Ringkasan
Masa lanjut usia merupakan fase kehidupan yang ditandai oleh perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang dapat memicu stres dan perasaan terisolasi. Lansia dapat mengalami penurunan fungsi tubuh, kehilangan pasangan hidup, keterbatasan ekonomi, serta berkurangnya peran sosial.
Dalam kondisi tersebut, dukungan sosial menjadi faktor protektif penting untuk menjaga kesejahteraan psikologis lansia. Namun, tidak semua lansia memiliki akses terhadap dukungan sosial yang memadai sehingga memerlukan pendekatan yang mampu menciptakan ruang ekspresi emosional untuk lansia.
Program kegiatan ini mengangkat tema “Penguatan Dukungan Sosial melalui Metode Katarsis untuk Menurunkan Tingkat Stres Pada Lansia”.
Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan ruang ekspresi emosional bagi lansia untuk melepaskan, membangun interaksi sosial yang positif antar lansia sehingga menurunkan perasaan terisolasi dan kesepian yang menjadi pemicu stres. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan rasa nyaman, meningkatkan suasana hati, dan memperkuat fungsi kognitif lansia.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa psikologi dari Universitas Katolik Musi Charitas Palembang. Lansia diajak untuk berbagi cerita, berinteraksi dengan sesama lansia, mengekspresikan emosi melalui media seperti bentuk dari kertas origami, mewarnai gambar, dan kolase menggunakan biji-bijian.
Melalui kegiatan ini, lansia diharapkan dapat mengalami penurunan tingkat stres, merasa lebih dihargai, dan memperoleh semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Kata Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga Program Kegiatan Psikologi Komunitas yang bertajuk “Penguatan Dukungan Sosial melalui Metode Katarsis untuk Menurunkan Tingkat Stres Pada Lansia” dapat disusun dengan baik. Kegiatan ini merupakan pemenuhan tugas mata kuliah Psikologi Komunitas.
Program ini dirancang sebagai bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan psikologis para lanjut usia yang kerap menghadapi tantangan emosional seperti kesepian, keterasingan, dan penurunan kualitas hubungan sosial.
Melalui pendekatan psikologi komunitas, kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan ruang yang aman dan menyenangkan bagi lansia untuk berbagi pengalaman pribadi memperkuat relasi sosial, dan menikmati hiburan ringan yang dapat meningkatkan suasana hati dan rasa kebersamaan. Kegiatan ini tidak akan berjalan dengan lancar tanpa dukungan dari berbagai pihak.
Kami juga berterima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi dengan antusias, serta kepada semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang nyata bagi komunitas Orang Tua Diberkati (OTD).
Semoga kegiatan ini dapat menjadi hal yang bermanfaat dan dapat menjadi kegiatan komunitas di masa mendatang. Akhir kata, kami menyadari bahwa kegiatan ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kami terbuka terhadap kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang.
Palembang, 30 November 2025
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa lanjut usia merupakan fase kehidupan yang ditandai oleh berbagai perubahan fisik, psikologi, dan sosial. Pada masa tersebut, lansia mengalami penurunan fungsi tubuh, kehilangan pasangan hidup, keterbatasan ekonomi, serta berkurangnya peran sosial yang secara kumulatif dapat memicu stres dan perasaan terisolasi.
Dalam konteks ini, dukungan sosial menjadi faktor protektif untuk menjaga kesejahteraan psikologis lansia. Beberapa lansia yang tidak memiliki akses yang memadai terhadap dukungan sosial yang berkualitas.
Keterbatasan komunikasi, stigma terhadap penuaan, dan minimnya ruang untuk mengekspresikan emosi mengakibatkan lansia memendam tekanan batin. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang mampu menciptakan ruang ekspresi emosional sekaligus memperkuat ikatan sosial.
Salah satu metode yang memungkinkan individu meluapkan emosi secara aman dan terarah yakni, metode katarsis. Metode ini merupakan cara seseorang mengekspresikan diri dengan melepaskan emosi yang terpendam.
Katarsis juga bisa dianggap sebagai cara untuk membersihkan konflik dalam diri seseorang dengan berbicara atau mengekspresikan makna dari konflik tersebut. Menurut sudut pandang psikoanalisa, katarsis merupakan ekspresi dan pelepasan emosi yang ditekan.
Adakalanya disinonimkan dengan abreaksi yang didefinisikan sebagai mengalami kembali pengalaman emosional yang menyakitkan. Biasanya melibatkan kesadaran pada materi yang sebelumnya ditekan (Corsini & Wedding dalam Qonitatin 2011).
Menurut Greenberg dalam Qonitatin (2011), penyembuhan katarsis tidaklah sesederhana pembenaman ke dalam tekanan emosional, akan tetapi meliputi persepsi untuk dapat mengontrol dan menguasai perasaan-perasaan menekan saat ini.
Menurut Wahyuningsih (2017) katarsis memberi kesempatan kepada individu yang memiliki kecenderungan pemarah untuk berperilaku keras, tetapi dalam cara yang tidak merugikan akan mengurangi tingkat rangsang emosional dan tendensi untuk melakukan serangan agresi terhadap orang lain.
Esensi katarsis menurut Hurlock dalam Oktaviani (2025) yaitu mengeluarkan energi emosional yang mengganggu serta membersihkan tubuh serta jiwa dengan cara mengangkat sebab yang terpendam dan kemudian mencari cara mengekspresikan dorongan yang terpendam tersebut, sehingga mampu mengembangkan pandangan hidup yang menyeluruh.
Menurut Rahmawati (2020) dalam pengaplikasiannya, katarsis memiliki tujuan untuk memecahkan masalah yang ada. Dapat menemukan proses menjadi diri sendiri atau individual, makna hidup yang dicari, dan altered state of consciousness (ASC) adalah kesadaran yang berubah atau berbeda dengan kesadaran orang dalam keadaan normal.
Menurut Elvina dalam Rahmawati (2020) katarsis memiliki manfaat untuk menghilangkan atau merubah kebiasaan, menghilangkan kepercayaan negatif, mengurangi rasa sakit, memasukkan sugesti positif, mengurangi stress pasca trauma, dan membuat jiwa menjadi tenang
Menurut Aronson dalam Istiningtyas (2013) katarsis adalah suatu pelepasan kemarahan melalui perilaku agresi, melihat orang lain berperilaku agresi atau berfantasi mengenai agresi. Teknik-teknik katarsis dapat berupa :
- Perilaku agresi sebenarnya yakni memukul bantal, boneka atau karung
- Agresi verbal yakni berteriak atau
- Agresi fantasi yakni membayangkan melakukan perilaku
- Mengamati perilaku agresi orang
Proses pelaksanaan katarsis dapat mengikuti langkah-langkah berikut :
- Individu dikondisikan dalam keadaan emosi yang stabil dan
- Individu dapat menjelaskan nilai, keuntungan dan resiko dari perbuatan agresi yang dilakukan.
- Individu diberikan penjelasan mengenai tujuan dilakukannya proses katarsis dan pemilihan media yang akan digunakan.
- Pemunculan rasa marah. Individu diingatkan kembali kepada penyebab rasa frustasi dan kemarahan yang dialami.
- Implementasi Individu diberikan kesempatan untuk mengeluarkan rasa marah melalui media katarsis yang sudah dipilih
- Individu mengungkapkan perasaan-perasaan yang ia rasakan setelah melakukan katarsis.
- Setelah individu merasa tenang, pengukuran intensitas perilaku agresi
Inti dari gagasan katarsis adalah bila orang merasa agresi, pengungkapan kemarahan akan mengurangi rasa marah yang dimilikinya. Hal tersebut pada gilirannya akan menurunkan intensitas untuk berperilaku agresi.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dikemukakan dari latar belakang tersebut, yakni :
- Bagaimana metode katarsis dapat membantu lansia dalam mengekspresikan emosi secara sehat dan terarah?
- Bagaimana kegiatan kelompok berbasis katarsis memperkuat ikatan sosial antar lansia?
- Apa manfaat psikologis yang diperoleh lansia dari berbagi pengalaman hidup dalam kelompok yang suportif?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan program kegiatan tersebut, yakni sebagai berikut :
- Menciptakan ruang ekspresi emosional bagi lansia untuk melepaskan tekanan emosi melalui pendekatan katarsis.
- Membangun interaksi sosial yang positif antar lansia dalam kegiatan berbagi cerita dan pengalaman kelompok.
- Menurunkan perasaan terisolasi dan kesepian yang menjadi pemicu stres dengan membangun interaksi sosial di dalam kelompok.
BAB II GAMBARAN UMUM MASYARAKAT MITRA
2.1 Profil Mitra
Gereja Paroki Santo Fransiscus De Sales, atau yang lebih dikenal sebagai Paroki Sanfrades, terletak di Jalan Urip Sumoharjo, Palembang, dan berada satu komplek dengan sekolah-sekolah Xaverius. Paroki ini awalnya merupakan stasi dari Paroki Hati Kudus dan mulai berkembang sejak 1950-an berkat pelayanan para imam SCJ, hingga diresmikan sebagai paroki mandiri pada 1 Januari 1965 dengan Santo Fransiscus de Sales sebagai pelindung.
Gereja terus berkembang dengan semangat kebersamaan dan motto “Sint Unum” yang artinya semoga mereka senantiasa bersatu. Sebagai paroki yang cukup besar dan terus berkembang, saat ini Paroki St. Fransiscus de Sales terdiri dari 18 lingkungan.
Selain itu, agar pelayanan kepada umat beriman dapat berjalan dengan baik dan lancar maka Dewan Pastoral Paroki St. Fransiskus de Sales membagi dalam 4 (empat) Koordinator Wilayah. Yaitu wilayah Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes
Salah satu lingkungan yang terus berkembang bersama umat beriman yaitu Lingkungan Santo Yosep. Lingkungan ini berada dalam Wilayah Lukas bersama dengan 4 lingkungan lainnya yaitu Lingkungan Maria, Lingkungan Theresia, Lingkungan St Fransiskus Xaverius, serta Lingkungan Paulus.
Wilayah Demografis Lingkungan Yosep cukup besar dari Jl. Urip Sumoharjo hingga Jl. Sianjur. Lingkungan Yosep terdiri dari 31 kepala keluarga dan masing-masing keluarga bersama umat lainnya senantiasa berdinamika dalam kegiatan lingkungan.
2.2 Kondisi Mitra
Lingkungan Yosep sebagai salah satu lingkungan aktif dalam Gereja Santo Fransiscus De Sales. Dalam kepengurusannya yang baru, umat yang menjadi pengurus lingkungan telah dilantik secara resmi oleh gereja sebagai wakil untuk melayani di tahun 2025-2028 dengan susunan anggota yang terstruktur.
Pengurus harian yang telah terbentuk membawahi langsung dengan berbagai Seksi Bidang lain untuk dapat terjun langsung serta mewujudkan umat yang bersatu dalam kasih dan pelayanan. Setiap bulan, sebagian besar umat mengikuti pertemuan bulanan di rumah umat yang telah ditentukan melalui sistem undian.
Di sisi lain, ada satu waktu diadakan misa lingkungan yang ditentukan oleh umat yang ingin mendoakan atau ada intensi khusus. Selain itu, setiap bulan secara bergantian, umat berpartisipasi dalam pelayanan Koor serta Tata Laksana.
Dalam sebulan, setiap dua minggu terdapat umat yang telah dilantik menjadi prodiakon memberikan hosti kudus kepada umat yang mengalami sakit dan kesulitan menerima komuni di gereja. Selain umat yang sebagian besar telah aktif untuk berkegiatan di dalam lingkungan, umat juga aktif dalam pelayanan dan menjadi anggota komunitas lain dalam gereja.
2.3 Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Fisik Mitra
Wilayah Demografis Lingkungan Yosep cukup besar dari Jl. Urip Sumoharjo hingga Jl. Sianjur. Lingkungan Yosep memiliki umat dengan jumlah 96 orang serta dibagi menjadi 31 kepala keluarga. Saat ini Lingkungan Yosef memiliki komunitas basis gerejawi yang dibagi menjadi 3 zona.
Terkhususnya sebanyak 26 orang lansia yang menjadi fokus dalam kegiatan ini. Kegiatan komunitas lansia dilakukan setiap dua bulan sekali, bergantian dengan komunitas orang muda. Dan sebagian lansia telah aktif mengikuti kegiatan dengan lokasi yang bervariasi.
Selain itu, pengurus lingkungan bekerjasama dengan Seksi Bidang Dewan Pastoral Paroki (DPP) beserta lingkungan setiap 2-3 bulan sekali, mengirimkan bantuan berupa natura kepada keluarga pra sejahtera. Serta pemberian hosti kudus kepada warga yang mengalami sakit dan kesulitan untuk menerima komuni di gereja.
Seluruh umat saling bekerjasama, mengayomi, memperhatikan kepada umat lain yang mengalami masalah (kurang aktif, sakit fisik, dsb) dengan sepenuh hati.
2.4 Permasalahan yang Dihadapi Masyarakat Mitra
Kegiatan Orang Tua Diberkati (OTD) sebagai kegiatan komunitas lansia di Lingkungan Yosep telah rutin berlangsung setiap dua bulan sekali dengan jumlah peserta sekitar 12–14 orang. Walaupun kegiatan ini sudah menjadi wadah pertemuan yang positif, sebagian anggota merasa suasananya masih terkesan serius sehingga belum cukup menghadirkan keceriaan.
Di sisi lain, dalam keseharian para anggota juga menghadapi dinamika emosi. Mulai dari marah, lelah, kesal, hingga senang dan sedih. Hingga pada akhirnya tidak jarang umat mengalami kelelahan, kesepian, hingga berujung sres.
Melihat kondisi tersebut, muncul kebutuhan untuk menghadirkan program pendukung yang lebih segar dan menyenangkan. Anggota komunitas berharap dalam pertemuan akan ada ruang untuk mereka dapat berbagi cerita secara lebih mendalam di tengah aktivitas yang dilalui.
Sekaligus kegiatan yang mampu mencairkan suasana, seperti senam ringan dan permainan sederhana. Dengan begitu, kegiatan OTD tidak hanya menjadi pertemuan rutin, tetapi juga sarana untuk saling menguatkan, mengurangi rasa tertekan, dan menumbuhkan semangat kebersamaan.
BAB III METODE PELAKSANAAN
3.1 Tahap Pra Kegiatan
Program Kegiatan Psikologi Komunitas yang berjudul “Penguatan Dukungan Sosial Melalui Metode Katarsis untuk Menurunkan Tingkat Stres pada Lansia” yang akan dilaksanakan di Lingkungan Santo Yosep Palembang. Adapun tahapan pra kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini sebagai berikut.
- Perizinan kepada ketua Lingkungan Santo Yosep Palembang untuk melaksanakan kegiatan.
- Koordinasi tim panitia program
- Koordinasi dengan Dosen pembimbing. Dosen pembimbing memberikan arahan dan bimbingan terhadap perencanaan yang telah dibuat tim panitia.
- Koordinasi dengan ketua Lingkungan Santo Yosep Palembang (Mitra) untuk mensosialisasikan Program Kegiatan Psikologi Komunitas yang berjudul “Penguatan Dukungan Sosial Melalui Metode Katarsis untuk Menurunkan Tingkat Stres pada Lansia” kepada peserta.
- Survei ke lokasi mitra dengan tujuan mendapatkan daftar para lansia yang akan menjadi peserta program, serta menentukan apakah judul yang telah dibuat dan diajukan dapat terlaksana dengan baik. Selain itu, setiap kelompok akan menjelaskan tujuan kegiatan, konsep permainan yang akan dilakukan, serta menentukan waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan.
3.2 Tahap Pelaksanaan
Tahapan pelaksanaan dalam kegiatan ini meliputi persiapan dan pelaksanaan program penguatan dukungan sosial bagi lansia melalui kegiatan interaktif. Rancangan program disusun sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta lansia. Perincian tahapan pelaksanaan adalah sebagai berikut:
a. Persiapan Program
- Melakukan pendataan jumlah lansia yang akan mengikuti
- Menyusun kegiatan yang sesuai dengan usia dan kondisi fisik
- Menyiapkan seluruh alat dan bahan yang diperlukan untuk tiga kali pertemuan kegiatan.
Bahan yang diperlukan yakni sebagai berikut: kertas origami, kertas bergambar, biji-bijian (kacang hijau dan jagung), lem, pensil warna, dan pena. Alat yang dibutuhkan yaitu mic dan speaker untuk setiap sesi kegiatan. Selain itu dibutuhkan konsumsi untuk tiga kali pertemuan kegiatan, serta hadiah dan buah tangan untuk ketua lingkungan.
- Memberikan pemberitahuan kepada calon peserta satu minggu sebelum
- Membagi tugas panitia untuk memandu setiap sesi
b. Pelaksanaan Kegiatan
- Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 5 Oktober 2025. Adapun rincian kegiatan yang akan dilakukan, yakni sebagai berikut:
- Pembukaan, panitia melakukan perkenalan diri secara singkat, menyapa peserta, dan membuka kegiatan dengan doa bersama.
- Pemberian informed consent yang menyatakan bahwa peserta secara sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun bersedia untuk mengikuti kegiatan tersebut.
- Pengisian Pre-test, panitia mendampingi lansia untuk mengisi pre-test yang telah disiapkan. Masing-masing panitia mendampingi 2 hingga 3 lansia untuk mengisi pre-test secara tertulis.
Adapun pertanyaan yang terdapat di dalam pre-test yakni sebagai berikut:
- Apakah anda pernah mengikuti kegiatan semacam ini sebelumnya?
- Bagaimana perasaan anda dalam 1 minggu terakhir?
- Apakah anda pernah merasakan stress dalam 1 minggu terakhir?
- Apakah anda memiliki seseorang yang dapat diajak berbagi cerita?
- Seberapa sering anda bercerita atau mengobrol dengan orang lain?
- Apakah anda merasa nyaman jika berbagi cerita dengan orang lain?
- Apakah berbagi cerita atau mengobrol dengan orang lain membuat anda merasa lebih baik?
- Apa yang anda harapkan dari kegiatan ini?
- Ice Breaking, panitia memandu peserta untuk melakukan “Senam ringan”. Adapun langkah-langkah permainan tersebut, yakni sebagai berikut:
- Panitia mengajak peserta untuk berdiri dan masuk ke dalam
- Panitia memutar lagu kemudian mengajak peserta untuk bernyanyi dan bergerak sesuai dengan instruksi dari pemandu acara.
- Sesi katarsis dilakukan dengan peserta melipat origami di dalam kelompok dan saling berinteraksi dengan sesama peserta dalam kelompok. Adapun langkah-langkah katarsis yang akan dilakukan, yakni sebagai berikut:
- Panitia membuat kelompok dengan peserta dan duduk secara melingkar. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 peserta dan 1
- Panitia membagikan kertas origami kepada
- Peserta boleh melipat kertas tersebut menjadi bentuk atau lipatan yang diminati.
- Panitia mengajak peserta untuk saling bercerita dan berinteraksi satu sama lain.
- Penutup, panitia membagikan konsumsi yang telah disediakan kepada peserta. Kegiatan diakhiri dengan doa bersama.
- Pertemuan kedua dilaksanakan pada 19 Oktober 2025. Adapun rincian kegiatan yang akan dilakukan, yakni sebagai berikut:
- Pembukaan, panitia menyapa peserta dan membuka kegiatan dengan doa bersama.
- Ice Breaking, panitia memandu peserta untuk melakukan “Senam ringan”. Adapun langkah-langkah permainan tersebut, yakni sebagai berikut:
- Panitia mengajak peserta untuk berdiri dan masuk ke dalam
- Panitia memutar lagu kemudian mengajak peserta untuk bernyanyi dan bergerak sesuai dengan instruksi dari pemandu acara.
- Sesi katarsis dilakukan dengan peserta mewarnai kertas bergambar menggunakan pensil warna dan berinteraksi di dalam kelompok. Adapun langkah-langkah katarsis yang akan dilakukan, yakni sebagai berikut:
- Panitia membuat kelompok dengan peserta dan duduk secara melingkar. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 peserta dan 1
- Panitia membagikan kertas bergambar kepada Masing-masing kelompok diberikan satu kotak pensil warna.
- Peserta mewarnai kertas yang telah
- Panitia mengajak peserta untuk saling bercerita dan berinteraksi satu sama lain.
- Penutup, panitia membagikan konsumsi yang telah disediakan kepada peserta dan mengakhiri kegiatan dengan doa bersama.
- Pertemuan ketiga dilaksanakan pada tanggal 2 November 2025. Adapun rincian kegiatan yang akan dilakukan, yakni sebagai berikut:
- Pembukaan, panitia membuka kegiatan dengan menyapa peserta dan doa bersama.
- Ice Breaking, panitia memandu peserta untuk melakukan “Senam ringan”. Adapun langkah-langkah permainan tersebut, yakni sebagai berikut:
- Panitia mengajak peserta untuk berdiri dan masuk ke dalam
- Panitia memutar lagu kemudian mengajak peserta untuk bernyanyi dan bergerak sesuai dengan instruksi dari pemandu acara.
– Sesi katarsis dilakukan dengan peserta membuat sebuah kolase di dalam kelompok dan saling berinteraksi dengan sesama peserta dalam kelompok. Adapun langkah-langkah katarsis yang akan dilakukan, yakni sebagai berikut:
- Panitia membuat kelompok dengan peserta dan duduk secara melingkar. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 peserta dan 1
- Panitia membagikan kertas bergambar yang telah terpisah-pisah kepada peserta, dan masing-masing kelompok menyusun serpihan kertas tersebut menjadi sebuah gambar yang utuh.
- Panitia mengajak peserta untuk saling bercerita dan berinteraksi satu sama lain sembari mengerjakan. (tolong diubah angkanya)
- Pengisian Post-test, panitia mendampingi lansia untuk mengisi post-test yang telah disiapkan. Masing-masing panitia mendampingi 2 hingga 3 lansia untuk mengisi post-test secara tertulis. Adapun pertanyaan yang terdapat di dalam post-test yakni sebagai berikut:
- Apa yang anda rasakan setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini?
- Apakah kegiatan ini membantu Anda untuk bebas mengekspresikan emosi?
- Apakah program kami membantu anda mengurangi rasa stress yang dirasakan?
- Apakah anda merasa nyaman berbagi cerita bersama panitia dan peserta lainnya?
- Pengisian Post-test, panitia mendampingi lansia untuk mengisi post-test yang telah disiapkan. Masing-masing panitia mendampingi 2 hingga 3 lansia untuk mengisi post-test secara tertulis. Adapun pertanyaan yang terdapat di dalam post-test yakni sebagai berikut:
- Apa pengalaman yang paling berkesan selama mengikuti kegiatan ini?
- Apakah program yang kami jalankan sesuai dengan harapan anda?
- Apa saran dan kritik yang dapat anda berikan terkait kegiatan?
Penutup, panitia membagikan konsumsi yang telah disediakan kepada peserta, menanyakan kesan atau pesan kepada peserta, dan berpamitan kepada peserta. Kegiatan diakhiri dengan doa bersama.
3.3 Mentoring/Evaluasi Tahapan
Pada tahap ini dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap jalannya kegiatan katarsis selama tiga kali pertemuan. Evaluasi bertujuan untuk memastikan bahwa setiap sesi berjalan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, yaitu menurunkan tingkat stres pada lansia, sekaligus memberikan ruang ekspresi emosional yang sehat.
Hasil evaluasi ini menjadi dasar untuk menilai keberhasilan program dalam mencapai tujuan utamanya, yaitu menurunkan tingkat stres pada lansia melalui metode kegiatan katarsis.
3.4 Tahap Pasca Kegiatan
Pada tahap ini para lansia akan diajak berbagi pengalaman pribadi selama tiga pertemuan dengan tujuan untuk membantu mereka menyadari bahwa interaksi sosial dan kebersamaan yang terbangun bukan hanya sekadar kegiatan yang santai, tetapi merupakan jaringan dukungan yang nyata.
Para lansia diajak untuk melihat bagaimana setiap cerita, tawa, dan kerjasama selama permainan saling menguatkan, serta bagaimana dukungan ini dapat menjadi sumber kekuatan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pre-Test
Sebelum kegiatan dilaksanakan, panitia memberikan pre-test terhadap peserta. Berikut merupakan hasil dari pre-test yang diberikan :
1. Apakah anda pernah mengikuti kegiatan semacam ini sebelumnya?
Sebanyak 62.5% yakni, 5 orang menjawab pernah mengikuti kegiatan semacam ini sebelumnya dan 37.5% yakni, 3 orang lainnya menjawab tidak pernah mengikuti kegiatan semacam ini sebelumnya.
2. Bagaimana perasaan anda dalam 1 minggu terakhir?
3. Apakah anda pernah merasakan stress dalam 1 minggu terakhir?
Sebanyak 62.5% yakni, 5 orang menjawab pernah merasakan stress dalam 1 minggu terakhir dan 37.5% yakni, 3 orang lainnya menjawab tidak pernah merasakan stress dalam 1 minggu terakhir.
4. Apakah anda memiliki seseorang yang dapat diajak berbagi cerita?
Sebanyak 75% yakni, 6 orang menjawab memiliki seseorang yang dapat diajak berbagi cerita dan sebanyak 25% yakni, 2 orang lainnya menjawab tidak memiliki seseorang yang dapat diajak berbagi cerita.
5. Seberapa sering anda bercerita atau mengobrol dengan orang lain?
|
Respon Peserta |
Tidak sering, hanya disaat ada masalah |
| Sering setiap ada pertemuan kaya gereja | |
| 2 minggu sekali (tergantung kunjungan ke rumah) | |
| Hanya kalau ada kesempatan saja | |
| Tidak | |
| Sering, happy | |
| Kadang-kadang | |
| Sering |
6. Apakah anda merasa nyaman jika berbagi cerita dengan orang lain?
7. Apakah berbagi cerita atau mengobrol dengan orang lain membuat anda merasa lebih baik?
8. Apa yang anda harapkan dari kegiatan ini?
B. Hasil Post-Test
1. Apa yang anda rasakan setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini?
2. Apakah kegiatan ini membantu Anda untuk bebas mengekspresikan emosi?
Seluruh peserta menyatakan bahwa kegiatan tersebut membantu untuk bebas mengekspresikan emosi.
3. Apakah program kami membantu anda mengurangi rasa stress yang dirasakan?
Seluruh peserta menyatakan bahwa kegiatan tersebut membantu mengurangi stress yang dirasakan.
4. Apakah anda merasa nyaman berbagi cerita bersama panitia dan peserta lainnya?
Seluruh peserta menyatakan bahwa mereka merasa nyaman berbagi cerita bersama panitia dan peserta lainnya.
5. Apakah anda merasakan kelegaan setelah berbagi cerita bersama panitia dan peserta lainnya?
Seluruh peserta menyatakan bahwa mereka merasakan kelegaan setelah berbagi cerita bersama panitia dan peserta lainnya.
6. Apa pengalaman yang paling berkesan selama mengikuti kegiatan ini?
7. Apakah program yang kami jalankan sesuai dengan harapan anda?
Seluruh peserta menyatakan bahwa program yang dijalankan telah sesuai dengan harapan mereka.
8. Apa saran dan kritik yang dapat anda berikan terkait kegiatan?
4.3 Pembahasan
Metode Katarsis merupakan proses pelepasan emosi yang terpendam melalui aktivitas yang aman, terarah, dan memberikan ruang bagi individu untuk mengekspresikan perasaan secara bebas. Dalam konteks psikologi, katarsis membantu mengurangi ketegangan emosional, meningkatkan regulasi diri, serta menciptakan rasa lega setelah emosi tersalurkan.
Pada lansia, katarsis menjadi penting karena mereka sering menyimpan emosi akibat kesepian, kehilangan pasangan, keterbatasan fisik, maupun perubahan peran sosial.
Dalam program ini, katarsis dilakukan melalui tiga jenis media kreatif, yakni melipat origami, mewarnai, dan menyusun puzzle. Setiap media dipilih karena sederhana, aman bagi lansia, dan dapat memfasilitasi keterlibatan emosional serta interaksi sosial.
Berikut ini penjelasan dari ketiga media yang sudah di lakukan dari metode katarsis di antaranya :
1. Melipat Origami
Media origami membantu lansia fokus pada gerakan tangan sederhana, meningkatkan konsentrasi, serta mengurangi ketegangan emosional. Aktivitas ini juga memunculkan rasa bangga saat hasil lipatan terbentuk. Proses melipat menjadi sarana katarsis karena memberikan ruang bagi lansia untuk berbicara, bercerita, dan mengungkapkan perasaan sambil melakukan aktivitas motorik halus yang menenangkan.
2. Mewarnai
Mewarnai merupakan media ekspresif yang dapat menurunkan stres, memberikan suasana relaksasi, dan memfasilitasi pelepasan emosi melalui pemilihan warna. Aktivitas ini membantu lansia menuangkan perasaan tanpa tekanan verbal, sekaligus meningkatkan suasana hati. Secara katarsis, mewarnai memberi kesempatan untuk mengekspresikan emosi secara simbolis melalui warna yang dipilih, sehingga memperingan beban psikologis.
3. Menyusun Puzzle
Kegiatan menyusun puzzle mendorong kerjasama kelompok, kreativitas, serta menghasilkan pengalaman positif bersama. Proses menyusun pola dan warna menjadi sarana mengekspresikan emosi, mengalihkan fokus dari stres, dan membangun interaksi yang hangat. Katarsis muncul melalui ekspresi spontan seperti tawa saat kesulitan, komentar ringan, diskusi kelompok, serta rasa puas setelah karya selesai.
Ketiga aktivitas tersebut secara keseluruhan merupakan media katarsis yang aman, meningkatkan emosi positif, mengurangi ketegangan, serta menciptakan pengalaman interpersonal yang mendukung kesejahteraan psikologis lansia.
Metode katarsis dalam program ini memberikan dua manfaat utama, yaitu membantu lansia melepaskan emosi yang terpendam sehingga stres berkurang dan muncul rasa lega, serta meningkatkan regulasi emosi dengan memunculkan perasaan tenang, senang, dan relaks.
Melalui aktivitas kreatif seperti origami, mewarnai, dan menyusun kolase, suasana hati lansia menjadi lebih positif sehingga mereka lebih mudah berinteraksi dan membangun hubungan sosial dalam kelompok.
Program yang dijalankan menunjukkan bahwa metode katarsis dapat membantu lansia dalam mengekspresikan emosi mereka. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil pre-test dan post-test. Pada pre-test terdapat 62,5% peserta merasakan stress selama 1 minggu terakhir.
Setelah mengikuti program kegiatan, hasil post-test menunjukkan 100% peserta menyatakan bahwa rasa stress mereka berkurang. Metode katarsis menggunakan media dapat membuka kesempatan bagi lansia untuk bercerita dan melepaskan keluh kesah mereka dengan bebas tanpa adanya penghakiman.
Penggunaan media untuk sesi ice breaking membantu menciptakan suasana yang nyaman, sekaligus menciptakan keakraban di antara panitia dan lansia untuk mendukung sesi katarsis. H
al ini didukung oleh teori psikoanalisis Sigmund Freud, di mana strategi pokok dari teori Psikoanalisis adalah “katarsis” yaitu adanya perasaan lega dan nyaman pada klien setelah menyampaikan hal-hal yang selama ini sering ditekan, atau disimpan, dengan cara konselor memberikan ruang dan kesempatan yang luas bagi lansia untuk dapat bercerita atau menyampaikan kondisi masa lalunya, sampai membuat klien merasa lega (Pasmawati, 2017).
Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, kegiatan berbasis katarsis secara nyata memperkuat ikatan sosial antar lansia dalam kelompok.
Pada awal kegiatan, sebagian besar peserta masih jarang berbagi cerita (pre-test nomor 5) dan hanya merasa nyaman berbagi dengan orang tertentu seperti keluarga atau orang terdekat (pre-test nomor 6). Di sisi lain, terdapat kecenderungan ketika mereka dapat berbicara dengan orang lain, mereka merasa lebih baik secara emosional (pre-test nomor 7).
Perubahan mulai terlihat selama sesi kegiatan, yang di mana lansia mulai tertawa bersama ketika ada kesalahan mewarnai, saling memberi saran saat origami sulit dilipat, hingga bekerja sama saat menyusun puzzle. Interaksi sederhana ini membangun rasa kebersamaan, kepercayaan, dan kedekatan emosional antar peserta. Perubahan ini semakin diperkuat melalui data post-test.
Seluruh peserta menyatakan merasa nyaman berbagi cerita bersama panitia dan peserta lain (post-test nomor 4) serta merasa lebih lega setelah berbicara (post-test nomor 5). Selain itu, semua lansia juga menyampaikan pengalaman menyenangkan dan kesan positif atas proses interaksi selama kegiatan (post-test nomor 6).
Observasi selama kegiatan menunjukkan bahwa simbol kebersamaan seperti bernyanyi bersama, bercanda, serta saling membantu saat media katarsis digunakan menciptakan apa yang disebut shared emotional connection, yaitu hubungan emosional yang terbentuk melalui pengalaman bersama.
Aktivitas kolektif ini, yang diamati penuh dengan tawa dan kerjasama, berfungsi sebagai mekanisme untuk membangun ikatan, sebagaimana ditegaskan oleh Bodie dkk (2015) bahwa komunikasi yang suportif dan saling mendengarkan dalam sebuah kelompok secara signifikan meningkatkan persepsi individu terhadap kepekaan dan dukungan sosial, yang pada akhirnya memperkuat hubungan antar anggota kelompok.
Baca juga: Lebih dari Sekadar Merawat: Sentuhan Komunikasi Hangat Perawat bagi Lansia di Era Modern
Program ini memberikan manfaat secara psikologis untuk lansia dengan berbagi pengalaman hidup dalam kelompok yang suportif.
Dalam berbagi cerita, data pre-test menunjukkan pola komunikasi yang tidak konsisten yang ditunjukkan dari respon peserta yang jarang bercerita kecuali ada masalah, dan hanya merasa nyaman jika berbagi dengan keluarga dekat saja. Hal tersebut mengindikasikan jaringan emosional di luar keluarga yang lemah dan berpotensi menimbulkan perasaan kesepian.
Setelah mengikuti program, terlihat peningkatan keterbukaan dan keterlibatan peserta. Hal ini dilihat dari hasil post-test yang melaporkan bahwa seluruh peserta melaporkan perubahan positif seperti mengalami perasaan tenang/senang, merasa bebas mengekspresikan emosi, merasakan kelegaan setelah berbagi cerita, dan menyatakan bahwa program tersebut telah sesuai dengan harapan mereka.
Dinamika kelompok yang terjadi tampak membangun rasa saling mempercayai dan kenyamanan interpersonal yang sebelumnya kurang hadir. Berbagi pengalaman dalam kelompok suportif berfungsi sebagai regulasi afektif, yakni ungkapan emosional terarah untuk mengurangi beban psikologis dan memungkinkan rekonstruksi naratif yang meningkatkan makna hidup.
Hal tersebut membuktikan bahwa intervensi kelompok berbasis katarsis dapat menurunkan tingkat stress dan meningkatkan kesejahteraan emosional pada lansia (Faidah et al., 2018). Hal tersebut dicapai melalui pelepasan emosi dalam konteks aman dan terstruktur (Qonitatin dkk., 2011).
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Program “Penguatan Dukungan Sosial melalui Metode Katarsis untuk Menurunkan Tingkat Stres pada Lansia” berhasil memberikan ruang ekspresi emosional yang aman dan terarah bagi para peserta.
Melalui kegiatan kreatif seperti melipat origami, mewarnai, dan membuat kolase, lansia dapat menyalurkan emosi yang terpendam, mengekspresikan perasaan, serta terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan dan sesuai dengan kemampuan fisik mereka. Pendekatan ini sekaligus menciptakan suasana yang hangat dan nyaman sehingga peserta lebih mudah membuka diri.
Hasil pre-test dan post-test menunjukkan perubahan yang konsisten dan positif. Pada awalnya sebagian besar peserta melaporkan adanya stres dan keterbatasan dalam berbagi cerita dengan orang lain.
Setelah mengikuti program, seluruh peserta menyatakan merasakan penurunan stres, peningkatan rasa lega, suasana hati yang lebih positif, serta kenyamanan dalam berinteraksi. Hal ini menunjukkan bahwa metode katarsis efektif dalam membantu lansia meredakan ketegangan emosional serta meningkatkan regulasi emosi.
Selain itu, program ini berhasil memperkuat kualitas dukungan sosial antar lansia. Interaksi selama kegiatan seperti bekerja sama, saling membantu, dan berbagi cerita membangun kedekatan emosional dan rasa kebersamaan yang sebelumnya kurang muncul dalam pertemuan rutin komunitas.
Dinamika kelompok yang berkembang selama tiga pertemuan menunjukkan bahwa intervensi sederhana berbasis aktivitas kreatif dapat meningkatkan ikatan sosial, mengurangi kesepian, dan memberikan pengalaman positif yang bermakna bagi lansia dalam lingkungan komunitas.
5.2 Saran
Efektivitas tersebut menunjukkan bahwa program ini dapat dijadikan acuan untuk kegiatan selanjutnya karena sederhana, mudah dilaksanakan, dan dapat dikembangkan dengan berbagai media kreatif lainnya.
Selain itu, program ini berfungsi sebagai intervensi psikologis ringan yang bermanfaat bagi lansia, terutama dalam menurunkan stres, mengurangi kesepian, memperkuat dukungan sosial, serta meningkatkan regulasi emosi dalam konteks komunitas.
Referensi
Bodie, G. D., Vickery, A. J., Cannava, K., & Jones, S. M. (2015). The role of “active listening” in informal helping conversations: Impact on perceptions of listener helpfulness, sensitivity, and supportiveness and discloser emotional improvement. Western Journal of Communication, 79(2), 151–173.
Faidah, N., Indriani, D. A. D., & Abadi, M. F. (2018). Penurunan stres dengan terapi reminiscence pada lanjut usia di Banjar Tangkas wilayah kerja Puskesmas Tegallalang 1. Bali Medika Journal (BMJ), 5(1), 73–81. DOI: https://doi.org/10.36376/bmj.v5i1.21
Istiningtyas, W. E. A., Dimyati, M., & Hidayat, D. R. (2013). Pengaruh teknik katarsis terhadap penurunan intensitas perilaku agresi siswa kelas IX di SMP Negeri 15 Bogor. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 140–147. DOI: https://doi.org/10.21009/INSIGHT.031.24
Oktaviani, R., & Artanti, A. L. (2025). Sosialisasi katarsis emosi anak melalui metode mewarnai di SDN 17 Tanjung Batu Desa Tanjung Atap. Community Development Journal, 6(1), 1140–1144.
Pasmawati, H. (2017). Pendekatan konseling untuk lansia. Jurnal Ilmiah Syi’ar, 17(1).
Qonitatin, N., Widyawati, S., & Asih, G. Y. (2011). Pengaruh katarsis dalam menulis ekspresif sebagai intervensi depresi ringan pada mahasiswa. Jurnal Psikologi Undip, 9(1), 21–30. DOI: https://doi.org/10.14710/jpu.9.1.
Rahmawati, N. (2021). Kajian literatur psikologi: Katarsis sebagai bentuk ekspresif diri mahasiswa pada masa pandemi COVID-19. Jurnal Psikologi, 1–10. Universitas Lambung Mangkurat.
Wahyuningsih, S. (2017). Teori katarsis dan perubahan sosial. Ilmu Komunikasi: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Komunikasi, 11(1), 39–52. https://doi.org/10.21107/ilkom.v11i1.2834
Lampiran
Lampiran 1. Susunan Tim Pengusul dan Pembagian Tugas
Tabel 1
| No |
Nama/NIM |
Program Studi | Uraian Tugas |
| 1 | Angelina Aryani Putri
/2243047 |
Psikologi |
1. Mencari target untuk dilakukan pengabdian
2. Menyusun proposal 3. Seksi Konsumsi 4. Mendampingi pengisian pre-test dan post-test. 5. Pendamping kelompok 6. Menyusun laporan |
| 2 | Cindy Violetta/23430 23 | Psikologi | 1. Menyusun proposal
2. Merancang acara 3. Membuat Pre-Test 4. Pendamping Kelompok 5. Mendampingi pengisian pre-test dan post-test. 6. Menyusun laporan |
| 3 | Lucky Ellyezabeth P./2343020 | Psikologi | 1. Bendahara kelompok
2. Menyusun proposal 3. Merancang acara 4. Mendampingi pengisian pre-test dan post-test. 5. Pendamping Kelompok 6. Menyusun laporan |
| 4 | Laurencia Candra
W./2443017 |
Psikologi | 1. Menyusun proposal
2. Seksi konsumsi 3. Seksi Perlengkapan |
| 4. Pengisi Acara
5. Menyusun laporan |
|||
| 5 | M. Leon Darmansyah/2 443032 | Psikologi | 1. Menyusun Proposal
2. Dokumentasi Kegiatan 3. Seksi Perlengkapan 4. Pengisi Acara 5. Menyusun laporan |
| 6 | Nicholas Steve Sutjiadi/23430 35 | Psikologi | 1. Menyusun proposal
2. Membuat Post-Test 3. Pendamping Kelompok 4. Mendampingi pengisian pre-test dan post-test. 5. Menyusun laporan |
Lampiran 2. Informed Consent Pihak Penanggung Jawab Mitra
Lampiran 3. Daftar Hadir Peserta
Tabel 2
Lampiran 4. Dokumentasi Kegiatan
Pembukaan Kegiatan
Senam Ringan
Bernyanyi
Metode Katarsis 1
Metode Katarsis 2
Metode Katarsis 3
Foto bersama Ketua lingkungan Orang Tua Diberkati
Penulis:
- Angelina Aryani
- Cindy Violetta
- Lucky Ellyezabeth
- Laurencia Candra
- M. Leon
- Nicholas Steve
Mahasiswa Psikologi, Universitas Katolik Musi Charitas
Dosen Pengampu: Theresia Widyastuti, S. Psi., M.Psi., Psikolog
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI




































