Pernah merasa mulut masih bau atau kurang segar meski sudah rajin sikat gigi? Ingin mencoba larutan kumur, tapi khawatir dengan kandungan kimianya? Atau justru takut menjadi ketergantungan karena terlalu sering menggunakannya?
Keresahan semacam ini ternyata tidak hanya dialami oleh segelintir orang. Ibu-ibu Kader Surabaya Hebat (KSH) di Kelurahan Mojo, Surabaya, juga merasakan hal yang sama.
Mereka paham betul bahwa menjaga kesehatan mulut itu penting, namun di sisi lain, ada kecemasan akan efek jangka panjang dari bahan kimia dalam produk komersial.
Nah, dari keresahan itulah secercah solusi muncul. Bersama mahasiswa Universitas Airlangga, mereka berkumpul, menggali kembali kearifan lokal, dan mulai meracik sendiri larutan kumur alami dari bahan herbal yang aman dan mudah ditemukan di sekitar rumah.
Sadar Penting, namun Belum Menjadi Kebiasaan
Sebelum kegiatan dimulai, tim mahasiswa terlebih dahulu melakukan survei singkat kepada peserta terkait kebiasaan perawatan mulut.
Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar ibu-ibu KSH telah memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Namun, kebiasaan menggunakan obat kumur belum menjadi rutinitas.
Bahkan, dari peserta yang menggunakan larutan kumur, sebagian besar mengaku hanya bertujuan untuk menghilangkan bau mulut, bukan sebagai upaya menjaga kesehatan gigi dan gusi secara menyeluruh.
Temuan ini juga dirasakan langsung oleh peserta kegiatan. Salah satu ibu KSH mengungkapkan bahwa sebelumnya ia tidak mengetahui adanya alternatif perawatan mulut berbahan alami.
“Saya sebelumnya nggak tahu ada larutan kumur yang bisa dibuat sendiri, dan sekarang jadi tahu karena ikut kegiatan ini,” ujarnya.
Edukasi Kesehatan yang Membumi
Kegiatan diawali dengan sesi edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya kesehatan gigi dan mulut serta risiko penggunaan produk berbahan kimia secara berlebihan.
Dalam sesi ini, mahasiswa memperkenalkan berbagai tanaman herbal yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti daun rosemary, cengkeh, dan kayu manis, yang diketahui memiliki sifat antibakteri alami dan telah lama digunakan sebagai TOGA.
Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui diskusi dan tanya jawab. Ibu-ibu KSH terlihat aktif berbagi pengalaman serta mengajukan pertanyaan seputar kebiasaan perawatan mulut sehari-hari.
Pendekatan ini membuat suasana edukasi terasa lebih santai, komunikatif, dan dekat dengan realitas kehidupan peserta.
Praktik Langsung Pembuatan Larutan Kumur
Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan larutan kumur alami.
Peserta diajak mengikuti seluruh proses, mulai dari penyiapan bahan, proses perebusan, penyaringan, hingga pengemasan sederhana.
Praktik ini menjadi bagian inti kegiatan karena peserta tidak hanya menerima materi secara teori, tetapi juga memperoleh keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi. Selain aktif mencoba, para ibu juga banyak bertanya terkait cara penyimpanan dan masa simpan larutan kumur herbal yang telah dibuat.
Di akhir sesi, setiap peserta membawa pulang satu botol larutan kumur alami hasil racikan mereka sendiri.
Dorong Kemandirian dan Pemberdayaan Masyarakat
Koordinator kegiatan, Nadin Nur Al Rofah, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan keluarga.
“Kegiatan ini kami rancang agar masyarakat dapat memanfaatkan bahan alami di sekitar rumah sebagai alternatif perawatan gigi dan mulut yang lebih aman dan terjangkau,” ujarnya.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari pihak wilayah setempat. Ketua RW 06 Kelurahan Mojo menilai program tersebut relevan dengan kebutuhan masyarakat dan patut untuk terus dikembangkan.
“Sebenarnya kegiatan ini sangat bagus, apalagi berbahan herbal yang bagus untuk kesehatan. Saya sangat mendukung kegiatan seperti ini,” tuturnya.
Selain berdampak pada peningkatan kesadaran kesehatan, kegiatan ini juga membuka wawasan peserta mengenai potensi pengembangan larutan kumur herbal sebagai usaha rumahan.
Dengan bahan baku yang mudah diperoleh dan biaya produksi yang relatif rendah, produk ini dinilai memiliki peluang ekonomi jika dikembangkan secara berkelanjutan.
Baca Juga: Menggali Potensi Tanaman Obat: Pelatihan Pengolahan TOGA untuk Kesehatan dan Ekonomi Kreatif
Selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Kegiatan edukasi dan praktik pembuatan larutan kumur alami ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Program ini sejalan dengan SDG 3 (Good Health and Well-being), serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan bahan alami yang ramah lingkungan.
Melalui peran ibu-ibu KSH sebagai agen perubahan di lingkungannya, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat terus diterapkan dan disebarluaskan kepada masyarakat sekitar.
Dari Balai RW 06 Kelurahan Mojo, kegiatan ini menjadi bukti bahwa solusi kesehatan dapat dimulai dari lingkungan terdekat, berbasis kearifan lokal, dan dibangun melalui kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat.
Langkah kecil di tingkat komunitas ini menunjukkan bahwa inovasi kesehatan dapat tumbuh dari kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat.
Melalui pemanfaatan potensi lokal dan pendekatan edukatif yang sederhana, upaya menjaga kesehatan dapat diwujudkan secara lebih berkelanjutan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Penulis: Nadin Nur Al Rofah
Mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi, Universitas Airlangga
Aktif Juga di Departemen Pengembangan Profesi Sobat BEM 2025 – Sekarang
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












