Era globalisasi telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan sosial, termasuk dalam bidang komunikasi.
Mahasiswa memiliki peran penting dalam mengatasi masalah komunikasi sosial di era globalisasi, smartphone menjadi alat utama komunikasi.
Namun, fenomena ini membawa tantangan besar, terutama di lingkungan kampus. Alih-alih mempererat hubungan sosial, banyak mahasiswa justru lebih fokus pada layar ponsel mereka daripada berinteraksi langsung dengan teman di sekitarnya.
Kondisi ini memunculkan masalah komunikasi sosial, seperti berkurangnya empati, meningkatnya isolasi sosial, dan miskomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangan dalam Komunikasi
Kemajuan teknologi telah mempercepat arus informasi, namun juga memperbesar risiko kesalahpahaman.
Media sosial, yang seharusnya menjadi alat untuk mempererat hubungan, sering kali menjadi sumber konflik akibat kurangnya literasi digital.
Selain itu, perbedaan nilai budaya dan stereotip juga memperparah jurang komunikasi antar individu maupun antar bangsa.
Baca Juga: Etika Komunikasi Generasi Z di Zaman Sekarang Beserta Contoh Kasus
Kondisi Awal: Konflik di Sekitar Kampus
1. Kurangnya Interaksi Langsung
Banyak mahasiswa yang lebih sibuk dengan ponsel, bahkan ketika sedang berkumpul. Akibatnya, percakapan tatap muka menjadi langka dan hubungan emosional antara mahasiswa melemah.
2. Miskomunikasi
Kecenderungan untuk berkomunikasi melalui teks atau media sosial sering menyebabkan salah paham karena emosi atau maksud tidak tersampaikan dengan jelas.
3. Menurunnya Kepedulian Sosial
Fokus yang berlebihan pada dunia maya membuat mahasiswa kurang peka terhadap lingkungan sekitar, seperti teman yang sedang menghadapi masalah atau situasi sosial yang membutuhkan perhatian.
4. Keterasingan dalam Kelompok
Mahasiswa yang terlalu bergantung pada ponsel cenderung merasa terisolasi dalam kelompok karena kurangnya keterlibatan aktif dalam percakapan langsung.
Baca Juga: Berapa Banyak Waktu yang Kamu Habiskan di Smartphone? Ini Pengaruhnya pada Kehidupan Remaja!
Kenapa Perlu Diubah?
Jika masalah ini dibiarkan, dampaknya dapat meluas, seperti:
- Hubungan Sosial yang Rapuh: Mahasiswa kehilangan kemampuan untuk membangun hubungan yang kuat dengan teman atau rekan kerja.
- Meningkatnya Stres dan Kecemasan: Kurangnya interaksi langsung sering menyebabkan kesepian dan gangguan mental.
- Minimnya Kolaborasi Efektif: Miskomunikasi membuat kerja sama dalam tim menjadi sulit, baik di kampus maupun dalam dunia kerja.
Perubahan diperlukan untuk menciptakan keseimbangan antara penggunaan teknologi dan komunikasi langsung, sehingga mahasiswa dapat membangun hubungan yang sehat dan produktif.
Peran Mahasiswa dalam Mengatasi Masalah Komunikasi Sosial
Mahasiswa sebagai generasi muda memiliki peran besar dalam mengatasi tantangan komunikasi sosial dengan cara:
Meningkatkan Interaksi Langsung
Mengutamakan percakapan tatap muka dibandingkan komunikasi melalui media sosial.
Mengurangi Ketergantungan pada Gadget
Membatasi waktu penggunaan ponsel, khususnya saat berada di lingkungan sosial.
Baca Juga: Komunikasi Interpersonal: Terhubung dengan Hati dan Pikiran
Meningkatkan Literasi Komunikasi
Belajar menyampaikan pesan dengan jelas dan memahami bahasa tubuh saat berkomunikasi.
Mengedukasi Orang Lain
Membagikan pengetahuan tentang pentingnya komunikasi langsung kepada teman-teman.
Untuk meningkatkan kualitas komunikasi sosial, mahasiswa di Universitas Katolik Santo Thomas dapat melakukan beberapa aksi nyata, seperti:
1. Zona Bebas Gadget
Menciptakan area khusus di kampus yang mendorong mahasiswa untuk berinteraksi tanpa gadget.
2. Kegiatan Diskusi Kelompok
Mengadakan sesi diskusi rutin yang melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi untuk membangun empati dan memahami perspektif yang berbeda.
3. Workshop Literasi Komunikasi
Mengadakan pelatihan komunikasi tatap muka, seperti cara menyampaikan pesan secara efektif dan mendengarkan aktif.
4. Program Cross-Cultural Understanding
Membuat kegiatan kolaborasi lintas budaya di mana mahasiswa dapat saling berbagi pengalaman, belajar toleransi, dan membangun hubungan lintas budaya.
5. Kampanye Kesadaran di Media Sosial
Membuat kampanye yang mengedukasi pentingnya komunikasi tatap muka di era globalisasi.
Baca Juga: Produk Inovasi Terbaru Screen Cleaner Gadget Karya Mahasiswa UM
Solusi yang dilakukan mahasiswa untuk membudayakan komunikasi sosial yang efektif di era globalisasi adalah melalui pendekatan edukatif secara langsung dan mengajak mahasiswa, khususnya di lingkungan Universitas Katolik Santo Thomas, untuk berpartisipasi dalam kegiatan diskusi kelompok tatap muka.
Kegiatan ini dapat dilakukan di ruang-ruang terbuka kampus tanpa menggunakan gadget, sehingga mahasiswa dapat belajar mendengarkan secara aktif dan memahami perspektif orang lain.
Selain itu, mahasiswa juga diajak untuk mengikuti program lintas budaya, seperti Cross-Cultural Understanding, di mana mereka dapat berbagi pengalaman dengan teman-teman dari berbagai latar belakang.
Dengan cara ini, mereka akan lebih peka terhadap perbedaan dan mampu membangun hubungan sosial yang lebih kuat.
Tidak perlu menjadi ahli komunikasi untuk membuat perubahan, cukup dengan membangun kebiasaan sederhana seperti berbicara langsung dengan teman atau mendukung teman yang menghadapi kesulitan.
Jadilah mahasiswa dengan tingkat empati yang tinggi karena peninggalan terbaik untuk masa depan adalah lingkungan sosial yang harmonis dan saling peduli.

Penulis:
1. Risma Yeni J. Panjaitan
2. Novita Br Tondang
3. Sona Stefania Habeahan
4. Yusipa Em Sri Bina S. Meliala
5. Manuela Hasibuan
Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Katolik Santo Thomas Medan
Dosen Pengampu: Polintan Rehulina Sembiring, S.Pd., M.Pd.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












