Malang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University membuat program bertema Tumbuh Bersama Air: Inovasi Sederhana untuk Hasil yang Maksimal di Desa Sumbertempur, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang (12/7/2025).
Program ini berfokus untuk membantu pembudidaya ikan di desa Sumbertempur terkait penyelesaian masalah tingkat kematian ikan yang cukup tinggi dan tingginya harga pakan ikan.
Latar Belakang: Tantangan Budidaya Ikan Nila di Desa Sumbertempur
Desa Sumbertempur merupakan salah satu desa yang memiliki program ketahanan pangan berbasis perikanan, khususnya melalui budidaya ikan nila. Program ini menjadi salah satu upaya desa dalam meningkatkan ketersediaan pangan lokal serta kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh tim KKNT IPB MALANGKAB13, ditemukan bahwa pembudidaya ikan di desa ini mengeluhkan dua permasalahan dalam proses budidaya yaitu tingginya harga pakan ikan serta tingkat kematian ikan yang cukup tinggi saat proses pembenihan dan pembesaran.
“Banyak yang mati, bibit yang diberikan kepada saya awal sampai 1.500 tapi sekarang yang saya kelola hanya sekitar 300 saja,” ungkap Bapak Suyet, pembudidaya ikan Nila.
“Pakannya cukup mahal sehingga terkadang hasil panen hanya untuk menutupi biaya operasional pakannya saja,” ungkap Bapak Misto, pembudidaya ikan Nila.
Program Tumbuh Bersama Air
Dalam menanggapi permasalahan tersebut, tim KKNT IPB mengembangkan dua solusi inovatif yang langsung diterapkan di lapangan. Pembuatan inkubator serta pengembagan Maggot dilakukan selama seminggu dari tanggal 4 hingga 11 Juli 2025. Lalu dilanjutkan kegiatan workshop pada tanggal 12 Juli 2025 di rumah Bapak Misto, Dusun Wetan, Desa Sumbertempur.
Dalam kegiatan dijelaskan mengenai pengembanganan inkubator penetasan telur ikan nila, yang berfungsi untuk mengurangi angka kematian sejak tahap awal. Inkubator ini diharapkan mampu mengoptimalkan proses penetasan telur dari induk ikan nila sehingga memperbesar peluang hidup benih-benih ikan.
Tim juga menjelaskan membudidayakan maggot (larva lalat BSF) sebagai pakan alternatif. Budidaya maggot dilakukan sebagai langkah untuk menekan biaya operasional, karena maggot bisa dijadikan pakan tambahan yang bergizi tinggi dan lebih terjangkau daripada pelet komersial.
Respon Positif dan Antusiasme Para Pembudidaya Ikan
Program Tumbuh Bersama Air mendapat respon yang hangat bagi para pembudidaya ikan di Desa Sumbertempur. Tidak sedikit para pembudidaya yang tertarik untuk belajar cara melakukan budidaya maggot sebagai pakan alternatif ikan nila. Salah satunya adalah Bapak Misto yang mendapat hibah kandang lalat BSF dari tim KKNT IPB MALANGKAB13.
Ia tertarik dengan maggot sebagai pakan alternatif pengganti pelet ikan, beliau berharap penggunaan maggot dapat menekan biaya pakan dalam pembudidayaan ikan nila.
Tidak sedikit juga pembudidaya yang meminta maggot hasil budidaya tim KKNT IPB MALANGKAB13 untuk dibawa pulang dan mencoba untuk budidaya sendiri di rumah.
Harapan untuk Pembudidaya Ikan Desa Sumbertempur
Melalui solusi inkubator penetasan telur dan budidaya maggot sebagai pakan alternatif, tim KKNT IPB MALANGKAB13 berharap solusi ini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi keberlanjutan budidaya ikan nila di Desa Sumbertempur. Solusi ini diharapkan tidak hanya mengurangi angka kematian ikan dan menekan biaya produksi, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan pendapatan para petani ikan.
Tim KKNT IPB MALANGKAB13 berharap agar masyarakat desa dapat terus mengembangkan dan memelihara teknologi yang telah diberikan secara mandiri, sehingga program ketahanan pangan desa dapat berjalan secara berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya di Indonesia.
Penulis: Kelompok MALANGKAB13 KKNT IPB University
Mahasiswa IPB University
Dosen Pengampu: Sonni Setiawan S.Si., M.Si.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI
















