Memiliki banyak teman, berada di lingkungan yang ramai, dan aktif di media sosial tidak selalu menjamin seseorang terbebas dari kesepian. Lalu, mengapa seseorang masih dapat merasa kesepian di tengah banyaknya interaksi sosial?
Fenomena ini menjadi topik yang semakin banyak diperbincangkan, terutama di kalangan Generasi Z. Meskipun Generasi Z tumbuh dan berkembang di era digital dengan akses yang luas terhadap teknologi dan media sosial, berbagai penelitian menunjukkan bahwa generasi ini justru memiliki tingkat kesepian yang relatif tinggi.
Kesepian (loneliness) merupakan perasaan kesendirian yang muncul ketika seseorang merasa kurang memiliki hubungan yang dekat dan bermakna dengan orang lain, sehingga kebutuhan akan hubungan sosial yang diharapkan belum terpenuhi (Gierveld & Tilburg, 2006; Russell dalam Mund et al., 2023).
Ini ditandai dengan munculnya rasa hampa kuat saat menjalani keseharian, kehilangan minat untuk melakukan apapun, dan susah merasa cocok dengan orang lain.
Berdasarkan survei Harian Kompas (16–19 Juni 2025) terhadap 512 responden, sekitar satu dari lima orang Indonesia (19,97%) mengaku mengalami kesepian setidaknya sekali dalam seminggu. Temuan ini menunjukkan bahwa kesepian merupakan masalah yang cukup umum dan nyata di kehidupan masyarakat saat ini.
Penyebab dari kesepian itu sendiri bisa dilihat dari beberapa faktor seperti: Isolasi, penolakan, merasa salah dimengerti yang buat malas untuk membuka diri, merasa tidak dicintai atau diterima, kurang percaya diri, bosan, dan gelisah (Bruno, 2000).
Akibatnya, seseorang lebih rentan mengalami stres, cemas, serta menurunnya kepuasan hidup. Tidak hanya itu. Kesepian juga sering dikaitkan dengan penyakit tubuh seperti tensi naik, penyakit jantung, dan menurunnya imun tubuh (Hold-Lunstad et al., 2015).
Baca Juga: Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Remaja
Namun lebih dari itu, kesepian dapat kita atasi melalui hal ini:
1. Menanamkan Kemampuan Resiliensi
Resiliensi (Resilience) merupakan kemampuan psikologis yang dimiliki seseorang untuk beradaptasi, bertahan, dan bangkit kembali dengan cepat setelah menghadapi tekanan, kegagalan, trauma, bahkan kesepian.
Ketika seseorang merasa tertekan karena kesepian, kemampuan ini dapat membangkitkan semangat untuk menjalani kehidupan sehari-hari dan menghadapi masalah yang ada, sehingga seseorang tidak mudah terpuruk dalam perasaan kesepian yang berkepanjangan.
2. Menjaga Kualitas Kesejahteraan Psikologis
Kesejahteraan psikologis (psychological well-being) adalah cara seseorang memandang dirinya dan menjalani kehidupannya secara positif, termasuk kemampuan untuk terus berkembang dan mencapai potensi dirinya (Ryff, 2006).
Namun, perasaan kesepian dapat menimbulkan perasaan hampa dan membuat hidup terasa kurang bermakna. Oleh karena itu, menjaga kesejahteraan psikologis dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti meluangkan waktu untuk melakukan hobi yang disukai, menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman, berolahraga, serta melakukan aktivitas lain yang dapat memberikan perasaan nyaman dan positif.
3. Meningkatkan Harga Diri
Harga diri (self-esteem) merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri, termasuk bagaimana ia melihat nilai, kemampuan, dan keberhargaan dirinya (Rosenberg, 1979; Orth & Robins, 2022).
Sehingga, seseorang dengan harga diri yang tinggi cenderung lebih percaya diri, mudah bersosialisasi dan lebih fokus untuk memikirkan hal positif. Meningkatkan harga diri bisa dimulai dengan lebih menghargai diri sendiri, dan juga mengurangi kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
Di era digital saat ini semua orang tampak selalu terhubung satu sama lain lewat sosial media, namun kesepian tetap bisa hadir tanpa kita sadari.
Baca Juga: Dampak Media Sosial terhadap Pola Komunikasi Generasi Z
Penting bagi kita untuk tetap membangun hubungan yang bermakna baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain, tidak hanya memperbanyak koneksi saja.
Dengan adanya resiliensi yang baik; kesejahteraan psikologis yang terjaga; dan juga harga diri yang positif, kesepian tidak harus menjadi sebuah tempat tinggal, melainkan hanya sebuah ‘persinggahan’ yang dapat kita lewati bersama.
Penulis:
1. Willian Chriswanto
2. Richelle
3. Georgia Keisha Yoewono
4. Verena Serafine
5. Charista Elliani Suhendra
Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












