PISN dan ISI Yogyakarta Mendorong Sinergi Kampus Berdampak dalam Hibridisasi Angklung Hadroh sebagai Ruang Terapi Psikososial

terapi psikososial
Sinergi Kelompok Guyub Rukun dengan Tim PISN dalam Program Hibridisasi AHAD sebagai Ruang Terapi Psikososial (Foto: Dok. Penulis)

Sleman, MMI – Komitmen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dalam menciptakan Kampus Berdampak kembali terwujud di tengah masyarakat (15/12/2025).

Melalui implementasi Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2025, ISI Yogyakarta hadir di Padukuhan Jatisawit, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman selama 3 bulan, membawa terobosan yang unik melalui hibridisasi praktik musikal Angklung Hadroh sebagai sublimasi terapi psikososial.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kegiatan ini merupakan realisasi dari kegiatan PISN yang berjudul “AHAD: Pemberdayaan Masyarakat Jatisawit Balecatur Gamping Sleman Yogyakarta melalui Inovasi Hibridisasi Praktik Musikal Seni Pertunjukan Angklung Hadroh sebagai Ruang Terapi Psikososial untuk Meningkatkan Hidup Sehat dan Sejahtera”.

Hibriditas Angklung Hadroh sebagai Materi Terapi Psikososial berbasis Etnomusikologi Terapan

Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) merupakan wujud nyata kontribusi perguruan tinggi seni dalam menjawab tantangan sosial dan budaya di era modern.

Skema pendanaan yang diperoleh ISI Yogyakarta dari Kemendikbudristek ini dirancang khusus untuk memacu kreasi model-model pengabdian dan pembelajaran seni yang berbasis riset, memastikan inovasi seni tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi benar-benar terasa manfaatnya di tingkat komunitas.

Baca Juga: Program Kegiatan Psikologi Komunitas Penguatan Dukungan Sosial melalui Metode Katarsis untuk Menurunkan Tingkat Stres pada Lansia

Ketua Tim PISN AHAD Jatisawit yang merupakan dosen Etnomusikologi FSP ISI Yogyakarta, Amir Razak, S.Sn., M.Hum. menjelaskan bahwa inti dari program ini adalah mengoptimalkan potensi komunal warga melalui pendekatan musik yang familiar sebagai ruang ekspresi emosi, komunikasi sehingga dapat menjadi indikator terapi psikososial.

“Kami menggabungkan dua tradisi berbeda: Angklung dari Sunda dan Hadroh dari akar musik Islam yang kemudian menjadi satu harmoni yang mudah dipelajari. Konsep hibridisasi ini memungkinkan warga untuk terlibat aktif. Tujuannya melampaui sekadar mahir bermusik; kami menjadikan kegiatan bersama ini sebagai Ruang Terapi Psikososial kolektif. Dengan berkesenian, ikatan sosial menguat, dan warga memiliki wadah sehat untuk mengurangi tekanan hidup,” ujar Amir Razak.

Menanggapi PISN, Bapak Catur, Ketua RW 43 Jatisawit, menyampaikan apresiasi yang tinggi.

“Kami sangat berterima kasih kepada ISI Yogyakarta. Bantuan instrumen ini adalah penyemangat warga agar semakin suka berkesenian. Yang paling penting, melalui program ini, kami berhasil membentuk paguyuban seni bernama ‘Guyub Rukun’ yang berarti kebersamaan tanpa pertikaian. Ini adalah modal sosial yang tak ternilai harganya,” tegasnya.

terapi psikososial
Proses Terapi Psikososial dalam Pelatihan dan Pendampingan AHAD (Foto: Dok. Tim PISN, 2025)

Konteks-Konstruk Seni Tradisi: Inovasi dan Adaptif

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ISI Yogyakarta, Dr. Eli Irawati, S.Sn., M.A. turut hadir dan memberikan penegasan mengenai peran seni di tengah masyarakat.

“Seni tradisi tidak boleh berhenti pada bentuknya yang statis. Melalui PISN, kami ingin menunjukkan bahwa seni harus inovatif, adaptif, relevan, dan aplikatif. Hibridisasi Angklung dan Hadroh ini adalah wujud nyata bagaimana kita bisa memanfaatkan seni untuk tujuan non-seni, yakni meningkatkan kesejahteraan mental dan sosial masyarakat,” jelas Dr. Eli Irawati.

Baca Juga: Dari Dapur Jadi Produk Wangi: Minyak Jelantah Disulap Jadi Lilin Aromaterapi

Sejak program sosialisasi dan penyerahan instrumen, tim PISN yang melibatkan dosen dan mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta terus intensif melatih masyarakat.

Materi yang disampaikan berfokus pada praktik musikal; seperti pengolahan bunyi atau nada-nada terapi, pelatihan terapi musik berbasis etnomusikologi terapan.

Melalui kegiatan PISN 2025, ISI Yogyakarta membuktikan bahwa kolaborasi antara kampus dan komunitas dapat melahirkan inovasi dalam komposisi musik yang bernilai kebaharuan sehingga memperkaya khazanah seni, tetapi juga berfungsi sebagai suatu solusi sebagai sarana pemberdayaan, ruang ekspresi, memperkuat kerukunan, dan menyediakan ruang yang sehat bagi kehidupan sosial warga Jatisawit.


Penulis: Tim PISN AHAD 2025
Mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses