Satu Meme, Banyak Reaksi: Mengapa Meme 6–7 disukai Gen Alpha Tapi dianggap Cringe oleh Gen Z?

Meme 6–7
Ilustrasi Gen Z vs Gen Alpha (Sumber: MMI)

Artikel ini bertujuan melihat fenomena meme 6–7 bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai cermin perbedaan cara berpikir antar generasi. Pernahkah kamu berpikir bahwa satu meme dapat memiliki tanggapan yang sangat berbeda tergantung pada siapa yang melihatnya? Meme 6–7 adalah contoh paling jelas.

Gen Alpha dan Gen Beta menganggap meme ini lucu, seru, dan membuat suasana jadi hidup. Mereka menirukannya, tertawa dengannya, dan menggunakannya dalam percakapan sehari-hari tanpa berpikir panjang.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Tetapi bagi banyak Gen Z, Millennial, dan bahkan generasi yang lebih tua seperti Boomer dan Gen X, meme 6-7 sering dianggap sebagai “cringe“, tidak jelas, atau terlalu kekanak-kanakan. Fenomena ini tidak hanya lucu, tetapi juga tentang bagaimana setiap generasi melihat dunia internet.

Meme 6-7 termasuk dalam jenis komedi absurd, yang tidak bergantung pada logika atau makna yang jelas. Tidak ada kritik sosial, pesan moral, atau alur cerita. Semuanya terlalu berlebihan, termasuk angka, intonasi, dan ekspresi. Kesederhanaannya membuatnya cepat tersebar.

Konten yang singkat, mudah ditiru, dan tidak membutuhkan penjelasan panjang dengan cepat menjadi viral di platform seperti TikTok, YouTube Shorts, dan Instagram Reels. Anak-anak dapat menirunya dengan cepat tanpa memahami apa pun; mereka hanya perlu mengikuti tren dan menikmati reaksi lucu dari teman-temannya.

Meme seperti ini sering menjadi bahasa pergaulan baru di lapangan, terutama di sekolah dasar. Anak-anak menyebut angka 6-7 untuk membuat orang tertawa, bercanda, atau menunjukkan kecenderungan yang sama. Ini tidak memiliki arti khusus. Psikologi sosial menyebutnya pembentukan identitas kelompok. Mereka merasa berada dalam satu “dunia”, frekuensi, dan komunitas yang sama ketika mereka menggunakan meme yang sama.

Meme 6–7 dari Gen Alpha lucu karena spontanitasnya. Mereka tidak membutuhkan cerita yang kompleks atau ironi yang dalam. Meme ini dianggap lucu karena tidak masuk akal.

Fakta bahwa humor absurd lebih mudah diterima oleh anak-anak adalah fakta bahwa itu sesuai dengan cara berpikir mereka yang aktif dan kreatif. Tidak perlu alasan yang kompleks untuk tertawa di usia ini. Hal yang cukup aneh, unik, atau berbeda untuk menarik perhatian.

Baca juga: Peran Media Sosial dalam Pembentukan Bahasa Gaul di Kalangan Generasi Alpha

Meme 6–7 juga merupakan simbol kebersamaan. Anak-anak yang mengikuti meme ini merasa tergabung dalam kelompok tertentu. Mereka merasa diterima oleh lingkungannya, “update”, dan tidak ketinggalan zaman. Salah satu kebutuhan dasar manusia menurut psikologi adalah keinginan untuk diterima dan diakui. Di dunia digital, meme adalah salah satu alat paling mudah untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Banyak Gen Z merasa meme 6–7 terlalu tidak relevan, berbeda dengan Gen Alpha. Mereka dibesarkan dalam budaya meme yang penuh makna, ironi, dan kritik sosial. Bagi mereka, meme bukan hanya hal yang lucu; itu juga tentang bermain kata, sindiran halus, dan memahami konteks. Mereka merasa tidak terhubung ketika mereka melihat meme yang tidak memiliki makna yang jelas. Label “cringe” berasal dari hal ini.

Cringe sebenarnya tidak selalu berarti buruk. Ketika kita melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan standar kelompok kita, kita mengalami kecemasan emosional. Ini terkait dengan konsep in-group dan out-group dalam psikologi sosial.

Reaksi “cringe” sering kali bukan penilaian objektif terhadap kualitas suatu konten, melainkan refleksi dari perbedaan identitas sosial dan jarak psikologis antar kelompok. Bagi sebagian orang, hal-hal yang lucu mungkin tampak aneh bagi orang lain. Oleh karena itu, ketika Generasi Z menyebut meme 6–7 cringe, itu lebih menunjukkan bahwa itu bukan bagian dari budaya mereka; ini tidak terjadi karena itu salah atau tidak pantas.

Fenomena ini juga menggambarkan hubungan antar generasi yang klasik. Hampir setiap generasi pernah mengalami waktu ketika budaya mereka dipandang aneh oleh generasi yang lebih tua. Musik rock dulu dianggap berisik. Media sosial dipandang tidak signifikan. Meme dianggap buruk. Gen Z, sekarang diposisikan sebagai “yang lebih tua” dibandingkan Gen Alpha, tanpa disadari mulai menilai dan mengkritik budaya generasi di bawahnya.

Meme 6-7 memiliki tujuan sosial yang signifikan dari sudut pandang psikologi. Anak-anak mendapat bantuan dalam ekspresi emosi mereka, membangun hubungan, dan merasa bagian dari kelompok melalui meme. Salah satu metode paling efektif untuk membangun kedekatan sosial adalah tertawa bersama. Tertawa adalah pengalaman emosional yang berharga bagi anak-anak, bahkan jika orang dewasa menganggapnya “receh”.

