MBG (Makan Bergizi Gratis) merupakan program nasional yang dijalankan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto dan dikelola oleh BGN (Badan Gizi Nasional).
Program ini ditujukan untuk anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Saat ini pemerintah tengah gencar menguji coba program MBG ini dengan gelontoran anggaran triliunan rupiah.
Pertanyaan besar: dari mana anggaran raksasa MBG ini berasal? Anggaran yang didapat MBG ini berasal dari 67% dana sekitar 223,6 Triliun diambil dari anggaran pendidikan, 7% dari anggaran kesehatan, dan 26% dari fungsi ekonomi, serta APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Per tahun, pemerintah secara resmi mengalokasikan dana total sebesar Rp268 triliun.
Alokasi angka tersebut menyita perhatian publik dan memicu kerancuan logika yang nyata. Dana anggaran pendidikan yang seharusnya dikelola untuk menyejahterakan pendidikan dan anak sekolah malah digunakan untuk MBG.
Banyak hal krusial yang terjadi seperti kesejahteraan, kenaikan gaji guru apalagi guru honorer, hingga subsidi fasilitas siswa yang kurang memadai.
Kasus tragis seorang siswa kelas 4 SD berinisial YBS (10) berasal dari NTT, Kabupaten Ngada, yang mengakhiri hidupnya karena ketidakmampuan keluarganya membeli buku dan pulpen. Jika dana anggaran yang seharusnya untuk pendidikan bukan untuk MBG, kejadian ini kemungkinan bakal minim terjadi.
Masalah lain yang terjadi yaitu adanya menu makanan MBG yang kurang layak. MBG adalah Makan Bergizi Gratis yang tujuan awalnya untuk meningkatkan kualitas SDM dan mengatasi gizi buruk dan stunting, tapi menu MBG yang disediakan malah ada yang ayamnya bau bangkai, nasi basi, tempe busuk, bahkan buah yang sudah busuk.
Kalau menunya seperti ini, anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui gizinya tidak akan baik, mungkin saja malah menjadi buruk. Ditemukan banyak kasus anak sekolah makan dari MBG malah terkena racun sampai dilarikan ke IGD, itu sudah sampai mengancam nyawa, tetapi tidak ada benahan dari pemerintah.
Sebenarnya program yang dibuat oleh presiden kita itu sudah bagus. Namun dalam pengelolaannya yang masih kurang, seperti dugaan korupsi yang dilakukan oleh beberapa oknum SPPG, yang mengakibatkan menu MBG yang diterima oleh penerima itu kurang layak bahkan tidak layak, dan ada pembelian barang yang ngga penting seperti motor listrik yang memotong anggaran sangat banyak, yang seharusnya untuk makanan layak malah buat hal seperti ini.
Baca Juga: Program MBG: Relevansi dan Tantangannya dalam Konteks Magisterium Gereja Kontemporer
Harusnya program ini lebih diperhatikan lagi, diaudit secara menyeluruh dan yang jadi audit harus jujur, amanah, dan terpercaya. Kalau dari awal program ini sudah baik, transparan, dan bersih cara pengelolaanya, mungkin akan berdampak baik dalam jangka panjang, dan masyarakat akan menerimanya dengan tangan terbuka.
Penulis: Windi Septia Ayu Ningsih
Mahasiswa Teknologi Informasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang (UINWS)
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












