Mahasiswa Universitas Suryakancana Cianjur Gelar Pembinaan Bahasa Indonesia Baku di Kalangan Peserta Didik SDN Selajambe 4

KKN
KKN di SDN Selajambe 4.

Bahasa Indonesia baku merupakan istilah yang sering kita sebut dengan bahasa Indonesia resmi atau formal. Hal itu didasari oleh adanya ragam formal atau ragam resmi dan ragam-ragam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia baku merupakan salah satu ragam bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia baku adalah bahasa Indonesia yang umumnya digunakan oleh masyarakat terdidik. Pengguna bahasa Indonesia baku adalah masyarakat pendidikan yang dalam kehidupan sehari-hari adalah lulusan sekolah menengah, para sarjana yang bekerja di berbagai lembaga.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Oleh karena itu, ragam bahasa Indonesia baku yang harus dipelajari, diajarkan, dan digunakan harus dipakai di lembaga-lembaga pendidikan sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Baca Juga: Mahasiswa Universitas Suryakancana Gelar Pembinaan Bahasa di MI Islamiyah Sayang Cianjur

Mahasiswa Universitas Suryakancana melakukan observasi di SDN Selajambe 4 mengenai penggunaan bahasa baku pada kelas VI.

Pembinaan bahasa tersebut dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2023 dan 15 Mei 2023 lalu, 3 orang mahasiswa yang melakukan pembinaan bahasa di SDN Selajambe 4 yaitu Layla Fitri Mubarokah, Neng Lisna, dan Sifa Dalilah Hermawati.

Pemerolehan bahasa baku peserta didik kelas VI SDN Selajambe 4 tersebut mereka dapatkan dalam lingkungan sekolah semakin menambah pembendaharaan dan penggunaan bahasa itu sendiri.

Bahasa baku agaknya perlu digalakkan dari mulai lingkup sekolah dasar. Hal itu juga sejalan dengan pemahaman peserta didik tentang kondisi atau situasi penggunaan bahasa baku dan tidak baku.

Guru sangat berperan dalam penerapan bahasa baku di sekolah. Tidak hanya memberikan materi tentang kebahasaan saja namun juga dibarengi dengan pengaplikasian yang nyata. Hal ini dilakukan untuk memberi contoh kepada peserta didik. Seperti yang kita ketahui bahwa anak adalah peniru yang ulung.

Penggunaan bahasa baku dirasa kurang manakala peserta didik lebih sering menggunakan bahasa daerahnya sehari-hari. Pengetahuan yang minim tentang kebahasaan terutama bahasa baku pun menjadi faktor kurangnya kemampuan peserta didik dalam menggunakan bahasa baku.

Salah satu strategi yang digunakan untuk menyiasati lemahnya pengetahuan dan penggunaan bahasa baku adalah dengan cara memberikan sebuah bacaan untuk diidentifikasi mengenai kata baku dan tidak baku dalam bacaan tersebut.

Cara untuk membantu peserta didik  yang kesulitan dalam mengingat atau membedakan antara kata baku dan tidak baku yaitu dengan memberikan tugas kepada peserta didik untuk mencari mana kata baku dan tidak baku dalam soal yang diberikan.

Baca Juga: Dinar Nursyifa Mahasiswa Semester Akhir Universitas Suryakancana sang Prosais Podcaster Muda

Pembelajaran dan pembinaan bahasa harus dibuat semenarik mungkin agar peserta didik tidak jenuh dan dapat memahami materi yang diberikan.

Pembinaan yang dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNSUR ini membawa pengaruh pada pemahaman peserta didik tentang bahasa baku. Terlihat dari hasil pre-test dan pos-tes yang dilakukan pembinaan mengalami peningkatan.

Penulis: Layla Fitri M., Neng Lisna, Sifa Dalilah H.
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Suryakancana Cianjur

Editor: Ika Ayuni Lestari     

Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses