UPN Veteran Jatim Gelar Penyuluhan “Mengelola Air Hujan untuk Pertanian Lebih Tangguh di Musim Kemarau” di Desa Kedamean

UPN Veteran Jatim Gelar Penyuluhan “Mengelola Air Hujan untuk Pertanian Lebih Tangguh di Musim Kemarau” di Desa Kedamean
UPN Veteran Jatim Gelar Penyuluhan “Mengelola Air Hujan untuk Pertanian Lebih Tangguh di Musim Kemarau” di Desa Kedamean

Gresik, MMI — Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan masyarakat desa melalui program pengabdian masyarakat. Pada Selasa (27/5), UPNVJT menggelar penyuluhan bertajuk “Mengelola Air Hujan untuk Pertanian Lebih Tangguh di Musim Kemarau” di Balai Desa Kedamean, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik. Kegiatan ini diikuti oleh ibu-ibu PKK Desa Kedamean yang sehari-hari bersinggungan dengan kebutuhan rumah tangga dan pertanian keluarga.

Desa Kedamean selama ini dikenal sebagai daerah yang rawan kekeringan saat musim kemarau. Lahan pertanian warga kerap mengalami kesulitan air, sehingga produktivitas menurun dan berpengaruh terhadap ketahanan pangan. Kondisi ini mendorong UPNVJT untuk menghadirkan solusi yang aplikatif melalui pemanfaatan air hujan sebagai cadangan air.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Penyuluhan dipandu oleh tim dosen Program Studi Teknik Sipil UPNVJT yang terdiri dari Rizqi Alghiffary, S.T., M.T., Ir. Wahyu Kartini, M.T., Dr. Ir. Minarni Nur Trilita, M.T., Dian Purnamawati Solin, S.T., M.Sc., dan Karina Meilawati Eka Putri, S.T., M.T.

Dalam paparannya, Rizqi Alghiffary menekankan pentingnya memandang air hujan sebagai aset desa. Air hujan adalah berkah yang sering kita abaikan. Padahal, jika ditampung dengan baik, air hujan bisa menjadi penyelamat pertanian saat kemarau panjang. Prinsipnya sederhana, simpan saat berlebih, gunakan saat kekurangan,” ujarnya.

Baca Juga: Strategi Efektif Mengelola Air di Musim Kemarau: Solusi dan Inovasi

Ir. Wahyu Kartini menambahkan bahwa keberhasilan pemanenan air hujan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesadaran kolektif masyarakat. “Tidak harus langsung besar. Dimulai dari skala rumah tangga dengan tandon kecil, hingga nantinya kelompok tani bisa membuat embung desa. Yang terpenting ada komitmen bersama,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Ir. Minarni Nur Trilita, M.T. menyoroti sisi teknis penyimpanan. “Air hujan yang ditampung perlu dikelola agar tetap bersih. Misalnya dengan penyaringan sederhana sebelum masuk ke penampungan. Dengan cara ini, air bisa dipakai lebih lama dan aman untuk pertanian,” katanya.

Dian Purnamawati Solin menekankan aspek keberlanjutan lingkungan. “Dengan memanen air hujan, kita sekaligus mengurangi limpasan air yang bisa menyebabkan banjir lokal. Jadi manfaatnya ganda: menyimpan untuk kemarau, sekaligus mencegah genangan di musim hujan,” ungkapnya.

Sedangkan Karina Meilawati Eka Putri mengajak peserta untuk memanfaatkan pekarangan rumah. “Setiap rumah bisa menjadi titik cadangan air. Tidak harus lahan luas, bahkan halaman kecil pun bisa dipakai untuk membuat resapan sederhana. Kalau semua rumah bergerak, hasilnya besar bagi desa,” ujarnya.

Baca Juga: Pengembangan Teknologi Air Bawah Tanah sebagai Sistem Irigasi dalam Penanggulangan Musim Kemarau

Peserta yang mayoritas ibu-ibu PKK tampak antusias. Mereka aktif berdiskusi mengenai penerapan teknik di rumah masing-masing. Seorang peserta, Ibu Siti, menyampaikan pendapat: “Biasanya kalau kemarau, kami kesulitan menyiram tanaman sayur di pekarangan. Setelah ikut penyuluhan ini, saya jadi tahu bagaimana cara menampung air hujan supaya bisa dipakai saat kering. Ini sangat bermanfaat.”

Peserta lain, Ibu Nurul, menambahkan: “Materinya jelas dan mudah dipahami. Kami jadi semangat untuk mencoba membuat tampungan air di rumah. Harapannya, desa kami bisa lebih siap menghadapi musim kemarau.”

Rizqi Alghiffary, S.T., M.T. (kanan) menyerahnyan door price kepada Ibu Nuru (Kiri) sebagai tanda partisipasi aktif.
Rizqi Alghiffary, S.T., M.T. (kanan) menyerahnyan door price kepada Ibu Nuru (Kiri) sebagai tanda partisipasi aktif.

Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa sebagai pendukung teknis. Dua mahasiswa, Salsabila Aulia dan Rizal Gunawan, turut serta dalam membantu pelaksanaan acara, mulai dari persiapan media, pendampingan diskusi kelompok, hingga dokumentasi. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam menjembatani komunikasi antara dosen dan masyarakat.

“Mahasiswa adalah agen penghubung. Mereka belajar langsung di lapangan sekaligus membantu masyarakat memahami materi. Jadi, kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi desa, tapi juga bagi mahasiswa sebagai pengalaman nyata,” ujar Rizqi.

Pihak Desa Kedamean menyambut baik kegiatan ini dan berharap ada tindak lanjut berupa pelatihan praktik. “Kami senang sekali mendapat ilmu baru. Semoga ke depan bisa ada program lanjutan agar warga benar-benar bisa mempraktikkan teknik pemanenan air hujan di rumah maupun lahan pertanian,” ungkap salah satu pengurus PKK.

Baca Juga: Teknologi dan Teknik Irigasi Efisien untuk Petani di Daerah Kering – UPN Veteran Jawa Timur Gelar Penyuluhan di Desa Kedamean, Gresik

Melalui kegiatan ini, UPNVJT menegaskan kembali perannya dalam membumikan ilmu dari kampus ke masyarakat, sekaligus mendorong kemandirian desa dalam menghadapi tantangan kekeringan di musim kemarau.

Semua penyuluh dan mahasiswa yang mendukung terlaksananya kegiatan penyuluhan di Balai Desa Kedamean, Gresik
Semua penyuluh dan mahasiswa yang mendukung terlaksananya kegiatan penyuluhan di Balai Desa Kedamean, Gresik

 

Penulis: Redaksi Media Mahasiswa Indonesia

Editor: Fifi Elvira
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses