Bukan Sekedar Bisnis: Misi Kewirausahaan Susu Lokal dalam Akselerasi Penurunan Angka Stunting

Kewirausahaan Susu Lokal
Ilustrasi Kewirausahaan Susu Lokal (Sumber: MMI)

Stunting masih menjadi salah satu isu yang sering dibahas ketika membicarakan kualitas generasi masa depan di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika anak mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan asupan gizi dalam jangka waktu panjang, terutama pada masa awal kehidupan yang dikenal sebagai periode penting tumbuh kembang.

Pada fase ini, tubuh dan otak anak berkembang dengan sangat pesat, sehingga pemenuhan gizi menjadi hal yang sangat menentukan. Jika kebutuhan asupan gizi tidak terpenuhi, dampaknya tidak hanya terlihat pada pertumbuhan fisik yang terhambat, tetapi juga dapat mempengaruhi kemampuan berpikir, konsentrasi, hingga proses belajar anak dalam jangka panjang.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Jika ditelusuri lebih dalam, stunting tidak hanya berkaitan dengan kurangnya asupan makanan, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari pola konsumsi keluarga, pemahaman tentang gizi seimbang, kondisi ekonomi, hingga akses terhadap pangan bergizi yang terjangkau.

Tantangannya bukan sekadar ketersediaan makanan, tetapi bagaimana makanan bergizi benar-benar bisa hadir dan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat, bukan hanya sekadar informasi yang mereka ketahui.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting di Indonesia masih berada di kisaran 19,8 persen pada tahun 2024. Angka ini memang menunjukkan penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun tetap menggambarkan bahwa stunting masih menjadi tantangan serius yang perlu ditangani secara berkelanjutan.

Hal ini menunjukkan bahwa upaya penanganan stunting tidak bisa hanya bergantung pada sektor kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan dari sektor lain yang berkaitan dengan pangan dan pola konsumsi masyarakat.

Situasi tersebut kemudian membuka ruang bagi pendekatan lain di luar sektor kesehatan, salah satunya adalah peran sektor pangan yang mulai dilihat dan diperhatikan lebih luas, termasuk hadirnya produk berbasis susu lokal. Produk susu ini tidak hanya dipahami sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga memiliki potensi dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

Kehadirannya menjadi menarik karena tidak hanya bergerak di sisi pasar, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan kesehatan masyarakat dalam upaya memperbaiki kualitas konsumsi pangan. Pada titik ini, muncul pertanyaan penting: apakah sebuah usaha hanya berorientasi pada keuntungan, atau juga dapat berperan sebagai upaya memperbaiki kualitas gizi masyarakat terutama dalam meminimalisir risiko stunting?

Baca juga: Inovasi Stik Susu “Stisu” dari Pujon Malang: Transformasi UMKM Lokal Menuju Ketahanan Pangan Digital

Susu dikenal sebagai salah satu sumber pangan yang memiliki kandungan gizi lengkap, terutama protein, kalsium, serta berbagai mikronutrien penting yang berperan dalam mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otak, dan daya tahan tubuh anak. Kandungan tersebut menjadikan susu sebagai salah satu asupan yang relevan dalam mendukung kebutuhan gizi, khususnya pada masa pertumbuhan anak yang rentan mengalami kekurangan nutrisi.

Dalam konteks ini, pelaku usaha susu lokal tidak hanya berperan sebagai penyedia produk di pasar, tetapi juga menjadi bagian dari rantai penyediaan pangan bergizi yang lebih luas. Salah satu contohnya adalah CV Atikan Mandiri, sebuah perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 2007 dan bergerak di bidang pengadaan susu untuk kebutuhan pemerintah.

Perusahaan ini diketahui telah bekerja sama dalam program penyediaan susu untuk penanganan stunting yang didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, hingga Halmahera. Melalui jaringan distribusi tersebut, susu tidak hanya menjadi produk komersial, tetapi juga bagian dari intervensi gizi yang menyasar daerah-daerah dengan kebutuhan yang beragam.

Di luar distribusi tersebut, peran usaha susu lokal juga dapat dilihat dari berbagai inovasi yang dikembangkan untuk memperluas akses dan penerimaan masyarakat terhadap produk bergizi. Inovasi tersebut tidak hanya terbatas pada produk susu segar dan susu pasteurisasi, tetapi juga dapat mencakup program edukasi gizi yang membantu masyarakat memahami pentingnya asupan nutrisi seimbang sejak dini.

Bahkan, kemitraan dengan sekolah maupun posyandu menjadi salah satu pendekatan yang semakin sering digunakan untuk memastikan bahwa akses terhadap pangan bergizi dapat menjangkau kelompok yang lebih rentan, terutama anak-anak.

Dengan berbagai peran tersebut, muncul satu hal yang menarik untuk dicermati lebih jauh: mengapa usaha susu lokal dapat berkontribusi dalam upaya penurunan stunting, tidak hanya dari sisi produk yang dijual, tetapi juga dari cara mereka membangun akses dan edukasi gizi di masyarakat?

Di balik perannya dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat, usaha susu lokal juga memberikan dampak ekonomi yang cukup signifikan, terutama bagi peternak dan pelaku UMKM yang terlibat dalam rantai produksinya. Permintaan terhadap susu lokal dapat menjadi sumber penghidupan bagi peternak sapi perah, sekaligus membuka peluang bagi usaha kecil yang bergerak di bidang pengolahan dan distribusi produk susu.

Dengan begitu, keberadaan industri susu lokal tidak hanya berkontribusi pada aspek kesehatan, tetapi juga ikut menggerakkan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diperhatikan. Mulai dari biaya produksi yang dipengaruhi harga pakan ternak yang tidak stabil, persaingan dengan produk susu impor, hingga tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia yang masih relatif rendah. Kondisi ini membuat perkembangan industri susu lokal belum sepenuhnya optimal, meskipun potensinya cukup besar.

Di sisi lain, tantangan tersebut justru membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Pemerintah dapat berperan melalui dukungan kebijakan dan program pemenuhan gizi, pelaku usaha melalui inovasi produk dan perluasan akses distribusi, sementara masyarakat berperan melalui peningkatan kesadaran akan pentingnya konsumsi pangan bergizi.

Sinergi dari berbagai pihak ini menjadi kunci agar upaya penurunan stunting tidak hanya berjalan di satu sektor, tetapi saling terhubung dan berkelanjutan. 

Pada akhirnya, kewirausahaan susu lokal tidak hanya dapat dipahami sebagai aktivitas ekonomi semata, tetapi juga sebagai bagian dari upaya sosial yang lebih besar dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Dengan peran yang terus diperkuat, sektor ini berpotensi menjadi salah satu penggerak penting dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting di Indonesia.


Penulis:

  1. Gyfariani Annisa Nursetya
  2. Ratri Maghfiroh 
  3. Aida Kamilah Syahidah
  4. Burhanuddin

Mahasiswa Magister Sains Agribisnis, IPB University


Dosen Pengampu: Burhanuddin


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses