Pendidikan merupakan pilar utama dalam perkembangan peradaban manusia. Dampak positif bagi kemajuan sosial dan intelektual banyak terealisasi melalui pendidikan.
Dalam catatan sejarah Islam, semangat menuntut ilmu telah berakar sejak masa Nabi Muhammad saw., di mana wahyu pertama “Iqra” menjadi legitimasi pentingnya literasi dan penguasaan ilmu pengetahuan tanpa adanya dikotomi antara aspek agama dan umum.
Semangat yang telah berakar ini kemudian terwujud dalam berbagai institusi pendidikan yang mencapai puncak pada pendirian Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko.
Universitas ini didirikan pada tahun 859 M (abad ke-9) dan diakui oleh UNESCO dan Guinness World Records sebagai institusi pendidikan tinggi tertua di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini.[1]
Al-Qarawiyyin menjadi jembatan kemajuan sains dari dunia Islam ke dunia global melalui pengaruhnya dalam membentuk sistem akademik modern.
Universitas Al-Qarawiyyin lahir dari tradisi kedermawanan dan nilai filantropi Islam yang tinggi. Sosok di balik pendiriannya adalah Fatima al-Fihri, seorang perempuan Muslim terpelajar asal Tunisia yang menggunakan seluruh harta warisan dari ayahnya, Mohammed al-Fihri, untuk membangun sebuah masjid sebagai pusat ibadah dan pembelajaran di kota Fez.
Pada awalnya bangunan ini hanya berupa masjid sederhana berukuran sekitar 30 meter. Namun, seiring dengan pesatnya pertumbuhan komunitas Muslim dan kebutuhan akan pusat intelektual, kompleks ini diperluas menjadi institusi pendidikan formal yang besar.
Pilihan lokasi di Fez sangat strategis karena kota ini merupakan pusat budaya dan spiritual di Afrika Utara yang berada di jalur pertukaran ide antara dunia Islam dan Eropa.
Dukungan dari Dinasti Idrisiyyah memberikan stabilitas politik yang memungkinkan Al-Qarawiyyin menjadi sebuah cikal bakal universitas modern yang mengintegrasikan ajaran Al-Qur’an dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan umum.
Kekuatan utama Al-Qarawiyyin terletak pada sistem pendidikan yang progresif pada zamannya. Kurikulum yang diterapkan bersifat terbuka dan komprehensif, mencakup bidang agama seperti Al-Qur’an, fikih, dan bahasa Arab, hingga bidang sains dan humaniora seperti logika, matematika, astronomi, kedokteran, dan filsafat.
Tujuan utama dari integrasi ilmu ini adalah untuk mencetak ulama dan sarjana yang berwawasan luas serta mampu menyeimbangkan aspek spiritual dengan nalar rasional.
Metode pengajaran yang digunakan dalam universitas Al-Qarawiyyin adalah sistem halaqah, yaitu lingkaran belajar di mana guru duduk di tengah untuk menjelaskan materi sementara murid mendengarkan dan berdiskusi secara interaktif.
Baca Juga: Sejarah Ilmu Matematika dan Peran Matematika pada Peradaban Islam
Dengan adanya sistem pembelajaran ini hubungan antara pengajar dan pelajar di Al-Qarawiyyin sangat dinamis. Murid tidak hanya menerima informasi secara pasif tetapi didorong untuk melakukan riset dan pengembangan ilmu mandiri.
Salah satu kontribusi paling revolusioner dari institusi ini bagi dunia akademik adalah pengenalan sistem ijazah atau sertifikasi keilmuan.
Ijazah diberikan kepada murid yang telah terbukti menguasai bidang tertentu dan menjadi tanda kelayakan resmi untuk mengajar. Konsep ini kemudian menjadi inspirasi untuk gelar akademik di universitas-universitas Eropa.[2]
Universitas Al-Qarawiyyin berperan sebagai penghubung antara dunia Islam dan Eropa. Banyak tokoh besar yang pernah belajar atau terpengaruh oleh tradisi keilmuan di universitas ini, seperti Ibnu Khaldun (perintis sosiologi modern) dan Ibnu Rusyd atau Averroes (filsuf dan dokter), serta tokoh Yahudi besar seperti Maimonides.
Kehadiran para cendekiawan ini menunjukkan bahwa Al-Qarawiyyin merupakan pusat pertukaran gagasan lintas budaya dan agama. Pengaruh Al-Qarawiyyin juga terlihat dalam perkembangan universitas-universitas Eropa seperti Bologna dan Salamanca.
Sistem pengajaran, pemberian ijazah, serta tradisi diskusi akademik yang berkembang di Eropa memiliki kemiripan dengan model pendidikan Islam yang telah lebih dahulu diterapkan di Al-Qarawiyyin. Dengan demikian, universitas ini dapat dianggap sebagai salah satu fondasi peradaban intelektual Barat.[3]
Baca Juga: Ilmu Pendidikan Islam: Konsep, Landasan Filosofis, dan Manfaat Dunia-Akhirat
Keberadaan mahasiswa non-Muslim di Al-Qarawiyyin juga menunjukkan tingginya toleransi intelektual dalam tradisi Islam klasik. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai milik bersama umat manusia, bukan monopoli satu kelompok atau agama tertentu.
Universitas Al-Qarawiyyin tetap berdiri sebagai simbol kejayaan intelektual Islam hingga saat ini. Nilai-nilai yang dikembangkan, seperti kebebasan berpikir, integritas akademik, dan keterbukaan terhadap perbedaan, masih relevan untuk menjawab tantangan pendidikan modern.
Di tengah krisis pendidikan yang sering terjebak pada orientasi pragmatis dan komersial, model pendidikan Al-Qarawiyyin menawarkan alternatif yang lebih humanis dan berakar pada nilai moral.
Universitas Al-Qarawiyyin menciptakan pendidikan yang bertujuan dalam membentuk manusia yang berilmu, beretika dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.
Penulis:
1. Afifa Nada Muhaimina
2. Khansa Mahmudah
3. Safa Nafiatun Nabila
Mahasiswa Pendidikan Biologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Dosen Pengampu: Dr. Nur Saidah, S. Ag., M. Ag.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
- Abdouni, H. (2016). The First University in the World: Al-Quarawiyine University. MAS Journal of Applied Sciences 6(3): 789–795.
- Hudaini, M., Khotimah, H., & Anam, A. Q. (2025). University of Al-Qarawiyyin: A Bridge of Scientific Glory from Islam to the World (A Study of Islamic Civilization in the 9th Century AD). Journal of Islamic Civilization Studies, e-ISSN 3025-1575, 1100–1109.
- Rama, B. (2020). Perspektif Sosio-Historis tentang Menata ke Depan Keunggulan Pendidikan Islam. Journal of Islamic Education and Teacher Training, 2(1), 1-14.
[1] Rama, B. (2020). Perspektif Sosio-Historis tentang Menata ke Depan Keunggulan Pendidikan Islam. Journal of Islamic Education and Teacher Training, 2(1), 1-14.
[2] Abdouni, H. (2016). The First University in the World: Al-Quarawiyine University. MAS Journal of Applied Sciences 6(3): 789–795.
[3] Hudaini, M., Khotimah, H., & Anam, A. Q. (2025). University of Al-Qarawiyyin: A Bridge of Scientific Glory from Islam to the World (A Study of Islamic Civilization in the 9th Century AD). Journal of Islamic Civilization Studies, e-ISSN 3025-1575, 1100–1109.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












