Mengapa Orang ‘Baik’ Bisa Melakukan Fraud? Menyoroti Sisi Gelap Tekanan Kerja

kecurangan dalam dunia kerja
Strategi anti-fraud yang efektif tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan punitif atau sekadar memperketat pengawasan fisik seperti CCTV dan formulir audit. Tetapi, perusahaan dan para pemimpin organisasi juga harus mulai memanusiakan lingkungan kerja mereka. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Jika bicara soal fraud atau kecurangan dalam dunia kerja, bayangan kita sering kali tertuju pada seseorang yang jahat, serakah, dan manipulatif. Namun, realita di lapangan sering kali menunjukkan ironi yang mencengangkan.

Banyak kasus kecurangan yang justru melibatkan karyawan lama dan dikenal jujur, berkinerja apik, santun, bahkan sering dicap sebagai “orang baik” di mata rekan sejawatnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Fenomena ini yang selalu bikin aku habis pikir: kok bisa ya, integritas yang sudah dibangun bertahun-tahun langsung hancur lebur begitu saja dalam sekejap?

Bagi saya, jawabannya jelas tidak sesederhana “dia orang jahat, saya orang baik”. Menilai fraud atau kecurangan hanya sebagai kegagalan moral individu sering kali membuat kita lupa melihat akar masalah sebenarnya.

Baca juga: Meninjau Etika, Moral, dan Kepemimpinan Etis dalam Kasus Korupsi pada Praktik Bisnis

Di balik jatuhnya orang-orang baik ke dalam lubang kecurangan, ada sisi gelap lingkungan kerja yang sering kali diabaikan, yaitu tekanan kerja yang ekstrem dan tidak realistis.

Ketika tuntutan profesional kerja seseorang mulai mengancam kelangsungan hidup, karier, maupun finansial, secara psikologis seseorang akan otomatis berpindah ke mode bertahan hidup (survival mode). Pada titik kritis inilah, mempertahankan idealisme dan dedikasi itu jauh lebih berat daripada memilih jalan pintas yang manipulatif.

Tuntutan yang Berubah Menjadi Ancaman

Akar dari runtuhnya integritas seseorang sering kali bermula dari apa yang manajemen sebut sebagai “target”. Di atas kertas atau saat rapat, target memang terdengar sebagai motivator.

Tapi realitanya? Target yang nggak masuk akal itu berubah jadi tekanan yang mencekik.

Bayangkan saja, perusahaan menuntut angka-angka mustahil yang tidak bisa dicapai dengan cara normal, lalu ditambah dengan ancaman turun jabatan, potong bonus, sampai bayang-bayang Pemutusan Hubungan Kerja. Menurut saya, ini situasi yang menjebak banget buat karyawan.

Tekanan tanpa henti ini ujung-ujungnya cuma bikin burnout, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang serba mahal seperti sekarang, di mana gaji yang diterima rasanya sudah nggak sebanding lagi dengan pengorbanannya.

Baca juga: Pengaruh Quiet Quitting terhadap Burnout Kerja dan Solidaritas Sosial di Kalangan Pekerja Generasi Z

Pada akhirnya, seseorang merasa bekerja dengan jujur di lingkungan seperti ini nggak lagi bikin kita merasa aman. Malahan, bersikap jujur terkesan seperti cara lambat untuk menghancurkan karier sendiri.

Psikologis yang Terancam

Menurut sudut pandangku, tekanan yang datang terus-menerus dan kelewat batas ini lama-kelamaan dapat memengaruhi psikologis seseorang. Saat manusia sudah stres berat, mereka bakal kena yang namanya tunnel vision—sudut pandangnya menjadi sempit.

Fokus mereka otomatis menyusut; tidak ada lagi pikiran visioner tentang gimana cara kerja yang benar demi kemajuan perusahaan. Di kepala mereka cuma ada satu hal: gimana caranya hari ini bisa selamat dari amukan bos.

Nah, di fase kritis inilah moral seseorang mulai terkikis pelan-pelan. Lelah mental yang luar biasa bikin idealisme yang dipegang selama ini rontok satu per satu. Demi menjaga agar jiwanya tetap normal, ego manusia bakal memicu mekanisme pertahanan diri lewat pembenaran atau rasionalisasi.

Ironisnya, orang yang aslinya ‘baik’ ini bakal mulai membohongi nuraninya sendiri dengan kalimat seperti, “Ah, saya manipulasi data ini kan demi menyelamatkan target tim,” atau “Saya cuma pinjam uang ini sebentar kok, lagian perusahaan udah untung gede tapi pelit banget sama keringat saya.”

Begitu pikiran mereka berhasil menormalisasi kecurangan sebagai satu-satunya jalan keluar yang terpaksa diambil, anehnya rasa bersalah itu bakal hilang total tanpa bekas.

Celah dan Kesempatan

Namun, tekanan dan validasi psikologis baru sebatas dasar dari niat tindakan kecurangan itu terjadi. Tindakan ini membutuhkan kesempatan atau celah agar fraud dapat terjadi.

Ironisnya, celah kecurangan ini sering kali terbuka lebar karena status pelaku sebagai “orang baik”. Karena reputasinya yang bersih, manajemen memberikan kepercayaan penuh yang berujung pada longgarnya pengawasan (internal control).

Saya sering melihat masalah ini berakar dari pembagian tugas (segregation of duties) yang berantakan. Karyawan yang dianggap jujur ini sering dikasih beban buat megang semua kunci proses kerja sendirian. Parahnya lagi kalau budaya kantornya toxic, tipe-tipe atasan yang cuma mau tahu hasil akhir beres dan tutup mata sama prosesnya.

Ditambah lagi, kalau perusahaan nggak punya wadah pelaporan (whistleblowing system) yang aman dan rahasia, rekan kerja yang tahu adanya kejanggalan pun pasti bakal milih pura-pura nggak tahu untuk menghindari tuduhan pengkhianat.

Baca juga: Certified Fraud Examiner (CFE): Strategi Kunci dalam Menghadapi Peningkatan Kasus Fraud di Era Modern

Catatan untuk Manajemen

Sebagai seorang yang kritis, kita harus berani melihat fraud dengan sudut pandang yang lebih luas. Kecurangan dalam dunia kerja bukan fenomena yang bisa diselesaikan hanya dengan mendepak “oknum” dan menggantinya dengan orang baru.

Bagi saya, ketika seorang karyawan yang sudah terkenal jujur dan punya integritas tinggi akhirnya malah memilih jalan pintas yang manipulatif, itu sebenarnya sebuah tamparan keras buat manajemen. Itu adalah alarm darurat yang menandakan kalau ada yang rusak dalam sistem organisasi mereka.

Integritas manusia itu bukan sesuatu yang kaku atau kebal selamanya. Integritas itu ibarat sebuah benteng. Sekuat apa pun ia dibangun, benteng itu pasti bisa runtuh juga kalau terus-menerus dihantam oleh badai tekanan di waktu yang salah. Jadi, jangan melulu menyalahkan individunya, tapi benahi juga sistem di dalamnya.

Oleh karena itu, strategi anti-fraud yang efektif tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan punitif atau sekadar memperketat pengawasan fisik seperti Closed-Circuit Television dan formulir audit. Perusahaan dan para pemimpin organisasi juga harus mulai memanusiakan lingkungan kerja mereka.

Maksudnya adalah menetapkan target performa yang realistis, memperhatikan kesejahteraan mental karyawan untuk mencegah burnout, serta membangun budaya transparansi di mana kesulitan kerja bisa didiskusikan, bukan dihukum.


Penulis: Apriliana Naisyah Putri
Mahasiswa Program Studi Sarjana Akuntansi, Universitas Pamulang


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses