Pendahuluan
Islam adalah Agama yang terus-menerus mengajarkan kepada para pengikutnya untuk berpegang pada kebenaran dan menggunakan akal budi yang sudah diberikan oleh Allah. Manusia lahir tanpa tahu apa-apa, tetapi Islam menghargai ilmu sebagai sesuatu yang sangat berharga.[1] Bahkan ilmu adalah salah satu sifat dari Allah SWT yang Maha Agung.
Bayangkan jika dunia ini tidak memiliki ilmu sama sekali, pasti kehidupan akan menjadi kacau dan gelap. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki akal dan kemampuan berpikir, sehingga membuatnya lebih hebat dibandingkan makhluk lainnya. Karena itu, manusia diberi tanggung jawab menjadi pemimpin dan pengurus bumi.
Ayat 30 sampai 33 dalam Surah al-Baqarah menjelaskan betapa pentingnya ilmu bagi manusia. Bahkan manusia pertama yang dibuat oleh Allah, yaitu Nabi Adam, langsung diajarkan pengetahuan tentang segala sesuatu yang ada di dunia. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan ilmu pengetahuan.
Setiap orang memiliki kemampuan untuk mengembangkan pikirannya, yang merupakan hadiah luar biasa dari Allah. Ilmu membantu manusia mengelola perilakunya dengan lebih baik, sehingga hidupnya menjadi lebih jelas arahnya dan lebih berguna bagi diri sendiri serta orang lain.
Pembahasan
Dalam Islam, ilmu selalu berkaitan erat dengan pengamalannya. Keimanan berfungsi sebagai fondasi yang mendasari setiap amal perbuatan, sementara amal saleh menjadi bentuk nyata dari keimanan yang dimiliki seseorang. Dengan demikian, ilmu tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan semata, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan yang bermanfaat dan sesuai dengan ajaran agama.
Allah menjelaskan perumpamaan orang yang berilmu dan beramal dalam al-Qur’an surah Ibrahim ayat 24-25:
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ (٢٤) تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢ بِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ(٢٥)
Artinya: “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit, dan menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Ibrahim: 24-25)
Dalam QS. Ibrahim ayat 24–25, Allah Swt. mengumpamakan kalimah ṭayyibah sebagai pohon yang baik, yaitu pohon yang memiliki akar yang kokoh, cabang yang menjulang ke langit, dan senantiasa menghasilkan buah dengan izin-Nya. Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa keimanan yang kuat akan tertanam dalam hati seorang mukmin dan menjadi dasar lahirnya amal saleh.
Keimanan yang diwujudkan melalui amal akan memberikan manfaat secara terus-menerus, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Sebagaimana pohon yang selalu berbuah, seseorang yang memiliki keimanan dan ilmu yang benar akan senantiasa memberikan manfaat serta menyebarkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.[2]
Ayat ini menjelaskan bahwa iman, ilmu, dan amal yang baik merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain. Akar pohon yang kuat menunjukkan iman yang sudah tumbuh kokoh di dalam hati seseorang, sedangkan cabang yang semakin tinggi mewakili pengetahuan dan pemahaman yang terus berkembang seiring waktu. Buah yang terus muncul adalah tanda dari perbuatan baik yang datang dari iman dan pengetahuan yang benar.
Seorang manusia yang memiliki pengetahuan tetapi tidak mempraktikkannya diibaratkan seperti pohon yang tidak berbuah, sedangkan amal yang tidak didasari oleh ilmu bisa berujung pada kesalahan dalam mengikuti ajaran agama. Oleh karena itu, Islam menginginkan kesetaraan antara iman, pengetahuan, dan tindakan nyata agar dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri, masyarakat, serta sebagai bekal untuk hidup di akhirat.
Hakikat dan Esensi Ilmu dalam Islam
Ilmu memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena menjadi landasan dalam setiap tindakan yang dilakukan. Tanpa didasari oleh ilmu, seseorang akan kesulitan menentukan arah dan tujuan dari perbuatannya.
Secara etimologis, kata ilmu berasal dari bahasa Arab عَلِمَ yang berarti mengetahui atau memahami sesuatu dengan benar dan penuh keyakinan. Bentuk jamaknya adalah عُلُومٌ, yang merujuk pada berbagai pengetahuan yang diperoleh melalui pemahaman yang mendalam terhadap suatu hal.
Ilmu yang dimanfaatkan secara tepat akan memberikan manfaat dan membawa kebaikan dalam kehidupan. Sebaliknya, apabila digunakan secara keliru, ilmu dapat menimbulkan dampak yang merugikan, seperti halnya ilmu sihir atau ilmu nujum yang digunakan untuk tujuan yang tidak sesuai dengan ajaran agama.
Menurut Imam Ali, ilmu dan amal memiliki hubungan yang sangat erat. Beliau menyatakan bahwa ilmu berperan sebagai pemimpin, sedangkan amal menjadi pelaksana atau pengikutnya.[3] Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa setiap perbuatan seharusnya didasarkan pada ilmu agar dapat berjalan dengan benar dan mencapai tujuan yang baik. Tanpa ilmu, amal berisiko kehilangan arah dan nilai manfaatnya.
Pandangan ini sejalan dengan pendapat Imam Muhammad al-Baqir a.s. yang menjelaskan bahwa seseorang yang mengajarkan suatu petunjuk atau kebaikan akan memperoleh pahala sebagaimana pahala orang yang mengamalkannya. Pahala tersebut tetap diberikan tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang melaksanakan ajaran tersebut. Dengan demikian, ilmu tidak hanya bermanfaat bagi pemiliknya, tetapi juga dapat menjadi sumber kebaikan yang terus mengalir ketika diajarkan dan diamalkan oleh orang lain.[4]
Contohnya kisah Nabi Ibrahim AS. Berikut penjelasan singkat dari cerita tersebut: Kisah Nabi Ibrahim AS menggambarkan proses pencarian kebenaran melalui akal dan pengamatan terhadap alam. Dengan memperhatikan bintang, bulan, dan matahari yang semuanya terbit dan terbenam, beliau menyimpulkan bahwa benda-benda tersebut tidak layak menjadi Tuhan karena bersifat sementara dan bergantung pada aturan alam.
Dari proses tersebut, Nabi Ibrahim AS meyakini bahwa hanya Allah, Sang Pencipta langit dan bumi, yang kekal dan berhak disembah. Kisah ini mengajarkan pentingnya berpikir kritis, menggunakan akal dengan benar, serta tidak mengikuti suatu keyakinan hanya karena tradisi atau kebiasaan masyarakat.[5]
Berdasarkan pandangan Al-Qur’an, orang yang memiliki ilmu pengetahuan seharusnya menunjukkan karakter tertentu, salah satunya adalah rasa takut dan kagum kepada Allah SWT. Sikap tersebut lahir karena semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar pula kesadarannya akan kebesaran dan kekuasaan Allah. Oleh sebab itu, ilmu tidak hanya berfungsi sebagai sarana memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi jalan untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan.
Kedudukan Ilmu dan Pengamalannya menurut Ulama
Dalam beberapa pandangan ulama, ilmu dipandang memiliki kedudukan yang lebih utama dibandingkan amal. Hal ini dapat dilihat dari beberapa alasan. Pertama, ilmu tetap dapat dimiliki meskipun belum diamalkan, sedangkan amal tidak mungkin terlaksana dengan baik tanpa didasari ilmu.
Kedua, ilmu masih dapat memberikan manfaat walaupun belum diwujudkan dalam tindakan, sementara amal yang dilakukan tanpa ilmu berpotensi kehilangan nilai dan manfaatnya. Ketiga, ilmu bersifat mengarahkan dan menggerakkan, sedangkan amal merupakan bentuk pelaksanaan dari arahan tersebut.
Keempat, ilmu merupakan ajaran yang diwariskan oleh para nabi kepada umat manusia. Kelima, ilmu termasuk salah satu sifat yang menunjukkan kesempurnaan Allah SWT, sedangkan amal merupakan sifat yang melekat pada hamba-Nya. Oleh karena itu, ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam ajaran Islam.[6]
Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Imam Ali, “Ilmu tanpa pengamalan itu adalah sia-sia, dan pengamalan tanpa ilmu itu adalah sesat.”[7]
Terkait penjelasan di atas sebagian para ulama merujuk kepada al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 282 untuk memperkuat kandungan hadis tersebut:
وَاِنْ تَفْعَلُوْا فَاِنَّهٗ فُسُوْقٌۢ بِكُمْۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
“…Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
Mengaplikasikan Konsep Ilmu dan Amal dalam Kehidupan
Untuk melakukan amalan keislaman, diperlukan menerapkan amal tersebut, yaitu dengan menerapkannya atau mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mempelajari ilmu agama dan memahami berbagai masalah dalam Agama. Seseorang tidak akan bisa melakukan ibadah dan beramal saleh jika tidak memiliki pengetahuan tentang Agama.
Ayat-ayat perintah yang menerapkan ilmu dan amal sesuai dengan Al-Qur’an antara lain:
Surah Muhammad Ayat 19
فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْࣖ
Artinya: “Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu dan (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat kegiatan dan tempat istirahatmu.”
Surah Al-Isra’ Ayat 36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُ school اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya.”
Surah Al-Baqarah Ayat 44
اَتَأْمُرُوْنَ Nَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
Artinya: “Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca suci (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?”
Surah Ash-Shaff Ayat 2-3
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ (٢) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ (٣)
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
Keempat Ayat di atas memiliki hubungan yang kuat dalam konteks keilmuan dan pengamalan. Al-Qur’an surah Muhammad ayat 19 menjelaskan untuk berilmu terlebih dahulu baru beramal. Sedangkan pada surah al-Isra’ ayat 36 menjelaskan tentang beramal tanpa didasari dengan ilmu, di mana Allah SWT melarang terhadap suatu perkara yang tidak berdasarkan pada pengetahuan (ilmu).
Hal ini sejalan pula seperti yang dijelaskan pada surah al-Baqarah ayat 44 tentang orang yang berilmu harus mengiringi dengan amalan bukan hanya memerintahkan melakukan kebaikan, sedangkan ia sendiri tidak mengerjakannya.
Pengertian ini dimaksud bukanlah tidak boleh memerintahkan kepada kebaikan sedang ia sendiri tidak melakukannya, melainkan karena meninggalkan kebajikan itu sendiri. Siapa yang memerintahkan kepada kebaikan, maka hendaklah ia orang yang paling dulu melakukannya.
Seperti yang sudah dijelaskan pada surah Ash-Shaff ayat 2 dan 3 bahwa mengatakan suatu perkara tetapi tidak melaksanakan sesuai dengan apa yang dikatakannya merupakan bentuk pengingkaran yang mengarah pada perbuatan. Agar tidak salah dalam beramal hendaknya mencontoh Rasulullah SAW yang telah ditetapkan Allah sebagai suri tauladan yang baik. Dasar-dasar ini baik dari segi semua ucapan, perbuatan, maupun perilaku beliau.
Seperti halnya Nabi Saw pernah memerintah untuk melaksanakan shalat, berikut al-Qur’an pada surah al-Baqarah ayat 43:
وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ
Artinya: “Tegakkanlah Shalat, Tunaikanlah Zakat, dan Rukuklah beserta orang-orang yang Rukuk.”
Ayat di atas menjelaskan tentang menerapkan ilmu dan amal dalam kehidupan. Bahwa Allah memerintahkan manusia agar melaksanakan Shalat, membayar Zakat serta Rukuk bersama orang-orang yang Rukuk.
Pembahasan ini menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya untuk diketahui atau dihafalkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Di kehidupan sekarang, masih banyak orang yang sudah mengetahui mana yang benar, tetapi belum mampu mengamalkannya secara konsisten.
Ada juga yang bertindak tanpa memiliki pengetahuan yang cukup sehingga mudah terjerumus pada kesalahan. Karena itu, keseimbangan antara ilmu dan amal menjadi hal yang sangat penting. Ketika seseorang terus belajar dan berusaha mengamalkan ilmunya, maka keimanan dan akhlaknya juga akan semakin baik. Inilah yang menjadi tujuan utama ajaran Islam, yaitu membentuk manusia yang berilmu, beriman, dan berakhlak.
Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah kami pelajari, dapat disimpulkan bahwa ilmu dan amal merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam Islam. Ilmu menjadi dasar atau petunjuk agar setiap amal yang dilakukan sesuai dengan ajaran Allah SWT, sedangkan amal adalah bukti nyata dari ilmu dan keimanan yang dimiliki seseorang.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa seseorang tidak cukup hanya memiliki ilmu, tetapi juga harus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, beramal tanpa ilmu juga dapat menimbulkan kesalahan. Oleh karena itu, seorang muslim dituntut untuk terus belajar, memahami ajaran agama, kemudian mengamalkannya dengan ikhlas agar bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Penulis:
- Nazwa Amelia Rahma
- Hanifah Dewi Fitriyani
Mahasiswa Studi Agama-Agama, UIN Syarif Hidayatullah
Dosen Pengampu: Fitriana, M.A., M.Ed., Ph.D
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Ahmad Satori Ismail, Sepuluh Pilar Da’wah Di Era Globalisasi, (Jakarta: Pustaka Tarbiatuna, 2003), hlm. 48.
Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Al-An’am [6]: 75–79.
Kementerian Agama Republik Indonesia, Tafsir Tahlili QS. Ibrahim Ayat 24–25, diakses melalui
Muhammad M. Reysyahri, Kumpulan Hadits Nabi Saw Pilihan Jilid III, Terjemahan Abdulllah Beik (Jakarta: Nur Al-Huda, 2001).
Muhammad M. Reysyahri, Kumpulan Hadits Nabi Saw Pilihan Jilid III, Terjemahan Abdulllah Beik (Jakarta: Nur Al-Huda, 2001).
Retna Dwi Estuningtyas, “ILMU DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN,” QOF 2, no. 2 (December 2018): 203–13
Sitasi
[1] Ahmad Satori Ismail, Sepuluh Pilar Da’wah Di Era Globalisasi, (Jakarta: Pustaka Tarbiatuna, 2003), hlm. 48
[2] Kementerian Agama Republik Indonesia, Tafsir Tahlili QS. Ibrahim Ayat 24–25
[3] Muhammad M. Reysyahri, Kumpulan Hadits Nabi Saw Pilihan Jilid III, Terjemahan Abdulllah Beik (Jakarta: Nur Al-Huda, 2001).
[4] Muhammad M. Reysyahri
[5] Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019), QS. Al-An’am [6]: 75–79.
[6] Retna Dwi Estuningtyas, “Ilmu dalam Perspektif Al-Qur’an,” QOF 2, no. 2 (December 2018): 203–13
[7] Muhammad M. Reysyahri, Kumpulan Hadits Nabi Saw Pilihan Jilid III, Terjemahan Abdulllah Beik (Jakarta: Nur Al-Huda, 2001).
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















