ABSTRACT
The Community Service Program (KKN) of the 17 August 1945 University of Surabaya, held in Selotapak Village, aims to empower villagers by processing organic waste and animal feed into environmentally friendly products through maggot cultivation using appropriate technology. The problem faced by villagers is the inability to manage household organic waste optimally, which in turn impacts the surrounding environment due to waste pollution. To address this, the KKN team designed and implemented a simple innovation: maggot cultivation for environmentally-based organic waste and animal feed management. Maggots function as waste processors and animal feed. In the context of organic waste and animal feed management, the maggots in question are usually derived from the Black Soldier Fly (BSF), scientifically known as Hermetia illucens. BSF maggots are known for their extraordinary ability to decompose organic waste and contain high levels of nutrients, especially protein and fat. The program implementation method includes an initial survey, tool or cage design, a trial process, training, and evaluation with the villagers. The results of the activity demonstrated that this tool was able to reduce the village’s organic waste and environmental pollution levels, while also increasing work efficiency by 50-70% in a short time. This innovation demonstrates that simple technology can have a real impact on the sustainability and quality of life of village residents.
Keywords: Untag Surabaya Community Service Program, Maggot Cultivation, BSF Maggots, Appropriate Technology
ABSTRAK
Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang dilaksanakan di Desa Selotapak bertujuan untuk memberdayakan warga desa dengan mengola sampah organik dan pakan ternak menjadi ramah lingkungan dengan budidaya maggot melalui pendekatan teknologi tepat guna. Permasalahan yang dihadapi warga desa adalah tidak dapat mengelola sampah organic rumah tangga yang kurang maksimal, sehingga akan berdampak pada lingkungan sekitar pencemaran limbah. Untuk mengatasi hal tersebut, tim KKN merancang dan mengimplementasikan inovasi sederhana, yaitu budidaya maggot pengelolaan sampah organik dan pakan ternak berbasis lingkungan. Maggot berfungsi sebagai pengolah sampah dan pakan ternak dalam konteks pengelolaan sampah organik serta pakan ternak, maggot yang dimaksud biasanya berasal dari lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF), yang memiliki nama ilmiah Hermetia illucens, Maggot BSF dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam mengurai limbah organik serta mengandung nutrisi tinggi, terutama protein dan lemak. Metode pelaksanan program meliputi survey awal, desain alat atau kendang, proses uji coba, pelatihan, hingga evaluasi bersama warga desa. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa alat ini mampu mengurangi tingkat sampah organik desa dan mencemari lingkungan serta meningkatkan efisiensi kerja hingga 50- B70% dalam waktu singkat. Inovasi ini menjadi bukti bahwa teknologi sederhana dapat memberikan dampak nyata bagi keberlangsungan dan peningkatan mutu warga desa.
Kata Kunci : KKN Untag Surabaya, Budidaya Maggot, Maggot BSF, Teknologi Tepat Guna.
Baca Juga: MaggoPlast-Gel Plaster Liquid Herbal Karya Mahasiswa IPB dalam Pemanfaatan Maggot dan Brotowali
PENDAHULUAN
Permasalahan sampah organik masih menjadi tantangan besar yang dihadapi oleh banyak daerah, baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan. Setiap hari, rumah tangga dan pelaku usaha menghasilkan limbah organik berupa sisa makanan, sayuran busuk, dan limbah dapur lainnya. Sayangnya, sebagian besar sampah tersebut dibuang begitu saja tanpa melalui proses pengelolaan yang benar. Akibatnya, tumpukan sampah organik menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, potensi munculnya penyakit, hingga kontribusi terhadap emisi gas rumah kaca yang memperparah krisis iklim global.
Di sisi lain, sektor peternakan, khususnya skala kecil dan menengah yang menghadapi tantangan tersendiri, yaitu tingginya harga pakan komersial yang semakin membebani biaya operasional peternak. Ketergantungan terhadap pakan pabrikan menjadi masalah berkelanjutan karena tidak semua peternak mampu mengakses pakan berkualitas secara berkelanjutan dan ekonomis.
Dalam konteks inilah, budidaya maggot atau larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF) hadir sebagai solusi inovatif yang berpotensi menjawab dua permasalahan sekaligus: pengelolaan sampah organik dan penyediaan pakan ternak berkualitas. Maggot dikenal sebagai agen pengurai organik yang sangat efisien. Mereka mampu menguraikan limbah organik dalam waktu singkat, mengurangi volume sampah secara signifikan, dan menghasilkan produk sampingan berupa biomassa maggot yang kaya protein. Proses ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai peluang ekonomi baru.
Selain kemampuannya dalam mendekomposisi limbah, maggot juga memiliki nilai gizi tinggi dan sangat ideal dijadikan pakan alternatif bagi ternak seperti ayam, bebek, ikan, dan hewan peliharaan lainnya. Kandungan protein dan lemak yang tinggi menjadikan maggot sebagai sumber pakan alami yang sehat dan murah, sekaligus membantu menekan ketergantungan terhadap pakan buatan.
Dengan segala manfaat yang dimilikinya, budidaya maggot menjadi praktik yang sangat potensial untuk dikembangkan secara luas, terutama di tingkat desa. Pendekatan ini tidak hanya berkontribusi terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat dan pelaku UMKM lokal. Namun demikian, penerapan budidaya maggot secara optimal memerlukan pemahaman yang baik serta edukasi dan pelatihan yang berkelanjutan.
Merespons kebutuhan warga Desa Selotapak tersebut, tim KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya merancang dan men gimplementasikan alat sederhana, yaitu budidaya maggot. Inovasi ini bertujuan untuk menyempurnakan proses pengelolaan sampah organik dan pakan ternak berbasis lingkungan dengan mengurangi limbah desa. Program pengabdian ini tidak hanya memberikan solusi teknis terhadap permasalahan mitra, tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memberdayakan UMKM serta warga desa secara berkelanjutan.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penerapan alat budidaya maggot berdampak positif terdahap peningkatan efisiensi kerja, dan dapat bermanfaat dalam mewujudkan desa yang bersih, mandiri, dan berdaya secara ekonomi.
KAJIAN LITERATUR
Peran Maggot sebagai Solusi Lingkungan di Desa Selotapak
Permasalahan sampah organik rumah tangga menjadi tantangan nyata bagi banyak desa di Indonesia, termasuk Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Desa ini belum memiliki sistem pengelolaan limbah yang optimal, sehingga banyak limbah organik yang dibuang begitu saja atau dibakar, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap lingkungan. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 60% timbulan sampah di Indonesia merupakan limbah organik, dan pengelolaan yang tidak tepat dapat menimbulkan bau, pencemaran tanah, serta risiko kesehatan masyarakat.
Salah satu solusi yang kini banyak dikembangkan adalah pemanfaatan larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF) atau maggot. Diener et al. (2011) menyatakan bahwa maggot mampu mengurangi volume sampah organik hingga 50–70% dalam waktu singkat. Di sisi lain, penelitian oleh Surendra et al. (2016) menunjukkan bahwa biokonversi limbah oleh maggot memiliki nilai lingkungan yang tinggi karena rendah emisi dan menghasilkan produk bernilai ekonomi seperti pakan ternak dan pupuk organik. Dalam konteks Desa Selotapak, budidaya maggot menjadi alternatif pengelolaan sampah yang sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna karena dapat diterapkan dalam skala kecil oleh masyarakat dengan biaya rendah. Selain mengurangi beban lingkungan, program ini juga berpotensi memberdayakan warga melalui pelatihan dan produksi pakan lokal secara mandiri.
Budidaya Maggot BSF: Solusi Limbah dan Peningkatan Pendapatan Masyarakat Desa Bakalan
Dalam penelitian ini menyoroti potensi larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot sebagai agen pengurai limbah dan alternatif pakan ternak. Maggot BSF dikenal memiliki kandungan protein dan lemak tinggi, menjadikannya sebagai sumber pakan berkualitas tinggi bagi ikan dan unggas. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan efektivitas larva BSF dalam mendekomposisi sampah organik rumah tangga, serta efisiensi konversi limbah menjadi biomassa bernilai ekonomis tinggi. Penelitian Amran & Pane (2020), Nurhayati dkk. (2022), dan Afikasari dkk. (2022) memperkuat bahwa maggot BSF dapat dijadikan substitusi pakan konvensional yang mahal dan berbahan kimia. Selain itu, media budidaya seperti sampah dapur menunjukkan hasil produksi maggot yang signifikan (Purwono dkk., 2020). Literatur juga menunjukkan bahwa pemasaran maggot kering memberikan nilai jual lebih tinggi, yaitu Rp 30.000–40.000/kg, dibandingkan maggot basah yang hanya Rp 8.000/kg, sehingga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat
Budidaya Maggot BSF sebagai Pakan Alternatif Ikan Lele di Desa Candipari
Kajian literatur ini menekankan urgensi pengelolaan limbah organik di Indonesia yang mencapai jutaan ton per tahun. Salah satu solusi potensial adalah budidaya maggot BSF (Hermetia illucens), yang mampu mendegradasi limbah dan menghasilkan larva berprotein tinggi sebagai pakan alternatif. Menurut Rachmawati dkk. (2015), maggot BSF mengandung protein 25–41%, lemak 0,7–1%, dan memiliki kemampuan enzimatik untuk mempercepat penguraian bahan organik. Kandungan nutrisinya bahkan lebih tinggi daripada pakan konvensional, serta mengandung zat antimikroba yang memperkuat imun hewan ternak. Penggunaan EM-4 dalam fermentasi juga dinilai efektif untuk menarik lalat BSF betina bertelur dalam media limbah. Studi lain oleh Azir dkk. (2017) menyatakan bahwa keberhasilan pembudidayaan maggot dipengaruhi oleh media substrat yang digunakan dan suhu lingkungan yang mendukung.
Baca Juga: Penerapan Sistem Integrasi Maggot (SI GOT) sebagai Solusi Permasalahan Lingkungan
Mengoptimalkan Budidaya Maggot: Desa Pohjejer
Dalam artikel ini, kajian literatur menggarisbawahi pentingnya pendekatan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan limbah organik secara berkelanjutan melalui budidaya maggot BSF. Limbah organik dipandang sebagai sumber daya potensial yang dapat diubah menjadi protein hewani dengan efisiensi tinggi, di mana maggot mampu mengurai hingga 80% limbah dalam waktu singkat. Kandungan protein kasar maggot berkisar antara 41–42%, dengan kadar lemak dan fosfor yang juga tinggi (Miftahuddin dkk., 2022). Literatur sebelumnya menyebutkan bahwa BSF menjalani siklus hidup lengkap, dan tahap larva menjadi titik krusial untuk konsumsi limbah. Kajian juga mengemukakan bahwa kurangnya pengetahuan teknis menjadi penghambat utama adopsi teknologi ini, sehingga pendekatan pelatihan dan pendampingan intensif sangat diperlukan. Produk turunan maggot seperti maggot kering dan kasgot (kompos bekas maggot) turut memiliki nilai jual tinggi dan manfaat ekologis yang besar dalam menekan ketergantungan pada pupuk dan pakan kimia
METODE PELAKSANAAN
Metode pelaksanaan program pengabdian ini menggunakan metode prototype dengan pendekatan partisipatif dan kolaboratif bersama warga desa. Kegiatan dirancang secara sistematis dalam beberapa tahapan, mulai dari identifikasi kebutuhan warga desa hingga evaluasi dampak implementasi teknologi tepat guna. Program pengabdian ini dilaksanakan dalam rangka kegiatan KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, yang berlangsung selama 12 hari, terhitung mulai tanggal 13 Juli hingga 24 Juli 2025. Lokasi pelaksanaan kegiatan berada di Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, dengan fokus pada peningkatan efisiensi mewujudkan desa yang bersih, mandiri, dan berdaya secara ekonomi melalui implementasi teknologi tepat guna. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bertahap, mulai dari identifikasi masalah hingga evaluasi dan serah terima alat, dengan pendekatan praktis dan edukatif yang melibatkan warga desa secara aktif di setiap proses. Adapun tahapan kegiatan sebagai berikut:
1. Observasi lapangan dan identifikasi masalah
Tim melakukan kunjungan ke balai desa untuk mecari tahu permasalahan warga desa serta mengamati langsung kebutuhan desa. Tahapan ini bertujuan untuk mengenali hambatan teknis yang dialami, terutama pada proses pengelolaan sampah, dikarenakan bertepatan desa dengan banyaknya café yang ada maka warga desa kurang dapat mengeloloa sampah.
2. Perancangan teknologi tepat guna
Berdasarkan hasil observasi, tim merancang inovasi sederhana berupa budidaya maggot. Desain disesuaikan dengan kondisi desa dan mempertimbangkan kemudahan penggunaan serta biaya yang terjangkau.
3. Pembuatan dan perakitan alat
Alat-alat dirakit menggunakan bahan lokal yang mudah didapat. Proses ini melibatkan mahasiswa dan tenaga teknis, dengan tetap mengedepankan aspek keamanan, ergonomi, dan efisiensi penggunaan.
4. Uji coba dan simulasi penggunaan alat di lokasi
Setelah alat selesai dirakit, dilakukan uji coba langsung di lokasi desa. Simulasi ini bertujuan untuk memastikan alat berfungsi optimal dan sesuai dengan alur kerja yang dibutuhkan oleh warga desa.
5. Pelatihan teknis bagi warga desa
Warga desa diberikan pelatihan teknis terkait cara penggunaan alat, perawatan, serta prosedur operasional standar agar alat dapat dimanfaatkan secara mandiri dan berkelanjutan.
6. Dokumentasi dan penyusunan laporan kegiatan
Seluruh rangkaian kegiatan didokumentasikan secara sistematis sebagai bahan laporan akhir dan referensi untuk program serupa di masa mendatang. Dokumentasi juga menjadi media pertanggungjawaban publik atas pelaksanaan program KKN.
Ruang Lingkup dan Objek Kegiatan
1. Lokasi Kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan di balai desa selotapak, yang beralamatkan di Dusun Jaten, Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur.
2. Waktu Pelaksanaan
Kegiatan berlangsung selama 12 hari, dimulai dari tahap persiapan, pelatihan, hingga evaluasi akhir. Jadwal pelaksanaan disesuaikan dengan ketersediaan mitra dan tim pelaksana untukk memastikan partisipasi aktif selama program berlangsung.
3. Subjek Kegiatan (Mitra)
Subjek kegiatan adalah kelompok pengelola sampah, masyarakat, dan ibu ibu UMKM, yang memiliki sisa sampah organik rumah tangga.
4. Objek Kegiatan
Objek kegiatan ini adalah pengolahan sampah organik rumah tangga melalui budidaya maggot (larva Black Soldier Fly/BSF) sebagai solusi pengelolaan limbah organik yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis. Selama ini, sebagian besar sampah organik di Desa Selotapak belum dimanfaatkan secara optimal dan berpotensi mencemari lingkungan. Melalui kegiatan ini, akan diperkenalkan metode budidaya maggot yang dapat mengubah sampah organik menjadi pakan ternak alternatif sekaligus mengurangi volume limbah. Selain itu, kegiatan ini juga mencakup pelatihan teknis dasar budidaya, pembuatan kandang maggot sederhana, serta sosialisasi manfaat ekonomi dan lingkungan dari pengembangan maggot sebagai teknologi tepat guna.
Bahan dan Alat
Bahan utama yang digunakan dalam kegiatan ini adalah larva maggot (Black Soldier Fly/BSF) yang digunakan sebagai agen pengurai sampah organik. Selain itu, bahan pendukung lainnya meliputi cocopiet (media pembibitan maggot), serta sampah organik rumah tangga sebagai pakan maggot. Untuk menunjang kegiatan budidaya, digunakan berbagai alat seperti:
- Liter box sebagai wadah pemeliharaan maggot,
- Kandang maggot untuk siklus hidup BSF,
- Kayu, paku, palu, dan gergaji sebagai material dan alat konstruksi kandang,
- Alat bantu tambahan sesuai kebutuhan lapangan.
Kandang dan wadah pemeliharaan dirancang secara sederhana agar dapat direplikasi oleh masyarakat secara mandiri menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar.
Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui pendekatan kualitatif deskriptif, menggunakan dua metode utama :
- Observasi langsung, dilakukan selama kegiatan budidaya maggot berlangsung untuk mengamati proses pembuatan kandang, pemeliharaan maggot, pengolahan sampah organik, serta partisipasi aktif masyarakat.
- Wawancara terbuka, dilakukan dengan bapak Agus, selaku Kepala Desa Selotapak, pada tanggal 29 Juni 2025, untuk menggali dukungan pemerintah desa terhadap program budidaya maggot sebagai solusi pengelolaan sampah organik dan pemberdayaan masyarakat.
Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara kualitatif deskriptif, dengan tahapan sebagai berikut :
- Reduksi Data, informasi yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi diseleksi dan disederhanakan untuk memfokuskan pada hal-hal pokok yang relevan, seperti efektivitas pelatihan budidaya maggot, tingkat partisipasi masyarakat, dan dampak kegiatan terhadap pengelolaan sampah organik.
- Penyajian Data, data disusun dalam bentuk tabel, dan dokumentasi visual (foto kegiatan) untuk memberikan gambaran yang sistematis mengenai pelaksanaan dan hasil kegiatan pengabdian.
- Penarikan Kesimpulan, Berdasarkan data yang telah disajikan, ditarik kesimpulan terkait keberhasilan program budidaya maggot sebagai teknologi tepat guna dalam mengatasi permasalahan sampah organik serta potensi keberlanjutan program oleh mitra di masa mendatang.
Baca Juga: Si Kecil Pengurai Sampah Organik
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan partisipatif untuk mendorong keterlibatan aktif masyarakat Desa Selotapak dalam setiap tahapan pelaksanaan. Metode ini dipilih karena dinilai efektif dalam meningkatkan rasa memiliki terhadap program, serta memastikan bahwa teknologi yang diperkenalkan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lapangan.
Pelaksanaan kegiatan dibagi ke dalam lima tahapan utama sebagai berikut:
Identifikasi Masalah dan Kebutuhan Masyarakat
Kegiatan diawali dengan observasi lapangan dan wawancara dengan Kepala Desa dan warga setempat. Berdasarkan hasil observasi, ditemukan bahwa Desa Selotapak menghasilkan limbah organik cukup tinggi, terutama karena aktivitas rumah tangga dan keberadaan café-café yang berkembang pesat. Limbah organik belum dikelola secara optimal, sebagian besar hanya ditimbun atau dibakar. Hal ini menyebabkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, dan potensi gangguan kesehatan.
Warga menyampaikan perlunya solusi praktis dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah organik rumah tangga, sekaligus memberikan nilai tambah secara ekonomi. Selain itu, terdapat kebutuhan terhadap sumber pakan alternatif bagi ternak yang lebih murah daripada pakan komersial.
Perancangan dan Pembuatan Alat Budidaya Maggot
Menanggapi kebutuhan tersebut, tim KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya merancang alat budidaya maggot (larva BSF/Black Soldier Fly) menggunakan bahan lokal dan desain sederhana agar mudah direplikasi. Peralatan yang dibuat antara lain:
- Kandang lalat dewasa (breeding cage) dari bambu dan paranet,
- Wadah penetasan telur (egg hatching box),
- Wadah pembesaran larva dari ember besar/styrofoam bekas,
- Media substrat organik dari limbah dapur seperti ampas kelapa dan dedak.
Seluruh peralatan dirancang agar tahan air, berventilasi baik, memiliki sistem drainase, serta bisa diletakkan di pekarangan rumah warga tanpa membutuhkan lahan luas atau listrik.
Pelatihan dan Edukasi Teknis
Setelah alat selesai dibuat, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan teknis kepada warga yang menjadi mitra kegiatan. Pelatihan mencakup:
- Cara membuat dan merawat kandang maggot,
- Teknik pembibitan dan pemberian pakan dari limbah organik,
- Proses panen maggot sebagai pakan ternak,
- Pengolahan kasgot (kompos bekas maggot) sebagai pupuk organik.
Antusiasme warga sangat tinggi, terutama para ibu rumah tangga, pengurus sampah, dan pelaku UMKM yang melihat potensi ekonomis dari hasil budidaya maggot.
Uji Coba dan Implementasi di Lapangan
Uji coba dilakukan selama beberapa hari di lokasi warga dengan menggunakan limbah dapur rumah tangga sebagai media pakan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa:
- Proses dekomposisi limbah oleh maggot berlangsung dalam waktu 3–5 hari,
- Volume sampah organik berkurang hingga 60–70%,
- Maggot tumbuh sehat dan dapat dipanen dalam waktu sekitar 12–14 hari,
- Maggot hasil panen langsung dapat digunakan sebagai pakan ayam/ikan.
Selain itu, keberadaan kandang yang tertutup membantu menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah bau tidak sedap.
Tabel 1. perbandingan kondisi sebelum dan sesudah implementasi budidaya maggot
|
Aspek |
Sebelum Budidaya Maggot | Sesudah Budidaya Maggot | ||
| Pengelolaan Sampah | Ditimbun/dibakar | Diolah menjadi pakan melalui kandang maggot | ||
| Volume Sampah |
|
Berkurang ±60–70% | ||
| Bau dan Pencemaran | Cukup mengganggu | Minim, karena sistem tertutup dan kering | ||
| Sumber Pakan Ternak | Bergantung pakan komersial | Ada alternatif dari maggot lokal | ||
| Partisipasi Warga | Rendah | Tinggi, terutama pada ibu rumah tangga dan pengurus sampah setempat. |
Monitoring, Evaluasi, dan Tanggapan Masyarakat
Monitoring dilakukan dengan mengamati efektivitas alat dan partisipasi warga selama program berlangsung. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa:
- Warga merasa terbantu dengan solusi budidaya maggot karena mudah dilakukan dan tidak membutuhkan biaya besar,
- Proses pengelolaan sampah lebih terarah dan produktif,
- Hasil panen maggot berpotensi untuk dijual sebagai pakan ternak, membuka peluang ekonomi tambahan,
- Kasgot yang dihasilkan juga dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.
Dalam wawancara lanjutan, Kepala Desa menyampaikan bahwa program ini patut dilanjutkan dan dikembangkan sebagai salah satu solusi pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan.
Baca Juga: Peran Mikroba Menguntungkan dalam Praktik Budidaya Berkelanjutan
KESIMPULAN
Program budidaya maggot yang dilaksanakan oleh tim KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di Desa Selotapak terbukti menjadi solusi tepat guna yang efektif dalam mengatasi permasalahan limbah organik sekaligus menyediakan alternatif pakan ternak yang bernilai ekonomis. Permasalahan utama desa berupa pengelolaan sampah rumah tangga yang belum optimal dan mahalnya harga pakan ternak dapat diatasi melalui pendekatan partisipatif, edukatif, dan kolaboratif.
Melalui serangkaian kegiatan mulai dari observasi, perancangan, pembuatan alat, pelatihan, hingga implementasi langsung di lapangan, warga desa dilibatkan secara aktif dan menunjukkan antusiasme tinggi, khususnya para ibu rumah tangga dan pelaku UMKM. Hasil implementasi menunjukkan bahwa budidaya maggot mampu mengurangi volume sampah organik hingga 60–70%, mempercepat proses dekomposisi dalam waktu singkat, serta menghasilkan maggot yang dapat langsung dimanfaatkan sebagai pakan ternak alami dan kasgot sebagai pupuk organik.
Evaluasi program menunjukkan dampak positif dalam aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Warga merasa terbantu karena teknologi ini mudah diaplikasikan, tidak memerlukan biaya besar, serta menghasilkan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selain menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, kegiatan ini juga membuka peluang usaha baru berbasis potensi lokal.
Dengan demikian, budidaya maggot tidak hanya menjadi inovasi teknologi tepat guna dalam pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Program ini layak untuk direplikasi di desa-desa lain yang menghadapi tantangan serupa, dengan dukungan pelatihan dan pendampingan yang terus-menerus.
UCAPAN TERIMA KASIH
Sebagai bentuk apresiasi atas terselenggaranya kegiatan pengabdian masyarakat ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan, dan kerjasama selama proses pelaksanaan program berlangsung, diantaranya:
- Rektor dan LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan program KKN.
- Ibu Elisa Sulistyorini S.T., M.T. Selaku Dosen Pembimbing Lapangan kelompok KKN Reguler 37.
- Bapak Dr. I Made Kastiawan, S.T., M.T Selaku Dosen Pemateri Budidaya kelompok KKN Reguler 37.
- Rekan-rekan yang iktu serta membantu dan memberikan motivasi untuk berlangsungnya program kerja sub kelompok TTG 7 Reguler 37.
Penulis:
1. Elisa Sulistyorini, S.T., M.T.
2. Muhammad Ilham Kurniawan
3. Muhammad Riza Mahmud Habiburrahman
4. Retno Larasati Widi Ngudaneni
5. Rani Anggi Adikasih
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Desi, dkk. (2023). Penerapan teknologi budidaya maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik rumah tangga. Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Nguyen, T. T., & Tomberlin, J. K. (2019). “Sustainability of Black Soldier Fly for Waste Management”. Waste Management.
Rahman, A., & Munandar, A. (2023). Penerapan teknologi biokonversi larva Black Soldier Fly (BSF) dalam pengelolaan sampah organik rumah tangga di Desa Tamalanrea Jaya. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat PHP2D, 2(10), 16–22.
Saputro, H. D., & Darmawan, A. (2023). Pemanfaatan Maggot (Black Soldier Fly) dalam pengelolaan sampah organik rumah tangga berbasis pemberdayaan masyarakat. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(3), 3088–3095.
Van Huis, A., & Tomberlin, J. K. (2017). Insects as Food and Feed: From Production to Consumption. Wageningen Academic Publishers.
Zhang, J., et al. (2020). “Nutritional Value of Black Soldier Fly Larvae in Animal Feed”. Journal of Insects as Food and Feed.
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













