Pujon, Malang, MMI – UMKM lokal Pujon, Malang, menciptakan sebuah inovasi camilan bergizi, Stik Susu (Stisu). Produk renyah dan gurih ini merupakan hasil perpaduan unik dan strategis antara susu sapi segar yang melimpah dari peternakan lokal dengan aneka sayuran dari lahan pertanian setempat.
Inisiatif cerdas tersebut muncul sebagai solusi menjaga nilai tambah hasil bumi, mendukung keberlanjutan ekonomi petani, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pujon secara keseluruhan.
Upaya menyikapi maraknya bisnis UMKM yang berinovasi dan tuntutan adaptasi digital, dua mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis melaksanakan Program Wawasan Manajerial. Kegiatan ini berupa pendampingan kewirausahaan intensif kepada UMKM non binaan UM, salah satunya Geofarm.

Tim pengabdian ini dibina oleh dua dosen, yakni Bapak Dr. Agus Hermawan, GradDipMgt., M.Si, M.Mbus. dan Prof. Dr. Agung Winarno, M.M.
Tim tersebut berfokus pada pengembangan kualitas produk, penguatan manajemen usaha, dan strategi pemasaran digital untuk UMKM Geofarm milik Feri. Tim pendamping lapangan yang bertindak sebagai manajer operasional dan penghubung langsung pelaku usaha adalah Dewi Sinta Puspitasari dan Dynda Prista.
Tantangan yang Menginspirasi Inovasi Baru dan Ketahanan Pangan
Rumah produksi Geofarm dikelola oleh pemuda bersemangat, Feri Fahrian Maulana. Pada usianya yang baru menginjak 25 tahun, Feri menghadapi dilema klasik wilayah sentra produksi.
Feri menjelaskan, “Pujon dikenal sebagai sentra peternakan sapi perah dengan produksi susu yang sangat melimpah, tetapi tantangan utamanya adalah bagaimana menjaga nilai tambah susu dan mencegah hasil pertanian terbuang.
Di samping itu, harga sayur sering mengalami fluktuasi ekstrem; pada saat panen raya, harga bisa anjlok drastis sehingga hasil panen seringkali terbuang tanpa nilai jual.
Stik Susu (Stisu) pun hadir sebagai jembatan yang menghubungkan surplus susu dan sayuran, menciptakan produk yang stabil secara nilai ekonomi. Feri menegaskan bahwa inovasinya ini merupakan perwujudan nyata konsep ketahanan pangan berbasis komunitas.
“Usaha ini adalah bentuk ketahanan pangan karena di kulakan sayur sangatlah murah. Dengan adanya jajanan Stik Susu ini, kami bisa memanfaatkan bahan sayur yang murah dan susu yang jarang diolah menjadi produk olahan bernilai jual tinggi. Upaya ini yang mengantisipasi terbuangnya hasil pertanian dan peternakan,” katanya, menekankan pentingnya siklus ekonomi yang berkelanjutan pada tingkat lokal.
Rumah produksi Geofarm sendiri saat ini berfokus pada peluncuran Stisu, meskipun secara bertahap juga tengah mengembangkan berbagai varian produk olahan makanan tradisional lainnya.
Strategi Kunci Pengembangan UMKM Geofarm: Kualitas dan Jangkauan
Program pendampingan partisipatif yang dilakukan tim mahasiswa Pascasarjana UM merancang langkah-langkah terstruktur membantu Geofarm mengatasi kendala operasional dan pasar.
Geofarm dibantu dalam pengembangan kemasan pouch yang menarik dan informatif, menjadikan produk lebih profesional dan siap bersaing di rak oleh-oleh. Branding yang kuat diposisikan mengangkat Stisu sebagai produk unik khas Pujon.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mendukung Produk Lokal?
Upaya guna memaksimalkan penjualan dan efisiensi, strategi digital diterapkan. Produk Stisu ditargetkan dapat masuk ke berbagai pusat oleh-oleh fisik di wilayah Pujon, Batu, dan Malang.
Pemasaran juga diperluas secara daring melalui marketplace besar seperti Shopee menjangkau konsumen nasional. Digitalisasi juga diterapkan dalam pengelolaan bisnis, seperti penggunaan Spreadsheet untuk mencatat keuangan yang lebih akurat dan efisien, mendukung pengambilan keputusan strategis.
Hasil yang Menginspirasi Anak Muda dan Pengusaha di Masa Depan
Kisah sukses Geofarm yang dipimpin oleh Feri Fahrian Maulana menjadi success story yang menginspirasi banyak pihak, khususnya generasi muda yang ingin merintis usaha.

Feri (25) menyoroti peluang bagi generasi muda untuk berwirausaha. “Menurut saya, menjadi usaha muda itu sebuah kesempatan yang luar biasa untuk masa yang akan datang. Kita bisa lebih fleksibel dalam berinovasi, cepat beradaptasi dengan tren pasar, dan tentu saja, memberikan dampak positif langsung bagi komunitas di sekitar kita,” pungkasnya.
Keberhasilan program pendampingan ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara akademisi dan UMKM lokal dapat menghasilkan produk unggulan.
Stik Susu Pujon kini diharapkan dapat menjadi oleh-oleh wajib dan daya tarik kuliner di wilayah Malang Raya, membuktikan bahwa adaptasi teknologi, inovasi produk, dan semangat wirausaha muda adalah kunci membangun bisnis yang lebih kuat, berkelanjutan, dan relevan pada era digital.
Penulis:
1. Dewi Sinta Puspitasari
2. Dynda Prysta
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Negeri Malang
Dosen Pengampu: Dr. Agus Hermawan, GradDiptMgt., M.Si. dan Prof. Dr. Agung Winarno, M.M.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












