Pada hari yang menandai komitmen serius terhadap peningkatan kualitas akademik dan profesionalisme calon pendidik, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) STKIP Citra Bakti sukses menggelar Kuliah Praktis.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (9/10/2025) ini mengangkat tema fundamental: “Literasi dan Jurnalistik sebagai Penguatan Kapasitas Mahasiswa”.
Antusiasme yang luar biasa tercermin dari kehadiran masif mahasiswa. Tercatat, sebanyak 305 peserta memadati aula utama STKIP Citra Bakti, menunjukkan kesadaran kolektif akan urgensi penguasaan keterampilan non-kurikuler yang kini menjadi prasyarat penting dalam dunia pendidikan abad ke-21.
Menghadirkan Praktisi Berintegritas
Kuliah Praktis ini diselenggarakan sebagai bagian integral dari upaya pengayaan kurikulum PGSD, yang tidak hanya berfokus pada pedagogi dasar, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan komunikasi efektif. Untuk menjamin kualitas materi yang disampaikan, panitia menghadirkan sosok yang kredibel di bidangnya: Bapak Gusty Rikardo, S.Fil., M.I.Kom..
Bapak Gusty Rikardo dikenal sebagai seorang praktisi komunikasi dan jurnalisme yang telah lama malang melintang dalam kancah literasi media dan pengembangan kompetensi menulis.
Latar belakang keilmuan dan pengalaman praktisnya menjadikannya narasumber yang ideal untuk mengupas tuntas keterkaitan erat antara literasi, jurnalistik, dan peran seorang pendidik. Kehadiran beliau disambut hangat dan penuh harap oleh ratusan calon guru yang haus akan wawasan praktis di luar ruang kelas formal.
Literasi dan Jurnalistik: Pilar Kemampuan Calon Pendidik
Dalam sesi penyampaian materi yang berlangsung interaktif dan memukau, Bapak Gusty Rikardo secara lugas memaparkan tesis utamanya: literasi dan keterampilan jurnalistik adalah kebutuhan esensial, bukan sekadar pelengkap, bagi mahasiswa, terutama mereka yang dipersiapkan menjadi pendidik.
Beliau menggarisbawahi bahwa inti dari profesi guru bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukkan karakter dan pola pikir siswa. Untuk mampu menjalankan peran ini secara optimal, seorang guru harus terlebih dahulu menguasai kemampuan:
- Berpikir Kritis: Kemampuan menganalisis informasi, memilah fakta dari opini, dan merumuskan pandangan yang berbasis data. Keterampilan ini sangat diasah melalui prinsip-prinsip jurnalistik yang menuntut verifikasi dan objektivitas.
- Komunikatif: Kemampuan menyampaikan gagasan secara jelas, terstruktur, dan persuasif, baik secara lisan maupun tulisan. Jurnalistik, dengan tuntutan narasi yang efektif dan efisien, menjadi sekolah terbaik untuk mengasah kemampuan komunikasi ini.
- Produktif: Kemampuan untuk tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga memproduksi gagasan orisinal dan karya yang bermanfaat melalui tulisan. Pendidik yang produktif adalah pendidik yang merefleksikan pengalamannya dan membagikannya sebagai sumber inspirasi dan pengetahuan baru.
Penguatan kapasitas melalui literasi dan jurnalistik ini dipandang sebagai jembatan bagi mahasiswa PGSD untuk beralih dari sekadar pembelajar menjadi kreator pengetahuan.
Dalam konteks pendidikan dasar, kemampuan ini akan memungkinkan guru untuk merancang materi ajar yang lebih kontekstual, menarik, dan relevan dengan isu-isu terkini, serta memberdayakan siswa untuk menjadi pembaca kritis sejak dini.
Baca Juga: Pentingnya Memahami Mata Kuliah Psikologi Pendidikan bagi Calon Pendidik
Pesan Filosofis yang Menggugah Semangat Intelektual
Puncak dari sesi materi Bapak Gusty Rikardo adalah penyampaian dua adagium filosofis yang ia sebut sebagai kunci menuju kehidupan intelektual yang utuh. Kedua pesan ini sangat menarik dan berkesan bagi seluruh peserta:
- Pikiran adalah hal yang tidak akan pernah tua;
- Bina pikiranmu, didik jari-jarimu.
Pesan pertama memberikan penekanan mendalam pada aspek keberlanjutan proses intelektual. Pikiran, sebagai instrumen utama seorang akademisi dan pendidik, harus terus diaktifkan dan diasah.
Kemampuan berpikir yang terpelihara dengan baik akan menjamin semangat intelektual seorang guru tidak akan luntur atau lekang oleh waktu, terlepas dari usia fisik atau perubahan zaman. Ini adalah pengingat bahwa proses belajar dan refleksi adalah tugas seumur hidup.
Pesan kedua, “Bina pikiranmu, didik jari-jarimu,” berfungsi sebagai panduan praktis untuk mewujudkan pesan filosofis pertama. Jika membina pikiran adalah tugas internal yang menghasilkan kematangan ide, maka mendidik jari-jari adalah manifestasi eksternalnya.
Keterampilan menulis yang dihasilkan dari “jari-jari yang terdidik” merupakan bentuk nyata dari pengolahan pikiran yang telah matang dan siap disebarluaskan.
Seorang mahasiswa PGSD peserta kegiatan menangkap makna esensial dari pesan ini: seorang pendidik sejati, dalam konteks modern, memiliki tanggung jawab ganda. Tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga untuk:
- Menulis: Mendokumentasikan praktik baik, menyusun artikel ilmiah, atau membuat karya literasi inspiratif;
- Merefleksikan: Melakukan otokritik terhadap metode pengajaran dan hasil pembelajaran;
- Menyebarkan Pengetahuan: Memastikan hasil refleksi dan penemuan baru dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas melalui berbagai karya literasi.
Dampak dan Signifikansi Jangka Panjang
Kuliah praktis ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sebuah investasi jangka panjang bagi masa depan pendidikan di daerah ini. Wawasan yang luas dan motivasi yang kuat yang dipancarkan dari acara ini diharapkan dapat menjadi bekal profesionalisme yang kokoh bagi 305 mahasiswa yang hadir.
Secara institusional, kegiatan semacam ini menegaskan komitmen STKIP Citra Bakti, khususnya Program Studi PGSD, untuk mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara pedagogik, tetapi juga cerdas, kreatif, dan melek media.
Di era disrupsi informasi, kemampuan melek media (media literacy) adalah benteng pertama yang harus dimiliki guru agar mampu membimbing siswa melewati banjir informasi digital. Guru yang melek media akan mampu mengajarkan siswa untuk:
- Menganalisis sumber informasi;
- Memahami bias dan agenda media;
- Membuat konten digital yang bertanggung jawab.
Baca Juga: Peran Digitalisasi dalam Pendidikan: Transformasi Sekolah, Guru, dan Siswa
Kesiapan Menghadapi Dunia Kerja
Bekal jurnalistik tidak hanya bermanfaat di dunia akademik. Dalam dunia kerja, keterampilan menulis dan berkomunikasi yang kuat (yang diasah melalui jurnalistik) adalah kompetensi yang paling dicari.
Seorang guru yang mampu menyusun laporan kegiatan dengan baik, menulis surat resmi yang efektif, atau menyajikan presentasi yang terstruktur akan memiliki keunggulan komparatif. Dengan demikian, kegiatan ini secara langsung mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi profesional yang utuh di dunia pendidikan.
Penutup dan Apresiasi Institusional
Mengakhiri laporan ini, patut ditekankan bahwa keberhasilan kegiatan ini merupakan sinergi antara narasumber, panitia, dan antusiasme peserta.
Rasa terima kasih yang mendalam diucapkan kepada Bapak Gusty Rikardo, S.Fil., M.I.Kom., yang telah dengan tulus dan penuh semangat membagikan ilmu serta pengalamannya kepada mahasiswa Program Studi PGSD.
Diharapkan, momentum Kuliah Praktis ini akan terus berlanjut dan menginspirasi inisiatif-inisiatif serupa, yang pada akhirnya akan membentuk mahasiswa PGSD STKIP Citra Bakti menjadi generasi pendidik yang cerdas, kreatif, dan melek media, siap menghadapi tantangan zaman dan menjadi agen perubahan di garda terdepan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Upaya untuk “membina pikiran dan mendidik jari-jari” adalah sebuah perjalanan yang kini telah dimulai dengan langkah yang mantap oleh 305 calon guru profesional ini.
Penulis: Ferdinandus Raga
Mahasiswa PGSD Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Citra Bakti
Dosen Pengampu: Philipus Wungo Kaka
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














