Malang, MMI — Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan Universitas Negeri Malang (UM) dan Brawijaya (UB) Malang menyelenggarakan Workshop, Diskusi, dan Konsultasi Riset Karbon Nitrida untuk Pengolahan Limbah Cair dengan dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Tahun 2025 pada Senin (22/12/2025).
Kegiatan ini melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukoharjo, DLH Kabupaten Ngawi, serta PT Entry Jaya sebagai upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sektor industri.
Workshop ini menjadi forum strategis untuk memaparkan perkembangan riset pengembangan reaktor fotokatalis berbasis karbon nitrida yang dirancang sebagai solusi pengolahan limbah cair yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
Tim peneliti dari UNS dan UB Malang mempresentasikan progres desain reaktor, hasil karakterisasi material fotokatalis, serta capaian awal uji kinerja sistem dalam pengolahan limbah cair.
Program riset ini dipimpin oleh Dr. Maria Ulfa, S.Si., M.Si., dengan melibatkan dosen dan mahasiswa UNS. Dalam paparannya, Dr. Maria Ulfa menyampaikan bahwa pengembangan reaktor telah memasuki tahap lanjutan, termasuk integrasi teknologi Internet of Things (IoT).
“Pengembangan saat ini mulai diarahkan pada integrasi IoT untuk memungkinkan pemantauan kondisi limbah cair secara real time melalui berbagai sensor. Namun demikian, masukan dari mitra sangat dibutuhkan agar desain dan kinerja reaktor dapat disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan,” ujarnya.
Baca Juga: Ternyata Limbah Jeroan Ikan dapat Diolah menjadi Pupuk Cair Organik (POC)
Diskusi bersama perwakilan DLH dan mitra industri difokuskan pada potensi implementasi teknologi, tantangan teknis di daerah, serta penyesuaian desain reaktor agar sesuai dengan karakteristik limbah cair di masing-masing wilayah dan sektor industri.
Perwakilan DLH Kabupaten Ngawi, Dr. Anik Krisnawati, menyoroti tantangan geografis dalam penerapan sistem pemantauan berbasis real time. Ia menjelaskan bahwa panjang aliran sungai serta kondisi topografi wilayah yang didominasi kawasan hutan berpotensi menyebabkan keterbatasan sinyal komunikasi data.
Sementara itu, perwakilan DLH Kabupaten Sukoharjo, Dr. Sigit Samsunar, menyampaikan bahwa meskipun kondisi topografi wilayah relatif homogen, tantangan teknis tetap perlu diperhatikan.
“Penerapan sistem pemantauan real time di kawasan industri masih menghadapi kendala, terutama terkait suhu lingkungan yang relatif tinggi dan dapat memengaruhi kinerja reaktor,” jelasnya.
Dari sisi industri, Farit Ardiyanto selaku perwakilan PT Entry Jaya menyampaikan bahwa pengembangan reaktor telah memasuki tahap pembuatan prototipe. Ia menambahkan bahwa peningkatan kapasitas volume pengolahan limbah serta penambahan sensor pendukung dapat dilakukan seiring dengan ketersediaan sumber daya.
Selain itu, Denis Eka Cahyani, S.Kom., M.Kom., dosen Program Studi Matematika Universitas Negeri Malang yang membidangi komputasi, menilai bahwa teknologi ini memiliki potensi besar dalam pengembangan perangkat pemantauan lingkungan berbasis data real time.
Keterlibatan pemerintah daerah dan mitra industri dalam kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan pengembangan teknologi selaras dengan kebutuhan nyata di lapangan, sekaligus mendorong implementasi hasil riset secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi ini, UNS bersama UM dan UB Malang menegaskan komitmen untuk menghasilkan riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi penyelesaian permasalahan lingkungan.
Dukungan LPDP 2025 diharapkan mampu mempercepat pengembangan dan penerapan teknologi reaktor fotokatalis karbon nitrida dalam pengolahan limbah cair di Indonesia.
Penulis: Dr. Maria Ulfa, S.Si., M.Si.
Dosen Pendidikan Kimia Universitas Sebelas Maret (UNS)
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI

















