Mengapa Harga Diri Atlet Itu Ditemukan, bukan Diberikan?

Harga Diri Atlet
Ilustrasi Atlet (Gambar: Dok. Penulis)

Di dalam dunia olahraga selalu menjanjikan dua hal yaitu euforia kemenangan dan pahitnya kekalahan.

Namun, di antara keduanya, bagi seorang atlet ada arena sunyi yang lebih dalam yaitu sebuah medan pertempuran batin di mana nilai diri kita selalu dipertanyakan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Di sanalah, di balik hiruk pikuk medali yang gemerlap, nilai diri kita diuji secara jujur.

Bagi saya, arena itu terwujud nyata di atas matras Taekwondo, khususnya saat bergabung di Tim Pusat Latihan (Puslat) yang ada di Kabupaten Malang.

Langkahnya dimulai dari bangku SMP, membawa mimpi besar: diterima di Tim Pusat Latihan (Puslat) Kabupaten Malang. Itu bukan sekadar kebanggaan, melainkan sebuah sumpah: “Ini adalah tempat saya akan bertumbuh dan membuktikan diri, bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk kebanggaan orang tua saya juga.”

Tekad saya membara, menjadikan latihan keras bukan lagi rutinitas, melainkan sebuah ritual harian yang dijalani dengan penuh dedikasi dan harapan besar orang tua.

Latihan keras adalah rutinitas harian yang harus saya hadapi dan jalani dengan sepenuh hati. Saya masih mengingat jelas momen latihan bersama pada saat di Gresik yang dihadiri oleh tim-tim Puslat dari berbagai daerah yang ada di Jawa Timur.

Pada latihan bersama saya bermain dalam kategori Poomsae Beregu (seni regu) yang terasa seperti penegasan.

Di tengah persaingan sengit itu, setiap gerakan yang saya ukir di matras seolah menjadi sebuah bukti nyata bahwa setiap tetes keringat yang jatuh selama latihan tidaklah sia-sia.

Namun, fase yang paling menguji mental diri saya datang menjelang Pekan Olahraga Provinsi ke VIII Jawa Timur Tahun 2023 yang akan dilaksanakan di daerah Jombang.

Awalnya, pelatih memberi arahan kepada saya untuk tetap fokus pada kategori Fighter, yang di mana itu adalah sebuah tantangan baru yang saya sambut dengan antusias yang luar biasa.

Saya berlatih dengan disiplin, tidak pernah ada kata absen tidak mengikuti latihan, dan memforsir tubuh saya untuk berlatih hingga batas maksimal.

Saya yang awalnya sudah membayangkan bagaimana rasanya harus berjuang habis-habisan dalam kategori yang baru ini dengan keahlian tenaga yang berbeda di arena pertandingan yang akan datang.

Namun, alur cerita itu berubah drastis secara tiba-tiba datang dari arahan pelatih yang tidak konsisten untuk saya pribadi.

Perpindahan kategori (dari Fighter ke Poomsae, lalu kembali lagi ke Fighter) hanya menjelang dua minggu Porprov terjadi tanpa penjelasan yang memadai.

Prasangka baik saya mulai runtuh, yang awalnya, “Oh mungkin pelatih punya pertimbangan yang terbaik untuk saya dan tim pada kategori yang akan dipertandingkan.”

Berganti menjadi luka mendalam karena diperlakukan layaknya bidak catur yang bisa dipindah sesuka hati tanpa pertimbangan.

Saya dipaksa pasrah menerima situasi yang ada, tetapi guncangan dan kekecewaan mental yang terjadi tak terhindarkan.

Di tengah kekacauan internal itu, muncul pertanyaan-pertanyaan dari diri saya sendiri, “Apakah memang saya ini tidak layak berada di tim puslat? Apakah pengorbanan dan jerih payah saya selama ini sama sekali tidak dilihat dan kurang bagi pelatih? Kenapa saya selalu diperlakukan tidak adil oleh pelatih? Kenapa saya selalu dipindahkan dalam kategori poomsae ke petarung terus menerus tanpa ada penjelasan yang jelas?”

Pertanyaan-pertanyaan itu yang menelanjangi kenyataan pahit bahwa saya selama ini tanpa sadar mengejar validasi eksternal yang rapuh.

Saya mengharapkan pengakuan lisan yang meyakinkan dari pelatih, namun yang saya dapatkan hanyalah kebingungan, ketidakpastian, dan rasa diabaikan.

Momen mengecewakan itulah yang menjadi titik balik terbesar dalam hidup saya, sebuah pencerahan filosofis yang mengubah cara dalam melihat makna perjuangan.

Saya akhirnya menyadari bahwa nilai diri saya terus digantungkan pada penilaian orang lain, harga diri saya akan selamanya rapuh dan mudah digoyahkan.

Rasa sakit dan pengabaian inilah yang pada akhirnya memaksa saya untuk masuk ke dalam bilik perenungan yang sunyi.

Dalam kerangka filsafat Eksistensialisme yang mendalam. Saya menyadari bahwa pengabaian yang terjadi di alami adalah undangan kebebasan untuk menciptakan makna dalam diri sendiri.

Ketika nilai eksternal berhenti mendefinisikan siapa diri saya, barulah saya memiliki hak penuh dan tidak terbatas untuk mendefinisikan diri saya sendiri seutuhnya.

Nilai sejati diri tidak terletak pada medali atau pujian yang diberikan orang lain, melainkan diciptakan secara berulang dan konsisten melalui setiap pilihan untuk tetap bangun, melangkah kembali ke matras, dan menolak untuk menyerah pada keadaaan.

Perjuangan itu akan berarti karena itu adalah pilihan yang saya ambil sendiri, bukan untuk memenuhi harapan siapapun.

Filosofi Stoikisme mengajarkan saya untuk bisa menerima apa yang tidak dapat kita kendalikan dan fokus hanya pada apa yang bisa kita kendalikan.

Saya tidak bisa mengendalikan keputusan mendadak pelatih maupun orang lain terhadap diri saya, tetapi saya sepenuhnya mengendalikan intensitas setiap tendangan, fokus mental saat latihan, dan respons etis diri saya terhadap kekecewaan yang menusuk.

Kemenangan terbesar bukan hanya pada perolehan medali maupun podium, melainkan terwujud di dalam diri pada penguasaan diri yang dibangun mandiri melalui disiplin dan ketahanan mental.

Dan pada akhirnya saya memahami makna sejati dari perjuangan, bahwa nilai diri seorang atlet tidak ditentukan oleh tepuk tangan penonton, perolehan medali, atau pengakuan orang lain.

Melainkan nilai itu terletak pada integritas yang tak tergoyahkan, ketekunan dan cinta tulus terhadap proses olahraga yang telah membentuk karakter diri.

Oleh karena itu, luka karena diabaikan hanyalah sebuah proses untuk menemukan kebebasan mental diri yang sesungguhnya, bahwa kita sebenarnya adalah pahlawan dalam kisah diri kita sendiri, dan harga diri sejati seorang atlet hanya lahir dari kejujuran terhadap diri sendiri serta ketekunan untuk pantang menyerah dalam segala kondisi yang dihadapi.

 

Penulis: Asfi Nilna Khoridatul Baqhiyah
Mahasiswa Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Malang 

Dosen Pengampu: Nurrul Riyad Fadhli

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Daftar Pustaka

Fadillah, Muhammad. (2023). Olahraga dan Identitas: Analisis Filsafat Jean-Paul Sartre. Gunung Djati Conference Series, 24, 1-12.

Nopiyanto, Y. E., & Dimyati, D. (2018). Karakteristik psikologis atlet Sea Games Indonesia ditinjau dari jenis cabang olahraga dan jenis kelamin. Jurnal Keolahragaan, 6(1), 69-76.

Raynadi, F., Rachmah, D., & Akbar, S. (2017). Hubungan ketangguhan mental dengan kecemasan bertanding pada atlet pencak silat di Banjarbaru. Jurnal Ecopsy, 3(3), 149–154.

Wibowo, B. (2014). Keberadaan dan Eksistensi Manusia dalam Olahraga. Jurnal Sosiologi Olahraga, 8(2), 45-60.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses