Pada malam 1 November 2025, Pendhapa Ageng ISI Surakarta penuh dengan suara gamelan dan nyanyian sinden yang merdu, menandai dimulainya pertunjukan Baratayudha. Dalang Ki Kasim Sabandi Purwa Laksita dari Klaten membawakan kisah klasik ini, mengajak penonton kembali ke cerita Pandawa dan Kurawa.
Dalam perayaan Hari Wayang Dunia XI, pesan tentang perjuangan, takdir, dan nilai kemanusiaan terasa semakin dekat dan menyentuh.
Menghidupkan Warisan, Menjaga Makna
Setiap tahun, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mengadakan Hari Wayang Dunia untuk merayakan dan menghargai seni pedalangan nusantara. Tahun ini, tema “Cakra Manggilingan: Tentang Takdir Manusia” mengajak kita merenungkan siklus hidup menurut filosofi Jawa.
Selain pertunjukan wayang kulit, acara ini juga menghadirkan pameran wayang nusantara, ritual ruwatan massal, dan seminar budaya nasional yang mempertemukan akademisi, seniman, dan mahasiswa.
Ki Kasim Sabandi membawakan lakon Baratayudha di Pendhapa Ageng ISI Surakarta dalam rangka Hari Wayang Dunia XI, 1 November 2025.

Baratayudha tampil di sesi malam, memadukan cerita yang menarik, irama gamelan yang kuat, dan suara dalang Jawa yang khas. Ki Kasim Sabandi membawakan lakon ini dengan tegas dan penuh energi, menyisipkan pesan moral di setiap adegan.
“Saya sudah mendalang selama 15 tahun, dan sering mendengarkan kisah Baratayudha sejak 1995 di berbagai acara,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan untuk generasi muda. “Yang jelas para pemuda supaya menggeluti, menggandrungi, memahami kesenian wayang, jangan sampai punah. Harapannya supaya kesenian itu berkembang dan masyarakat bisa menerima serta mengembangkan budaya.”
Wayang: Hiburan dan Pembelajaran
Malam itu, pertunjukan berlangsung meriah, sakral, dan penuh semangat. Penonton dari berbagai usia menikmati kisah yang disajikan di panggung. Bagi saya, wayang bukan hanya hiburan, tapi juga sumber pelajaran hidup.
Setiap karakter dalam kisah ini menyimpan nilai berharga, yang bisa dinikmati siapa saja berkat perpaduan koreografi, gamelan, dan sinden.
HWD XI menunjukkan bahwa wayang tetap dicintai masyarakat, meski budaya digital berkembang. Tradisi ini menjadi jembatan edukasi antar generasi, menanamkan nilai kesetiaan, kejujuran, dan kebijaksanaan lewat simbol dan cerita.
Baca Juga: Hari Wayang Dunia ke-9: ISI Surakarta Berikan Semangat Baru dan Inspirasi bagi Para Penggiat Wayang
Menyatu dalam Semangat Pelestarian

Selain menonton pertunjukan, pengunjung juga bisa menjelajahi pameran wayang di Anjungan Pendhapa GPH Joyokusumo, melihat koleksi dari berbagai daerah, dan mengunjungi booth bazar seni dan budaya.
Acara yang berlangsung hingga dini hari ini menunjukkan komitmen ISI Surakarta untuk menjaga seni tradisi sebagai bagian dari identitas bangsa.
Penulis:
1. Dani Putra Mahendra
2. Hadyan Putra Mahatma
Mahasiswa Film dan Televisi Institut Seni Indonesia Surakarta
Dosen Pengampu: Dr. Ranang Agung Sugihartono, S.Pd., M.Sn.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












