Tambua Tasa: Tradisi Ritmis yang Menghidupkan Budaya Ulakan, Tapakis

Tambua Tasa
Tambua Tasa: Tradisi Ritmis yang Menghidupkan Budaya Ulakan, Tapakis. Sumber: Penulis.

Kesenian tradisional selalu menjadi cerminan kehidupan masyarakat yang melestarikannya. Melalui musik, tari, dan ritual adat, sebuah komunitas mengekspresikan nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun.

Hal ini sangat jelas terlihat pada masyarakat Nagari Ulakan, Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, yang hingga kini masih mempertahankan tradisi Tambua Tasa sebagai bagian penting dari budaya lokal mereka.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Penelitian lapangan berupaya menggambarkan bagaimana kesenian ini hidup di tengah masyarakat, sebagaimana dipahami oleh para pemain maupun warga yang menyaksikannya dari dekat.

Suasana Ulakan memperlihatkan bahwa Tambua Tasa bukan sekadar kesenian lama yang dipertahankan, tetapi tradisi yang terus berdenyut dalam aktivitas masyarakat sehari-hari.

Ketika tim peneliti tiba di lapangan dekat kantor Wali Nagari, Salah satu pemain bernama Aidil, seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun, bercerita bahwa ia mulai bermain Tambua Tasa sejak tahun 2018.

Ketertarikan itu muncul karena ia tumbuh di keluarga yang sudah akrab dengan dunia musik tradisional, terutama kakaknya yang menjadi orang pertama yang mengajarinya. Bagi Aidil, memainkan Tambua Tasa bukan hanya kegiatan kesenian, tetapi bagian dari ucapan hormat kepada tradisi keluarga dan kampung halaman.

Aidil menjelaskan bahwa suara unik Tambua Tasa muncul dari karakter materialnya. Bagian tambuah dibuat dari kulit kambing yang menghasilkan dentuman bulat dan bergetar, sementara tasa menggunakan bahan plastik keras yang menciptakan suara tajam dan cepat.

Ketika keduanya dimainkan secara bersamaan, lahirlah ritme yang menghentak, kontinu, dan penuh tenaga. Ritme tersebut tidak memiliki jeda, sehingga para pemain dituntut memiliki stamina dan fokus kuat selama pertunjukan berlangsung.

Aidil mengakui bahwa menjaga semangat dan konsentrasi adalah tantangan terbesar, karena pertunjukan Tambua Tasa sering kali dimainkan dari awal hingga akhir acara tanpa berhenti sedikit pun. Meskipun menuntut tenaga yang besar, Aidil mengaku selalu merasakan kebanggaan setiap kali tampil.

Bahkan ia menggambarkan sensasinya sebagai candu, rasa yang muncul ketika dentuman alat musik bertemu dengan sorakan dan perhatian masyarakat. Tambua Tasa baginya bukan sekadar hiburan, tetapi simbol penting yang memperkuat identitas budaya masyarakat Pariaman.

Hampir tidak ada perhelatan adat, pesta pernikahan, perayaan nagari, hingga kegiatan hari kemerdekaan di Ulakan yang berlangsung tanpa diiringi Tambua Tasa. Suara alat musik ini seakan menjadi penanda bahwa sebuah acara resmi telah dimulai. Menurut Aidil, generasi muda Ulakan justru sangat antusias mempelajari Tambua Tasa.

Banyak anak sekolah dasar hingga sekolah menengah yang mengikuti latihan rutin, bahkan tampil dalam sejumlah acara besar. Fenomena ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tradisi tidak terganggu.

Baca Juga: Pengaruh Status Sosial dalam Tradisi Bajapuik: Perkawinan Masyarakat Pariaman

Namun Aidil tetap menilai perlu adanya dukungan dari pemerintah setempat agar fasilitas latihan, ketersediaan alat, dan ruang pertunjukan dapat terus terjaga demi keberlangsungan seni ini.

Sementara itu, pandangan masyarakat umum diwakili oleh Buk Anis, seorang pedagang berusia empat puluh lima tahun yang telah lama tinggal di Ulakan. Ia menggambarkan Tambua Tasa sebagai suara yang menjadi bagian dari kesehariannya sejak kecil.

Setiap kali ada pesta pernikahan, perayaan nagari, atau kegiatan tujuh belas Agustus, ia hampir selalu mendengar denting dan hentakan musik ini. Buk Anis mengaku sudah sering menonton pertunjungan secara langsung dan mengatakan bahwa perasaan senang selalu muncul begitu suara Tambua Tasa mulai terdengar.

Baginya, alat musik ini bukan hanya pengiring acara, tetapi penghidup suasana yang mampu membangkitkan energi masyarakat.

Buk Anis juga menambahkan bahwa hampir setiap korong di sekitar Ulakan memiliki kelompok pemain Tambua Tasa sendiri. Kehadiran kelompok-kelompok ini menunjukkan bahwa tradisi ini bukan hanya milik segelintir pelaku seni, tetapi telah menyatu dalam struktur sosial masyarakat.

Ia menilai bahwa Tambua Tasa menjadi elemen penting yang membentuk identitas budaya Pariaman. Tanpa alat musik ini, sebuah acara adat terasa tidak lengkap dan kehilangan makna tertentu.

Keunikan Tambua Tasa menurutnya terletak pada ritme yang tidak pernah berhenti serta kemampuan suaranya untuk memberikan dorongan semangat bagi siapa pun yang mendengarnya.

Selama proses penelitian, tim menemukan beberapa informasi tambahan yang semakin menegaskan kekayaan tradisi ini. Salah satunya adalah keterlibatan perempuan sebagai pemain Tambua Tasa, yang menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya diwariskan kepada laki-laki.

Selain itu, beberapa warga terkadang menyebut alat ini sebagai tambuan tansa, meskipun penyebutan yang benar adalah tasa. Kesalahan penyebutan ini memperlihatkan dinamika tradisi lisan di tengah masyarakat.

Tambua Tasa juga menjadi musik yang paling sering dimainkan dalam lomba panjat pinang saat tujuh belas Agustus karena iramanya yang tak terputus dianggap mampu menambah semangat peserta. Tim penelitian juga menemukan bahwa pola permainan Tambua Tasa di Ulakan berbeda dengan gaya Maninjau.

Jika Maninjau memiliki pola ritme yang lebih terstruktur, gaya Ulakan lebih bebas, ekspresif, dan dinamis sehingga menciptakan karakter musikal tersendiri.

Selain temuan-temuan tersebut, suasana pertunjukan Tambua Tasa juga memperlihatkan hubungan erat antara musik tradisional dan ekspresi sosial masyarakat. Dalam berbagai acara, terutama baralek dan lomba, ibu-ibu yang hadir kerap ikut menari dengan ceria mengikuti hentakan ritmis Tambua Tasa.

Baca Juga: Tradisi Tabuik: Warisan Budaya dan Identitas Masyarakat Sumatera Barat

Gerakan mereka yang spontan memperlihatkan bahwa kesenian ini bukan hanya ditonton, tetapi dihidupi bersama. Tawa, sorakan, dan langkah tari sederhana yang mereka lakukan menunjukkan betapa kuatnya resonansi Tambua Tasa dalam membangkitkan kegembiraan kolektif.

Kehadiran ibu-ibu yang ikut menari ini mencerminkan bahwa Tambua Tasa tidak hanya menjadi simbol adat, tetapi juga ruang kebahagiaan yang menghubungkan seluruh lapisan masyarakat.

Seorang pemain Tambua Tasa sedang tampil di tengah arak-arakan, diikuti masyarakat yang ikut menari dan berpartisipasi dalam suasana baralek.

Keseluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa Tambua Tasa adalah tradisi hidup yang dirawat secara kolektif oleh masyarakat Ulakan. Para pemain merawatnya melalui latihan dan pertunjukan, sementara masyarakat umum menjaganya melalui kebanggaan budaya dan keterlibatan dalam setiap acara.

Tradisi ini telah menjadi ruang pertemuan sosial antara generasi muda dan tua, laki-laki maupun perempuan, yang bersama-sama menjaga identitas budaya Pariaman agar tetap kuat dan relevan.

Dengan tingginya antusiasme masyarakat dan keberlanjutan regenerasi, Tambua Tasa memiliki peluang besar untuk terus hidup sebagai bagian penting dari kehidupan budaya Ulakan di masa yang akan datang.

Penulis: Kheiva Aurelia Adnani (2410723005)
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Andalas

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses