Sudah Belajar Semalaman, Mengapa Saat Ujian Justru Lupa?

Ilustrasi Belajar (Sumber: Penulis)

Menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar menjelang ujian, tetapi saat mengerjakan soal justru kesulitan mengingat materi yang telah dipelajari. Atau merasa sudah memahami suatu konsep ketika proses perkuliahan, namun beberapa minggu kemudian konsep tersebut seolah menghilang dan sulit dijelaskan kembali. Situasi ini sangat sering dialami oleh pelajar maupun mahasiswa dan tidak jarang menimbulkan pertanyaan, “Padahal sudah belajar, mengapa masih lupa?

Lupa dianggap sebagai tanda kurang belajar atau kelemahan daya ingat. Padahal, lupa merupakan bagian yang normal dari cara kerja otak. Tidak semua informasi yang masuk ke dalam memori dapat bertahan selamanya. Sebagian informasi dapat diingat dengan mudah, sementara sebagian lainnya menjadi sulit diingat atau bahkan terlupakan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Menurut Santrock (2017), memori memungkinkan manusia menerima, menyimpan, dan mengambil kembali informasi melalui proses encoding, storage, dan retrieval. Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan lancar. Terkadang informasi yang sebelumnya telah dipelajari justru sulit diingat kembali. Hal inilah yang dikenal sebagai forgetting atau lupa.

Meskipun sering dianggap sebagai kelemahan, Woolfolk (2016) menjelaskan bahwa lupa sebenarnya memiliki fungsi penting dalam proses belajar. Tanpa kemampuan untuk melupakan, otak akan dipenuhi informasi yang berlebihan sehingga kesulitan memproses informasi baru.

Lalu, mengapa seseorang bisa lupa?

Salah satu penyebabnya adalah interferensi, yaitu ketika informasi yang tersimpan dalam memori saling mengganggu. Dalam aspek akademik, kondisi ini sering terjadi ketika mahasiswa mempelajari banyak materi dalam waktu yang berdekatan. Akibatnya, konsep-konsep yang mirip menjadi sulit dibedakan sehingga informasi yang satu mengganggu proses mengingat informasi lainnya (Sandi & Neviyarni, 2021).

Lupa juga dapat terjadi karena informasi yang dipelajari tidak pernah digunakan kembali. Banyak mahasiswa mampu memahami materi saat ujian berlangsung, tetapi beberapa minggu kemudian kesulitan mengingatnya. Kondisi ini dikenal sebagai pemudaran ingatan atau decay. Menurut Santrock (2007), ingatan dapat melemah seiring berjalannya waktu apabila tidak pernah digunakan atau diulang kembali.

Baca juga: ADHD pada Orang Dewasa: Antara Lupa Fokus dan Tantangan Nyata

Selain itu, lupa dapat terjadi karena kurangnya petunjuk yang membantu proses mengingat. Pernah merasa mengetahui jawaban suatu soal, tetapi tidak mampu mengingatnya saat ujian? Namun, jawaban tersebut justru muncul ketika ujian telah selesai atau saat membuka kembali catatan kuliah.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai cue-dependent forgetting. Informasi sebenarnya masih tersimpan dalam memori, tetapi individu tidak memiliki petunjuk yang cukup untuk mengaksesnya kembali (Pramudiani et al., 2025).

Ketiga kondisi tersebut menunjukkan bahwa lupa bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Ada berbagai faktor yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengingat kembali informasi yang telah dipelajari.

Oleh karena itu, lupa dapat diminimalkan melalui strategi belajar yang tepat. Salah satunya adalah menggunakan metode spaced repetition, yaitu mengulang informasi secara berkala dalam rentang waktu tertentu. Cara ini lebih efektif dibandingkan belajar dalam waktu singkat menjelang ujian.

Selain itu, individu dapat menerapkan elaborative rehearsal dengan menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Semakin banyak hubungan yang dibentuk, semakin mudah informasi tersebut diingat kembali (Craik & Lockhart, 1972).

Teknik mnemonik seperti singkatan, visualisasi, atau asosiasi tertentu juga dapat membantu proses mengingat. Di samping itu, menjaga kualitas tidur dan pola hidup sehat penting dilakukan karena tidur berperan dalam memperkuat penyimpanan informasi di dalam memori.

Pada akhirnya, lupa merupakan bagian alami dari cara kerja memori manusia. Forgetting dapat terjadi karena gangguan antar informasi, melemahnya ingatan akibat jarang digunakan, maupun kurangnya petunjuk yang membantu proses mengingat kembali.

Dengan memahami penyebab lupa dan menerapkan strategi belajar yang tepat, individu dapat memperkuat memori serta mengurangi kemungkinan terjadinya lupa dalam proses pembelajaran.

 


Penulis:

  1. M. Yoga Nugraha Simanungkalit (G1C124011)
  2. Rd. Muhammad Hanif Nurandri (G1C124018)
  3. Fatla Amelia Putri (G1C124024)
  4. Tasya Kania Viandira (G1C124027)

Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi 


Dosen Pengampu:

  1. Azkya Milfa Laesandi, S.Psi., M.Si.
  2. Ayu Ulivia, M.Pd.
  3. Dessy Pramudiani, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
  4. Annisa Andriani M.Psi., Psikolog.

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses