Apakah Anda merasa tidak sadar sering membandingkan kehidupan Anda dengan orang lain? Di era digital media sosial ini, masyarakat sering terjebak dalam budaya kompetisi yang memicu kecemasan sosial dan penurunan well-being¹ . Seperti pada penelitian Xiang Meng (2025) yang menemukan bahwa perbandingan sosial, terutama melalui media sosial, dapat meningkatkan kecemasan dan menurunkan subjective well-being² karena memunculkan rasa iri, rendah diri, dan ketidakpuasan hidup, meskipun pada kondisi lingkungan tertentu juga dapat memunculkan rasa syukur dan ketahanan psikologis.
Kesehatan mental tidak bisa dijaga hanya dengan mengejar pencapaian yang terlihat di dunia maya, namun kita membutuhkan cara yang lebih mendalam agar rasa cemas tidak terus menghantui. Di sinilah rasa syukur atau gratitude dalam bingkai religiusitas hadir sebagai solusi. Dispositional gratitude (rasa syukur yang menetap dalam diri) berperan sebagai faktor pelindung bagi pengguna Instagram dengan mengurangi hubungan antara perbandingan sosial dan rasa iri, khususnya malicious envy (iri hati yang jahat—emosi negatif destruktif di mana seseorang merasa iri terhadap pencapaian orang lain dan berkeinginan kuat agar orang tersebut mengalami kegagalan) yang berdampak negatif pada kesehatan mental psikologis (Stella Kaminger, 2023).
Sebagai makhluk sosial, jika kita belum memiliki kedewasaan untuk memilih cara pandang yang positif dalam bermedia sosial, kita dapat terkena dampaknya, seperti kemunculan fenomena media sosial Fear of Missing Out (FOMO). FOMO yaitu perasaan cemas, takut, atau gelisah tertinggal tren, informasi, atau pengalaman menyenangkan yang dialami orang lain, yang sering kali dipicu oleh media sosial. Istilah ini menggambarkan dorongan untuk selalu terhubung dan ikut serta agar tidak dianggap ketinggalan (Patrick J. McGinnis, 2004). Sebagai bentuk kesadaran diri kita akan media sosial, salah satu cara yang perlu dilakukan untuk menjaga ketenangan batin adalah dengan mendalami rasa syukur melalui ketaatan religiusitas sebagai manusia yang menyadari nikmat yang Tuhan berikan.
Krisbandaru Hayuningtyas (2023) menemukan bahwa kebersyukuran (gratitude) memiliki peran yang sangat penting sebagai bentuk religiusitas yang mampu menjaga kesehatan mental dan meningkatkan kesejahteraan subjektif (subjective well-being) mahasiswa. Hal tersebut menemukan bahwa orang yang menyatukan syukur ke dalam praktik keagamaannya memiliki “jangkar” emosional yang lebih kuat, sehingga tidak mudah goyah oleh tekanan sosial atau rasa rendah diri.
Sederhananya, bersyukur dalam agama bukan hanya soal mengucapkan “terima kasih”, tapi soal menyadari bahwa setiap hal kecil dalam hidup adalah pemberian Tuhan yang berharga. Secara psikologis, ini disebut sebagai cara melatih otak untuk fokus pada apa yang kita punya, bukan pada apa yang hilang atau pada apa yang orang lain miliki. Jika ini dilakukan, kesehatan mental kita akan terjaga.
Mental yang sehat artinya kita bisa tetap tenang saat ada masalah, bisa bekerja dengan baik, dan tidak merasa sendirian karena yakin ada Tuhan yang selalu menjaga. Penelitian Philip Watkins, et al. (2014) memvalidasi bahwa rasa syukur kepada Tuhan adalah pemaknaan psikologis yang berbeda dari rasa syukur umum. Rasa syukur kepada Tuhan berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan spiritual dan dapat mendorong pertumbuhan rasa syukur secara umum, yang pada akhirnya berdampak positif pada kesejahteraan hidup seseorang secara menyeluruh.
Kita bisa mencoba untuk menjaga kesehatan mental dengan melakukan jurnaling (menulis diari harian) rasa syukur pada saat kita selesai beribadah, sebelum tidur, atau di waktu luang untuk menjaga dan tetap mendalami rasa syukur kepada Tuhan. Kita bisa memulainya dengan langkah praktis: rutinitas jurnaling syukur (gratitude) dengan menuliskan tiga hal baik yang Tuhan berikan setiap harinya. Sebuah penelitian merangkum bahwa praktik bersyukur (seperti jurnaling) berhubungan langsung dengan peningkatan kualitas tidur dan kesejahteraan psikologis, yang merupakan fondasi utama kesehatan mental (Wood, A. M., et al., 2010).
Kesejahteraan psikologis dalam perkembangan remaja menunjukkan bahwa rasa syukur (gratitude) dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis remaja dengan berkontribusi pada regulasi emosi, hubungan sosial, dan kepuasan hidup (Ade Ubaidah, 2025). Manfaat utama dari membiasakan rasa syukur adalah kita jadi punya “rem” agar tidak mudah iri hati atau merasa kurang. Tujuannya agar kita lebih kuat menghadapi perubahan sosial yang sering kali secara tidak disadari berdampak pada kesehatan mental kita. Orang yang religius dan bersyukur cenderung memiliki ketenangan emosi, pola pikir positif, dan kemampuan coping yang lebih baik saat menghadapi masalah sosial maupun tekanan hidup (Ethan D. Lantz dan Danielle K. Nadorff, 2026).
Baca juga: Dua Sejoli: Burnout & Coping Strategy
Sebagai penutup, penting bagi kita untuk menyadari bahwa menjaga kesehatan mental tidak selalu membutuhkan langkah-langkah yang rumit. Sering kali, ketenangan jiwa dimulai dari satu praktik sederhana namun revolusioner: bersyukur. Dalam perspektif religiusitas, syukur bukan sekadar ucapan terima kasih, melainkan sebuah pengakuan mendalam akan kehadiran Tuhan dalam setiap detail kehidupan.
Catatan Kaki
¹ Konsep kesejahteraan hidup yang mencakup perasaan bahagia, kepuasan hidup, rendahnya stres, serta kesehatan fisik dan mental yang baik.
² Evaluasi personal individu terhadap hidupnya, mencakup kepuasan hidup (kognitif) dan keseimbangan emosi positif/negatif (afektif), yang dinilai sendiri oleh orang tersebut.
Referensi
Hayuningtyas, K., & Jenuri. (2023). An Analysis Of Gratitude Role As The Religiosity Form Towards Subjective Well-Being In College Students. Journal of Islamic and Contemporary Psychology (JICOP).
Lantz, Ethan D., & Danielle K. Nadorff. (2025). An attitude of gratitude: How psychological and social resources mediate the protective effect of religiosity on depressive symptoms. Elsevier. https://doi.org/10.1016/j.jad.2025.120851
McGinnis, P. J. (2004). Social Theory at HBS: McGinnis’s Two Fos. The Harbus (Majalah mahasiswa Harvard Business School).
Meng, X. (2025). The Impact of Social Comparison on Anxiety and Subjective Well-Being. International Relations and Cross-Cultural Exchange (IRCCE). ISBN: 978-989-758-818-1.
Stella, K., et al. (2023). #Blessed: the moderating effect of dispositional gratitude on the relationship between social comparison and envy on Instagram. Frontiers in Psychology.
Ubaidah, A. (2025). The Role of Gratitude in Enhancing Psychological Well-Being in Adolescent Development: An Integration of Psychological and Islamic Perspectives. Asian Journal of Islamic Psychology, Vol. 2, Issue 1, 18-31. https://doi.org/10.23917/ajip.v2i1.8247/
Watkins, Philip, Michael Frederick, & Don E. Davis. (2022). Gratitude to God Predicts Religious Well-Being over Time. Religions, 13(8), 675. https://doi.org/10.3390/rel13080675
Wood, A. M., et al. (2010). Gratitude and Well-being: A review and theoretical integration. Clinical Psychology Review, Volume 30, Issue 7, Halaman 890–905. Elsevier. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2010.03.005
Penulis: Gesya Arsih Windhani, S.Psi.
Mahasiswa Program Studi Sains Psikologi, Pascasarjana Universitas Katolik Soegijapranata
Dosen Pengampu: Dr. Siswanto, S.Psi., M.Si.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












