraga walking menuju wisata tersebut dengan menyusuri pedesaan hingga sawah-sawah.
Melalui kegiatan walking itulah yang membuat saya lebih berkesan dan tau daerah pedalaman di sekitar Tawangmangu, seperti nama Desa, pekerjaan sehari-hari warga sekitar, hingga makanan-makanan khas yang ada di Tawangmangu.
Baca juga: 5 Destinasi Wisata Tersembunyi yang Wajib dikunjungi
Makin dekat perjalanan menuju tempat yang ditunggu-tunggu, suara air semakin keras, seperti panggilan alam yang menuntun setiap langkah.
Jalan setapak yang dikelilingi pepohonan hijau membuat perjalanan terasa damai. Udara lembap, aroma tanah basah, dan suara burung bersahutan menambah nuansa alami yang begitu menenangkan.
Akhirnya di hadapan mata, tirai air setinggi puluhan meter menjulang gagah di tengah tebing yang rimbun. Butiran air yang jatuh dari ketinggian membentuk kabut tipis, membasahi wajah dengan sejuk yang menyegarkan. Sinar matahari yang menembus di antara dedaunan menciptakan kilau pelangi samar, pemandangan yang sulit dilupakan.
Saya berdiri di antara bebatuan besar, memandangi keindahan itu dalam diam. Setiap tetes air yang jatuh seolah membawa cerita tentang ketenangan dan kekuatan alam. Suara tawa para pengunjung lain yang bermain air berpadu dengan gemuruh air terjun, menciptakan harmoni yang sederhana.
Perjalanan kali ini bukan sekadar wisata alam namun, pengalaman spiritual tentang rasa kagum terhadap ciptaan Tuhan, tentang keheningan di tengah keramaian dan rasa kecilnya manusia di hadapan kebesaran alam. Saat melangkah pulang, sepatu masih basah dan pakaian sedikit lembap, tetapi hati terasa penuh riang.
Grojogan Sewu bukan hanya tentang air terjun yang megah, tetapi pengalaman pertama yang membuat saya benar-benar takjub di antara batu, air, dan keheningan yang berbicara. Langit siang mulai redup, sementara desir angin pegunungan masih berbisik lembut di telinga.
Grojogan Sewu kini tertinggal di belakang, tetapi gema suaranya tetap menggema dalam ingatan. Setiap tetes air, langkah di jalan bebatuan, seolah menyimpan pesan tentang keindahan dan ketabahan. Saya sadar, perjalanan ini bukan sekadar melihat air terjun, melainkan menyelami makna hidup bahwa di balik setiap lelah selalu ada keindahan yang menanti untuk ditemukan.
Pengalaman kali pertama menapaki Grojogan Sewu menjadi perjalanan yang tidak terlupakan. Selain menyuguhkan keindahan air terjun yang megah, kawasan ini juga memmerlihatkan kehidupan masyarakat sekitar yang ramah dan alami.
Melalui perjalanan walking dari Pasar Tawangmangu hingga Grojogan Sewu, saya tidak hanya menemukan pesona alam, tetapi juga pelajaran berharga tentang ketekunan dan keindahan dalam kesederhanaan. Grojogan Sewu membuktikan bahwa wisata alam Indonesia masih menyimpan banyak keajaiban yang patut dijaga dan dilestarikan.
Penulis: Ilafi Galah Sabrina
Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya
Dosen Pengampu: Dr. Fafi Inayatillah M. Pd.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