Baca juga: Seru! Film Agak Laen Berhasil Bikin Penonton Ngakak: Komedinya Beneran Kocak dan Gak Maksa

Namun, generasi yang lebih tua mengkhawatirkan konten digital yang terlalu sederhana. Kekhawatiran tentang konsumsi konten dangkal oleh anak-anak sering digambarkan dengan istilah seperti “brainrot”.

Kekhawatiran ini menunjukkan kekhawatiran tentang perubahan pola pikir anak-anak di era teknologi, meskipun belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa meme seperti ini merusak kecerdasan. Istilah ini lebih merepresentasikan kecemasan kultural generasi yang lebih tua terhadap perubahan pola komunikasi digital, daripada bukti ilmiah tentang penurunan kemampuan kognitif anak.

Untuk memahami fenomena meme 6-7 ini secara lebih ilmiah, kita perlu melihatnya dari kacamata psikologi sosial, khususnya tentang bagaimana identitas kelompok, kebutuhan akan penerimaan, dan fungsi humor bekerja dalam kehidupan sosial.

Konsep pembentukan identitas kelompok dan kebutuhan akan afiliasi sosial dijelaskan oleh (Tajfel & Turner, 1979) dalam teori Social Identity Theory. Kebutuhan untuk diterima secara sosial juga sejalan dengan kebutuhan dasar manusia menurut (Baumeister & Leary, 1995).

Humor sebagai alat pembentuk kedekatan sosial didukung oleh penelitian (Martin, 2007). Fenomena perbedaan selera humor antar generasi dapat dikaitkan dengan perbedaan budaya digital sebagaimana dijelaskan oleh (Prensky, 2001) tentang digital natives dan digital immigrants.

Selain itu, persepsi “cringe” dapat dipahami melalui konsep in-group dan out-group (Tajfel, 1982), di mana sesuatu yang tidak sesuai dengan norma kelompok sering dianggap aneh atau tidak pantas. Meme sebagai media komunikasi digital dan pembentuk makna sosial juga dibahas oleh (Shifman, 2014) yang menjelaskan bahwa meme bukan sekadar hiburan, tetapi alat komunikasi budaya.

Kekhawatiran tentang konten sederhana atau istilah seperti “brainrot” dapat dikaitkan dengan diskursus tentang paparan media digital pada anak, yang hingga kini masih menjadi perdebatan dan belum memiliki bukti empiris kuat bahwa meme sederhana merusak kecerdasan anak (Livingstone, 2019).

Sangat penting untuk memahami bahwa masalahnya bukan tentang meme, tetapi tentang cara kita menangani perbedaan generasi. Dengan memberi label terlalu cepat seperti “aneh” atau “cringe”, kita justru memperlebar jarak antar generasi. Sebaliknya, fenomena ini dapat menjadi pelajaran yang sangat menarik jika dilihat dengan penuh minat.

Humor mencerminkan perkembangan sosial dan teknologi, seperti yang ditunjukkan dalam Meme 6–7. Dibandingkan dengan dunia generasi sebelumnya, Gen Alpha hidup dalam dunia yang lebih instan, lebih cepat, dan lebih visual. Karena itu, wajar jika humor mereka juga berubah. Mereka tidak lagi bergantung pada cerita panjang atau makna simbolis, tetapi lebih pada reaksi cepat dan menarik perhatian orang lain.

Beberapa pembaca dapat belajar dari fenomena ini. Pertama-tama, ingatlah bahwa komedi itu relatif. Tidak semua hal yang membuat kita marah berarti buruk. Kedua, berhenti menilai terlalu cepat. Anak-anak, seperti kita juga, membangun dunia mereka sendiri.

Ketiga, lebih baik menjadi ingin tahu daripada meremehkan. Lebih baik bertanya:”Apa yang membuat mereka menikmatinya?” daripada menyebutnya “aneh”. Sikap ini bukan hanya membuat kita lebih terbuka, tetapi juga membantu membangun dialog yang lebih sehat antar generasi di era digital.

Dalam psikologi sosial, fenomena meme 6–7 dapat menjadi subjek refleksi yang signifikan karena menunjukkan bagaimana identitas sosial terbentuk melalui keanggotaan kelompok (Tajfel & Turner, 1979), bagaimana meme berfungsi sebagai bahasa dan simbol dalam budaya digital (Shifman, 2014), serta bagaimana perbedaan selera humor dapat memperlebar jarak antar kelompok sosial.

Pemahaman terhadap dinamika ini penting untuk menumbuhkan sikap empati dan penerimaan antar generasi (Baumeister & Leary, 1995).

Pada akhirnya, meme 6-7 bukan hanya angka yang lucu atau menjengkelkan; itu adalah representasi kecil dari pergeseran besar dalam cara orang berkomunikasi. Bagi Gen Alpha, meme ini membuat orang tertawa dan berkumpul, tetapi bagi Gen Z, mereka merasa asing dan tidak menarik. Namun, perbedaan ini mengingatkan kita bahwa dunia digital tidak henti-hentinya berubah, dan setiap generasi akan selalu membuat bahasanya sendiri.

Ada banyak tanggapan terhadap satu meme, dan semuanya berlaku dalam konteksnya masing-masing. Mungkin bukan memenya yang perlu kita pahami lebih dalam, tetapi cara kita memandang perbedaan itu sendiri.

 


Penulis: Dzikri Nur Idsam
Mahasiswa Psikologi, Universitas Muhamadiyah Malang


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses