Konsumsi daging sapi dan kerbau di Indonesia jika mengandalkan produksi peternakan lokal masih jauh dari kata cukup. Maka dari itu impor daging sapi masih menjadi solusi cepat yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan daging sapi nasional.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kebutuhan konsumsi daging sapi dan kerbau di tahun 2025 sebesar 787,42 ribu ton, sedangkan produksi daging sapi dan kerbau lokal sebesar 515,60 ribu ton. Dalam hal ini, pemenuhan komoditas tersebut dalam skala nasional mengalami defisit sebesar 271,82 ribu ton. Defisit inilah yang kemudian ditutupi dengan impor dari negara-negara seperti Australia, India, dan masih banyak lagi. Solusi ini memang efektif untuk jangka pendek, tetapi perlahan-lahan mencekik urat nadi peternakan lokal.
Kondisi tanpa surplus ini sudah terjadi setiap tahunnya pada komoditas sapi dan kerbau di Indonesia. Dari tahun ke tahun pemerintah masih belum menemukan cara agar ketergantungan impor ini bisa dihentikan, pemerintah selalu mengambil solusi praktis dengan mengimpor dari negara tetangga. Kebijakan ini secara tidak sadar menciptakan ketergantungan yang repetitif.
Impor instan memang menyelesaikan permasalahan kurangnya daging sapi dan kerbau di Indonesia, tetapi kebijakan ini hanya menyelesaikan masalah dalam jangka pendek. Jika kebijakan ini terus dilakukan tanpa dibarengi dengan pembenahan struktural, maka ketergantungan akan terjadi setiap tahunnya dan potensi peternakan lokal akan tergerus seiring berjalannya waktu.
Ketergantungan impor tersebut disebabkan oleh beberapa faktor struktural, salah satu yang paling terlihat adalah faktor harga daging impor lebih murah dibandingkan dengan harga lokal, sebab produksi sapi dan kerbau lokal melalui rantai pasok yang panjang, yang melibatkan peternak, calo sapi, pasar ternak, distributor, hingga pedagang eceran. Kondisi inilah yang membuat harga daging lokal kurang bersaing dengan harga daging impor.
Selain itu, negara-negara eksportir sapi dan kerbau memiliki ladang penggembalaan yang luas serta didukung dengan biaya pakan yang lebih rendah, sedangkan di Indonesia rata-rata peternak adalah peternak dengan skala rakyat yang hanya memiliki dua hingga empat ekor sapi akibat terbatasnya ladang dan modal.
Kurangnya pemenuhan kebutuhan sapi dan kerbau nasional tidak luput dari tantangan-tantangan yang dihadapi peternakan Indonesia dari tahun ke tahun. Pertama persoalan skala usaha, di Indonesia mayoritas peternak masih berskala rakyat atau skalanya kecil dengan kepemilikan dua hingga empat ekor per rumah tangga. Mayoritas pemikiran peternak rakyat, beternak dianggap sebagai usaha sampingan bukan sebagai bisnis komersial.
Hal ini berbeda dengan negara eksportir Indonesia, contoh Australia. Di negara Australia peternakan dipandang sebagai bisnis yang besar. Peternak sapi di sana memiliki lahan yang luas yang mampu menampung puluhan bahkan ratusan ribu sapi. Sistem peternakan di sana adalah dengan sapi dibiarkan bebas dipadang rumput yang jutaan hektar luasnya. Besarnya skala peternakan sapi di Australia terbukti dari Australia menjadi negara pengekspor daging sapi terbesar ketiga di dunia.
Kedua, minat beternak pada generasi muda semakin mengalami penurunan, beternak bagi generasi muda sekarang dianggap sebagai pekerjaan yang kotor, dan kurang menjanjikan secara ekonomi. Mereka lebih memilih sektor industri lain yang menjanjikan secara finansial. Kurang menjanjikan disini sebab keterbatasan lahan, modal pakan yang mahal, serta banyak risiko gagal produksi karena penyakit.
Yang terakhir, terbatasnya pemahaman teknologi, keterbatasan pembangunan internet di pedesaan menjadi penyebab keterbatasan teknologi di pedesaan. Peternak di Indonesia mayoritas beternak secara tradisional dan kurang mengandalkan teknologi seperti sensor pemantauan kesehatan hingga sistem pencatatan digital. Kurangnya memanfaatkan teknologi ini berdampak pada efisiensi produksi ternak.
Baca juga: Ketergantungan Indonesia terhadap Kegiatan Impor yang dapat Mempengaruhi Kesejahteraan Masyarakat
Jika Indonesia hanya mengandalkan impor setiap tahunnya, maka minat generasi muda akan beternak semakin hilang. Imbasnya, inovasi teknologi juga akan semakin mundur karena kurangnya regenerasi peternak lokal. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan bagi Indonesia yang lama-kelamaan semakin mengikis peternak lokal. Guna memutus ketergantungan impor tersebut, Indonesia perlu mengubah arah kebijakan menjadi fokus pada surplus produksi dalam negeri.
Melihat kasus ini pemerintah juga tidak tinggal diam, Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan terus berupaya untuk menekan ketergantungan impor, dengan cara mengimpor sapi bakalan, dan mengurangi impor daging beku. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi, sehingga tahun-tahun berikutnya tidak lagi impor dari negara lain.
Untuk menangani permasalahan permodalan, pemerintah juga sudah menangani dengan kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebijakan ini bertujuan untuk memudahkan peternak dalam mengakses permodalan.
Kebijakan yang diambil oleh pemerintah sudah baik, namun belum cukup untuk menghentikan ketergantungan impor. Perlu adanya bantuan dari sekor pendidikan untuk mencetak generasi muda yang memiliki wawasan teknologi. Jika mencetak generasi muda dibidang peternakan maka peternakan sapi dan kerbau perlahan mulai tumbuh dengan inovasi-inovasinya.
Penulis: Hanif Ardian Maulana
Mahasiswa Program Studi Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














