Tarek pukat merupakan kegiatan mencari ikan dengan menggunakan metode tradisional. Metode ini kini tidak banyak lagi dilakukan oleh nelayan dan hanya terdapat di beberapa daerah pesisir. Salah satunya adalah di kawasan pesisir laut Pulot.
Adapun cara nelayan melabuhkan pukat di pesisir pantai dilakukan dengan menggunakan perahu dayung. Dalam satu perahu biasanya terdiri dari enam orang nelayan, di mana empat orang bertugas mengayuh perahu menggunakan kayu, sementara dua orang lainnya bertugas melabuhkan pukat ke laut.
Mereka menyebarkan jaring di tengah ombak yang menerjang, lalu mengelilingi area tertentu sebelum kembali ke darat. Setelah itu, nelayan akan menunggu beberapa saat, ditemani oleh masyarakat setempat yang turut datang. Sambil menunggu ikan masuk ke dalam jaring, masyarakat berkumpul di pesisir pantai, berbincang santai, dan menantikan proses selanjutnya.
Momen menunggu hasil tangkapan ini biasanya dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat, mulai dari pria, perempuan, hingga anak-anak. Momen ini sangat dinanti-nantikan karena mereka akan menyaksikan secara langsung proses penarikan pukat.
Saat waktu penarikan pukat tiba, nelayan bersama para pria mulai mendekati pesisir pantai dan menarik tali pukat. Proses ini menjadi momen yang paling dinantikan. Kerja sama dan kekompakan masyarakat terlihat jelas pada saat ini. Hal ini sejalan dengan falsafah Aceh, “Beugot meuseuraya, mangat leupah buet berat,” yang bermakna bahwa pekerjaan berat akan terasa ringan apabila dilakukan secara bersama-sama sebagai wujud nilai kebersamaan masyarakat.
Baca juga: Laut Memberi, Nelayan Membalas: Tradisi Sedekah Laut di Pantai Wisata Larangan Desa Munjungagun
Setelah pukat ditarik, jika hasil tangkapan melimpah, ikan akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat yang turut membantu, termasuk kepada anak yatim/piatu serta para ibu janda sebagai bentuk kepedulian sosial. Setelah itu, sisanya akan dijual.
Pada saat inilah para pedagang ikan mulai berdatangan untuk menawar dan membeli ikan-ikan segar tersebut. Namun, jika hasil tangkapan sedikit, masyarakat yang membantu biasanya enggan mengambil bagian, meskipun nelayan mempersilakan. Mereka menyadari bahwa hasil yang diperoleh tidak banyak. Alih-alih mengutamakan imbalan, mereka lebih menjunjung tinggi solidaritas dengan membantu secara tulus tanpa pamrih.
Bahkan jika tidak ada ikan sama sekali, masyarakat tidak merasa kecewa. Mereka justru menyemangati nelayan untuk kembali melabuhkan pukat dan siap membantu lagi. Hal ini menunjukkan bahwa makna sesungguhnya dari tarek pukat bukan terletak pada hasil tangkapan, melainkan pada solidaritas antarsesama.
Selain itu, proses penangkapan ikan secara tradisional ini juga membantu menjaga kelestarian lingkungan laut. Peralatan yang digunakan relatif ramah lingkungan, seperti jaring buatan tangan dan perahu dayung tanpa mesin, sehingga tidak menimbulkan pencemaran dari bahan bakar.
Tradisi tarek pukat juga tidak hanya hidup di pesisir pantai, tetapi turut menginspirasi lahirnya Tari Tarek Pukat, yang merupakan tarian tradisional Aceh. Tarian ini menggambarkan gerakan para nelayan saat menarik jaring, sekaligus merepresentasikan nilai kebersamaan dan kerja sama dalam kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, melestarikan budaya tarek pukat berarti tidak hanya menjaga warisan tradisi, tetapi juga mempertahankan nilai solidaritas serta kelestarian lingkungan.
Lestarikan tradisi agar tidak terkalahkan oleh perkembangan teknologi.
Penulis: Asyifa Nanda Farida (230610201002)
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Syiah Kuala
Aktif juga sebagai:
- Sekretaris IKAPEMAL
- Anggota Bidang Kesekretariatan Gemasastrin
- Anggota Bidang Sosial Masyarakat BEM USK
Dosen Pengampu: Herman R, S.Pd., M.Pd.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












