Tradisi Tabuik: Warisan Budaya dan Identitas Masyarakat Sumatera Barat

tradisi tabuik sumatera barat
Tradisi Tabuik (Foto: kumparan.com)

Kota Pariaman di Sumatera Barat memiliki tradisi unik yang selalu berhasil memikat perhatian masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara.

Tradisi tersebut dikenal dengan nama Tabuik. Festival ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi juga wujud perpaduan antara nilai-nilai sejarah, keagamaan, dan kebudayaan masyarakat Minangkabau yang telah diwariskan secara turun-temurun selama lebih dari dua abad.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kata Tabuik berasal dari bahasa Arab at-tabut yang berarti peti atau keranda. Tradisi ini diperkenalkan oleh para perantau India keturunan Syiah ke daerah pesisir Sumatera Barat pada abad ke-19.

Awalnya, Tabuik merupakan bentuk peringatan atas gugurnya cucu Nabi Muhammad saw., Sayyidina Husain bin Ali, dalam peristiwa Tragedi Karbala.

Namun, seiring waktu, makna Tabuik berkembang menjadi simbol duka, semangat perjuangan, dan persatuan masyarakat Pariaman.

Kini, Tabuik lebih dikenal sebagai pesta budaya yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat tanpa melihat latar belakang agama atau kelompok

“Sakik samo ditampuang, hilang samo dicari.”

Menggambarkan rasa kebersamaan dan gotong royong, seperti masyarakat Pariaman yang bersama-sama mempersiapkan dan mengarak tabuik.

“Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.”

Bermakna setiap pekerjaan dilakukan bersama. Ini sangat sesuai dengan tradisi Tabuik yang melibatkan seluruh warga dari dua kelompok besar: Pasa dan Subarang.

Baca Juga: Tradisi Ilmiah Islam di Masa Peralihan antara Romantisme Keemasan dan Tuntutan Modernitas

Rangkaian Prosesi Tabuik

Pelaksanaan Tabuik tidak dilakukan dalam satu hari, melainkan melalui beberapa prosesi sakral yang berlangsung selama sepuluh hari hingga puncaknya pada tanggal 10 Muharram dalam kalender Islam. Berikut tahapan utamanya:

  • Maambiak Tanah: Ritual ini menandai dimulainya perayaan Tabuik. Segumpal tanah diambil dari dasar sungai dengan upacara adat, melambangkan asal dan akhir kehidupan manusia.
  • Manabang Batang Pisang: Menebang batang pisang menjadi simbol pemisahan antara kehidupan dan kematian.
  • Maatam dan Maarak Jari-Jari: Masyarakat melakukan arak-arakan dengan musik tradisional “dola-dola” sambil mengenang perjuangan Husain bin Ali.
  • Tabuik Naiak Pangkek: Bagian bawah dan atas tabuik disatukan menjadi satu struktur megah yang mencapai tinggi lebih dari 10 meter. Inilah momen yang sangat dinanti warga.
  • Hoyak Tabuik dan Pembuangan ke Laut: Puncak acara terjadi ketika tabuik diarak dengan guncangan kuat (“hoyak”) diiringi teriakan semangat ribuan masyarakat. Setelah itu, tabuik dilarung ke laut lepas di Pantai Gandoriah sebagai simbol kembalinya roh suci ke tempat asalnya.

Setiap tahap dalam Tabuik sarat dengan makna filosofis. Prosesi maambiak tanah mengingatkan manusia akan asalnya dari tanah.

Sementara, hoyak tabuik menjadi cerminan semangat perjuangan dan solidaritas masyarakat.

Baca Juga: Festival Kampung Cempluk ke-15: Membangkitkan Kesenian Tradisional dan Ekonomi Lokal di Malang

Lebih dari itu, Tabuik memperlihatkan kekuatan gotong royong dan kebersamaan antara dua kelompok utama masyarakat Pariaman, yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang, yang bekerja sama membangun dan memeriahkan festival setiap tahun.

Kini, Tabuik tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ikon pariwisata budaya Sumatera Barat.

Pemerintah Kota Pariaman rutin mengemas acara ini dalam bentuk Festival Hoyak Tabuik yang dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

Selain menikmati kemegahan tabuik, wisatawan juga dapat menyaksikan pertunjukan seni tradisional, kuliner khas Minang, serta keindahan Pantai Gandoriah yang menjadi lokasi utama puncak acara

Upacara tabuik sebagai suatu upacara yang berhubungan dengan kepercayaan hanya dilakukan oleh masyarakat Pariaman, sedangkan masyarakat Minangkabau luar Pariaman tidak melaksanakan upacara tabuik ini.

Bagi masyarakat Pariaman, penyelenggaraan upacara tabuik merupakan warisan budaya yang tetap dipelihara hingga sekarang, dan menjadi andalan di bidang pariwisata bagi pemerintah dan masyarakat setempat.

Bagi masyarakat Pariaman, upacara tabuik merupakan atraksi yang sangat digemari, di samping kesenian tradisional lainnya seperti dikir, indang, gendang tambur dan sebagainya.

Pada waktu penyelenggaraan upacara tabuik ini, Kota Pariaman menjadi sangat ramai karena banyaknya penonton yang hadir, termasuk perantau Pariaman akan ikut pulang dan memberikan sumbangan.

Upacara tabuik menjadi salah satu identitas budaya yang dimiliki oleh masyarakat dan daerah Pariaman, sebagaimana tercermin dari ungkapan berikut ini:

Pariaman tadanga langang,
Batabuik mangkonyo rami
Dek sanak tadanga sanang
Baolah tompang badan diri

(Pariaman terdengar lengang
Batabuik makanya ramai
Mendengar sanak sudah senang
Bawalah menumpang badan diri)

Kegiatan atau tradisi yang lazim disebut dengan batabuik ini juga menjadi agenda tahunan masyarakat Pariaman setiap tanggal 10 Muharam.

Baca Juga: Tradisi Wiwitan: Sejarah, Filosofi, Prosesi, dan Pelestarian Warisan Budaya

Pada masa sekarang ini penyelenggaraan upacara tabuik itu, tidak saja sebagai tradisi tahunan tetapi juga menjadi objek wisata budaya bagi para pendatang (wisatawan) yang datang berkunjung ke Kota Pariaman tata cara penyelenggaraannya tidak mengalami perubahan atau masih mengikuti kebiasaan yang berlangsung turun temurun.

Upacara ini bersifat kolosal karena melibatkan ribuan personil mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan dan penyelenggaraan upacara.

Keterlibatan kelembagaan tidak hanya pemerintah daerah dan masyarakat setempat, tetapi juga pihak lain dari luar Kota Pariaman (Effendi, 2005).

Upacara tabuik yang biasa dilakukan oleh masyarakat Pariaman setiap tahunnya tergolong bentuk ritual keagamaan yang tentunya mengandung kearifan lokal dan nilai budaya dari masyarakat pendukungnya.

Hanya saja, seiring perjalanan waktu, tidak banyak generasi sekarang yang mengetahui esensi keagamaan dan kearifan lokal yang terkandung dari pelaksanaan upacara tabuik atau batabuik pada masyarakat Pariaman tersebut.

Padahal, kearifan lokal dalam upacara tabuik mencerminkan ketinggian budaya masyarakat pendukungnya (Pariaman) yang perlu diketahui atau dikaji lebih jauh sehingga dapat diperoleh pemahaman tentang kehidupan dan nilai budaya yang dikandungnya.

Nilai budaya luhur tersebut seyogyanya terpelihara dan diwarisi oleh generasi mudanya.

Sehubungan dengan itu, tulisan ini difokuskan pada bentuk penyelenggaran upacara tabuik pada masyarakat di Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat, sebagai bentuk ritual keagamaan masyarakat setempat.

Pengungkapan tentang upacara tabuik pada masyarakat Pariaman adalah dengan memperhatikan segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan upacara mencakup latar dan tujuan penyelenggaraan upacara (sejarah/asal usul), pelaksana teknis, peserta, waktu, tempat, perlengkapan dan persiapan, serta jalannya upacara.

Dengan hal demikian akan dapat dipahami lebih jauh tentang upacara tabuik pada masyarakat Pariaman di Sumatera Barat, dan hakekat kepercayaan yang dikandungnya.

Jelasnya, tujuan dari yang ingin diperoleh dengan kajian ini adalah mengetahui, mendeskripsikan dan mengkaji upacara tabuik sebagai bentuk ritual keagamaan pada masyarakat Pariaman.

Manfaat yang dapat diperoleh kajian ini antara lain diketahuinya nilai kepercayaan dan kearifan lokal masyarakat Minangkabau dalam usaha meningkatkan pemahaman masyarakat akan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.

 

Penulis: Tita Hayuannisa Alfarani
Mahasiswa Prodi Sastra Jepang, Universitas Andalas

Dosen Pengampu: Bahren, S.S., M.A.

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses