Seni tari bukan lagi eksklusif untuk panggung besar atau acara kebudayaan tertentu.
Kini, satu tarian yang diunggah di TikTok bisa menembus batas ruang dan waktu, menjangkau jutaan penonton dari berbagai negara.
Dunia digital telah mengubah cara seni tari berkomunikasi bukan lagi antara penari dan penonton, tetapi antara budaya dan algoritma.
Fenomena
Perubahan ini membawa seni tari ke babak baru.
Dulu, seorang penari menunggu undangan tampil di festival, kini mereka cukup mengatur kamera, merekam, dan membiarkan dunia menonton.
Komunikasi seni yang dulu linier penari di panggung dan audiens di kursi berubah menjadi dialog dua arah yang cair di ruang digital.
Gerak tubuh yang terekam menjadi bahasa universal, diterjemahkan ulang oleh audiens global.
Penari daerah dari Bandung bisa menampilkan Tari Jaipong, sementara penari Bali dengan Tari Pendet-nya juga bisa tampil di TikTok ditonton oleh penikmat seni dari mancanegara, bahkan hingga ke pelosok dunia.
Baca Juga: Nilai Budaya dan Simbolisme dalam Perkawinan Adat Palembang
Seni tari kini bukan hanya warisan budaya, tapi juga alat komunikasi lintas negara dan generasi.
Namun di sisi lain, ada pertanyaan reflektif:
Apakah seni tari masih menjadi medium ekspresi budaya yang mendalam, atau kini sekadar konten viral untuk mengejar algoritma?
Inilah titik pertemuan antara seni dan komunikasi modern yang menarik untuk dikaji.
Analisis Teori Komunikasi Harold Lasswell (5W + 1H)
Harold Lasswell menyebut komunikasi sebagai proses:
“Who says What in Which Channel to Whom with What Effect.”
Unsur
Penjelasan dalam konteks seni tari digital
1. Who (Siapa):
Penari, koreografer, atau kreator konten tari yang menjadi komunikator
2. Says What (Mengatakan Apa):
Pesan budaya, estetika, ekspresi diri melalui gerak tubuh
3. In Which Channel (Melalui Saluran Apa):
Media digital seperti TikTok, YouTube, Instagram
4. To Whom (Kepada Siapa):
Audiens global yang beragam usia dan latar budaya
5. With What Effect (Dengan Efek Apa):
Meningkatnya apresiasi seni, viralitas budaya, munculnya tren kolaborasi lintas budaya
Model Lasswell menjelaskan bahwa komunikasi tari digital kini punya dua kekuatan:
Pertama, jangkauan global, dan kedua, umpan balik instan melalui interaksi digital (likes, comments, shares).
Feedback ini menandai bahwa pesan tari diterima dan direspons, menjadikan tari bukan sekadar pertunjukan estetika, tapi juga bentuk komunikasi sosial.
Refleksi dan Tantangan
Era digital membawa peluang besar bagi seniman tari untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia.
Namun, di balik itu ada tantangan menjaga nilai dan makna agar tidak larut dalam budaya viral.
Seni tari harus tetap menjadi bahasa yang jujur dari tubuh dan jiwa — bukan sekadar konten untuk algoritma.
Komunikasi tari di era digital seharusnya tidak kehilangan ruhnya: menghubungkan manusia, bukan hanya layar ke layar.
Karena sejatinya, gerak tubuh adalah pesan, dan setiap tarian adalah narasi yang hidup di antara teknologi dan tradisi.
Penulis: Komalasari, S.Sn.
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, STIKOM InterStudi Jakarta
Peminat Kajian Komunikasi Seni, Budaya, dan Media Digital
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














